
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”
Aku bermimpi. Kembali kepada masa kecilku saat aku berusia 7 tahun. Waktu itu, saat aku diajak ayah menghadiri pengajian dalam rangka memperingati malam lailatul Qadar di masjid terbesar di kotaku.
Meski aku kurang bisa memahami isi tausyiah tersebut, tapi ada satu hadits yang membuatku terus mengingatnya, hingga sekarang.
“Dari Abdillah bin Amr bin Ash RA, sungguh Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Berkisahlah tentang Bani Israel dan tidak apa-apa. Barangsiapa berdusta atas namaku, maka bersiaplah mendapatkan kursinya dari api neraka.” (HR Bukhari).
Sebuah kalimat yang terdengar sangat mudah untuk dilakukan, tapi pada kenyataannya kalimat itu mengandung makna yang sangat dalam dan tidak semudah Akal ini dalam memahaminya.
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”
Kalimat itu, benar-benar memberiku motivasi, motivasi yang sangat kuat. Apalagi, apa yang disampaikan oleh Pendakwah itu sangat menyentuh kalbu. Tidak ada ujaran kebencian maupun ancaman menakut-nakuti.
Aku terbangun, sejenak merenung.
"Aku ingin menjadi Pendakwah seperti beliau"
"Huff", aku menghela nafas.
"Mungkin aku terlalu serius memikirkan ini. Padahal, tugasku hanya mengajar kelas, menyampaikan materi dengan pemahaman yang memudahkan. Tapi, aku khawatir, apa yang akan aku sampaikan membuat mereka tidak mengerti dan malah mengandung banyak tafsir"
Aku beranjak untuk segera mengambil air wudhu, melaksanakan sholat tahajud dan memohon kemudahan kepada Sang Pemilik Kemudahan.
Usai sholat tahajud, aku mengaji sampai tiba waktu subuh. Setelah itu, aku pergi ke masjid untuk ikut sholat berjamaah di sana.
Sepulang dari masjid, aku berjalan-jalan sejenak. Udara di pagi hari sebelum matahari terbit sangatlah sejuk dan dingin.
"Pohon ini, mengingatkanku kembali pada seorang Hafidzah kemarin. Apakah aku bisa bertemu kembali dengannya?"
"Bude! Pakde!!"
Aku mendengar suara seorang santriwati sedang memanggil. Rasa penasaran ini akhirnya ingin mengetahuinya.
"Bude, pakde! Kalo kalian mau ke pasar aku mau ikut. Jadi, jangan tinggalkan aku ya. Aku akan kembali untuk berganti baju"
Seorang santriwati yang masih memakai rukuh datang ke dapur setelah selesai sholat di masjid.
"Semangat betul, siapa dia? Mahasiswi atau kerabatnya Bude? Jarang ada seorang santriwati ikut repot urusan dapur", gumamku.
Lalu aku berjalan kembali ke asrama.
*****
"Waktunya ngajar kelas, bismillah"
Aku berhenti di depan pintu kelas sebelum memasuki kelas santriwan untuk mengajar tafsir qur'an di sana.
"Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii", aku berdoa.
"Assalamu'alaikum", sapaku kepada semua santri.
"Wa'alaikumussalaam wa rahmatullaahi wa barakatu", balas mereka kompak.
Namun, kekompakan itu diiringi saling menoleh satu sama lain sesaat setelah melihat kedatanganku.
"Siapa dia?"
__ADS_1
"Iya, siapa dia?"
"Maaf, apakah Anda hendak menyampaikan sesuatu terkait mata kuliah kami dari Kiai Dosen Abdul Ghani?", tanya seorang santri.
"Sebentar, saya akan memperkenalkan diri kalo begitu"
Aku memperkenalkan nama lengkapku kepada mereka dan menyampaikan maksud kedatanganku di kelas mereka, yaitu mengajar mata kuliah tafsir qur'an untuk menggantikan Kiai Abdul Ghani yang sedang di rumah sakit.
Penjelasanku yang masih aku lanjutnya, sudah ada beberapa santri membicarakanku.
"Assegaf? Apa dia beneran dari bani assegaf? Wah hebat sekali dia"
"Bagaimana bisa dia masih seorang mahasiswa tapi bisa ngajar kelas? Apa dia sepandai itu?"
"Gak ada dosen pengganti apa? Kenapa pengganti Kiai Abdul Ghani seorang mahasiswa? Aku tidak percaya ini"
Omongan-omongan yang langsung membuat telingaku panas, "Kenapa sih orang mudah mengomentari hal-hal sepele seperti itu", batinku memicingkan bibir.
"Sepertinya, dia bukan orang yang ramah"
Mendengar ucapan itu, mataku langsung berubah tajam. Aku mengacuhkanya dan mulai membuka buku.
"Baiklah, apakah kita bisa memulai materi kita hari ini?", ucapku memutus segala ghibah yang sudah menguap memanasi seluruh ruang kelas.
*****
"Ternyata, tidak semudah itu mengajar di kelas. Rasa penasaran mereka sangat tinggi tapi mereka sengaja menguji kesabaranku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku geram"
"hfff, astaghfirullaah"
"Sabar? Tidak cukup hanya sekedar sabar, Thaha", Sela Alisha datang menghampiriku yang sedang beristirahat di serambi ruang kelas.
"Dan tidak semudah itu aku bisa menerima segala ucapanmu yang selalu membuatku tertusuk", balasku.
"Apa?"
Aku berjalan langsung meninggalkan dia. Aku dan dia, memang sama-sama memiliki kata-kata kasar yang mudah sekali diucapkan. Tapi, kadangkala dia tidak menyadari akan ucapannya sendiri.
Aku menghampiri lagi pohon itu.
"Dia, tidak ada di sini"
Aku duduk bersandar di pohon tersebut.
"Ternyata sangat nyaman. Pohon angsana yang sangat besar. Gak heran jika tempat ini cocok untuk berteduh dan menenangkan pikiran"
"Ya Allah, tolong bantu aku memperbaiki emosiku ini", doaku. Kemudian aku sejenak memejamkan mata.
Angin sepoi-sepoi membawa obat tidur bagi diri ini yang merasa nyaman berteduh di bawah pohon, membuatku semakin tidak ingin beranjak.
"Mughrom.. Qolbi Bihubbika Mughrom"
"Ya Musthofanal Mukarrom"
"Ya Rasulallah"
"Mughrom.. Qolbi Bihubbika Mughrom"
__ADS_1
"Ya Musthofanal Mukarrom"
"Ya Rasulallah"
Seorang gadis datang dengan senandung sholawatnya. Aku tidak menyadari kedatangannya.
"Wala? Ada yang memakai tempatku berteduh? Siapa dia?", ucap gadis itu.
Dia adalah Nuha. Tempat itu ternyata tempat yang biasa Nuha pakai untuk berteduh. Sekarang, ada seseorang yang sedang memakainya. Yaitu, aku. Tapi, aku belum mengenalnya sama sekali.
"Mahasiswa? Senior? Dosen? Atau Ustadz?, kok ganteng. Ups!!", ucapnya sedikit cengingisan.
"Apa yang harus aku lakukan? Inikan tempatku"
"Hmm..", sejenak Nuha memandangi wajahku yang terlihat adem dan sangat teduh saat sedang terpejam (baginya).
"Tolong.. Tolong aku", lirihku.
"Eh? Apa dia terluka? Kenapa dia minta tolong? Ngelindur kali, hihi", Nuha semakin cengingisan.
"Ya Allah..", ucapku lagi.
"Masya Allah, adem banget lihat wajah tidur mamas ini"
Nuha sedikit tersipu. Kemudian, dia mencoba duduk di sampingku dan melanjutkan lantunan sholawatnya kembali.
"Thoha.. Jud Binadroh Ilayya"
"Thoha.. Ya ‘adhimal-Jah"
"Thoha.. Jud Binadroh Ilayya"
"Thoha.. Ya ‘adhimal-Jah"
"Mughrom.. Qolbi Bihubbika Mughrom"
"Ya Musthofanal Mukarrom"
"Ya Rasulallah"
"Suara itu? Aku kembali bisa mendengarnya", batinku yang mulai terjaga dan teduh dengan lantunan sholawat dari Nuha.
"Dia menyebut namaku. Bukan. Itu adalah sholawat Nabi. Mughrom. Sholawat yang sangat merdu dan menyentuh kalbu. Aku ingin tau siapa yang melantunkannya, tapi aku tidak bisa membuka mataku"
"Mughrom.. Qolbi Bihubbika Mughrom"
"Ya Musthofanal Mukarrom"
"Ya Rasulallah"
"nggiiing..", suara nyamuk mulai menyapa di sekitar wajahku. Nuha yang mendengar suara itu langsung berhenti bersholawat.
"Wala? Ada nyamuk"
"Kasihan kalo dia digigit"
"Plak!!", sebuah tamparan pun hadir di pipi kananku.
__ADS_1