Bidadari Bersuara Emas

Bidadari Bersuara Emas
POHON ANGSANA 14


__ADS_3

"Kamu harus teliti saat menghafal Al Qur'an. Jika satu kata saja keliru itu sudah mengubah arti, paham? Dan itu sangat buruk jika kamu tidak menyadarinya"


"Afwan, Ustadz! Nuha, tidak menyadarinya"


Gadis itu terlihat senang melihat kedatanganku tapi langsung menundukkan kepala karena merasa bersalah.


Aku membuka Al Qur'anku dan mencari surah An Nisa. Hampir saja aku memberikannya kepada Nuha. Karena kutahu dia tidak bisa membaca Al Qur'an jadi kutarik lagi Al Qur'an itu. Tidak jadi kuberikan padanya.


"Kamu, sedang menghafal surah An Nisa?"


"Na'am Ustadz! Nuha sedang murajaah. Tadi habis dibantu ustadzah Sonia jadi Nuha harus terus mengulang-ulanginya lagi", jawabnya jelas.


"Baguslah"


"Duduklah, Ustadz!", pinta Nuha.


"Ma-mana bisa begitu", elakku dalam hati karena kaget dengan tawaran lempengnya itu.


"Hehe", Nuha pun mengabaikanku. Dia kembali murajaah dengan sangat serius.


Aku sendiri jadi tidak bisa meninggalkannya. Aku memantau hafalannya dan meneliti di setiap ucapannya. Jika terjadi kesalahan lagi, aku tidak ingin hal itu terjadi lagi.


Nuha melafalkannya dengan sangat hati-hati dan sepenuh hati tapi mendengar caranya menghafal yang sedikit sedikit mengambil nafas membuatku sedikit terganggu.


"Tunggu dulu"


"Ustadz?"


"Tunggu dulu. Kenapa kamu sedikit sedikit mengambil nafas? Kendalikan nafasmu itu, jangan sedikit sedikit bernafas"


"Apa?"


"Membaca Al-Quran itu beda dari membaca buku yang bisa berhenti di mana saja. Dalam membaca Al-Quran ada aturan yang perlu diperhatikan, seperti pada bagian tertentu harus dilakukan dalam satu kali tarikan napas dan tidak boleh terputus", ungkapku.


"Sedikit curi-curi napas boleh kan, Ustadz?"


"Umm..", jawabku berfikir.


Nuha kembali mengulang hafalannya. Aku rasa, dia benar-benar tidak mau menyerah dengan usahanya itu. Gadis itu terus berusaha hingga benar-benar berhasil. Meski, aku melihat dia sedikit kepayahan.


"Huuff.. Alhamdulillaah. Selesai juga", sahutnya lega dan terus mengucap syukur.


"Udah selesai? Hanya sampai ayat 23?"


"Na'am, Ustadz! Akhir dari juz 4"


"Yakin?"


"Yes! Ustadz! Hafalan ini sudah tersimpan aman di otak Nuha, hihi. Nuha harus segera menyetorkannya kepada Ustadz Azzam", dia menyeringai.


"Sebentar", cegahku.


"Ustadz?"


"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Satu hal yang ingin aku ketahui", ucapku dalam hati.


Nuha hendak beranjak, tapi aku menghentikannya.


"Kamu"

__ADS_1


"Ustadz?"


"Kamu, biasa berteduh di bawah pohon ini?"


"Umm, iya?", dia memiringkan kepalanya.


"Bisakah kamu melantunkan surah At Thaha?"


"Surah, At Thaha?"


"Iya.. Itu jika kamu berkenan"


"Baik Ustadz!", jawabnya langsung semangat.


"Ada apa dengan dia?", heranku dalam hati.


Saat Nuha mulai ta'awudz dan membaca basmalah, aku langsung teringat dengan suara itu yang khas.


"Apa benar, dia?"


"Thaa haa.."


"Benar", baru satu ayat terdengar, suara itu mengingatkanku dengan suara yang sangat indah waktu itu. Aku, masih ingin mendengarnya.


"Maaa anzalnaa... Uuuhhh", keluhnya.


"Apa?", aku langsung kaget dengan ayat yang terputus itu.


"Ustadz"


"Kenapa?"


"Nuha, Nuha lapar ustadz!!"


"Itu karna tadi Nuha gak sarapan, jadi rasa lapar ini semakin menyiksa", keluhnya sendiri yang tidak ingin kuketahui.


"Kenapa juga gak sarapan? Mau nyiksa diri apa?", batinku heran dan tidak peduli"


"Nuha, Nuha makan dulu ya Ustadz"


Nuha langsung beranjak.


"Apa? Dia, dia langsung ngacir aja tanpa pamit"


Setelah beberapa langkah dia berlari, dia baru mau berucap, "Sukran, Ustadz! Ustadz Thaha, saaaangat baik! Aku akan membalas kebaikan ustadz!"


"Berhenti dulu!", perintahku.


"Ustadz?"


"Kalo kamu mau membalas kebaikanku, kamu harus mau ikut kelas saya! Kalo tidak, itu akan saya anggap sebagai hutang. Kamu mengerti itu?!"


"Eeeehhh!!"


Dia malah melenguh panjang dan pergi meninggalkanku sendiri di dekat pohon angsana ini.


"Dia itu, sudah berapa banyak kata Ustadz yang dia ucapkan padaku", cibirku sambil terkikik geli tanpa sadar.


Aku melihat kepergiannya, yang semakin menjauh dan semakin tidak terlihat. Aku teringat kembali suara merdu itu, bahwa yang melantunkan nada seindah itu adalah Nuha sendiri.

__ADS_1


"Aku, sampai tidak menyadarinya. Sampai sekarang. Bahwa apa yang dikatakan orang-orang tentang kemampuan hafalannya, sungguh luar biasa", aku merasa kagum kepada gadis kecil itu.


"Aku harap, aku bisa mendengarnya lagi"


...****************...


Di ruang tamu, aku mengobrol dengan Athar, sahabatku. Banyak hal yang dia ceritakan kepadaku, sampai benar-benar dia tidak bisa berhenti bicara.


Aku selalu heran dengan kemampuan aneh itu yang dimiliki oleh semua manusia. Bahwa, manusia itu suka bicara panjang lebar tanpa batas waktu dan tidak kenal lelah. Padahal, aku sendiri menghindarinya.


Tidak laki-laki dan tidak perempuan, mereka sama. Suka banyak bicara. Membicarakan hal ini dan itu. Bahkan, meskipun diabaikan, cerita itu masih saja mengalir dari mulutnya yang tidak bisa berhenti.


Athar, masih terus menceritakan dirinya yang kuliah di mesir. Aku mendengarkannya sambil mengulas materi. Rasanya, suasana itu bukan diiringi senandung musik. Melainkan diiringi dengan cerita.


Suara ketukan pintu akhirnya menghentikannya, "tok tok tok", seseorang mengetuk pintu.


"Assalamu'alaikum.."


Alisha datang berkunjung. Kami pun membalas salamnya dengan baik dan lengkap.


"Alisha", sapaku tenang.


"Alisha?", Athar malah langsung senang dengan perjumpaan ini.


"Gus Athar, selamat datang kembali di pondok", ucap Alisha menatapnya dengan tersipu malu.


"Alhamdulillaah, Alisha. Kuliah saya di sana sudah selesai. Jadi, saya akan mengabdi di sini, inshaa Allaah"


"Alhamdulillaah, saya ikut senang Gus"


"Ada apa ini?", tanyaku dalam hati.


"Oh ya, Alisha. Saya punya oleh-oleh buat kamu"


Athar menuju ruangannya untuk mengambil sesuatu. Sedangkan, aku berdua dengan Alisha untuk menunggu. Aku mempersilahkan Alisha duduk, dan dia pun duduk.


"Sepertinya, kamu terlihat senang sekali melihat Athar pulang", ucapku.


"Umm..", jawabnya.


"Aku merasa, bahkan aku bisa melihat. Akan ada hati yang akan menoleh ke arah orang lain. Dan hati yang terdiam, akan segera ditinggal begitu saja", batinku.


"Alisha, ini"


Athar memberikan sebuah kotak yang entah apa isinya. Alisha menerimanya dengan senang hati, meski sedikit membuatku cemburu.


Tapi, beruntung dia membukanya segera. Sehingga, aku jadi tahu apa isinya, isinya adalah bros jilbab. Bros jilbab berupa cemiti yang sedikit besar dan bertuliskan Alisha di sana. Warnanya kuning keemasan dan tergelantung dua mutiara yang indah.


"Gus Athar, ini sangat indah", ucapnya.


"Dia memberikan pujian itu dengan perasaan bahagia", batinku terus menyelidik meski aku menjadi rendah diri.


"Bagus kan Alisha"


"Iya Gus, sukran katsiron"


"Wa iyyaki, Alisha. Saya harap, kamu akan memakainya selalu", balas Athar percaya diri.


Wanita itu, meski wajahnya tertutup rapat dengan niqab tapi aura kebahagiaan terlihat jelas di sekitar tubuhnya. Matanya, seringkali tersenyum menatap Athar.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi sangat memperhatikannya?", batinku mengeluh dan tidak mengerti.


"Meski akhir-akhir ini aku mengabaikannya dan tidak terlalu mempedulikannya. Tapi, ada perasaan yang aneh tiba-tiba hadir di dalam hati ini"


__ADS_2