Bidadari Bersuara Emas

Bidadari Bersuara Emas
MURAJAAH QUR'AN 13


__ADS_3

"Bude! Nuha mau buat sarapan untuk Ustadz Thaha!", seru Nuha di depan meja dapur.


"Aha? Buat apa Neng Nuha?"


"Nuha harus bisa mengambil hatinya supaya Nuha bisa diajarin ngaji oleh ustadz Thaha", ucapnya membara.


"Kan Ustadz Thaha udah biasa sarapan di kantin, Neng. Gak usah repot-repot Neng itu mah"


"Tapi kan tapi, Budeee", Nuha langsung mengeluh.


"Lupakan perasaan egoismu itu Neng. Bener kata ustadz, kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh dulu kalo mau diajarin ustadz ngaji"


"Budeee.. Tolong bujuk ustadz Thaha buat ngajarin Nuha mengaji", pinta Nuha dengan air mata merajuk.


"Bude masih sibuk Neng. Udah! Bude mau ke depan dulu", pungkas beliau.


Nuha masih terus menangis buaya dan mengeluh sedih. Dia ingin mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan, tidak peduli ada orang lain yang menghambatnya.


"Baiklah! Nuha akan usaha sendiri!"


...****************...


"Thaha, hari ini kamu sarapan di rumah aja ya", pinta Ibu.


"Kenapa Ibu?"


"Lhoh kamu lupa? Kan Athar baru aja disini, jadi kamu harus menemaninya sarapan di rumah"


"Padahal mau saya ajak sarapan di kantin", batinku.


"Iya, Ibu", balasku singkat


...****************...


Nuha mengintip mahasantri sarapan dari balik hijab dapur. Ruang makan yang sangat besar dan banyaknya mahasantri sarapan, membuatnya kesulitan mencari keberadaan ustadz Thaha. (Diriku, padahal aku sedang sarapan di rumah, wek!)


"Nuha, jenengan ngapain disitu nduk?", tanya Pakde Roso heran saat masuk ke dalam dapur.


"Cari Ustadz Thaha, Pakde"


"Gus Thaha kayaknya dak sarapan di sini, Nuha"


"Kenapa, Pakde?", tanya Nuha langsung antusias.


"Dia sedang ada tamu dari luar negeri", balas Pakde Roso seraya berjalan meninggalkannya untuk mencari sesuatu.


"Tamu luar negeri?"


"Wis, nduk! Pakde lagi sibuk. Jangan ganggu dulu"


"Injih Pakde, injih.."


Memikirkan ustadz Thaha, membuat Nuha jadi lupa sarapan. Dia keluar dapur dan berjalan-jalan keliling pondok.


Dalam perjalanan, Nuha bertemu dengan Ustadz Azzam bersama istrinya. Sedikit merasa takut, Nuha menyapanya dengan mengucap salam.


"Assalamu'alaikum, Ustadzah!"


"Kamu lagi", sinis Ustadz Azzam.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalaam wa rahmatullaahi wa barakatuh", balas Ustadzah Sonia yang tidak lain adalah istri ustadz Azzam.


"Nuha, mau kemana?", tanya Ustadzah Sonia.


"Eh?", Nuha saja bingung mau kemana.


"Jangan berkeliaran terus, ikutilah perkuliahanmu Nuha", pinta Ustadzah Sonia ramah.


Kamu ini, kapan mau setor juz empat kamu Nuha? Ini sudah semester 2 dan kamu juga harus segera menghafal juz ke lima", ucap Ustadz Azzam.


"Juz empat Nuha kan sudah Ustadz! Dan, juz yang kelima masih proses (bohong), hehe"


"Sudah gimana? Baru 80 persen", sinis Azzam.


"Tapi Nuha sudah berusaha"


"Makanya belajarlah yang rajin"


"Gak ada yang ngajarin Nuha"


"Kamu ini, sudah besar masih minta diajarin. Belajar sendiri sono!", perintah Ustadz Azzam.


"Saya kan gak bisa baca al Qur'an sendiri", balas Nuha dengan suara merendah.


"Kurang 20 persen ya? Ustadzah Sonia akan bantu Nuha kalo gitu?", ucap Sonia menawarkan diri.


"Hah?"


"Benarkah, ustadzah?"


"Na'am, Nuha"


"Kita ke gazebo sekarang kalo gitu", ajak Ustadzah Sonia.


"Ya sudah. Saya ngajar kelas dulu ya istriku", sahut Azzam tanda memberi izin istrinya untuk mengajar Nuha.


"Huek!", ejek Nuha.


"Ck!"


...****************...


Di gazebo ukuran 2m x 2m, Nuha bersama Ustadzah Sonia duduk bersama disana. Ustadzah Sonia sudah membawa sebuah Al Qur'an dan di depannya, Nuha sudah siap menerima ajarannya.


"Kamu kan pandai menghafal kan Nuha, jadi tidak akan merasa kesulitan untuk mengulang-ulang lagi hafalannya?"


"Na'am, Ustadzah!"


"Baiklah. Saya kagum dengan kemampuan luar biasamu itu. Jadi, dengarkan saya mengaji dan ikutilah bacaan saya sambil kamu menghafalnya sendiri"


"Na'am, Ustadzah!"


"Umm.. Juz empat dan kurang 20 persen ya?, Kita mulai dari awal surah An Nisa, okei?"


"Okei? Oke, Ustadzah!"


"Ta'awudz dulu dan kita baca Al Fatihah bersama-sama", ajak Ustadzah Sonia dengan sangat ramah.


Ustadzah Sonia sangat sabar membantu Nuha menghafal surah An Nisa. Pribadinya sopan dan gaul. Sangat berbeda dari suaminya sendiri yang terkesan galak dan cepat marah.

__ADS_1


Setiap berhenti waqaf, Nuha mengulangi bacaan Ustadzah Sonia. Mengulangi lagi hingga selesai satu ayat. Dua ayat. Tiga ayat. Sampai 1 jam, Nuha berhasil menghafal 2 halaman.


"Mumtaz, Nuha!", Ustadzah Sonia memberikan dua tos tangan, dan Nuha menyambutnya dengan senang.


"Lanjut lagi?", tanya Ustadzah Sonia.


"Na'am, Ustadzah!"


Nuha, sekali menghafal dia sudah tidak bisa berhenti. Sepanjang waktu atau selama apapun itu, tidak masalah baginya. Hingga, kadangkala yang mengajarinya saja sampai kelelahan.


"Bagus, Nuha!", Puji Ustadzah Sonia.


Nuha tersenyum-senyum tersipu malu.


"Inilah mengapa, saya itu suka banget ngajarin kamu hafalan. Kok kamu gak cari saya aja untuk membantumu menghafal, Nuha?", tanya perempuan yang sedang hamil 4 bulan itu.


"Nuha sering dimarahi ustadz Azzam karena ini, hehe. Afwan, Ustadzah! Kalo Nuha, kalo Nuha selalu merepotkan Ustadzah", ucap Nuha sedih.


"Saya kan gakpapa, Nuha. Kamu lupa, kalo saya sudah bantuin kamu hafalan sejak juz pertama"


"Iya sih ustadzah, tapi Nuha jadi kena omel ustadz Azzam terus", Nuha menangis buaya.


"Maaf ya, Nuha. Itu karna Ustadz Azzam sangat mengkhawatirkan saya, dan anaknya ini. Hihi", balas Ustadzah Sonia lucu sambil mengelus perutnya.


"Umm..", Nuha memeluk Ustadzah Sonia.


"Kamu anak yang sangat baik, Nuha. Kebaikan akan selalu hadir di sekitarmu. Walaupun saya tidak bisa sepenuhnya mengajari kamu menghafal, pasti akan ada orang lain yang akan membantumu dengan senang hati"


"Na'am, ustadzah"


"Siapa yang biasa membantumu hafalan, Nuha?"


"Umm.. Pakde dan Bude"


"Oohh.. Beliau juga sangat baik kepadamu. Kamu harus bersyukur untuk itu, Nuha"


"Alhamdulillaah. Nuha, Nuha ingin membalas kebaikan Ustadzah Sonia dan kebaikan Bude Pakde. Tapi, apa yang bisa Nuha lakukan untuk mereka, Ustadzah?"


"Dengan belajar yang rajin donk", balas Ustadzah Sonia menyeringai manis.


"Belajar, ya?", keluh Nuha dalam hati.


...****************...


Nuha berjalan menuju pohon kesayangannya, Pohon Angsana. Mulai duduk dan bersandar di bawah kerindangannya.


Perutnya, mulai bersuara.


"Aduh, aku lapar", keluhnya.


Tapi itu tidak membuatnya kalah. Nuha mengulangi lagi hafalan yang baru saja dibantu oleh Ustadzah Sonia. Murajaah berulang-ulang.


Dia menyadari hafalannya baru tersimpan sesaat di memori pikirannya, sehingga dia harus terus murajaah tanpa kenal lelah.


"Wa idzaa hadharal qismata uulul qur'aana wal yataamaa wal masaakinu falzukuhum.."


"Bukan qur'aana, bukan uulul qur'aana tapi uulul qurbaa. Uulul qurbaa wal yataamaa wal masaakinu fa(r)zukuuhum minhu wa quuluu lahum qaulaa ma'ruufa", Aku datang dan membenarkan bacaan Nuha hingga selesai di akhir ayat.


"Ustadz!!"

__ADS_1


__ADS_2