
Aku mengambil tas map di atas meja belajarku untuk segera berangkat mengajar. Kulihat al Qur'an itu lagi dan mengambilnya. Al Qur'an itu, ada gemboknya.
"Apa iya aku mengkhawatirkannya? Dasar Pakde! Gimana bisa aku mengkhawatirkan gadis itu", gerutuku dan malah menaruh al Qur'an itu di atas rak buku. Tanpa kusadari.
"Hari ini, aku harus fokus mengajar kelas. Aku akan mengajak mereka ke menara perpustakaan pondok untuk membaca buku-buku tafsir di sana"
...****************...
"Alisha, kapan kamu akan mulai mengerjakan skripsimu?", tanya salah satu sahabatnya, yaitu Anis.
"Ana juga belum memikirkannya. Mungkin, nanti aku mau ke perpus dulu untuk mencari referensi skripsi di sana"
"Ana ikut kalo gitu ya, Ust! Eh? Hahaha.. Kita kan sedang gak ngajar itu bocil-bocil", balas Nurul terkekeh.
"Anti ini. Serius dikit bisa gak sih?!", sanggah Anis.
"Afwan. Ana masih terngiang moment waktu itu. Hihi"
"Tentang, Nuha itu ya?", tanya Alisha.
"Tuh Alisha aja masih inget"
"Umm..", Alisha langsung memalingkan matanya.
"Dia itu, memang sangat hebat melantunkan ayat suci Al Qur'an. Bahkan, tilawahku saja aku merasa buruk", batin Alisha.
"Alisha? Kenapa bengong?", tanya Anis menyadarkan.
"Eh? Apa ini yang dinamakan cemburu?", ucap Alisha tanpa sadar, sehingga kedua sahabatnya mendengarnya.
"Cemburu? Alisha, Anti, sedang cemburu?"
"Apa? Laa! Bukan apa-apa. Astaghfirullaah. Ana tidak akan seperti itu Anis!", elak Anis.
"Alisha, Alisha. Anti memang wanita anggun nan sholihah. Sikapmu yang elegant itu akan bisa terlihat berbeda kalo hatimu sedang ada masalah", sindir Anis.
"Masyaa Allaah! Tidak, Anis. Ana, tidak akan seperti itu. Subhanallaah, Allaahlah yang pantas ana cemburui daripada mencemburui manusia!", ucap Alisha langsung bergegas pergi keluar kelas.
Anis hanya menggeleng-geleng kepalanya dihadapan Nurul dan Nurul juga meresponnya dengan mengangkat bahu saja.
...****************...
"Alhamdulillaah, Buk e! Al Qur'an Nuha sudah ada di Gus Thaha, Buk e!", ucap Roso sambil membersihkan dapur.
"Alhamdulillaah. Kok bisa, Pak e? Kok dak kamu minta sekalian to Pak e, pie to?"
"Yo Gus yo dak bawa to Buk e. Nanti pasti dia akan kesini untuk mengantarkan Al Qur'an itu"
"Syukurlah, Pak e. Untung Gus Thaha yang menjaganya"
"Maksud Buk e?"
__ADS_1
"Iya untung kita tau siapa yang menyimpan Al Qur'an itu Pak e, kalo dak kan kita akan cari kemana coba? Pasti bakalan kebingungan kitanya"
"Iyo yo Buk e, bener"
"Yo wis, aku mau lihat Neng Nuha dulu untuk ngelapin tubuhnya dengan air hangat. Bantu Buk e nyiapin air hangat e yo Pak e"
"Injih Buk e", balas Roso sedikit merajuk.
...****************...
"Kita tahu bahwa ilmu sekarang itu luas dan telah tersebar dengan mudah dimana-mana. Buku, majalah, media elektronik seperti televisi, radio bahkan internet. Kalian sudah sangat mudah mencari ilmu-ilmu yang kalian inginkan hanya dengan satu atau dua jari saja. Siapa yang tau maksud saya?", tanyaku yang sudah berada di perpus bersama para mahasantri jurusan tafsir.
"Dengan, smartphone?", balas salah satu mahasantri.
"Benar"
"Maka dari itu, kalian saya ajak ke perpustakaan ini untuk mengenalkan kembali kalian kepada buku-buku yang sangat luar biasa ini"
"Itu akan memakan waktu lama, Ustadz. Kenapa kita tidak memanfaatkan kemudahan saja. Kita bisa pergi ke lab untuk mencarinya di google", sanggah mahasantri lain.
"Gubrak!", Aku langsung mendobrak meja dengan kedua telapak tanganku. Membuat mereka langsung kaget.
"Kan saya sudah katakan, kita kesini untuk mengenal buku bukan internet. Paham?!", ucapku lantang.
"Astaghfirullaah! Suara siapa itu, Ust? Eh, Alisha?", tanya Nurul yang juga ikut mencari referensi di perpus.
Alisha, Anis dan Nurul sedang berada di sebelah lain dibagian rak skripsi langsung ikut kaget mendengar suaraku yang tidak aku sadari keberadaan mereka.
Anis pun mengintip, "Masyaa Allaah, ada mahasantri sedang belajar di perpus ini, Alisha", bisiknya.
"Masyaa Allaah, Gus Thaha?", ucapnya.
"Apa? Benarkah itu Alisha? Gus Thaha?"
"Mana mana?", Nurul ikut mengintip.
"Astaghfirullaah! Gak baik kita ngintipin begini Anis! Nurul!", ucap Alisha menyadarkan.
"Baiklah, baik. Kita lanjutin lagi cari referensinya kalo gitu", balas Anis menyerah.
"Ngapain Gus Thaha mengajak mahasantri jurusan tafsir itu belajar di perpus?", tanya Alisha dalam hati.
Aku melantunkan satu ayat Qur'an dari Surah Al Baqarah, yaitu ayat 163, "Wa ilāhukum ilāhuw wāḥid, lā ilāha illā huwar-raḥmānur-raḥīm"
"Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang", pungkasku.
Kemudian, aku dan para mahasantri mulai mencari buku referensi tafsir tentang Allaah, keesaan Allaah.
"Hanya mendengar satu ayat dari Gus Thaha langsung membuat hatiku tersentuh. Dia memang hafidz yang sangat berbakat", puji Alisha dalam hati.
"Alisha? Kamu disini?", tanyaku menyadarkan lamunannya.
__ADS_1
"Eh? Gus?", balasnya sedikit sadar.
"Aaa Assalamu'alaikum, Gus Thaha", sambut Anis dan Nurul dari belakang Alisha.
"Wa'alaikumussalaam wa rahmatullaahi wa barakatuh"
"Kami, sedang mencari referensi skripsi", balas Anis.
"Ooh..", balasku singkat.
"Gus Thaha sendiri, kapan mulai mengerjakan skripsi Gus?", tanya Nurul menyela.
"Saya? Ooh.. Be-belum terfikirkan"
"Begitu ya", Balas Nurul ikut singkat namun kemudian menyenggol bahu Alisha. Sehingga membuat Alisha sedikit canggung menghadapiku.
"Kenapa?", batinku menyelidik.
"Gus! Tolong bantu saya!", panggil seorang mahasantri.
"Maaf, saya harus kembali", pamitku kepada mereka bertiga.
Aku sejenak menatap Alisha, tapi dia sedikit mengalihkan matanya ke samping. Bukan perasaan tersipu tapi lebih sedikit melamun dan, acuh.
"Kenapa dia?", batinku lagi.
"Alisha! Kok kamu gak berkutik sih dihadapan Gus Thaha? Ada apa?", tanya Anis.
"Tidak berkutik karena dia sedang terpesona dengan ketampanan Gus Thaha, Anis", sanggah Nurul merayu.
"Masyaa Allaah, sama donk berarti", Anis terkikik.
"Istighfar kalian semua!", balas Alisha marah.
"Afwan, afwan Alisha"
"Dia memang pria sempurna tapi dia sama sepertiku, mudah menahan emosi. Jika kami benar-benar berjodoh, apakah ini akan baik? Ya Allaah?", batin Alisha.
"Alisha! Lihat ini, ana sudah mendapatkan satu skripsi yang menarik", ucap Anis.
"Masyaa Allaah, aku juga ingin lihat", sahut Nurul.
"Nurul, setelah kita lulus nanti apakah benar kita bisa jadi ustadzah beneran?", tanya Anis sambil membuka skripsi.
"Tentu saja. Kita kan jurusan pendidikan agama islam. Pasti bisa jadi guru. Emang kamu belum punya rencana ingin bisa ngajar di madrasah mana gitu?", tanya Nurul.
"Belum lah"
"Kalian ini, judul skripsi aja belum dapat udah pingin ngajar di madrasah aja", sanggah Alisha mendekat.
"Ehehehe.. Namanya juga angan-angan Sha", cengir Anis.
__ADS_1
"Ana sebenarnya juga ingin bisa ngajar di madrasah kok. Sudah ada beberapa madrasah yang ana "pin" di catatan Ana", sahut Alisha.
"Duuh, pikiranmu memang sudah maju, Alisha!"