Bidadari Bersuara Emas

Bidadari Bersuara Emas
MENGAJAR KELAS 04


__ADS_3

Lantunan sholawat itu, membawaku ke dalam imajinasi yang sangat indah. Aku berada di sebuah padang bunga yang luas dengan gemericik air sungai di dekatnya.


Air sungai terlihat sangat jernih dengan pantulan-pantulan cahaya matahari yang berkelap kelip. Udara terasa sejuk hingga aku bisa merasakannya dengan sangat nyata.


Aku terpejam, dan terus terpejam. Terbuai dengan lantunan sholawat yang terdengar merdu dan sangat indah.


"Aah.. Ini sangat menenangkan"


"Aku ingin sekali tau siapa yang melantunkannya"


"Plak!", Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Seketika membangunkanku dari buaian imajinasi ini.


"A-apa yang terjadi?!", Aku kaget dan langsung terbangun.


"Ahahaha.. Maaf, sakit ya", balas gadis itu ceria.


"Apa?", tanyaku semakin bingung.


"Tadi ada nyamuk di pipimu. Jadi aku langsung memukulnya", balas gadis itu semakin menunjukkan giginya yang manis.


Aku yang tidak terbiasa mendapat respon seperti itu, membuatku langsung gagap tingkah dan ingin segera melarikan diri. Lagi pula, siapa yang tepat di hadapanku ada seorang wanita.


Aku langsung berlari tunggang langgang tanpa mempedulikan apapun lagi.


*****


"Wala? Mamasnya langsung kabur. Kenapa ya? Apa aku terlihat seperti hantu?", Nuha bertanya-tanya sendiri.


"Ini, apa?"


Nuha melihat ada berkas dokumen yang tertinggal di samping pohon, "apa ini miliknya?", gumam Nuha.


"Baiklah. Akan aku simpan, semoga aku bisa ketemu lagi dengan mamas ganteng itu. Ups"


*****


Keesokan harinya.


"Hari ini, aku akan mengajar di kelas santriwati. Aku jadi tidak bisa berharap banyak untuk keberhasilanku kali ini", batinku mengeluh.


"Assalamu'alaikum", sapaku saat melangkah masuk ke dalam kelas santriwati jurusan tahfidz semester dua.


"Wa-"


Belum selesai melanjutkan jawaban salam itu, seluruh santriwati yang melihat ke arahku langsung berteriak histeris.


"Uwaaaa"


"Si-siapa ustadz itu?! Masih muda dan sangat tampan"


"Masya Allah, terjadi lagi", batinku mulai kesal.


"Subhanallaah. Apa Allah sedang menurunkan malaikatnya kepada kita?", bisik santriwati kepada yang lain.

__ADS_1


"Siapa dia siapa dia?"


"Mulai lagi. Ucapan-ucapan yang tidak penting itu kenapa mereka suka sekali membicarakannya. Apa tidak ada orang yang serius di pondok ini?!", gerutuku di dalam hati semakin kesal.


Melihat suasana kelas yang tidak segera mereda, aku langsung mendobrak meja guru. Seisi kelas pun kaget dan mulai merasa ketakutan.


"Ini saatnya aku harus tegas", batinku yakin.


"Kalian ini! Saya baru saja memberi salam tapi kalian malah tidak segera menjawabnya. Apa kalian ingin mendapat dosa?!"


"Apa?"


Mataku bergetar karena kesal dan gigiku sedikit gemeretak. Emosiku mulai terganggu lagi. Tapi, aku benar-benar tidak sadar dan tidak bisa mengendalikannya.


Seorang santriwati yang sedang tidur di bangku belakang akhirnya mengangkat kepalanya karena merasa terganggu. Dia adalah Nuha.


"Ada apa sih?", tanya Nuha setengah tidur.


"Ustadz, jangan menganggu tidurku. Kalo tidak, aku akan kabur lagi", ucap Nuha kepada orang yang di tuju.


"Kamu juga! Kenapa tidur di dalam kelas!", balasku langsung membentaknya.


Seisi kelas pun menoleh ke arah Nuha. Beberapa tawa ejek pun terdengar dan menambah kegaduhan. Nuha masih tenang ditempatnya dan celingak celingkuk merasa tidak bersalah.


"Ada keributan apa disini?"


Seorang dosen pun lewat dan menghampiri kelas Nuha berada. Seorang Dosen yang membawa cambuk yang dia kaitkan di ikat pinggangnya.


"Ya-ya ampun, ustadz cambuk datang", sahut santriwati merasa ketakutan.


"Teman-teman, kita harus tenang", bisik para santriwati.


"Ada apa ini, ustadz?", tanya Ustadz yang dipanggil ustadz cambuk itu. Dia adalah Ustadz Azam.


"Maaf ustadz jika saya membuat kegaduhan. Ini karna saya baru pertama mengajar di sini jadi sedikit kurang bisa terkendali", balasku menjelaskan.


"Baiklah kalo begitu", jawabnya singkat.


Ustadz Azam mulai menyelidiki seisi kelas dan mendapati satu santriwati yang sangat khas dan terkenal di kalangan para dosen.


Nuha. Dia dikenal oleh para dosen sebagai mahasiswa buta aksara dan tidak mau belajar. Setiap kali dia ada di kelas, kerjaannya hanya tidur. Dan saat Nuha diberi nasehat maupun peringatan, dia malah lari dan kabur.


"Nuha! Jangan kabur lagi ya kamu", ucap ustadz Azam dengan tatapan tajam.


"Iya iya ustadz", jawab Nuha gampang.


"Siapa Nuha? Siapa dia? Aku jadi merasa tidak asing dengan wajah innocent nya itu", batinku.


Ustadz Azam pergi meninggalkan kelas. Aku pun memulai kembali materi pelajaran. Para santriwati pun mulai antusias untuk memperhatikan.


"Alhamdulillaah, keadaan mulai bisa tenang"


Aku menyampaikan materi kuliah dengan sebaik mungkin. Menjelaskan dengan penjelasan yang memudahkan mereka. Mereka mulai senang mendengar penjelasanku.

__ADS_1


Nuha mulai tertidur di meja belajarnya lagi. Dia benar-benar tidak memiliki daya tarik sedikit pun terhadap materi pelajaran. Pelajaran yang paling dia sukai hanyalah tahfidz.


Aku melihat gadis itu tidur lagi, tapi aku tidak akan mempedulikannya. Aku masih ingin lebih fokus menyampaikan materi pelajaran mumpung para santriwati masih serius mendengarkan.


"Baiklah. Materi kita cukup sampai disini. Apakah ada yang ingin kalian tanyakan?", tanyaku.


"Ustadz Thaha, tadi ustadz kan memperkenalkan diri sebagai dosen pengganti Kiai Abdul Ghani. Boleh gak saya bertanya yang tidak berkaitan dengan materi?", tanya santriwati bernama Asmi.


"Tidak boleh", jawabku tegas.


"Ya ampun, galak banget", gerutu santriwati yang lain.


"Ustadz Thaha sangat pandai menyampaikan materi tapi dia sepertinya orang yang mudah marah", bisik santriwati bernama Nada.


"Ustadz! Apa ustadz bisa murottal, uumm.. Tilawah, Qur'an?", tanya Amalia sungkan.


"Insya Allah bisa"


Seketika jawabanku itu langsung memberikan kebahagian kepada mereka, "kenapa?", aku pun bingung.


"Tolong ustadz, lantunkan beberapa ayat al qur'an untuk kami", pinta Amalia.


"Baiklah kalo begitu"


"masya Allah, mendebarkan sekali", histeris Amalia.


Aku mulai melantunkan surah Nuh ayat 1 sampai 4. Kemampuan hafidzku aku tunjukkan kepada mereka dengan sebaik mungkin. Bukan sebaik mungkin, tapi lebih ingin benar-benar bisa menyentuh hati mereka.


"Innaa arsalna nuuhaa ilaa qoumihii.."


Nuha pun mulai terbangun dari tidurnya. Perlahan matanya terbuka dan mulai berbinar-binar menatap ustadz Thaha yang sedang mengaji dengan sangat merdu.


"Subhanallah, subhanallah", lirih Nuha.


"Hatiku tersentuh. Aku hampir mau menangis mendengar keindahan suaranya", lanjutnya.


"Suaranya merdu bangettt", puji Amalia.


"Iya, merdu banget", Nuha ikut memuji.


Lantunanku mulai menarik perhatian mereka. Aku tersenyum, aku melantunkannya lebih baik lagi. Beberapa santriwati mulai terharu dan sudah beberapa yang sesenggukan karena mendengar indahnya nada ini.


"Masyaa Allah, wal hamdulillaah. Ayat suci Al Qur'an ini masih bisa menyentuh hati para pendengarnya. Semoga Allaah senantiasa menjaga kemurnian ayat-ayat suci ini", batinku.


"Shodakallaahul 'adzim"


"Allaahummarhamna bil qur'an", sahut seluruh santriwati dengan santun.


"masya Allaah masya Allaah, hebat banget ustadz Thaha mengajinya. Luar biasa sempurna!!", histeria para santriwati.


"Astaghfirullaah, sadarlah kalian! Jangan memuji manusia berlebihan seperti itu, hah?!!"


"Ya Allah, ustadz Thaha marah lagiiii", gemas seluruh santriwati.

__ADS_1


Nuha masih berkaca-kaca mendengar lantunan ayat suci Al Qur'an tersebut. Hatinya berdebar-debar. Apa yang sedang dia rasakan?


__ADS_2