Bidadari Bersuara Emas

Bidadari Bersuara Emas
PINK KEEMASAN 10


__ADS_3

Bude Samiah menyelimuti Nuha dengan sangat rapat, benar-benar dibungkus seperti guling pikirku.


"Pak e, apa perlu kita minumi obat?"


"Apa genduk mau? Nuha gak pernah mau minum obat Buk e", balas Roso sambil memeras kain kompres.


"Gih pun, sini kompresnya"


Aku melihat Bude Samiah begitu serius merawat Nuha, Pakde Roso pun juga begitu. Aku keluar kamar dan menunggunya di ruang dapur.


"Ibu.. Bapak.."


"Neng Nuha, ini Bude Neng", ucap Samiah sambil memegang erat telapak tangannya.


"Ibu.. Bapak.."


"Tenang Neng, Neng Nuha sudah gak usah khawatir. Ini ada Bude disini, menemanimu"


"Ibu.. Bapak.."


"Sabar Buk e, kalo dia sudah memanggil nama kita berarti perasaannya sudah mulai tenang"


"Gih, Pak e.."


"Neng, maafin Bude ya? Bude sampe lupa kalo ini tanggal 15 Hijriyah. Maafin Bude.."


Samiah mulai menitikkan air matanya, sedangkan Nuha mulai bisa tenang. Akhirnya, Nuha memanggil Namanya dalam keadaan terpejam, "Bude.."


"Alhamdulillaah..", sahut Samiah terharu.


"Alhamdulillaah", Pakde Roso dan Bude Samiah saling melempar senyum lega. Pakde pun keluar ruangan.


"Gimana Pakde, keadaannya?", tanyaku.


"Ngapunten gih Gus, kami jadi merepotkan Gus Thaha"


"Gakpapa, Pakde"


"Matur sembah Nuwun sudah membantu kami menemukan Nuha"


"Itu tadi karna saya gak sengaja melihatnya", balasku lirih sambil menggaruk pipi karena sungkan.


"Nuha itu, setiap tanggal 15 hijriyah pasti terserang demam tinggi. Bertepatan di bulan purnama. Karna itu katanya mengingatkannya pada kematian kedua orang tuanya. Jadi, kami sering ada untuknya untuk segera merawatnya. Tapi, hari ini kami benar-benar lalai dan lupa", ucap Roso merasa sangat menyesal.


"Tapi Pakde, Pakde dan Bude itu terlihat sangat peduli dan serius untuk merawat Nuha"


"Gus, kami sudah menganggap Nuha sebagai anak sendiri. Kami juga pernah merasakan gimana rasanya kehilangan. Sehingga, kehadiran Nuha yang tidak kami sangka itu akhirnya bisa menjadi pelipur lara kami"


"Kehilangan?"


"Injih, Gus. Pakde punya tiga anak dan mereka semua telah tiada alias sudah menghadap gusti Allaah"


"Innalillaahi wa inna ilaihi raji'un"


"Ngapunten njih Gus, pakde lupa belum kasih Gus unjukan"


"Sudah Pakde, gakpapa. Saya juga mau langsung pamit aja, sudah malam"

__ADS_1


"O gitu njih. Gih pun. Sekali lagi, Pakde ngaturaken agunging panuwun njih Gus"


"Iya Pakde, sama-sama"


Aku berjalan untuk kembali ke asrama.


"Neng Nuha sudah tidur nyenyak, Pak e"


"Alhamdulillaah, syukurlah", balas Roso sambil menyuruput teh hangat yang baru dia buat.


"Aku benar-benar kasihan sama Neng Nuha, nyesel banget tadi dak bisa ada untuknya"


"Sudahlah Buk e, jangan disesali. Dak baik itu"


"Injih Pak e"


...****************...


Saat aku berjalan melewati pohon itu lagi, sebuah Al Qur'an tertinggal di sana. Al Qur'an berwarna pink dengan bingkai emas di semua sisinya.


"Bukan emas asli ternyata", batinku terperanga karena melihatnya bercahaya terkena cahaya bulan.


Aku mengambilnya dan ingin segera aku kembalikan kepada Bude dan Pakde. Tapi, aku urungkan karna waktu sudah sangat malam.


Aku membawanya ke asrama.


Kuletakkan kopiahku dan sejenak merapikan rambut sambil berkaca. Melepas kemeja dan memakai kaos saja.


"Kenapa aku jadi repot ketemu dia terus?"


"Dia itu sudah besar tapi masih seperti anak kecil. Jadi, saat aku melihatnya aku sampai tidak bisa mengalihkan pandanganku. Padahal kan seperti itu tidak diperbolehkan"


"Terlihat sangat terang"


Waktu sudah menunjukkan jam setengah sebelas. Aku mulai mengambil wudhu dan sholat sunnah dua rakaat sebelum tidur.


...****************...


"Bisa merawat Neng Nuha disaat sakit merupakan anugrah yang luar biasa gih Pak e"


"Iya Buk e"


"Meskipun, akhirnya dia hanya terus tertidur selama dua hari. Kita harus terus mengecek suhu tubuhnya secara berkala supaya panasnya tidak naik terus"


"Iya Buk e"


"Astaghfirullaah!"


"Eneng opo meneh Buk e?"


"Al Qur'an Neng Nuha Pak e, dimana?"


"Lah, Aku yo dak tau to Buk e. Biasanya Buk e kan yang nyimpen dan merawatnya"


"Biasanya Neng Nuha kesini selalu bawa Al Qur'an. Tapi, tadi kita menemukannya di bawah pohon. Apa ketinggalan di sana?"


"Yo wis Buk e, Tak carine dulu di sana"

__ADS_1


Roso bergegas keluar pondok dapur dan menghampiri pohon yang dituju. Ternyata, Al Qur'an Nuha tidak ada di sana. Beliau pun kembali lagi ke dapur.


"Dak ada Buk e"


"Masyaa Allaah, terus kepie no Pak e?, Neng Nuha kalo nyariin gimana?"


"Besok tak carine Buk e, besok Nuha juga belum bangun to? Mugo-mugo sesuk bisa ketemu"


"Aamiin. Al Qur'an itu hanya satu-satunya peninggalan dari orang tuanya. Jadi, semoga saja dak ilang"


"Iya Buk e. Jangan kuatir, insyaa Allaah, besok ketemu"


...****************...


Pagi hari, mahasiswa di pondok pesantren Ittiba sarapan pagi sesuai ruang makannya yang terpisah. Sisi kanan dapur untuk putri dan sisi kiri dapur untuk putra.


Biasanya diberi durasi satu jam untuk menyelesaikan sarapannya, mulai dari mengantri, makan sampai tuntas dan langsung diberi tanggung jawab mencuci sendiri alat makannya.


Sebenarnya, di pondok ini terdapat tiga dapur karena ada tiga prodi di sini. Masing-masing prodi ada dapurnya sendiri. Karna aku masuk prodi tahfidz jadi aku makan di tempat makan dapur milik Pakde Roso.


Aku makan bersama teman-temanku. Pakde Roso mulai menghampiriku.


"Gus Thaha, tadi malam apa Gus menemukan Al Qur'an di bawah pohon?", tanyanya.


Aku langsung kaget dan kepergok malu karena teman-teman semeja mulai melihatku. Jika pertanyaan itu terus berlanjut, mereka akan melihatku dan mendengar jawabanku. Terpaksa, aku mengajak Pakde Roso sedikit menjauh.


"Maaf Pakde, kita bicara disini aja. Ada apa Pakde?"


"Gus, apa Gus Thaha lihat Al Qur'an berwarna pink?"


"Al Qur'an warna pink?"


"Injih Gus"


Aku sejenak mengingat dan teringat, "Iya.. Tadi malam.. Saya melihatnya. Al Qur'an pink itu..", jawabku sungkan.


"Jadi Gus Thaha yang membawanya? Alhamdulillaah. Syukur kalo dak hilang", Pakde Roso mengelus dada lega.


"Maaf Pakde, bukan maksud saya mengambilnya"


"Yo wis gakpapa Gus. Tolong bisa segera dikembalikan njih, takut Nuha nyariin"


"Dia, sudah nyariin?"


"Belum, Gus. Nuha masih tidur. Biasanya 2 hari dia baru bisa bangun"


"Du-dua hari?"


"Gus tidak usah ikut khawatir. Kami sudah menjaganya dengan baik kok"


"Si-siapa yang khawatir. Pakde! Jangan ngada-ngada deh!"


"Owalah gus gus.. Gus itu lucu. Dasar anak berada yang manja. Cara ngomongnya lucu. Ngomong kasar wae yo ora iso teges", Pakde Roso terkikik geli.


"Pakde! Sudahlah. Saya mau lanjut sarapan dulu"


"Injih injih, Gus. Injih.."

__ADS_1


Aku berjalan meninggalkannya sedangkan beliau malah semakin berteriak, "Tolong segera dikembalikan ya Gus!!"


"Astaghfirullaah"


__ADS_2