Bidadari Bersuara Emas

Bidadari Bersuara Emas
BULAN PURNAMA 09


__ADS_3

"Assalamu'alaikum"


Sehabis sholat maghrib, aku dan Kiai Ahmad Husain akan menjenguk Kiai Abdul Ghani di rumah sakit dan kami telah sampai di sana.


Tidak lupa, kami membawa separcel buah sebagai bingkisan. Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam, Nyai Abdul Ghani membukakan pintu ruang dan menyambut kami dengan santun.


Beliau mempersilahkan kami masuk dan duduk sejenak beralaskan tikar. Kiai Ahmad Husain pun menghampiri Kiai Abdul Ghani yang sudah bisa bersandar di tempat tidurnya.


"Ente, gimana kabarnya Kiai?"


"Alhamdulillaah, lumayan wis sudah baik", balas Kiai Abdul Ghani dengan senyum ramahnya.


Kiai Abdul Ghani lebih sepuh dari Kiai Ahmad Husain. Hampir seluruh rambutnya sudah memutih dan keriput wajahnya bisa dilihat. Tapi, wajahnya begitu memancarkan aura cerah dan ketampanan dimasa senja ini.


"Ngunjuk riyen, Gus", pinta Nyai.


"Injih, Nyai", balasku.


"Gimana ngajarnya Gus, anakku?", tanya Kiai Abdul Ghani dari tempat tidurnya.


"Alhamdulillaah, sampun terbiasa", balasku singkat.


"Lagi seminggu wis terbiasa, hebat ment anakmu kui", puji Kiai Abdul Ghani dan tertawa kepada Kiai Ahmad Husain.


"Anakku kui, memang plek turunanku", balas Kiai Ahmad Husain menyambut tawa beliau.


"Hahahahaha"


"Kemarilah, anakku", pinta Kiai Abdul Ghani.


Aku menghampirinya dan ikut duduk di samping beliau bersama Kiai Ahmad Husain.


"Belajar agama di era sekarang itu lebih mudah. Apalagi, sekarang sudah banyak orang yang pinter. Pinter moco, pinter nulis, belajar sendiri wae sudah bisa. Ngajar di kelas yo luwih penak, guru tinggal nyuruh muridte moco ngunu uwis do mudeng dewe. Nek dak mudeng tinggal tanya, tapi kebanyakan mereka tidak bertanya dan lebih baik diam. Kui tandane mereka wis do pinter-pinter to?", jelas Kiai Abdul Ghani dengan tawanya lagi.


"Tapi ingat Le, anakku. Pinter kui belum tentu mudeng, memahami. Pinter kui mung eneng ning pikiran, tapi belum merasuk ke dalam kalbu. Jadi, jangan menggampangkan mengajar hanya sebatas mengajar. Tapi, jangan lupa sentuhlah juga kalbu mereka"


"Injih", balasku patuh.


"Semoga Allaah memberkahi ilmu yang kamu berikan kepada mereka, anakku. Gus Thaha"


"Saya dan sampeyan itu nek ketemu nanti dak selese-selese ngobrolnya. Ya sudah, Aku pamit sik kalo gitu", balas Kiai Ahmad Husain.


"Yo. Sok nek aku wis mari, ojo kapok ngajak kulo ngerokok manih gih Kiai", ucap Kiai Abdul Ghani.


"Wong wis tuo kok ra kapok-kapok ngerokok", sinis Nyai Abdul Ghani.


"Ngapunten, Nyai. Kami pamit pulang dulu njih", ucapku mengakhiri perjumpaan.


Sebelum itu, Kiai Ahmad Husain mendoakan kesembuhan untuk Kiai Abdul Ghani, "Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta syifā’an lā yughādiru saqaman."


Aku dan Kiai Ahmad Husain pulang dengan mengendarai mobil yang aku supir sendiri. Perjalanan pun memakan waktu setengah jam. Sampai di pondok pesantren, kami langsung menunaikan sholat isya di masjid.

__ADS_1


Sekarang, sudah jam 8 malam. Kiai Ahmad Husain kembali ke kediamannya untuk beristirahat sedangkan aku berjalan-jalan sejenak di area pondok.


Malam ini, bulan purnama. Purnama penuh di tanggal 15 hijriyah. Langit tampak cerah dan tenang di sana.


...Demi masa sesungguhnya manusia kerugian...


...Melainkan yang beriman dan beramal sholeh...


...~hmmm.. Hmmm.. Hmmmm.. Hmm~...


...Ingat lima perkara sebelum lima perkara...


...Sihat sebelum sakit...


...Muda sebelum tua...


...Kaya sebelum miskin...


...Lapang sebelum sempit...


...Hidup sebelum mati...


Aku mendengar seseorang bersenandung. Aku menghampirinya dan sampai di pohon yang biasa aku jumpai. Dia melantunkannya dengan perasaan sedih. Tatapannya lurus mengarah sang purnama.


"Gadis yang sama. Aku melihatnya lagi sedang memeluk sebuah al Qur'an", aku melihatnya dari jarak 3 meter.


Semakin aku mendekatinya, semakin dia terlihat jelas siapa orangnya. Dari samping, wajah yang tidak asing itu membuatku menyelidik dengan jelas, "Nuha?"


"Ada apa, dengannya?"


Air matanya pun mengalir. Aku langsung kaget melihatnya. Dia terus terpejam membiarkan air matanya tumpah di pipi dan pangkuannya.


Bibirnya mulai lemas untuk melanjutkan lantunannya dan terus gemetaran. Dia menahannya dengan menggigitnya. Tangannya kokoh lebih ingin memeluk Al Qur'an daripada menghapus air matanya itu.


Dia menangis, di keheningan malam. Di bawah pohon, sendirian. Bersama Sang Purnama yang setia di sana.


Aku langsung berlari menuju dapur pondok. Mengetuk pintu yang telah terkunci. Mengetuk lagi dan lagi supaya suara ini hadir untuk Pakde dan Bude.


"Pak e, sepertinya ada yang mengetuk pintu dapur", ucap Bude Samiah yang masih terjaga dengan laporan-laporan perdapuran.


"Paling Nuha, buk. Biarin. Dia biar balik lagi ke asrama", balas Roso sambil rebahan dan menepuk-nepuk punggunggnya dengan alat pijat.


"Astaghfirullaah! Sekarang tanggal berapa Pak e?"


"Mana bapak tau"


Samiah langsung melihat kalender yang tertempel di dinding ruangan. Dia mencari dan menemukan tanggal 2 agustus masehi kemudian melihat lagi dengan jelas angka kecil di atas angka 2 yaitu angka 15 yang ditulis dengan angka arab.


"Astaghfirullaah, astaghfirullaah, pak e !!"


"Ada apa to Buk?"

__ADS_1


"Pak e, Neng Nuha. Neng Nuha"


Samiah panik dan kebingungan melangkah kesana kemari. Dia langsung berlari menuju pintu dapur dan membukanya dengan kasar.


"Bruakk!"


Mendengar pintu terbuka dengan kasar, aku langsung menghindarinya. Untung saja aku tidak terkena benturannya.


"Masyaa Allaah, masyaa Allaah. Maaf Gus, ngapunten bude gak tau", balas Samiah panik.


"Buk e, ada apa to kok galabutan kayak gitu?", tanya suaminya menghampirinya.


"Gus Thaha, kok datang kemari. Ada dawuh apa Gus?", tanya Roso melihat kedatanganku.


"Pak e, ayo cepet cari Neng Nuha!", ajak Samiah.


"Mbok yo sabar to Buk, eneng opo?"


"Pak e, ini ni tanggal 15 Hijriyah"


"Astaghfirullaah, gih to Buk? Yo wis kalo gitu, ayo cari Nuha sekarang juga"


"Pakde, Bude. Ada apa kok kalian menjadi panik gitu?", tanyaku masih bingung.


"Ngapunten, Gus Thaha. Kami harus nyariin Neng Nuha sekarang", balas Bude Samiah.


"Nuha?, Tadi saya lihat dia sedang di bawah pohon melihat bulan purnama. Tapi,"


"Tapi apa Gus?"


"Dia sedang.. Me.. Menangis"


"Tuh kan bener Pak e. Ayo cepet! Kasihan Neng Nuha kalo didiamin kelamaan"


"Iyo iyo Buk e"


"Saya juga ikut gih Bude, Pakde"


"Ayo ayo Gus!"


Pakde Roso, Bude Samiah berlari dengan terburu-buru mencari keberadaan Nuha. Aku mengikutinya dari belakang.


"Masyaa Allaah, Neng Nuha!", teriak Bude.


Beliau langsung menghampirinya dan memeluknya sejenak, "Maafkan kami ya Neng. Neng pasti tadi datang ke dapur tapi pintu telah dikunci"


"Bude", balas Nuha.


"Pak e, badannya Neng Nuha panas. Ayo cepet kita bawa ke dapur", pinta Bude Samiah mencoba tegar.


"Gih gih buk. Ayo!", Pakde Roso langsung tanggap.

__ADS_1


__ADS_2