
Sampai di depan kediaman KH. Ahmad Husain, Ustadz Azzam mengetuk pintu walaupun pintu terbuka sedikit di satu sisinya.
"Assalamu'alaikum", ucap beliau.
Terlihat dari situ, aku masih tidur dalam keadaan duduk di ruang tamu. Nyai Ahmad Husain datang untuk menjawab salam, "Wa' alaikumussalaam wa rahmatullaahi wa barokatuh".
Nyai mempersilahkan Ustadz Azzam dan Nuha masuk ke dalam. Kiai Ahmad Husain pun muncul dari ruang kerjanya. Beliau juga langsung menyambut kedatangan mereka berdua.
"Ro-Romo Kiai", Sahut Nuha lirih sambil menunduk.
"Nuha, masuklah ke ruangan saya"
Nuha berjalan patuh, sedangkan aku akhirnya membuka mata. Aku menyambut ustadz Azzam yang sudah beberapa menit masih berdiri di ruang tamu. Nyai kembali ke dapur untuk mengambilkan minum.
Di ruangan Kiai, Nuha memulainya dengan menyapa Beliau dengan salam. Setelah kiai menjawabnya, beliau pun menyampaikan maksud Nuha dipanggil ke hadapannya.
"Nuha, bagaimana kelasmu? Apa kelasmu masih belum cocok sehingga masih saja membuatmu enggan untuk belajar?"
"Romo kiai, afwan"
"Romo mengerti Nuha. Tidak selamanya kita harus menuruti apa yang kita mau. Sebaliknya, kita harus bisa menyesuaikan sendiri pada keadaan apapun supaya kita bisa menjadi manusia yang tangguh"
"Nuha tidak menyukai pembelajaran disini Romo, pembelajaran disini terlalu serius dan ketat. Nuha, tidak menyukainya"
"Haa ah.. Lalu, apa kamu harus terus melarikan diri? Kamu ingin disini selamanya? Tidakkah kamu memiliki cita-cita yang sangat tinggi yang ingin kamu gapai, Nuha?"
"Nuha hanya ingin menjadi seorang Hafidzah!"
"Tapi, kamu perlu ilmu lain untuk bekal kehidupanmu nanti, Nuha Sukamto"
"Afwan, Romo"
Kiai Ahmad Husain menyerah memberikan nasehat untuk Nuha. Meskipun beliau sangat sabar dan penuh ketenangan, tapi beliau menyudai obrolannya karena tidak ingin terlalu lama.
Nuha keluar dari ruangan Kiai. Saat dia berjalan menuju ruang tamu untuk menjumpai kembali Ustadz Azzam, dia bertemu denganku lagi.
"U- ustadz?!", Histerisnya.
"Kamu lagi?!", balasku kesal. Apa yang ada diingatanku hanya saat aku tidur di bawah pohon kemudian gadis itu menamparku karena ada nyamuk di pipiku dan dia tidur saat aku mengajar di kelas. Meskipun itu karena ketidaksengajaan. Tapi, masih memberiku kesan yang buruk.
"Ustadz, Nuha senang bisa ketemu ustadz lagi!", ucapnya dengan semangat.
"Hah?!"
"Seperti sudah akrab saja", balas Nyai tersenyum sambil menaruh minuman di meja tamu.
"Nuha, ayo kita kembali!", pinta Ustadz Azzam.
"Minum dulu, ustadz", pinta Nyai.
"Injih, Nyai", Ustadz Azzam menerimanya dengan baik.
"Ustadz, kenapa ustadz juga disini? Dipanggil sama Romo kiai juga?", tanya Nuha polos.
"Nuha tidak tau tentang ustadz Thaha?", tanya Nyai.
__ADS_1
Mendengar ibu menanyakan itu, aku langsung memberikan kode untuk beliau tidak melanjutkan ucapannya lagi.
"Ssttt..", pintaku.
Sudah menjadi niatku untuk menyembunyikan identitasku bahwa aku seorang putra Kiai. Yang sudah tahu biarlah tahu. Sedangkan yang belum tahu, aku tidak akan menunjukkan diriku yang sebenarnya.
"Ustadz, Nuha ingin mendengar ustadz murottal lagi"
"Laa turiid!"
"Eee.. Kenapa?"
"Kenapa dia sok akrab banget sih?! Aku merasa terganggu olehnya", gerutuku di dalam hati.
"Sudah Nuha. Ayo kita kembali", ajak Ustadz Azzam. Dia jadi pekewuh melihat tingkah Nuha dihadapan keluarga besar Kiai Ahmad Husain.
"Iya-iya Ustadz", jawab Nuha cemberut.
"Tunggu dulu", bantah Kiai menghentikan langkah Nuha dan Ustadz Azzam.
"Afwan Kiai, ada apa?", tanya Ustadz Azzam.
"Sepertinya Nuha menyukai Thaha", balas beliau singkat. Namun, mengandung banyak makna bagi yang mendengarnya.
"Apa kamu suka belajar bersama Ustadz Thaha, Nuha?", tanya beliau.
"Na'am, Romo Kiai!"
"Kenapa?"
"Umm.. Karna Ustadz sangat pandai mengaji. Suaranya sangat indah!"
"Na'am!"
"Nuha, apa kamu ingin mendengarnya mengaji lagi?"
"Thab'an!"
"Ahahaha", sejenak Kiai tertawa.
"Kalo kamu ingin mendengarnya mengaji lagi, Romo harus memberimu syarat"
"Syarat? Apa syaratnya, Romo?"
"Kamu harus mau belajar sungguh-sungguh di kelas"
"Eeee.. Gak mau!!"
"Kalo begitu, Ustadz Thaha tidak akan mengaji untukmu"
"Tidaakk!!"
Nuha pun berfikir. Dia ingin sekali mendengar Ustadz Thaha bisa mengaji lagi dan menyampaikan ayat-ayat suci Al Qur'an dengan kemerduan suaranya.
Akhirnya, Nuha masih belum bisa memberikan jawaban apapun. Dia tertunduk merasa lemas untuk kembali keluar bersama Ustadz cambuk. Kiai membalasnya tersenyum ramah dan sabar.
__ADS_1
"Romo! Kenapa Romo bersikukuh mengizinkannya untuk bisa mendengarku mengaji?", tanyaku penasaran.
"Siapa gadis itu? Apa dia istimewa disini?"
Romo kiai tertawa, lalu menjawab, "Dia memang spesial di sini tapi tidak terlihat betapa spesialnya dirinya"
"Anak itu, memiliki suara yang luar biasa. Suaranya sangat indah sehingga mampu menggerakkan hati para pendengarnya. Namun sayang, dia seorang buta aksara. Dia tidak pernah menimba ilmu sedikitpun di madrasah mana pun. Hingga kedua orang tuanya tiada, kakek neneknya menitipkannya di sini. Mereka langsung menemui Romo. Jadi, anak itu telah menjadi tanggung jawab Romo sendiri"
"Lalu, kenapa dia tidak mau belajar?"
"Dia memiliki trauma"
"Trauma?"
"Waktu di Taman Kanak-kanak, dia mendapatkan kekerasan dari gurunya. Mendengar kata kekerasan sudah sangat menyakitkan di telinga. Tapi, kekerasan seperti apa Romo tidak tau detailnya"
"Jadi begitu", balasku.
"Kamu harus bisa mengubahnya, Thaha"
"Apa? Kenapa harus saya?"
"Dia menyukaimu", balas Kiai tertawa dan berlalu begitu saja. Aku malah semakin terheran-heran.
"Nuha! Kenapa kamu selalu bertingkah kekanak-kanakan, hah?!", tanya Ustadz Azzam sambil memainkan cambuknya.
"Kenapa ustadz peduli", jawab Nuha manyun.
"Apa kamu bilang?!", balas Ustadz Azzam semakin tegas mengibaskan cambuknya. Membuat Nuha langsung kaget.
"Kami, ustadz ustadzah dan para kiai itu selalu peduli kepadamu, tapi kamu masih seenaknya sendiri"
"Nuha harus gimana ustadz?! Kalo gak suka ya gak suka! Jangan paksa Nuha!", Nuha langsung berlari.
Nuha berjalan-jalan sendiri sesuka hatinya. Keberadaan dirinya yang hanya harus di wilayah santriwati, membuatnya enggan.
Di sebuah pendopo lain, terlihat beberapa ustadzah sedang mengajari anak-anak kecil untuk belajar. Nuha menghampirinya.
"Apa itu anak-anak TK?", gumamnya.
"Assalamu'alaikum", sapa Nuha mendekat.
"Wa'alaikumussalaam wa rahmatullaahi wa baraktuh"
Nuha langsung mendapat sambutan dari ustadzah yang tiba-tiba berubah menjadi guru TKnya waktu Nuha masih kecil.
Tatapannya sangat tajam, tubuhnya gemuk dan mahal senyum. Setiap guru itu bicara terdengar seperti membentak dan suaranya membesar. Kalo salah sedikit, langsung dicubit.
Nuha kaget dengan pemandangan yang membuatnya teringat kembali dengan masa lalunya.
"Kenapa bisa? Nuha.. Nuha.. Nuha sudah bukan anak kecil lagi, tapi kenapa guru itu ada dihadapan Nuha?", ucap Nuha yang masih terbuai dalam lamunannya.
"Anti, anti?!", ucap seorang ustadzah mencoba menyadarkan Nuha dari lamunannya.
"Ibu.. Bapak.. Huahuahua.. Huahuahua", Nuha malah menangis keras seperti anak kecil.
__ADS_1
"Ibu.. Bapak.."
Tiga ustadzah dan 10 anak kecil memandang sedih melihat Nuha menangis.