
"Anti, Kaifa Khaluki?", tanya seorang ustadzah.
"Alhamdulillaah, bi khoir", jawab Nuha spontan.
Seketika menyulut gelak tawa jaim bagi ketiga ustadzah tersebut. Nuha pun terbangun dari bayang-bayang ingatan masa lalunya.
"Anti menangis tapi ditanya baik-baik saja. Apa benar sudah baik-baik saja?", tanya ustadzah.
"Af-afwan, karna tadi Nuha keinget umi dan abi. Juga.. Se-seorang guru TK Nuha yang sangat galak", jawab Nuha melirik sungkan.
"Thayyib. Kalo begitu, mari gabung sama kita"
Nuha mengikuti pembelajaran anak-anak kecil tersebut. Satu ustadzah memimpin di depan, satu mendampingi dan memberikan beberapa perhatian untuk anak-anak lain dan satu lagi di belakang menemani Nuha.
"Kenapa pembelajaran di sini sangat menyenangkan? Ustadzahnya sangat ramah. Boleh Nuha tau siapa namanya?", tanya Nuha berbisik.
"Beliau adalah Ustadzah Alisha. Beliau sangat penyayang kepada anak-anak. Tidak pernah marah dan sangat penyabar", balas ustadzah bernama Nurul.
"Maa syaa Allaah. Nuha kagum kepadanya"
"Anti, dari mana?"
"Nuha? Nuha dari mahasiswa semester dua jurusan tahfidz", balas Nuha dengan masih fokus mendengarkan Ustadzah Alisha bercerita.
"Mahasiswa? Tidak terlihat dari penampilannya", gumam Nurul bertanya-tanya. "Tapi, dia dari jurusan tahfidz. Berarti hafalannya tidak kaleng-kaleng donk", batinnya lagi.
"Lama-lama, ceritanya sangat membosankan. Gimana bisa mereka semua masih patuh untuk mendengarkannya", gerutu Nuha dalam hati.
"Ustadzah!!", panggil Nuha percaya diri.
"Na-am? Ada apa?", balas Ustadzah Alisha. Kedua ustadzah lain menjadi kaget mendengar panggilan dari Nuha.
"Kenapa anak-anak disini sangat penurut, sedangkan cerita ustadzah sudah sangat membosankan untuk didengar?, apa mereka tidak ingin bermain?", tanya Nuha.
"Bermain?, ustadzah, Zyan juga ingin bermain", balas seorang anak.
"Ssttt.. Belum waktunya, Zyan. Zyan, harus nurut sama ustadzah. Dan gak boleh gaduh saat masih pelajaran berlangsung, dosa". Jawab Ustadzah Anis ramah namun menyakitkan.
"Dosa?", Nuha memiringkan kepalanya.
Anak-anak mulai menundukkan kepalanya. Kekecewaan mulai terlihat dari wajah-wajah mereka. Perasaan terpaksa dan harus patuh semakin tidak dibenarkan bagi Nuha.
"Nuha, tidak suka ini", lirihnya.
"A'udzubillaahi mina ssyaithiini rroojim.. Bismillaahirrahmaanirrahim.."
Nuha mulai menunjukkan murottalnya kepada anak-anak. Dia berdiri dan berjalan menghampiri beberapa anak tersebut. Memberikan senyuman dan lantunan merdu kepada mereka. Dia ubah nadanya supaya lebih kekanak-kanakan dan menyentuh hati mereka.
"Maa syaa Allaah, suaranya", puji ustadzah Nurul.
Anak-anak pun mulai tertarik dengan lantunan ayat suci yang dibacakan oleh Nuha. Qur'an surah Luqman ayat 12 s.d 20. Mata mereka berkaca-kaca dan mereka merasakan ketenangan.
"Wa laqad aatainaa Luqmaanal hikmata anishkur lillaah; wa many yashkur fa innamaa yashkuru linafsihii wa man kafara fa innal laaha Ghaniyyun Hamiid"
__ADS_1
"Siapa gadis itu?", tanya Alisha didalam hati.
"Suara yang luar biasa. Nadanya benar-benar menyentuh hati ini. Dia pasti, mahasiswa yang sangat bertalenta", gumam Ustadzah Anis.
Mereka antusias mendengarkan Nuha murottal, terpana dan terbawa perasaan.
"Alam taraw annal laaha sakhkhara lakum maa fis sa maawaati wa maa fil ardi wa asbaha 'alaikum ni'amahuu zaahiratanw wa baatinah; wa minan naasi many yujaadilu fil laahi bighayri 'ilminw wa laa hudanw wa laa Kitaabim muniir", akhirnya Nuha mengakhiri bacaannya.
"Shadakalaahul 'adziim"
"Allaahummar hamna bil qur'an", sahut anak-anak dengan sangat baik.
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim. Tapi, kalo pembelajarannya sangat membosankan dan penuh paksaan, Nuha tidak suka", ucap Nuha menarik nafas.
"Gayss!! Ayo kita mainn!!", ajak Nuha semangat.
"Apa? Apa?", ketiga ustadzah itu langsung tercengang.
"Kenapa dia berubah jadi kekanak-kanakan?", gumam ustadzah Anis.
"Ana juga ikutt!", seru Ustadzah Nurul.
Seketika, sepuluh anak itu langsung berlarian menyusul Nuha di halaman depan pendopo. Dia mengajak anak-anak bermain sambil menjelaskan arti dari surah Luqman yang dia lantunkan.
"Ahahaha.. Ayo baris anak-anak", ajak Nuha.
Mereka pun langsung baris dengan perasaan senang.
"Siapa yang tau tadi kakak baca surah apa?"
"Mumtaz!!", Nuha menghampirinya dan memberinya tos. Membuat anak-anak lain juga ingin mendapatkannya.
"Lalu, saat kita bersyukur, kita harus ucap apa ya?"
"alhamdulillaah", sahut 4 anak bersamaan.
"Luar biasa!!"
"Sekarang ayo kita bermain tepuk rukun iman!!"
"Ayoo!!"
"Ana tidak suka melihat anak-anak terlalu aktif seperti ini", gerutu Ustadzah Anis.
"Laa ba'saa, ustadzah", balas ustadzah Alisha.
"Ana melihat tadi saat dia mengingat kembali kenangannya, dia terlihat sangat sedih sampai menangis. Lalu, dia berkata bahwa selain dia mengingat umi dan abinya, dia juga mengingat tentang guru TKnya yang galak. Guru galak yang membuatnya menjadi tertekan dan ketakutan. Mungkin, dia tidak ingin hal itu harus dialami oleh anak-anak ini juga. Dia, akhirnya bisa memberi sebuah solusi. Tapi, dia belum bisa menghadapi masalahnya sendiri", jelas ustadzah Alisha.
"Anti sungguh bijak, ustadzah. Tidak heran kalo anti bakal jadi menantu Kiai Ahmad Husain", puji ustadzah Anis.
Ustadzah Nurul membantu Nuha dalam mengajak anak-anak bermain sambil belajar. Nuha terlihat sangat senang dalam melakukannya, sedangkan ustadzah Nurul juga merasa bebas dan ikut bersorak dan memberikan gelak tawa yang ceria.
Mereka mulai bermain petak umpet, lalu engklek kemudian ular naga. Keseruan anak-anak, membuat mereka tidak bisa mengendalikan tenaganya yang berlebih. Sehingga, ada anak yang terjatuh lalu menangis dan ada anak yang tiba-tiba bertengkar.
__ADS_1
Nuha mengalihkan perhatiannya dengan yang lain, "Adududuh! Ada yang tau ada suara apa ini?"
"Suara apa ya?"
"Suara iniihh!!", semakin memperjelas.
"Suara apa kak?"
"Ssstttt..", Nuha langsung memberikan kode untuk berdiam-diam dan mendengarkan dengan sangat baik.
"Sssttt.. Makanya, diam dulu. Kalo mau denger, sini ayo mendekat sama kakak"
Anak-anak mulai mengerubungi Nuha yang duduk beralaskan tanah.
"Dengarkan, ini nih suaranya"
"Suara perut?", celetuk seorang anak.
"Dengerin lagi donk, perutnya bicara apa?"
"Perut kakak, ada dedek bayinya?", tanya anak yang lugu.
"Ahihihihi", beberapa anak pun tertawa.
"Bukan. Dengerin lagi, ayoo"
Rasa penasaran itu membuat Ustadzah Nurul jadi ikut-ikutan. Sebenarnya, apa yang sedang dilakukan Nuha, terlihat sangat serius.
"Krrukk.. Kruueekk.. Krruuk"
"Ahahaha.. Kakak lapar ya?", tanya seorang anak.
"Kasihan kakak lapar", sindir anak yang lain.
"Huhu, kakak lapar. Tolong beri kakak makan", pinta Nuha dengan pura-pura sedih.
"Ustadzah Nurul, kakak ini lapar", sahut seorang anak.
Ustadzah Nurul jadi malu sendiri, kenapa dia harus ikut penasaran dengan hal receh yang dilakukan Nuha.
"Mari anak-anak, waktunya makan", ajak Ustadzah Anis.
Seketika, seluruh anak berlarian menuju ustadzah Anis yang sedang menyiapkan nasi box dia pelataran pendopo.
"Kakak, ayo kita makan!", ajak seorang anak gadis.
"Boleh kakak makan bersamamu?"
"Tentu saja!", balas anak itu senang.
"Sukran. Sukran katsiron. Jazakillaahu khoir adik yang sangat baik", balas Nuha terharu.
"Ahahaha.. Waiyyakii, kakak"
__ADS_1
Gadis kecil itu menggandeng tangan Nuha dan mengajaknya cuci tangan lalu duduk bersama di pelataran pendopo. Mereka membaca doa sebelum makan, kemudian makan bersama.