Bidadari Bersuara Emas

Bidadari Bersuara Emas
SEORANG HAFIDZAH 02


__ADS_3

Qur’an Surah Thaha.


Surah Thaha, yang terletak di antara surah Maryam dan Al-Anbiya’ ini memiliki 135 ayat yang memiliki tiga kisah cinta di dalamnya. Yaitu, memuat dukungan dan keyakinan penuh dari Allah untuk Rasulullah Saw. Kedua, terlimpah kepada Nabiyullaah Musa As. Lalu cinta yang ketiga, Allah limpahkan kepada Nabiyullaah Adam As.


“Sangat lembut. Meskipun nafasnya masih belum stabil, tapi pelafalannya sungguh fasih dan sesuai mahraj. Aku ingin tahu, siapa yang melafalkan surah tersebut? Siapa yang melantunkan nada seindah itu”


Perlahan, aku mulai mendekati suara yang bersembunyi dari balik pohon itu. Terlihat dari belakang, seorang gadis sedang bersandar di pohon dengan memeluk sebuah Al Qur’an.


“Apakah dia, menghafalnya? Masyaallah, merdu sekali”


“Gus Thaha”


Seseorang memanggilku, memotong rasa penasaranku kepada pelantun surat Thaha yang menggugah hati ini. Aku menoleh, ternyata seorang wanita. Dia, gadis yang dijodohkan untuk diriku.


Alisha Aisya, dua nama yang indah dalam diri seorang wanita. Dia putri kedua pemilik biro haji dan umrah, sahabat dekat ayahku. Kami telah dijodohkan sejak kecil, jadi kami sudah sangat akrab dan saling mengenal satu sama lain. Kini, dia telah menjadi gadis sholihah yang berbalut abaya dan niqob.


“Alisha”, balasku.


“Assalamu’alaikum Gus”, sapanya dengan mata tersenyum karena cadar menutup keindahan senyumannya. Wanita yang sangat anggun dan sholihah.


“Wa’alaikumussalaam wa rahmatullaahi wa barakatuh”


Kami mulai berjalan beriringan dan menuju gazebo dekat pondok milik kiai Ahmad Husain. Aku duduk di sisi ini dan dia duduk di sisi lain, saling membelakangi tanpa mencuri pandangan.


“Aku dengar, kamu diberi amanah oleh Romo Kiai untuk mengajar kelas, Gus?”


“Iya”


“Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya”


“Sukran, Alisha”


“Thaha, aku sudah sangat mengenalmu. Kita tumbuh bersama sejak kecil, jadi aku sangat tahu tentang dirimu dan sikapmu. Tapi, keburukan akan emosi dan raut wajah masammu itu masih melekat hingga sekarang. Apa kamu yakin mampu mengemban amanah ini?”


“Eh?”, aku sedikit kaget dengan penjelasannya.


“Aku, belum bisa menerimamu jika kamu masih terus seperti itu”, ucap Alisha menunduk.


“Aku pun juga tidak yakin. Tapi, jika aku tidak mencobanya selamanya aku tidak akan tahu hasilnya. Kesempatan ini harus bisa aku gunakan dengan sebaik mungkin”, balasku menatap langit.


“Aku harap seperti itu”


Nada itu, terdengar sangat tidak enak. Alisha seperti masih meragukanku. Aku menoleh ke arahnya, dia masih menunduk seolah mengeluh. Sedikit menghela nafas, aku tersenyum simpul untuk menahan rasa kecewa di dalam hati.


“Kalo begitu, aku pergi dulu”, ucapku.

__ADS_1


“Kamu mau kemana?”


“Kamu tak perlu tau”


*****


Di ruang kelas mahasiswi semester dua, setelah pembelajaran sejarah Islam selesai.


“Hah! Lelah sekali. Setelah Ustadzah Fatimah menerangkan panjang lebar materi sekarang malah diberi tugas yang jawabannya hampir mematahkan jari jemariku”


Seorang santriwati mengeluh dihadapan sahabatnya. Sahabatnya pun berjalan mendekati jendela dan berkata, “Sudahlah! Mengeluh akan mengurangi pahalamu. Yang penting kan sudah selesai. Nada, lihatlah! Langit terlihat sangat mendung”


“Iya kah?, Hari ini akan hujan berarti. Padahal aku baru aja nyuci baju”


“Haha, haruskah kita kembali ke asrama?”


“Boleh juga, sekalian ngumpulin tugas ini ke ustadzah Fatimah”


“Sreek!”, suara kertas disobek.


Dua santriwati itu langsung menoleh secepat kilat dan langsung memergoki seorang santriwati telah berhasil menyobek buku milik Nada. Karena ketahuan, santriwati itu langsung berlari tunggang langgang.


“Nu, Nuhaaaa!!!”, teriak Nada dengan sangat kesal.


Santriwati itu berlari keluar kelas dan secepatnya menghilangkan diri dari kejaran dua santriwati tersebut. Nada terlihat menangis dengan penuh rasa kesal.


“Sabar Nada, sabar. Dia kan memang begitu. Dia semakin berani dengan kebiasaannya itu, selalu saja mencuri hasil kerjamu. Hahaha..”


“Dasar gadis bodoh! Gimana ini Asmi, tolong bantu aku ngerjain lagi”, tangisnya.


“Hah.. baiklah”, balas Asmi tersenyum ramah.


******


“Tap tap tap”, suara langkah kaki berlari.


"Tat tap tap tap tap"


"Tap tap tap tap"


Setelah dirasa aman, gadis itu duduk di depan bangunan dapur pondok pesantren. Dia celingak celinguk untuk memastikan kembali keadaan.


“Hufff.. berhasil juga”, ucapnya menghela nafas lega.


Matanya berkaca-kaca melihat hasil tugas yang berhasil dia curi. Dia tidak berhenti untuk terus cengingisan. Dua lembar jawaban yang akan dia salin dibuku tugasnya sendiri.

__ADS_1


Bude Samiah datang membawa dua keranjang penuh dengan barang belanjaan, bahan memasak untuk menyiapkan makan siang nanti. Gadis itu langsung tanggap dan segera membantu beliau.


“Bude! Sini Nuha bantuin”


“Eh, Neng Nuha. Ayok, mari”


Nuha Sukamto. Santriwati semester dua jurusan tahfidz. Dia gadis desa yang sangat ikonik. Tidak mengerti fashion dan tidak pandai merawat diri. Kesehariannya hanya memakai baju daster warna polos dengan dalaman kaos panjang. Daster yang panjangnya setengah betisnya, membuatnya harus memakai celana kulot. Yang lebih lucu lagi, dia hanya bisa memakai kerudung bertali seperti seorang anak SD.


Tapi, dia gadis yang sangat baik dan mudah bergaul. Jika ada yang menyindir atau merundungnya, dia akan menghadapinya dengan santai tanpa beban. Namun sayang, sejak kecil hingga sekarang dia masih belum bisa membaca dan menulis.


Meski begitu, kemampuan menghafalnya sungguh luar biasa. Dia mampu menghafal meskipun hanya sekali mendengar. Bahkan, dia telah menghafal banyak surah Al qur’an dan melantunkannya dengan sangat merdu.


“Bude, mau nyiapin makan siang? Nuha bantu ya”


“Baik sekali kamu, Neng. Seperti biasa”


Nuha membantu mengeluarkan barang belanjaan dan bersiap membantu. Tapi, tindakannya terhenti karena teringat dengan tugasnya yang belum selesai.


“Uwaaaa!!”, teriaknya. Sehingga membuat Bude Samiah kaget.


“Neng, ada apa sih? Kok teriaknya kenceng banget”


“Bude! Pakde mana? Nuha lupa harus segera nyelesain tugas dari ustadzah”


“Ya ampun, ya ampun. Ya sudah, sana gih segera digarap!”


“Iya Bude, tapi Pakde mana?”


“Biasa, lagi kasih makan ayam di belakang”


“Baiklah, Bude. Nanti kalo Nuha sudah selesai, Nuha akan bantu Bude masak”


“Iya donk. Kamu kan suka banget bantuin Bude masak”


Nuha segera menyiapkan buku di meja dapur dan mencari Pakde Roso di belakang. Dia langsung manarik tangan Roso dan mengajaknya masuk ke dalam dapur.


“Pakde, bantuin Nuha nyelesain tugas!”


“Kebiasaanmu mulai lagi”, ucap Roso mengeluh.


“Cepat Pakde!”


“Iya iya. Mana buku dan bolpennya”


“Asiiik. Bentar Pakde, Nuha akan siapkan”

__ADS_1


Gadis itu, santriwati itu, benar-benar buta aksara. Dia tidak bisa membaca dan menulis. Hidupnya yang miskin, membuatnya tidak pernah menimba ilmu di madrasah mana pun. Kemudian, dia harus kehilangan kedua orang tuanya saat berusia 15 tahun. Dia diasuh oleh nenek dan kakek di desa. Kini, dia dimasukkan di pondok pesantren ittiba supaya dia bisa menimba ilmu sana.


Dukung karya aku ya para pembaca yang budiman. Mohon tinggalkan komentar setelah membaca bab ini. Kumohon, jangan langsung pergi. Hihi. Terima kasih.


__ADS_2