Bidadari Bersuara Emas

Bidadari Bersuara Emas
INGIN TAHU 08


__ADS_3

"Nuha.. Nuha.. Pakde itu gak sabar ngajarin kamu baca dan nulis. Kayak anak TK aja. Lihat dirimu. Kamu itu, sudah besar tapi diajari baca dan tulis gak bisa-bisa. Kalo pakde nyerah gini, siapa yang mau ngajarin kamu? Hah?!", seru pakde Roso.


"Niat Nuha, Niat!!", tambah Bude Samiah.


"Nuha gak bisa niat Bude, pakde. Ini terpaksa dan paksaan. Hmpp!!", Nuha semakin mengeluh.


Sore hari, waktu yang biasa untuk berehat bagi Roso tapi beliau malah harus memberi pelajaran tambahan untuk Nuha atas perintah Ustadz Azam.


Sudah satu minggu perintah itu turun dan dijalankan tapi Nuha tetap tidak ada perkembangannya. Dia bisa menghafal huruf a sampai z tapi masih saja kebingungan saat membacanya di buku.


"Kamu ini memang gak punya gairah untuk pinter ya Neng Nuha? Gak ada yang ingin kamu gapai gitu?"


"Enggak!!", jawab Nuha manyun.


"Wis! Nik nginiki terus, aku nyerah buk e buk e", keluh Roso sambil memukul-mukul bahunya dengan alat pijat.


"Wis ra gelem melu kelas. Nik ning kelas yo gaweane mung turu. Diseneni yo ra mandhi-mandhi. Bocah ini, jane eneng apane?! Opo mesti di rukyah?!"


"Istighfar Pak e. Istighfar!!", pinta Samiah.


"Astaghfirullaah. Yo wis Buk e. Aku meh mlaku-mlaku sik kalo gitu. Ben tenang pikiranku. Ben tenang!", pungkas Roso seraya berjalan pergi.


"Neng Nuha, ayo masak neng!", ajak Bude Samiah.


"Siap grak Bude!!", seru Nuha semangat.


"Wis! Nek ngunu kui angel.. Angel"


Roso berjalan-jalan menyusuri jalanan di dalam wilayah pondok. Sore hari, sudah tidak ada pembelajaran di kelas. Melainkan, beberapa santri mengaji di serambi masjid. Bercanda ria di gazebo-gazebo dan ada yang bermain sepak bola.


"Lihat mereka. Mereka pada punya tujuan hidup, alias cita-cita untuk masa depan. Tapi, genduk itu. Blas, ora pingin dadi opo-opo. Mung gur iso ngaji, ngaji, lan ngaji", kesal Roso dengan terus berjalan kaki.


"Kudu dikapakke jane!"


"Whuss!", Roso mengakhiri keluhannya dengan menendang sebuah batu kecil hingga tidak sengaja mendarat di kepala seseorang.


"Duk!", mengenai kepala Ustadz Azam yang sedang duduk semeja denganku.


Seketika Azam berdiri untuk mencari sumber masalah. Sebelum beliau mengeluarkan suaranya, Roso langsung datang menghadap badan untuk meminta maaf.


"Punten, punten ustadz Azam. Saya, gak sengaja. Punten, sekali lagi. Punten", ucap Roso sepenuh hati.


"Kenapa Pakde bisa menipuk kepala saya dengan batu?", tanya Ustadz Azam menyelidik.


"Ini karna Nuha, Ustadz"


"Nuha? Anak itu lagi", Gerutu Azam menyipitkan matanya menyamping sambil mengendus keras.


"Nuha? Santriwati waktu lalu?", tanyaku ingin tahu.

__ADS_1


"Bagaimana perkembangannya, Pakde?", tanya Azam.


"Punten, ngapunten Ustadz. Belum ada perkembangannya", balas Roso jujur.


"Perkembangan apa? Apa yang ustadz sedang ajarkan padanya?", tanyaku.


"Haah", Azam menghela nafas sejenak. Kemudian melanjutkan, "Saya telah meminta Pakde Roso untuk mengajarinya membaca dan menulis. Tapi, sepertinya tidak berhasil". Jelasnya.


"Me-membaca dan menulis? Seperti apa itu?", tanyaku semakin tidak yakin dengan kenyataan yang baru saja aku ketahui ini.


"Gus Thaha, Neng Nuha itu gak bisa baca tulis. Jadi, pakde diberi amanah ustadz Azam untuk mengajarinya"


"Gi-gimana bisa dia gak bisa baca gak bisa nulis tapi bisa jadi mahasiswa disini-", Aku langsung teringat dengan ucapan KH Ahmad Husain.


Bahwa, Nuha memanglah gadis yang buta aksara. Dia berada di pondok ini karena Kiai sendiri yang menerimanya. Tapi, kata beliau dia gadis yang istimewa.


"Istimewa? Se istimewa apakah dia?", gumamku dalam hati.


Aku yang sekilas mengingat itu langsung berucap, "Kalo dia tidak bisa baca tulis, gimana bisa dia belajar tahfidz, ustadz?"


"Dia menggunakan memorinya untuk menghafal. Kemampuan hafalannya memang sangat bagus. Saya mengakui itu"


"Jika dia pandai mengingat, kenapa dia tidak bisa mengingat huruf dan bacaan? Gadis yang aneh", batinku.


"Kalo gitu, saya pamit gih ustadz, Gus", pungkas Roso merasa pekewuh dan beranjak pergi.


"Saya lihat, ustadz selalu kesal dengan gadis bernama Nuha itu. Sebenarnya, seperti apa dia hingga membuat ustadz selalu menggeram penuh kesal?"


"Gus Thaha, Gus sendiri pernah bertemu dengannya di kelas bukan? Baru pertama melihatnya, dia sudah memberikan kesan yang buruk bukan?"


"Dia tidur saat aku ngajar di kelas", batinku.


"Tapi, kenapa sampai bisa membuat ustadz Azam kesal tiada akhir?", lanjutku menyelidik.


Perbincangan kami pun usai, aku berjalan kembali ke asrama sambil memikirkan kembali ucapan-ucapan Ustadz Azam mengenai gadis bernama Nuha itu.


Aku masuk ke dalam pondok Kiai dan menjumpai Alisha sedang berbincang-bincang dengan Nyai. Terlihat menyenangkan dan penuh canda tawa.


Aku mengucapkan salam dan mereka pun menyambut ramah sambil menjawab salam.


"Thaha, duduk dulu nak", pinta Nyai Ibu.


"Baik, Ibu"


"Thaha, ba'da maghrib Romo mau ngajak kamu njenguk Kiai Abdul Ghani di rumah sakit"


"Alhamdulillaah, beliau sudah bisa dijenguk ibu?"


"Iya"

__ADS_1


"Kalo gitu, Alisha pamit gih Nyai Ibu", ucap Alisha hendak beranjak dari tempat duduknya.


Aku pun tidak mencegahnya. Melainkan fokus kepada Ibu ingin mempertanyakan tentang gadis bernama Nuha itu.


"Ibu, Ibu mengenal gadis bernama Nuha itu kan?"


"Nuha?", Alisha ikut bertanya-tanya.


"Nuha Sukamto? Gadis bersuara emas itu?", tanya ibu.


"Bersuara emas?", tanyaku bersamaan Alisha yang menjadi ikut penasaran.


"Nuha itu, bagi ibu keberadaannya seperti bidadari. Tapi, dia tidak tau akan keberadaannya yang begitu mempesona", jelas ibu sambil menyeruput teh hangatnya.


"Bi-bidadari?", membuatku semakin tidak masuk akal.


"Nyai Ibu, Alisha sendiri pernah bertemu dengannya. Dia mahasiswi semester dua jurusan tahfidz kan?"


"Alisha juga mengenalnya?", tanyaku.


Dia langsung memalingkan pandangannya dengan anggun dan menjawab singkat, "iya. Sekali"


"Seperti apa dia?"


"Ke-kenapa kamu jadi ingin tau, Thaha?", tanya Alisha mulai berani menatap.


"Ma-maaf, bukan maksudku untuk.."


"Sudah mau maghrib, saya kembali ke asrama dulu gih Nyai Ibu", pungkas Alisha dan beranjak pergi setelah mengucap salam.


"Apa dia, tersinggung?", batinku.


"Thaha, jika kamu ingin tau tentang Nuha. Cari tahulah sendiri. Karena dia mendapat berbagai penilaian yang berbeda"


"Maksudnya?"


"Ibu, mau beresin ini dan kembali ke dapur"


"Eh?", aku malah semakin bingung.


Entah kenapa, aku menjadi ingin repot mengenai gadis itu. Mulai dari Ustadz Azam, Romo, Ibu, Pakde, bahkan Alisha sendiri. Aku menyudahi pikiran ini dan segera bergegas ke masjid.


Perjalananku disambut dengan dua orang mahasiswi sedang menarik keras rukuh seorang mahasiswi di depan. Aku menyaksikannya sejenak.


"Nuha! Kena kau! Seberapa sering kamu melarikan diri dari kita, kita bakalan bisa menghentikanmu!", ucap mahasiswi bernama Nada.


"Adudududuh. Jangan tarik-tarik kerudung aku", balas Nuha berani dan berhasil kabur masuk masjid.


"Dia, membuat masalah dengan temannya?"

__ADS_1


__ADS_2