Bila Berasa Dicintai (Gadis Mafia Kejam)

Bila Berasa Dicintai (Gadis Mafia Kejam)
01


__ADS_3

"Apa kamu yakin tidak mencintainya?" Tanya seseorang gadis berkulit kecoklatan menatap lurus pada pemikik mata kebiru-biruan.


Gadis pemilik mata kebiruanpun menjawab dengan tegas tanpa ada keraguan sama sekali.


"Tidak" jawabnya tegas dan menatap mata gadis berkulit kecoklatan yang tidak lain teman satu kost-an dengannya, beberapa hari ini menjadi teman berceritanya atau lebih tepatnya menjadi saksi kedekatannya dengan seseorang.


"kalian belum menyadarinya, El" tutur gadis berkulit kecoklatan itu pada gadis bermata kebiru biruan yang kerap dikenal El atau memiliki nama lengkap Elasha Shareq Quen.


"Apa maksudmu, Lea?" tanya Elasha memastikan pemahamannya tidak salah.


Dari penuturan teman satu kost nya itu, sebenarnya Elasha memahami kata-kata itu hanya saja ia ingin menanyakan agar lebih memastikan lagi.


"Aku rasa kamu lebih memahami dirimu sendiri" ujar Lea apa adanya.


Elasha menghembuskan nafas dengan kasar, ia memutar memory kedekatannya dengan seseorang yang sudah beberapa bulan ini menemani kesehariannya dan lebih tepatnya selalu ada untuk Elasha.


"Aku tidak mencintainya, aku hanya nyaman dengannya" ujar Elasha kemudian.


"menurutku, dia juga memiliki rasa padamu, El" ujar Lea memberi pendapat akan pandangannya.


"baik dia mencintaiku atau aku mencintainya, tidak akan mengubah apa-apa, Lea" ujar Elasha sendu.


Elasha merasa sedih bukan ia takut ia benar mencintai seseorang yang telah memenuhi warna disetiap hari-harinya, melainkan cinta seperti apa yang ia miliki tidak akan mengubah apa-apa selain perasaan.


Pada akhirnya ia akan berpisah dengan seseorang yang ia bicarakan dengan teman satu kost nya itu.


Perpisahan yang tidak bisa ia cegah, jujur rasa yaman yang Elasha miliki ini sangat besar sehingga ia mewajarkan setiap penilaian orang padanya dan seseorang itu.


Namun perpisahan yang tidak Elasha ketahui kapan akan terjadi itu begitu membelenggu hatinya, ia takut berpisah dan tidak mendapatkan perhatian seseorang yang memenuhi hari-harinya.


"Kapan dia akan pulang?" tanya Lea semakin membuat Elasha gelisah.


Sungguh ia berat hati melepaskan Seorang yang telah lama menemaninya itu untuk pulang, ia akan berpisah dengan orang itu.


"Aki tidak tahu" jawab Elasha apa adanya.


"Apa Ergen tidak mengatakan padamu?" Tanya Lea merasa iba, pasalnya kedekatan Ergen Sarega Weler dan Elasha Shareq Quen itu sangat nyata dimata Lea, tapi mengapa Ergen tidak mengabarkan kepulangannya pada Elasha.


"Tidak" jawab Elasha singkat dan sedikit menundukan kepalanya.


"mungkin Ergen tidak ingin membuatmu kepikiran" Lea berusaha membujuk Elasha, agar gadis bermata kebiru-biruan itu tidak terlalu sedih dan berlarut dalam pikirannya sendiri.


Lea tahu jika tidak mudah bagi Elasha untuk melepaskan kepulangan Ergen nantinya.


Jika dilihat dari sudut pandang Lea, Ergen lah yang mendekati Elasha bukan sebaliknya, bahkan hingga sekarang Elasha tidak pernah menghubungi Ergen jika tidak ada kepentingan, lebih tepatnya atas permintaan Ergen.


Sering kali Elasha membutuhkan kehadiran Ergen tapi Elasha berusaha untuk tidak mengganggu kesibukan Ergen sampai pria itu sendiri yang menghubunginya.


Bagi Elasha, waktu yang dimiliki Ergen tidaklah boleh ia ganggu sekalipun waktu senggang.


Lea menepuk pelan bahu Elasha memberi kekuatan agar Elasha tidak terlalu memikirkan, Elasha yang diberi kekuatan berusaha tersenyum menatap Lea yang akhir-kahir inu menjadi tempat Elasha bercerita tentang ia takut melepaskan kepukangab Ergen.

__ADS_1


Tlink...


Sura pesan masuk, senyum yang awalnya hanya berdasarkan paksaan kini berubah menjadi senyum cerah.


Apa yang tadi dibicarakan Lea dan Elasha seketika sirna begitu saja.


Begitulah Elasha jika mendapat pesan yang selalu ia tunggu itu membuat hatinya selalu bahagia.


Tentu Lea tau siapa yang mengirim pesan pada Elasha, siapa lagi kalau bukan Ergen yang mampu membuat terbit senyum manis diwajah Elasha.


"Ya udah, aku masuk dulu" ujar Lea meninggalkan Elasha di depan kost, sementara Lea memilih masuk ke dalam Kost.


📲"di mana?" pesan masuk dari Ergen.


📲"di kost" jawab Elasha singkat namun dibalik layar Elasha begitu senang, karena ia sudah tau jika Ergen akan mengajak ia untuk makan bersama seperti biasanya.


📲"Aku ke sana, kita makan" pesan dari Ergen lagi


📲"oke, aku tunggu" balas Elasha seraya memasuki kost nya untuk bersiap-siap.


Elasha selalu berpikir tidak ingin Ergen menunggunya apa lagi harus menunggu lama.


Padahal Elasha sudah tahu kebiasaan Ergen yang pada akhirnya Elasha lah yang menunggu Ergen.


Entah Elasha yang terlalu cepat bersiap-siap atau Ergen yang terlalu lambat.


Tapi tidak menjadi masalah bagi Elasha asal bersama Ergen.


Tapi siapa yang tidak kenal Elasha dan Ergen bahkan kedekatan keduanya sudah menjadi perbincangan orang-orang yang tentunya juga mengenal mereka dilingkup pekerjaan mereka.


Ya kenapa Elasha ngekost bukan di rumah karena ia bekerja yang keberadaan tempat ia bekerja jauh dari rumahnya atau rumah kedua orang tuanya.


Ia pekerja baru dan satu devisi dengan Ergen begitulah awal kedekatannya.


Di tempat mereka bekerja semua orang sudah tau bagaimana kedekatan Elash dan Ergen.


Mereka-mereka menganggap Elasha dan Ergen pacaran meski kerpa kali keduanya menentangnya dan berkilah hanya sekedar teman saja.


Tapi siapa yang percaya, bahkan Ergen yang memiliki paras yang tampan dan stayle cool itu membuat ia banyak penggemar itu pun, penggemarnya enggan mengganggu waktu Ergen apabila sudah bersama Elasha yang juga tidak kalah banyak penggemarnya di tempat mereka berkerja bahkan di luar lingkup bekerja, Elasha memiliki penggemar yang banyak karena sikap ramah dan tutur katanya yang kerap kali menyentuh hati siapa yang berbicara dengannya.


Meski wajah Elasha tidak sebanding dengan Ergen yang tampan tapi siapa sangka penggemar Elasha amat mendukung Elasha bersama Ergen bahkan seperti penggemar Ergen, penggemar Elasha juga enggan mengganggu kebersamaan Elasha dan Ergen.


Di sini sekarang, Elasha sedang berdiri di depan kostnya menunggu kehdiran Ergen yang ingin makan bersama dengannya.


Ini bukan pertama kali bagi Elasha di ajak makan bersama oleh Ergen tapi sudah kesekian kalinya sehingga Elasa dan Ergen tidak menyadari kebiasaan itu menimbulkan rasa nyaman yang begitu dalam.


"Haii" sapa Ergen pada Elasha yang sedang memperhatokan layar phonecellnya, mungkin saja menunggu pesan dari Ergen, takut jika pria di depannya itu tidak jadi makan bersama dnegannya.


"Mau makan di mana?" tanya Ergen sebelum Elasha menyahut sapaannya.


"Terserah saja" sahut Elasha memang ia selalu mengikuti kemauan Ergen sesuai tempat yang Ergen inginkan bukan terserah perempuan pada umumnya.

__ADS_1


Hanya saja Elasha ingin Ergen merasa nyaman dekat dengannya, jika ditanya Elasha merupakan orang yang sangat cerewet soal menu makanan tapi apa salahnya ia berusaha untuk menurun egonya dan berusaha menyesuaikan keinginan Ergen.


Bahkan bisa dikatakan Elasha sudah terbiasa mebgikuti Ergen makan di tempat yang Ergen inginkan yang sering sekali tempat di mana Elasha tidak banyak menyukai menu-menu yang ada di sana.


Tapi begitulah Elasha ia mengutamakan kenyaman Ergen tanpa Ergen sadari.


Kadang kala Elasha memilih tidak makan dan hanya minum saja untuk menemani Ergen di tempat makan.


"Ketempat biasa saja" ujar Ergen dan dibalas senyum oleh Elasha.


Keduanyapun bersamaan menuju tempat makan biasnaya atau bisa dibilang tempat favorit Ergen karena sejatinya Elasah tidak pernah mendatangi tempat itu jika tidak bersama Ergen.


keduanyapun sudah sampai di tempat tujuan.


"Mau pesan menu apa?" tanya Ergen yang selalu memperhatikan Elasha


"Aku pesan minum saja" ujar Elasha yang memang beberapa minggu belakangan ini tidak memiliki selera makan, ia kadang makan hanya sekali sekali dalam sehari itu saja saat Ergen mengajaknya untuk makan bersama


Tapi kali ini Elasha sungguh tidak memiliki selera apa lagi menu yang ada di sana tidak mengunggah selera Elasha sama sekali.


"jangan dibiasakan tidak makan, makanlah sedikit" tegur Ergen tidak ingin terjadi apa-apa pada Elasha.


"Baiklah" ujar Elasha menurut tapi untuk hari itu Elasha tidak bisa memakasa dirinya untuk menerima makanan apapun.


Selera makannya semakin berkurang hari demi hari, mungkin disebabkan pikiran Elasha yang hari makin kacau juga memikirkan akan berpisah dengan Ergen yang memilih risaen kerja di kota itu dan memilih untuk kembali ke kotanya atas permintaan orang tuanya.


Ergen juga ingin melanjutkan studynya sehingga Elasha tidak ada niat sama sekali merayu atau membujuk Ergen untuk tetap bekerja di tempat yang sama dengannya itu.


Elasha berusaha untuk tidak egois, Ergen memiliki masa depan dan kehidupan yang harus diperjuangkan olehnya, sehingga tidak mungkin bagi Elasha untuk mencegat Ergen pergi untuk memikih bersama dengannya yang hanya status teman.


Teman bukanlah kehidupan bagi seseorang, karena ada masa depan bagi setiap seseorang begitulah bagi Elasha berusha untuk mempersiapkan diri merelakan kepergian Ergen.


Kenapa Elasha yang tidak mengikuti Ergen nantinya? Tentu itu tidak mungkin, Elasha memiliki kehidupannya sendiri dan Elasha tidak memiliki alasan apa-apa untuk mengikat Ergen dalam sebuah pertemanan ini.


"Kenapa?" tanya Ergen saat keduanya sudah menikmati pesanan mereka masing-masing.


Wajah Elasha begitu jelas di mata Ergen, jika gadis di depannya itu sednag berpikir.


"apa kau tidak ingin mengatakan kapan kamu akan pulang?" tanya Elasha untuk kesekian kalinya.


Jadi sudah jelas di sini jika Elasha berusha untuk mendapatkan jawaban yang pasti dari Ergen.


Namun seperti biasa Ergen membunyikan kapan ia akan pulang dengan berkata.


"Masih lama" itulah yang selalu keluar dari ucapan Ergen saat mendapatkan pertannyaan kapan pulang dari Elasha.


Entah apa niat Ergen merahasiakan darinya membuat Elasa tertegun dan berpikir dalam dirinya sendiri, sulit baginya untuk berpikir positif, ia selalu berpikir jika Ergen begitu kejam padanya, yang merahasiakan hari yang penting bagi Elasha.


Dibalik kekecewaan Elasha ia berushaa tersenyum dan menikmati kebersamaannya dengan Ergan.


"Nanti malam enggak ada kegiatan?" tanya Ergen mengalihkan pembicaraaan.

__ADS_1


__ADS_2