Bila Berasa Dicintai (Gadis Mafia Kejam)

Bila Berasa Dicintai (Gadis Mafia Kejam)
03


__ADS_3

Tentu seseorang itu harus menyelamatkan Elasha dari kegelinciran itu, jika tidak dalam hitung detik kedepannya ia akan menjadi tempat di mana Elasha akan berkeluh kesah terutama mengatakan, jika pinggang dna badannya sakit sekali dan itu akan Elasha katan berulang ulang kali.


Memang Elasha kadang terlihat kuat dan pemberani tapi Ergen mengenali Elasha dengan baik, yang juga terlihat lemah di situasi tertentu.


Ya yang menangkap tubuh berisi Elasha adalah Ergen, seseorang yang ditunggu tunggu oleh Elasa sedari tadi.


Elasha terkejut dadanya bergemuruh saat tubuhnya, yang dikiranya akan terhempas ke atas lantai ternyata masih diambang udara yang tak lain dalam dekapan Ergen.


Dada Elasha semakin bergemuruh, pasalnya ini pertama kali Elasha bersentuhan fisik dengan Ergen secara sadar penuh, jika sebelumnya Elasha dalam tidak kesadaran ini menjadi mimpi.


Keduanya saling bertataman, namun kesadaran keduanya di sadarkan oleh deheman seseorang yang tidak lain tidak bukan teman Ergen.


Suara bariton dari teman Ergen cukup mengejutkan keduanya.


Elasha yang sadar pun segera melepaskan diri dari dekapan Ergen.


"Terima kasih" ucap Elasha berusha setenang mungkin dan berusaha menalisirkan kegugupannya.


"sama-sama" sahut Ergen sebenarnya ikut gugup tapi melihat Elasha yang selau memiliki cara tersendiri di situasi seperti itu membuat Ergen berusaha tenang juga seperti Elasha.


"kenapa dijam segini diluar?" tanya Ergen berusaha tidak gugup.


"Tidak apa apa, aku bosan" ujar Elsaha seraya menyatukan kedua tangannya yang kedinginan.


Ergen memperhatikan Elasha yang menahan dingin itu.


"Enggak bawa jaket?" tanya Ergen memastikan.


"enggak" sahut Elasha berubah menjadi mode manja, Elasha tidak peduli teman Ergen memperhatikan dirinya yang begitu manja pada Ergen.


"apa kamu membawa jaket? Boleh aku pinjam?" tanya Elasha sebelum Ergen mengekurkan perkataan apapun.


"Bawa, tunggu bentar" ujar Ergen lalu berlalu meninggalkan Elasha setelah mendapatkan anggukan manja dari Elasha.


Teman Ergenpun mengikuti Ergen dari belakang setelah meluhat tingkah manja Elasha, ia jadi tersenyum sendiri melihat Elasha dan Ergen yang ngaku status keduanya teman tapi lebih terlihat seperti sepasang kekasih itu.


Elasha acuh ta acuh dengan senyum geli teman Ergen itu, ia tahu apa yang dipikirkan oleh teman Ergen tapi Elasha memilih untuk tidak perduli.


Tidak lama kemudian Ergen datang dengan membawa jaket untuk diserahkan pada Elasha.

__ADS_1


"pakailah" suruh Ergen.


"Beneran? Terus kamu bagaimana?" tanya Elasha merasa bersalah, seandainya ia tidak meminjam Ergen tidak akan kedinginan nantinya soalnya Ergen sama dengan Elasha tidak bisa kedinginan juga tapi begitulah Ergen akan mengalah demi Elasha.


"Udah tenang aja, besok saja aku pinjam ya" ujar Ergen lembut.


"baiklah, besok kabarin aku jam berapa maunya" sahut Elasha.


Elashapun mengenakannya, sementara Ergen masih di tepat memastikan Elasha memakaikan jaket itu dengan benar.


"Bagini, atau dikancing?" tanya Elasha meminta pendapat Ergen tidak lupa dengan sikap manjanya.


"lebih bagus dikancing?" tanya Elasha lagi


"enggak, lebih bagus digulung" ucapnya lembut.


"gulung" pinta Elasha manja, sungguh itu sikap spontan Elasha jika berhadpaan dengan Ergen, Elasha jika sudah bersikap manja maka akan terlihat manja pada Ergen tapi Elasha tidak selalu bersikap manja bahkan Elasha kadang bersikap dewasa.


Ergen tidak berkomentar apapun mengenai sikap manja Elasha karena sudah terbiasa, ia menuruti keinginan Elasha yang meminta digulug lengan kaket yang kebesaran di Elasha.


Elasha menyodorkan kedua tangannya pada Ergen tanpa takut penolakan dari pria itu.


Tak sedikit yang memperhatikan mereka berdua, bahkan ada yang mengolok olok keduanya yang tak lain orang yang lebih mengenal Elasha.


"Cieeeee"


"cieee, romantisnya" seru orang orang yang melihat Ergen menggulung lengan jaket yang dikenakan Elasha agar tidak menutupi jari jari Elasha.


Baik Elasha maupun Ergen hanya tersenyum menangapi candaan orang-orang, keduanya sudah terbiasa dibilang pacaran atau sepasang kekasih.


Setelah menggulung lengan jaket yang dikenakan Elasha, Ergen berpamitan pada Elasha menuju kamarnya yang di batasi dua tiga kamar dari kamar Elasha.


Elasha menganggukan kepalanya dengan antusias, ia tidak lagi merasa jenuh apalagi bosan, ia juga kembali ke kamarnya setelah pertemuannya dengan Ergen.


Perhatian Ergen begitu tulus padanya, temannya itu memang pantas di katai sebagai kekasihnya, karena prilaku temannya itu begitu nyata dan penuh perhatian.


Selalu memperhatikan jam makan Elasha dan tentunya kesehatan dan mood Elasha, siapa yang tidak jatuh cinta hanya saja yang Elasha ketahui dirinya merasa nyaman dengan kehadiran Ergen di dalam hidupnya.


📲"Bermainlah bersama temanmu" pesan Ergen pada Elasha, Mungkin Ergen takut jika Elasha tidak menikmati refreshing mereka dan menunggu kebersamaan mereka saja, jadi kali ini ia membebaskan Elasha untuk bersama teman teman Elasha yang lainnya.

__ADS_1


📲" iya" balas Elasha, sendu kenapa Ergen enggan mengatakannya tadi saat bersamanya dan Elasha merasa tidak ingin Ergen membiarkan ia bersama teman teman yang lainnya, nyatanya Elasa ingin Ergen selalu ada didekatnya.


Elasha begitu mempercayai Ergen, ia merasa aman dan nyaman.


Itulah Elasha tidak melepaskan pria yang memiliki nama lengkap Ergen Sarega Weler itu, selama ini juga Ergen lah yang selalu berusaha untuk bersama dengan Elasha jadi egoiskah Elasha ingin Ergen selalu ada untuknya itu saja ia hanya mengatakan dalam hatinya, seperti sekarang saat Ergen meminta dirinya untuk menghabiskan waktu bersama teman teman yang lain Elasha tidak juga menolak.


"Wahhh, jaketnya udah dipinjam sendiri" Ucap Keren tiba-tiba sudah duduk di sebelah Elasha, entah kapan Keren memasuki kamarnya, Elasha tidak menyadari itu.


"makan yuk?" ajak Keren menarik tangan Elasha keluar kamar, ia belum menyadari wajah sendu Elasha.


"oke oke, tapi leoas dulu" ucap Elasha berusaha baik-baik saja tapi Keren cepat menyadari.


"e eeh, kenapa ini dengan wajah cemberut mu itu?" tanya Keren seraya mengejek Elasha.


"Siapa yang cemberut" Elak Elasha merasa ia juga tidak perlu cemberut apa lagi di hadap Keren, ia merasa malu saja jika Keren mengetahui ia cemberut karena sikap Ergen yang menurut akal sehat Elasha, cemberut yang ia miliki amat tidak berdasar sama sekali.


"ya sudah, kalau gitu ayoook" ajak Keren, ia tidak memaksa Elasha untuk bercerita dengannya, ia hafal Elasha jika sudah waktunya bercerita ia akan menceritakan sendiri padaNya.


Keduanyapun memilih makan berdua dengan khidmat, detelahnya keduanya saling bercerita ria yang membuat keduanya tertawa.


Dari kejauhan Ergen melihat Elasha yang tampak bahagia memandnag senyum manis milik Elasha, Elasha memang tidak begitu cantik tubuhnyapun tidak tinggi bahkan sedkit lebih berisi.


Namun selama beberapa bulan ini Ergen begitu nyaman dekat Elasha si gadis bermata kebiru-biruan yang memiliki senyum manis dan tutur katanya mampu memikat semua pedengarnya baik dari kalang pria seusianya atau gadis-gadis remaja seusia Elasha.


Ya begitulah Elasha yang memiliki daya pikat sendiri mampu membuat orang tekagum-kagum akan dirinya dan ada juga dari kebanyakan orang yang menggemari Elasha yang bersikap iri dan tidak senang karena merasa kalah saing dengan Elasha.


Ergen yang masih menatap Elasha dari ke jahuan itu, sungguh tidak bosan akan kehadiran Elasha, gadis yang selalu membuat orang sekitarnya merasa nyaman termasuk dirinya yang selalu nyaman.


Namun apa yang bisa Ergen lakukan status yang mereka miliki dan berbagai macam pertimbangan Ergen kembali sendu memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.


Perpisahan adalah kata yang tepat untuk mereka berdua, ia merasa bersyukur bisa berkenal dengan gadis seperti Elasha dan bisa berteman baik dengan gadis itu.


Masih senantiasa memperhatikan senyum indah Elasha dari kejauhan, ia tidak akan tahu sewaktu-waktu ia tidak bisa menikmati senyum manis nan indah milik teman dekatnya itu.


Jika ditanya, bukan hanya Elasha merasa berat melepaskan kepulangan Ergen, tapi Ergen juga merasa berat menibggalkan Elasha sendirian, selama ini Elasha selalu menemaninya dan selalu ada disaat Ergen membutuhkan sososk gadis itu untuk menjadi peneyemangat hidupnya.


Ingin Ergen menangis memikirkan akan berjauhan dengan Elasha, tapi ia masih gensi sebagai pria dewasa menangis apa lagi didepan kalangan umum.


"Apa arti dia bagimu?" tanya seseorang membuat Ergan berpaling menatap pada sosok temannya yang tidak lain menjadi saksi kedekatan Ergen dan Elasha meski ia baru mengenali Ergen sebulanan ini.

__ADS_1


__ADS_2