Bila Berasa Dicintai (Gadis Mafia Kejam)

Bila Berasa Dicintai (Gadis Mafia Kejam)
08


__ADS_3

"aww" pekik Elasha tiba-tiba, Ergen segera turun dari kendaraannya.


"kenapa?" tanya Ergen khawatir lalu berjongkok di hadapan Elasha.


Ia segera bangkit dan meraih Elasha kedalam mobilnya dan mendudukan Elasha pelan.


Dengan telaten Ergen mengobati robekan luka di kaki Elasha menggunakan obat seadanya yang ada di mobilnya.


"Kenapa tidak berhati-hati" keluh Ergen menatap cemas pada kaki Elasha, Elasha yang dikhawatirkan hanya tersenyum bahagia, pria yang mengobati kakinya itu begitu menghatirkan dirinya dan lebih memperhatikan dirinya.


"Maaf, tadi kamu yang ajak bicara kan aku enggak lihat kalau ada batu" keluh Elasha mnja seraya melemparkan kesalahan pada Ergen


Cltak


Ergen menjeltikkan kening Elasha yang enggan disalahkan atas kecerobohan dirinya sendiri.


"Sakit" keluh Elasha dengan memonyongkan bibirnya.


"iya deh maaf" ucap Ergen mengalah dan keduanyapun segera memarkirkan mobil di parkiran perusahaan.


keduanya turun bersamaan memasuki perusahaan, Ergen yang melihat Elasha menahan sakit terlihat cemas.


Elasha gadis yang tidak bisa melihat tubuhnya sedikit saja berdarah, itu akan menimbulkan kegelisahan pada gadis itu.


"Apa mau aku izinkan?" tanya Ergen menatap manik Elasha lekat.


Elasha menajamkan maniknya lalu menggeleng dan melajutkan langkahnya.


"Ya udah, kalau ada apa cerita" ujar Ergen masih mengkhawatirkan Elasha.


"iya bawel" sahut Elasha tidak habis pikir, ia sudah berusaha kuat di depan Ergen, tetapi pria itu masih saja mengkhawatirkan.


Keduanya memang satu devisi, naum bukan berarti disaat bekerja seperti ini Elasha dan Ergen bisa leluasa karena pada kenyataannya didevisi yang sama tapi tidak ditugas yang sama.


Semuanya sudah dibagi tugas masing masing oleh ketua devisi.


Elasha dengan cekatan mengerjakan pekerjaan mengabaikan rasa perih di kakinya.


Dari arah lain sedari tadi Ergen memperhatikan Elasha, takut jika gadis itu tiba tiba tidak kuat lagi menahan perih, ia menghargai usaha Elasha yang tidak ingin terlihat lemah itu.


Jadi ia hanya memastikan secara diam-diam pergerakan Elasha.


"Fokus, aku baik baik saja" ucap Elasha sudah berada di depan Ergen.


Ergen tertegun melihat Elasha yang tadi sedikit berjarak kini sudah didepannya.


"Jadi nanti malam?" tanya Elasha mengingatkan janji Ergen padanya malam kemaren ingin mengajak berkumpul bersama kedua teman mereka yang lainnya.

__ADS_1


"Jadi, aku sudah menghubungi mereka" ujar Ergen


"Baiklah" sahut Elasha lalu berlalu kembali ketempatnya dan melanjutkan tugasnya.


Setelah usai pekerjaan dijam malam, semuanya meninggalkan perusahaan termasuk Ergen dan Elasha.


Keduanya langsung ke tempat yang sudah di sepakati, di sana sudah ada keberadaan Hibie, Faren yang menunggu kedatangan keduanya.


Mereka adalah teman dekat yang banyak orang kenali betapa keakraban mereka berempat.


Hanya saja Hibie dan Faren tidak berkerja di satu perusahaan dengan Ergen dan Elasha.


Sehingga tidak bertemu sesering Elasha dan Ergen tentunya.


"Akhirnya datang juga" ujar Hibie si gadis berambut ikal memiliki kulit putih bermata sipit bak orang china.


Hibie merupakan gadis yang sulit beradaptasi pada orang baru, ia sebenarnya introvet tapi jika didekat ketiga temannya itu ia menjdi extrofvet seperti yang lainnya.


Hibie yang memikiki pribadi introvet itu membuat ia enggan menyambut orang yang ingin mrndekati dirinya.


padahal dibandingkan Elasha Hibie memiliki paras cantik nan menggemaskan tapi begitulah Hibie ia tidak bisa menerima orang baru begitu saja.


"maaf menunggu lama" ucap Elasha lalu duduk bersebelahan dengan Hibie tentu Ergen akan duduk berhadapan dengannya.


"Gimana kabar kalian?" tanya Ergen menayakan teman temannya.


Siapa yang tidak tahu kisah cinta Feren yang tidak terbalaskan itu, siapa lagi kalau bukan cintanya yang ditolak mentah mentah oleh Hibie.


Ya Feren mencintai temannya sendiri, namun dengan alasan tidak ingin merusak pertemanan mereka Hibie menolak cinta Feren dan memilih tetap berteman dekat.


Bukannya kasihan Ergen dan Elasha, kedua insan itu malah tertawa mentertawakan Feren yang sok-sok sedih itu.


"hahahahha" tertawa yang membuat Hibie tertular.


"ah, ini karena kalian tidak mendukungku" keluh Feren lagi.


"Bukan, hanya saja kamu bukan kreteria Hibie. Iya kan?" tanya Elasha pada Hibie


Lalu merekapun tertawa bersama, mereka menikmati kebersamaan mereka tanpa ada rasa lelah sedikitpun.


Kerandoman masing-masing dari karakter mereka menjadi warna dalam sebuah pertemanan yang merka jalinkan.


"oh ya, ada yang ingin aku sampaikan" ujar Ergen memecah kericuhan hasil.candaan mereka.


Hati Elasha bergemuruh, mata Ergen begiu dalam menatapnya.


"apa ini?" batin Elasha bertanya tanya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Feren sementara Hibie dan Elasha siap mendengarkan


Jujur Elasha ingin apa yang dikatakan Ergen bukanlah yang ia takutkan, Elasha belum siap untuk itu.


"aku akan pulang" ujar Ergen dengan tatapan sendu pada mata Elasha kemudian menatap satu persatu teman temannya.


"kapan?" ingin Elasha bertanya langsung namun pertanyyaan itu keluar dari tenggorokan Hibie, tenggorokan Elasha seakan tidak mampu menanyakan pertannyaan sederhana itu.


Seakan tercekat ditenggorokanya, yang ia takuti adalah kepulangan Ergen ya kepulangan pria itu.


"Besok" jawab Ergen singkat.


Deg


"Tidak, kenapa hati aku begitu sakit mendengarkan Ergen akan pulang" ucap Elasha dalam hati, hanya dalam hati mana berani ia mengatakan secara langsung.


Namun Feren dan Ergen dengan mudah menangkap perbahan diwajah Elasha.


Wajah yang selalu ceria itu berubah datar meski dipaksa untuk tersenyum sekalipun.


"Kita masih bisa bertukaran pesan" ucap Ergen agar memberi ketenangan pada Elasha namun ia mengatakan pada semua temannya.


Samapi pembubaran pertemuan mereka, Elasha masih saja berpikir dalam pikirannya sendiri ia tidak bisa menyembunyikan kegundahannya di depan Ergen.


"Hayolah, jangan terlalu sedih kita akan bisa berteman" bujuk Ergen saat membawa mobilnya menuju kost Elasha.


"kita akan bertemu kembali" bujuk Ergen lagi agar Elasha mengeluarkan kata-kata tidak berdiam diri seperti sekarang.


Bisa jadi ia tidak jadi pulang jika melihat kesedihan diwajah Elasha tidak memudar.


"Kapan?kapan kita akan bertemu lagi. Kapan?"


"bagaimana, bagaimana Rgen" ucap Elasha sendu, kepulangan Ergen akan menjdi akhir perteuannya dengan Ergen itulah yang ada di dalam pikiran Elasha.


"Terima kasih" ucap Elasha saat mobil sudah sampai di depan kostannya, ia segera turun tidak ingin menatap mata Ergen.


Ia akan mengis di hadapan Ergeb jika melihat manik yang selalu menyayangi dan mejaganya itu.


Ergen hanya menatap lurus kepergian Elasha hingga tidak terlihat lagi terhalang oleh pintu kost Elasha.


Beberapa menit ia memandang kost dan suasana di sana, menjadi saksi betapa ia tulus selama ini pada Elasha.


Setelahnya baru Ergen pergi membawa mobilnya kekostnya sendiri.


Sesampainya di kost, Ergen segera menghubungi Elasha, ia tahu sekarag pasti gadis itu semakin kesulitan tidur.


📲"Sha?" pesan dari Ergen dengan panggilan khusus darinya, semua orang memanggil Elasha dengan sebutan El maka Ergen dengan sebutan Sha.

__ADS_1


__ADS_2