Bila Berasa Dicintai (Gadis Mafia Kejam)

Bila Berasa Dicintai (Gadis Mafia Kejam)
05


__ADS_3

Elasha berangakt ke lokasi yang sama dengan keberadaan Ergen sekarang dengan rasa cemas, tentu Elasha cemas Ergen berkorban mengalah dan membiarkan dirinya memakai jaket pria itu padahal Elasha juga tahu jika Ergen tidak bisa kedinginan terlalu lama seperti dirinya.


Tentu Elasha cemas, takut Ergen akan sakit terutama Ergeb akan sensitif pada perutnya jika berlarut larut kedinginan.


Ditempat lokasi, Elasha sudah sampai bersama teman teman yang lainnya


Matanya menelisik mencari sosok Ergen yang belum ia temukan.


Ternyata tempat itu lumayan luas, ia kita akan dengan mudah menemukan Ergen jika sudah di lokasi tapi apa ia kelimpungan mencari keberadaan Ergen selain luas orang-orang yang berkunjung sangat ramai tidak hanya diramaikan oleh devisi dari perusahaan mereka bekerja melainkan juga ada pengunjung lain yang pastinya orang yang tidak ia kenal.


Setelah lelah mencari Ergen disudut manapun, akhirnya ia menemukan keberadaan Ergen dari kejauhan.


Ia akan mendrkat kearah pria itu dna menyerahkan jaket yang masih ia kenakan itu, karena kedinginan.


Namun belum sempat ia sampai kearah Ergen, seseorang yang tidak asing orang yang sama yang dilihat Elasha semalam mendekat ke arah Ergen.


Seakan mengambil kesempatan dan kesempitan di tengah keramaian pengunjung seakan menjadi Penggemar Ergen meminta berfoto bersama Ergen.


Hal seperti itu lumrah saja bagi mata memandang, Ergen yang memiliki oerawakan yang tampan dan menawan memikiki banyaj idola dan salah satu ornag menggemari idolanya dengan mengajak berfoto bersama.


"hai" sapa seseorang itu terdengar samar ditelinga Elasha hanga saja ia tidak terlihat oleh Ergen kareba tubunnya tertutup oleh orang yang lalu lalang.


"kamu, bukan sudah aku katakan jangan mengikutiku di sini" ucap Ergen pelan agar tidak ada yang mendengar percakapannya terutama teman teman yang mengenali dirinya.


Namun Elasha mendengan jelas perkataan Ergen karena ia mendekat kearah Ergen namun membelakangi pria itu.


Dapat Elasha simpulkan jika Ergen dengan gadis yang ia kenal itu sudah saling dekat satu sama lain.


Tapi mengapa harus disembunyikan dari dirinya dan lebih menyakitkan keduanya seakan mengolok olek dirinya.


Elasha menitikan air mata, hatinya kembali sakit kenapa ini terasa dikhianati tapi mengapa ia dengan Ergen bukan sepasang kekasih kenapa harus meras dikhianati.


Elasha merutuki kebodohannya yang amat berperasaan ini, jika ia tidak perperasaan mana mungkin Elasha merasa dikhianati.


"aku tidak mau" tolak gadis itu santai


"Oke, tapi bagaimana Elasha melihat kita?" tanya Ergen khawatir jika kedekatannya dengan gadis didepannya itu dilihat oleh Elasha


"kenapa kamu cemas begitu, itu tidak masalah" ucap gadis itu santai


"kalian juga bukan sepasang kekasih" lanjut gadis itu benar adanya, Ergen pun membenarkan itu tapi ia tidak tahu kenapa berpikiran jika ia akan khawatir Elasha melihatnya bersama dengan gadis di depannya itu seakan ia ketahuan berkhianat.


"Okeh kamu mau apa? Setelah itu cepat pergi" tanya Ergen kali ini terdengar kesal.


Ergen masih ingat pesan Elasha tadi jika Elasha akan ketempat di mana keberadaannya sekarang.


Jika tidak segera menuruti keinginan gadis di depannya itu maka akan membuat gadis itu tetap di tempat.


"Aku mau bareng kamu" ujar gadis itu manja membuat Elasha menjadi jengah saja ternyata Ergen selalu bersikap sama saja pada dirinya dan orang lain.


Tunggu kenapa dirinya ingin diperilakukan berbeda, merasa ingin diistimewakan oleh pria itu.

__ADS_1


Elasha merasa kesal sendiri pada dirinya, ia memilih pergi saja dan bepura-pura tidak tahu.


braak


Elasha tidak sengaja menabrak tubuh seseorang yang membuat ia hampir tersungkur ke bawah.


Untung tubuh berisinya masih berada di udara, yang pastinya ia tidak jadi terjatuh.


Tunggu tunggu siapa yang menyelamatkannya dari maut memalukan jika ia terjatuh di depan keramaian.


Elasha menoleh pada pria yang menatap netra matanya dengan tajam.


"Segera singkirkan tubuh beratmu dari tangan saya" ucap pria itu dingin masih dengan menatap netra Elasha tanpa berkedip sama sekali.


Aura dingin dari pria itu menysuk kedalam tubuh Elasha.


Elasha segera memposisikan tubuhnya agar berdiri tegak.


"maaf" ucap Elasha merasa bersalah telah menabrak pria itu dan membuat pria itu menampung tubuh berisinya.


Aaa Elasha jadi ingat dengan Ergen yang pernah menyelamatkannya namun sangat berbeda dengan pria di depannya itu terkesan dingin dan misterius.


"Merepotkan" ujar pria itu datat dan berlalu meninggalkan Elasha yang memantung dengan penuturan pria itu, selama ini pria-pria akan senang hanya berbicara dengannya apa lagi bisa memeluk tubuh berisinya seperti tadi, namun kali ini pria minstirus nan dingin itu berbeda bahkan mengatai dirinya merepotkan.


Tidak mau memikirkan Ergen ataupun pria misterius yang mulai menghilang dibalik keramaian itu kembali fokus menuju ke arah teman teman yang bersamaan dengan nya berangkat ke lokasi itu.


Elasha kembali bergabung dan menikmati kebersamaannya dengan teman temannya.


Ergen segera menoleh pada Elasha yang juga menatap ke arahnya.


Elasha yang berpura pura tidak melihat apa yang ia lihat tadi menghampiri Ergen dan menyerahkan jaket milik Ergen pada pemiliknya sesuai apa yang ia katakan pada Ergen melalui pesannya tadi.


Ergen menolak dengan beralasan ia sudah mengenakan jaket yang dipinjamkan temanya, Ergen tidak ingin membuat Elasha kedinginan.


"ambilah, ini sangat dingin" ucap Elasha lembut


"udah, pakai saja aku udah pakai yang ini saja" ujar Ergen menunjuk jaket temannya yang ia kenakan.


"kamu yakin?" tanya balik Elasha, ia begitu menurut pada Ergen.


"iya, santai saja" ujar Ergen lembut seraya tersenyum manis lada Elasha, namun dapt Elasha lihat jika Ergen menahan dingin sepanjang malam dan pagi ini.


"baiklah, maaf" ujar Elasha bersalah.


Elasha selalu merasa bersalah jika berbuat salah oada Ergen ia seakan melupakan keslaahan apapun yang dilakukan Ergen dan menagnggap semua kesalahannya.


"nanti kita foto ya" aja Elasha, entah kenapa kali ini ia ingin mengajak Ergen untuk mengapdikan moment menjelang akhir.


Mau tidak mau Elasha menyadari bahwa kedekatannya dengan Ergen akan berakhir dalam waktu dekat ini.


"iya, nanti ya" ujar Ergen lembut seraya menatap mata Elasha yang sedikit berbeda dengan biasanya.

__ADS_1


"kamu baik-baik saja?" tanya Ergen berubah cemas.


"Aku baik-baik aja, mungkin efek dingin" ucap Elasha beralasan, ia tahu Ergen mendapati dirinya sedang tidak baik baik saja.


Iya begitulah Ergen, sekecil apapun berkaitan dengan Elasha akan mudah ia sadari hanya saja Elasha selalu menutupi agar Ergen tidak khawatir dan mengetahui apa yang ia pikirkan.


"baiklah, pakai saja jaketnya" ujar Ergen kemudian tanpa mencurigai apa lagi yang membuat Elasha terlihat berbeda itu.


Bagimana Elasha tidak luluh jika terus terusan menadapat perhatian dari Ergen setiap kali dan setiap hari.


Kembali keaktivitas biasa, dimana merka sudah kemabli dari refreshing dan sudah kembali bekerja dan di ganti oleh devisi lain untuk melakukan refreshing perusahaan secara bergantian.


Elasha dan Ergenpun layak pada hari-hari biasanya selalu berdua dan saling memberi perhatikan satu sama lain.


Elasha tidak menceritakan pada Ergen jika ia melihat kedekatan Ergen dengan gadis lain yang tidak lain orang yang ia kenal begitupun Ergen enggan mengatakan dengan jujur pada Elasha jika dekat dengan gadis yang Elasha kenal itu.


Disebuah kantin perusahaan Ergen dan Elasha menikamti makan malam mereka bersama sebelum pulang kekost-kost mereka masing-masing.


Sebenarnya mereka bisa saja memilih makan malam di luar kantin perusahaan karena jam makan malam perusahaan merupakan jam di luar jam kerja bahkan jam makan malam itu disedikan bagi karyawan yang tidak ingin lagi mencari makanan sebelum kemabli ke tempat penginapan masing-masing.


Ergen menatap netra Elasha lekat, ada kata yang ingin ia katakan namun tercekat ditenggorokannya.


"Kenapa?" tanya Elasha yang memahami tatapn mata dari kedua netra Ergen.


"enggak kenapa-napa" jawab Ergen mengurungkan niatnya.


"kapan pulang?" tanya Elasha tiba-tiba sudah lama ia tidak bertanya tentang kepulangan pria itu, pria di depannya itu terlalu merahasiakan dari dirinya.


"besok malam kita kumpulan ya, bersama yang lain" ujar Ergen tak menjwab pertannyaan Elasha.


Yang lain? Ya sudah lama rasanya Elasha dan Ergen tidak bertemu dengan teman dekat mereka yang lainnya.


Yang terdiri dari mereka beremapat, Hibie, Faren, Ergen dan dirinya.


"Baiklah" sahut Elasha pasrah, sepertinya Ergen memang enggan jujur padanya, sepertinya juga Elasha telah salah menilang jika dirinya mengenal Ergen dengan baik apalagi mengakui pria di depannya itu sebagai teman baiknya, itu sudah salah besar.


Nyatanya pria di depannya enggan jujur dan berterusterang padanya, ada jarak diantara keduanya yang tidak Elasha sadari selama ini.


Keduanyapun memilih mengakhiri makan malam mereka dan kembali ke kost, sebelum kemabli ke kostnya Ergen mengantar Elasha ke kost gadis itu terlebih dahulu.


Memastikan Elasha aman sampai kost dan baik-baik saja.


"Terima kasih" ucap Elasha seperti biasanya dan melambaikan tangannya pada Ergen seperri biasnya setiap kali diantar oleh Ergen sampai kostnya.


"sama sama" ujar Ergen tersenyum dan ikut melambaikan tangannya pada Elasha.


Setelah meilhat punggung Ergen menghilang senyum yang tadinya terbit di wajah indah nan manis miliknya, Elasha menitikan air mata.


"beginikah rasanya, dekat tapi jauh" gumamnya pelan seraya melangkahkan kakinya memasuki kostnya dan teman satu kostnya.


Melihat Lea sudah ada di kost, segera Elasha menghapus sudut matanya yang berair.

__ADS_1


Ia menatap Lea dengan tatapan datar, sementara Lea menatapnya dengan tersenyum


__ADS_2