
"hei, El udah pulang, diantar dia?" tanya Lea seperti biasanya.
"iya" jawab Elasha tampak tidak antusias, biasanya ia sangat antusias menceritakan kebersamaannya dengan Ergen sekecil apapun pada Lea tapi tidak dengan kali ini, Elasha tidak ingin terlihat bodoh menceritakan kebersamaannya dengan Ergen pada Lea, cukup yang sudah berlalu membuat ia terlihat bodoh tidak untuk kedua kalinya.
Lea yang tidak biasnya mendapatkan sikap Elasha seperti itu hanya menyeritkan keningnya tak percaya namun seketika ia berubah bak orang yang paling memahami teman satu kostnya itu.
"Mungkin Elasha lelah, seharian kerja" ujarnya kemudian.
Elasha yang masih mendengarkan ucapan Lea tak menanggapi apa-apa, terserah gadis itu mau bertanggapan seperti apa ia tidak peduli sungguh ia tidak perduli lagi.
Malam ini yang menjadi lelah adalah oikiran dan hatinya, rubuhnya tidak begitu lelah karena kesibukan di tempat kerjanya sedikit lebih ringan sepanjang hari ini.
Elasha memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri setelah meletakan tas kerjanya di kamar.
Di kamar mandi, ia sedikit memijit keningnya yang terasa sakit terlalu keras berpikir.
Ingin radanya ia menjauh dari Ergen, ya kepala sakit yang Elasha rasakan penyebabnya hanya memikirkan Ergen seorang.
Masuknya Ergen dalam kehidupan Elasha begitu mempengaruhi mental dan kesehatan Elasha, sehingga sulit bagi Elasha untuk berniat menjauh.
Kalau bisa ia sudah menjauh semenjak kejadian di acara refreshing devisi perusahaannya, tapi entah mengapa itu berat tidak bisa Elasha lakukan.
Bahkan sesakit apapun hati elasha dibuat Ergen hanyalah Ergen seorang yang bisa menyembuhkn hatinya.
Inilah definisi dari kata kata "kau yang menyakiti kau yang mengobati" ia merutuki dirinya sendiri yang menjadi lemah setelah berkenalan dengan Ergen.
Pria itu begitu mudah mendekatinya dan tanpa disadari pria itu, ia tersakiti ulah pria itu sendiri.
Pertemanan seperti apa yang Elasha harapkan dari sosok Ergen Sarega Weler.
Ini luka, lambat laun Elasha akan terluka melebih sekarang luka yang disayat oleh orang yang sangat ia percayai itu, luka yang sangat dalam yang mampu disembuhkan oleh orang itu.
"kau adalah luka yang menyembuhi lukaku" itulah istilahnya kemudian.
Sejauh apapun, sedalam apapun sakit yang dirasakan Elasha hanya Ergen yang mampu membuat Elasha terpuruk sedalam dalamnya dan begitupun hanya Ergen lah orang yang mampu menyembuhkan luka yang akan menyembuhi luka didiri Elasha nantinya.
Sudah lama Elasha di kamar mandi, ia sampai tidak sadarkan diri sudah menghabiskan waktu berkutat satu jam di sana.
__ADS_1
Tubuhnya mulai terasa dingin, keriput-keriput efek dari itu mulai terlihat dijarinya.
"sepertinya aku kelamaan" gumamnya segera menyelesaikan aktivitas mandinya, segera melilitkan handuk pada tubuhnya yang sedikit berisi.
Ia keluar dari kamar mandi dan segera memakaikan pakaian ganti agar tidak terlalu lama terkena udara dingin letubuhnya secara langsung.
Bisa-bisa ia masuk angin setelah lama di kamar mandi dan belum menggamtikan baju.
Usai rapi dengan style-an tidurnya Elasha meraih phonecellnya, sudah pasti ada pesan masuk dari Ergen seketika kepala sakit Elasha hilang berubah menjadi senang.
Iya begitulah, itu menjadi rutinitas Ergen dan Elasha selalu bertukaran cerita melalui phonecell jika di malam hari.
Banyak hal yang kedua ceritakan seakan tidak pernah habis dan tidak membosankan.
Bahkan Elasha orang yang berani meminta Ergen menceritakan sebuah dongeng untuknya melalu panggilan suara, sebagai pengantar tidur agar dirinya itu segera menikmati tidur dengan nyenyak.
Ergan yang tidak keberatan dengan hal itu menceritakan Elasha dengan dongeng kekanakan seperti ayah penyayang yang membacakan sebuah buku dongeng untuk putri kecilnya.
Ia hafal betul, teman dekatnya itu memiliki insomnia akut parah, jadi tidak masalah bginya sesekali mengantarkan tidur teman dekatnya itu dengan sebuah cerita dongeng.
Setelah beberapa menit ia membaca dongeng suara dengkuran pernafasan Elasha terdengan terartur menandakan gadis itu sudah tertidur.
"Aku pengecut Sha" batinnya lagi lalu mematikan panggilan suara agar tidak mengganggu tidur Elasha sang teman dekat.
Di kamarnya, ia menatap langit-langit kamarnya memutar memory awal kedekatannya dengan Elasha, ia sadar di sini dirinyalah yang awal mengejar agar bisa bersama dengan gadis pemilik mata kebiru-biruan yang memiliki sikap ramah tapi susah didapatkan bagi orang-orang namun tidak baginya kala itu.
Ia begitumudah mendekati Elasha, Elasha menyambut Ergen seakan dengan tangan terbuka.
Awal di mana menjadi candu membuat Ergen selalu ingin berbincang dengan Elasha tidak ingin berjauhan.
Elasha teman baginya tidak boleh ada yang lain merebut Elasha darinya.
Pikiran itu pernah terbesitkan di dalam pikiran Ergen, sebegitu posesifnya pertemannanya akan Elasha.
Elasha yang begitu banyak dibicarakan kalangan kalangan remaja baik laki-laki dan perempuan.
Siapa yang tidak kenal dengan Elasha, gadis yang dikenal banyak orang, gadis ramah nan baik perilakukanya terhadap orang, sekali ia bercanda tuturkatanya tidak lepas dari kata sopan.
__ADS_1
Gadis yang telah menjadi teman dekatnya itu memiliki suara dan tatapan yang begitu menarik, siapa yang bertukaran pandangan denannya akan terjatuh pada hati yang dalam dan yang mendengarkan suaranya akan selalu candu untuk didengar, ingin selalu bertukar cerita dengan gadis itu setidaknya tukar sapa.
Mukan karena suara mendayu dayu atau yang sengaja dimanja manjakan tapi ada yang tidak bisa di ceritakan dengan jelas tentang daya tarik gadis pemilik nama lengap Elasha Shareq Quen itu
Seperti yang diraskaan Ergen sekarang ia begitu candu bercerita pada Elasha, sehingga ia selalu mengajak Elasha bertemu dengan dalih makan bersama, membahas pekerjan yang tidak ia fahami dan bercerita karena Elasha memahami dirinya.
Jika tidak bertemupun ia akan melakukan panggilan hanya untuk mendengar suara Elasha dan mata indah milik temanya itu
Sekarang Ergen dibelenggu oleh pikirannya sendiri, perpisahan yang masih ia rahasikan dari Elasha sebenatar lagi tiba.
Ini merupakan pikihan tepat, jadi ia benar benar akan memilih berpisah dengan Elasha dan membiasakan diri tanpa Elasha
Salah satunya nanti ia tidak akan menghubungi Elasha lagi, anggap kata asing untuk ornag asing "kita orang asing akan menjadi asing".
Ingin Ergen menagis, namun gengsi lebih tinggi sebagai pria dewasa merasa malu membuat ia tetap pada pendiriannya yatiu diam bak tak terjadi apa-apa.
Berlarut dalam oikirannya sendiri membuat pria itu kesal dan memikih keluar dari kost-kostannya membawa kelajuan kendaraannya menuju sebuah Caffe.
Meski sudah larut dikota tempat ia berada sekarang masih banyaj caffe yang buka.
Di sana ia memesan minuman, seraya menunggu pesananya ia meraih phonecellnya di saku celananya.
Tujuan utamanya adalah Galery, ia melihat foti-foto kebersamaanya dengan Elasha ternyata tidak banyak, ia selalu menghabiskan waktu bersama dengan teman dekatnya itu dengan bertukaran cerita hingga lupa mengabdikan moment-moment itu.
Sekali lagi ia menatap Elasha di galerynya, jika dilihat teman dekatnya itu gadis sederhana yang elegan, gadis biasa-biasa saja jika dilihat dari parasnya.
"Jika memandanginya seperti itu membuat ia dan dirimu bersatu, terus pandang foto itu" ucap seorang pria tiba-tiba mengalihkan tatapan Ergen menatap datar pada pria asing itu.
"wanita butuh kata yang meyakinkan agar bisa mempertahankan sebuah hubungan" ujar pria itu kemudian berlalu meninggalkan Ergen yang mematung.
Pria itu sudah menjauh dengan diikuti satu pria lainnya.
Pria itu menatap Ergen dari kejauhan setelah memilih tempat duduk yang ada di caffe itu.
"Selidiki pria itu dan hubungan seperti apa dia dengan gadis yang ia temui waktu itu" ucap pria itu memerintah pada sosok pria yang mengikutinya sedari tadi yang sekarang duduk didepannya.
Bukannya menjawab pria yang diperintah itu malah menyeritkan dahinya tidak percaya.
__ADS_1
Seorang Reyger Sander Darck itu mengurus urusan orang lain, itu bukan Reyger yang ia kenal.