Bila Berasa Dicintai (Gadis Mafia Kejam)

Bila Berasa Dicintai (Gadis Mafia Kejam)
09


__ADS_3

Ergen begitu mengkhawatirkan Elasha yang belum kunjung membalas pesannya, padahal gadis itu sudah membaca pesan darinya.


Biasanya gadis itu tidak pernah menunda membalas pesan masuk darinya, mungkin kali ini Elasha begitu terpukul.


Ergen begitu sabar nanti balasan Elasha, akhirnya setelah sekian jam Elasha membalas pesannya dan mencurahkan ketakutanya pada Ergen.


Betapa ia berat hati melepaskan kepergian Ergen, betapa ia sulit menerima ditinggal, jika ada kata untuk dirinya DIBAWA maka ia ingin dibawa oleh Ergen, tidak ingin berjauhan dan selalu dilindungi oleh Ergen seperti biasanya.


Ada banyak yang ingin menggantikan Ergen menjaga dna menyayanginya tapi Elasha hanya ingin Ergen.


Ergen yang tidak bisa berbuat apa-apa dan akan memilih pulang meninggalkan Elasha seorang, hanya bisa membujuk dengan kata-katanya jika suatu saat nanti mereka akan bertemu.


Sebuah harapan palsu yang bisa Elasha tanggapi dengan tawa belaka, ia bukan anak kecil lagi, yang bisa dibujuk dengan rayuan rayuan palsu seperti itu.


Namun tanpa sungkan dan malu Elasha mengataka sejujur-jujurnya jika ia belum siap berpisah dengan Ergen sungguh inilah kenyataannya.


Ergen membujuk Elasha segera istirahat karena sudah larut malam, gadis yang memiliki insomnia parah itu sudah pasti semakin kesulutan untuk terlelap dengan pikiran kacau.


Di kostannya Elasha memegangi kepalanya yang terasa ingin meledak, dadanya yang begitu sesak.


Wueeekkk


Elasha tiba -tiba ingin muntah, badan Elasha tidak enak pikiran yang membuat ia stress sehingga ia mudah masuk angin.


Tidak ada apa-apa yang Elasha muntahkan selain air bening.


Elasha sadar ia terlalu berlebihan memikirkan Ergen sampai lupa ia butuh istirahat baik tubuhnya dan pikirannya.


Kebanyakan menangis membuat ia muntah dan lemah.


Berusaha untuk tidur agar semuanya hanya mimpi belaka, ya Elasha masih berharap jika semua ini hanya mimpi.


Malam ini adalah malam yang buruk maka besok harus menjadi pagi yang baik, tidak tidak Elasha biarkan besok menjadi pagi yang buruk, ia tidak ingin itu terjadi.


Lama kelamaan, Efek dari kelelahan menangis akhirnya Elasha tertidur dengan keadaan mata yang masih bengkak.


Paginya, ia dan Ergen sudah bertukaran pesan.


📲"Apa kabar?" tanya Ergen melalui pesan.


📲"kepalaku sakit, apa kamu hanya bercanda saja?" tanya Elasha memngingat matanya bengkak akibat menangis semalam jadi ia tidak bermimpi.


📲"Tenangkan pikiranmu, mari kita bertemu" tegur Ergen di balik layar.


📲" kita sarapan?" ajak Ergen kemudian.


📲"baiklah" jawab Elasha, ia akan gunakan kesempatan terkahir ini untuk selalu berada di samping pria itu kebetulan hari minggu yang arti libur kerja.


📲"aku akan bersiap-siap" balas Elasha kemudian.


📲"aku tunggu" balas Ergen serta mengirimkan lokasi yang akan menjadi tempat terkahir bagi mereka berdua nanti.


Di depan cermin Elasha menarik nafas dalam dalam, ia tidak harus kuat dan menerima kenyataan ini, ia tidak boleh menangis lagi.


Kalau ia menangis lagi, sudah pasti ia tidak bisa menghabiskan waktu bersama Ergen dengan baik, hati dan pikirannya akan kacau.


Elasha memperhatikan matanya masih bengkak, sudah lah ia tidak peduli, ia tidak perlu malu nantinya pada Ergen toh ini semua perbuatan Ergen yang meninggalkannya dadakan seperti ini.


Sudah siap dengan penampilan santai berwarna merah maroon, rambut panjang lurus terurai rapi.


Elasha segera meraih dompet dan phonecellnya dan membawa kendaraannya melaju ke lokasi yang dikirim Ergen padanya.

__ADS_1


Keduanya saling bertatapan saat bertemu dengan mata yang sama-sama sembab.


Entah sembab karena apa yang pastinya mata sembab Elasha karena kebanyakan menangis tidak tahu mengenai mata Ergen.


Keduanya memesan makanan dan menikmati makanan setelah pesanan tiba.


Keduanya duduk berhadapan tidak banyak mengeluarkan suara seperti biasanya.


Sama-sama bungkam tidak tahu harus mengatakan apa-apa.


"Sha..."


"jam berapa, kamu pulang?" tanya Elasha lebih dulu sehingga ucapan Ergen terbotongkan.


"Nanti sore" ujar Ergen


"jamnya?" ulang Elasha menata lurus pada mata Ergen ingin segera mendapat jawaban.


"Sore" jawab Ergen tidak ingin mengatakan tepat jam berapa ia pulang nanti.


"aku hanya ingin melihat kamu pulang" ungkap Elasha agar Ergen mau mengatakan yang sejujur jujurnya.


"nanti aja" ujar Ergen masih enggan mengatakan. Elasha menyadari itu sepertinya memelaspun tidak ada gunaya.


"Jangan menangis, nanti aku tidak bisa pulang" ujar Ergen melihat mata Elasha yang mulai berlinang.


Sebenarnya sedari tadi Elasha menahan tangis itu hingga ia tidak bisa menhannya lagi.


Namun mendapat teguran dari Ergen. Ia berusaha untuk menahannya lagi, ia tidak boleh egois mencegah kepulangan Ergen dengan tangisannya.


Cukup lama keduanya menghabiskan waktu sarapan dan berbicara meski lebih banyak diam dari biasanya.


Keduanya memlih untuk pulang atas keinginan Ergen, dengan dalih ia ingin istirahat biar perjalanna pulang nanti sore lebih baik, belum cukup berisitirahat tadi malam membuat ia bisa beralasan, Elasha yang enggan tetap mengalah dan menurut.


"lanjut istirahat lagi" ujar Ergen lembut sebelum membelakangi Elasha.


"iya" jawab Elasha singkat.


Tiga langkah kaki Ergen melangkah meninggalkannya, Elasha kembali memanggil teman baiknya itu.


"Rgen" sapanya Ergen yang awalnya enggan menoleh, memaksakan diri untuk menoleh Elasha melambaikan tangannya pada Ergen dan dibalas dengan labian oleh Ergen.


Keduanya sama-sama melemparkan senyum terakhir.


Lalu Ergen membalikan tubuhnya membelakangi Elasha ia terus melanjutkan langkahnya.


Air mata yang tadinya ditahan Elasha jatuh seketika, senyum yang ia paksakan tadi pudar oleh tangisan.


Puggung itu, akan membuat Elasha ketakutan akan kata-kata "Ditinggal".


Elasha takut punggung itu akan menjadi punggung yang terakhir kali ia lihat, punggung terakhir kali orang yang ia percaya.


Jam terus berputar, Elasha kembali tertidur di kostannya setelah lelah menangis.


Ia sendirian di kamar, Lea meninggalkannya surat jika teman satu kostnya itu sudah pulang duluan, semalam tidak membangunkan Elasha tidak ingin mengganggu tidurnya, itulah alasannya.


Siang hari, Elasha terbangun dan langsung memeriksa phonecellnya, ternyata Ergen tidak mengirimkannya pesan.


Ia segera memebersihkan diri dari sisa tidur siangnya tadi.


Ia ingin mengajak Ergen makan siang, kali ini biarkan dirinya yang mengajak Ergen duluan.

__ADS_1


Sekaligus untuk mengabiskan moment moment yang ada.


Ia membawakan kendaranya menuju lokasi kost Ergen, rencananya Elasha akan mengabari Ergen setelah tiba didekat kost pria itu.


Namun tangan Elasha terhenti meraih phonecellnya saat menyaksikan apa yang ia lihat dengan kedua matanya.


Ergen berpelukan dengan Lea, iya itu Lea.


Elasha tidak mungkin salah lihat, Lea selama ini telah berbohong padanya, mungkin kemarin kemarin melihat Lea ada di dekat Ergen diSaat acara Refreshing perusahaannya Elasha menganggap itu kebetulan dan wajar-wajar saja.


Kali ini tidak, Elasha sudah dibodohi dan dibohongi oleh Lea termasuk Ergen.


Apa selama ini Ergen begitu baik dan tulus padanya, terlihat jujur dan dapat dipercaya.


Bahkan dihari terkahir mereka berdua bertemu pagi tadi Ergen masih berbohong padanya, enggan berkata jujur padanya.


Ergen mengatakan padanya jika pria itu akan pulang sore hari, tapi Elasha tidak buta.


Ergen berpelukan dengan Lea yang bersebelahan dengan koper pria itu.


Elasha hafal betul itu koper Ergen dan sudah jelas tadi ada mobil yang arti mobik yang akan membawa Ergen pulang.


Lalu kenapa Lea mengatakan dirinya pulang semalam, dimana gadis itu tinggal? Pikir Elasha.


Apakah keduanya pulang bersama?


Elasha memutar balik arah kendaraannya menuju kostnya kembali, untuk makan siang Elasha tidak berselera lagi.


Kini Elasha benar-benar sendirian, Hibie dan Feren yang juga tiba-tiba mengirimkannya pesan jika kedua teman dekatnya itu pulang dadakan.


Pertemanan macam apa ini, ia seakan kehilangan sebuah arti kedekatan selama ini.


Apakah dirinya kurang tulus? Sehingga tidak ada yang jujur padanya, tidak ada yang percaya padanya.


Di diperjalan, tubuh Elasha sudah lemas karena banyak berpikir. Hingga tanpa sadar kendaraan yang Elasha bawa tidak seimbang.


Braakkkk.


Suara kendaraan yang Elasha bawa menghantam pembatasan jalan.


kendaraan beroda empat yang Elasha bawa oleh tidak teraturan.


Elasha mulai tidak sadarkan diri, samar samar seorang meraih tubuhnya menjauh dari mobilnya.


Kaki, kenapa dengan kakinya terasa lemah ia hanya bisa bertumpu pada gadis berambut pendek yang samar-samar ia lihat itu


Seorang gadis berambut pendek yang memiliki aura kegelapan.


Perlahan samar samar itu menggelap dan Elasha benar-benar tidak sadarkan diri.


Dari kejauhan Reyger dan Mex menyaksikan kecelakaan yang menimpa Elasha dari arah mobil.


Sebenarnya setelah Reyger mendapat informasi tentang Ergen, Reyger dan Mex berniat mencegah Elasha menemui Ergen.


Namun ternyata mereka berdua terlambat dan keterlambatan mereka membuat Elasha tidak fokus mengemudi sehingga berakibat patal yaitu kecelakaan.


"Buat berita kematian yang mengenaskan" perintah Reyger singkat dapat difahami Mex.


"pria...?" tanya Mex dipitong Reyger.


"Tidak perlu, buat berita kematian itu agar terdengar olehnya" ujar Reyger lalu mengajak Mex meninggalkan lokasi.

__ADS_1


"Kita pergi" ucap Reyger dan Mex tahu masalah Elasha teman sekaligus bossnya itu tidak akan peduli secara terang terangan, biarlah gadis berambut pendek tadi yang mengurus Elasha untuk sementara ini.


__ADS_2