Bilang Ayahmu Aku Seorang Muslim

Bilang Ayahmu Aku Seorang Muslim
Kabur


__ADS_3

David mendekati anjingnya, itu juga yang dilakukan Maryam terhadap kucingnya.


"Tenang Pino, dia sahabatmu. Dia tidak akan mengganggumu. Suatu saat nanti kau akan hidup serumah dengan kucing itu. Jadi tenang, ya." David mengelus-elus anjingnya, sambil sesekali mencuri pandang pada Maryam.


Maryam mengalihkan pandangannya.


"Ayo Zahara, kau di mobil saja." Maryam beranjak dan menarik tali yang dipasang di leher Zahara, lalu menuntunnya ke dalam mobil.


Pandangan David terus mengikuti langkahnya. Begitu juga dengan Pinokio, mata tajamnya memperhatikan kucing putih itu. Lidahnya terjulur


dengan nafas terengah.


"Hei David, aku sudah tahu semuanya. Tenang saja, tak usah takut kau tak bisa bicara lagi dengannya. Selama aku sudah menjadi sahabat


Maryam, apapun akan aku lakukan agar hubungan kalian langgeng." Anggel mengerling.


“Thanks, Anggel. Tapi bagaimana bisa kau akrab dengannya? Bukankah…"


“Ceritanya panjang. Sudahlah, lanjutkan permainanmu. Kami ke sini untuk melihat kalian men-dribble bola.” Anggel mendorong tubuh


David agar memulai permainannya lagi.


"David, ayolah, permainan belum selesai." Jardon berteriak memanggilnya.


”Maryam sempat bilang, ia ingin melihat permainan basketmu. Ayo cepat! What are you waiting for, huh?"


David tersenyum mendengar pernyataan Anggel barusan. Dengan semangat ia berlari ke lapangan. Anjingnya mengekor.


Sementara itu, Anggel dan Maryam berdiri di sisi lapangan, melihat aksi permainan mereka. Ah, David merasa di surga hari itu. Semangatnya


terlecut demi melihat Maryam bersamanya saat itu. Ia dapat merasakan hari itu adalah hari terindahnya, meski nyaris tak ada tegur sapa di antara keduanya.


Pandangan Maryam tidak lepas dari sosok David. Dalam hatinya ia tertawa saat mendengar David berbicara pada anjingnya. Ia masih ingat betul kalimat yang diucapkannya bahwa suatu saat nanti anjingnya akan serumah dengan Zahara. Namun ketika mengingat perbedaan agama mereka, senyum Maryam menyusut.


”Benarkah? Benarkah suatu hari nanti aku bisa hidup bersamanya?” bisik hati Maryam. Dilihatnya David yang sedang beraksi di lapangan basket, betapa lelaki itu telah mencuri perhatiannya akhir-akhir ini.


Setelah permainan basket selesai, tubuh David berkeringat deras. Ia mengelap keringatnya dengan sesekali memandangi Maryam dari kejauhan. Maryam pun melakukan hal yang sama, terkadang pandangan mereka saling bertubrukan, lalu mereka segera membuang muka dengan pipi bersemu merah.


Sementara Pinokio terus mengintai Zahara yang terkurung di dalam mobil. Zahara ingin sekali keluar, sesekali dia mencakar kaca jendela mobil, seolah ingin menemui anjing milik teman majikannya itu.

__ADS_1


Pemainan harus terhenti, semua berkemas untuk pulang. David memandang Maryam lama, ingin rasanya dia menghampirinya dan berpamitan, namun ia sadar itu tak mungkin bisa dilakukan. Maryam juga merasakan hal yang sama. Melihat hal itu, Anggel dan Jardon merasa kasihan. Dengan hati-hati Anggel mendekati David.


"Maryam says, she’s happy seeing you today. You have somethin’ to say to Maryam, Dave? (Maryam bilang, dia senang melihatmu hari ini. Kau ingin mengatakan sesuatu pada Maryam, Dave?)” Sejujurnya, ucapan itu hanya akal-akalan Anggel. Mengetahui hal itu, Maryam tidak terima. Ia bingung harus bagaimana menutupi rasa malunya pada David.


Jardon pun tak mau kalah, dia mendekati Maryam dan mencoba melakukan yang sama seperti yang dilakukan Anggel pada David.


"David bilang, dia senang kau mau melihatnya bermain hari ini, kau sudah buat dia semangat." Jardon memberi kerlingan. Dan bisa diduga, kini


giliran David yang merasa tak terima dengan apa yang telah dilakukan Jardon. Untunglah, Maryam hanya tersenyum menanggapinya.


David dan anjingnya memasuki mobil. Entah kenapa rasa gundah itu muncul lagi. Rindu bercampur dengan perasaan takut kehilangan tiba-tiba datang setelah mereka berpisah untuk pulang. Maryam pun demikian, ia juga merasakan kerinduan dan kegelisahan.


Mereka pulang dengan arah yang berbeda.


***


"Terima kasih Anggel, kau sudah buat aku bahagia hari ini," ucap Maryam pada Anggel dengan tulus.


"No problem. Terima kasih juga kau sudah mau ikut denganku dan jadi sahabatku."


”Seharusnya aku yang berterima kasih. Kau mau menerimaku sebagai sahabat dan tidak menganggapku sebagai ******* lagi.” Sejujurnya,


Anggel masih menaruh kecemburuan pada Maryam, tapi ia memang tulus ingin bersahabat dengan Maryam.


***


Sesampainya di rumah Maryam, Anggel pamit. Zahara masuk ke rumah dengan berlari kencang. Di depan pintu, ayah Maryam sudah berdiri menunggu sejak tadi. Diciumnya dengan takzim punggung tangan sang ayah.


“Terima kasih ayah sudah mengizinkan Maryam jalan-jalan hari ini,” ucap Maryam dengan senyum sumringah di wajahnya.


“Maryam, besok sahabat ayah akan berkunjung ke sini. Dia membawa anaknya yang seumuran denganmu, namanya Khaled." Maryam hanya mengangguk menanggapi ucapan ayahnya.


”Ayah ingin kau mengenal Khaled dengan baik,” ucap ayahnya lagi.


”Maksud ayah?” Maryam masih bingung.


”Tidak, ayah tidak punya maksud apa-apa.” Agak tergagap sang ayah menjawab, lalu buru-buru melanjutkan, "Sudahlah, kau mandi dulu saja. Nanti saat makan malam akan ayah ceritakan.” Ditepuknya pundak putri semata wayangnya itu dengan lembut.


Maryam pun pamit untuk masuk ke kamarnya. Setelah masuk kamar dan menutup pintu kamarnya, Maryam terduduk bersandar di depan pintu kamarnya. Ia mencerna dengan baik ucapan ayahnya barusan, mencoba menerka-nerka maksudnya, ”Tidak, tidak mungkin kalau maksud

__ADS_1


ayah akan seperti itu.” Ia menepis jauh-jauh pikiran buruknya.


Dari balik pintu kamar itu, samar-samar Maryam mendengar percakapan antara ayah ibunya di ruang tamu. Maryam berusaha mempertajam pendengarannya, ia pun menempelkan teliganya di pintu.


"Apa yang kau inginkan dengan anak kita?" dengan gelisah, ibu Maryam bertanya pada suaminya.


”Kurasa, setelah lulus Senior High School nanti, anak kita harus menikah. Aku khawatir melihat tingkahnya akhir-akhir ini. Aku takut dia tak


mampu menjaga diri,” jawab Ayah Maryam. Di balik pintu kamarnya, Maryam tersentak demi mendengar percakapan orangtuanya. Ia seakan kehabisan nafas.


“Dia masih belia, biarkanlah dulu dia mengenyam pendidikan sampai college," bela ibunya.


"Aku tak percaya padanya. Menikah itu menjaga kesucian, dan aku sudah punya calon untuknya, Khaled, anak sahabatku itu. Khaled hafal 30 Juz Al-Qur'an, namun cita-citanya ingin menjadi insinyur pembangunan. Masih Senoir High School saja dia sudah bisa membuat rancangan gedung


pencakar langit yang akan menyaingi gedung-gedung di kota ini. Dia sangat tampan, aku yakin Maryam pasti mau." Ayah Maryam menimpali panjang lebar.


Maryam menahan nafas, ia sangat terkejut mendengar itu. Tiba-tiba saja wajah David terbayang di pelupuk matanya. Ia ingin menangis


namun tak kuasa.


“Aku tidak mau, aku tidak mau. Demi Tuhan, aku tidak mau dijodohkan. Oh God, help me out, (Tuhan, tolong aku)” bisik hati Maryam merintih.


Malam itu juga, Maryam berniat kabur dari rumahnya. Ia pergi membawa pakaian sekolah dan beberapa baju. Entah bagaimana caranya, ia harus bisa lolos dari security guard rumahnya.


Maryam berhasil keluar, dan tanpa membuang waktu, ia mencegat taksi. Dengan pikiran kalut, ia meminta si sopir untuk mengantarnya ke gereja. Sesampainya di sana, Maryam tidak turun. Ia hanya berhenti sesaat dan mendapati Pinokio melingkarkan tubuhnya di halaman rumah sambil


sesekali menjilati tubuhnya. Anjing itu menyalak-nyalak demi melihat taksi yang di dalamnya ada Maryam. Maryam ingin sekali turun dan mencari


David di sana dan menceritakan semuanya padanya, namun ini sudah malam, keadaan akan bertambah kacau jika ia bersembunyi di gereja itu. Tiba-tiba ia teringat Anggel, taksi pun meluncur membawanya ke arah rumah Anggel.


✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒


Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau kalian tidak lupa membantu ya.. Readera setiakuuu💕💕💕


Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏


Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,


Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,

__ADS_1


Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,


Terima Kasih😇😇


__ADS_2