
Pagi itu, dalam kondisi kurang fit David tetap memaksa berangkat ke sekolah. Didapatinya di kelas, Maryam sudah duduk rapi sambil membaca kitab Al-qur'an kecilnya. Sekilas ekor matanya melirik pada Maryam. Menyadari bahwa dirinya diperhatikan, Maryam tetap berusaha konsentrasi membaca ayat demi ayat.
”Ya Allah Yang Maha Pembolak-balik hati, buat aku lupa akan David,” bisik hati Maryam di sela-sela membaca ayat-ayat Al Qur'an tersebut.
Seperti biasa, David menulis di secarik kertas lalu berdiri dan berjalan ke arah Maryam, menyerahkan kertas itu padanya. Dibacanya isi surat itu lirih:
Aku ingin tahu apa alasannya kau memutuskan hubungan ini?
Maryam mengambil secarik kertas dan menuliskan balasan untuk David:
Jangan ganggu aku lagi, aku tak mau bicara denganmu lagi.
Yang terjadi selanjutnya, mereka saling berbalas surat satu sama lain.
Maryam, aku sudah cukup tersiksa jauh darimu. Sulit bagiku untuk melupakanmu. Semalaman aku tak bisa tidur, memikirkan masalah di antara kita. Sekarang coba beri aku alasan kenapa sikapmu
menjauhiku? Aku mohon! – David –
Tanyakan pada Anggel. Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. – Maryam –
Seketika itu juga David mencari Anggel. Ditariknya tangan Anggel begitu David menemukannya.
“Apa-apaan ini, Dave? Kenapa kau menarik aku seperti ini?” teriak Anggel sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman David.
“Jelaskan padaku kenapa Maryam memutuskanku!” Tanya David dengan memasang tampang serius.
Anggel memandang wajah David penuh kesedihan. Ia bingung antara memberitahukannya atau tidak. Sejujurnya dalam hatinya ia tidak tega untuk bilang bahwa Maryam akan dijodohkan dengan lelaki pilihan ayahnya.
”Aku tak tahu...” jawab Anggel berusaha mengelak.
”Bohong! Maryam bilang, kau tahu semuanya. Dia memintaku untuk menanyakannya padamu, Anggel. Jadi kumohon, jelaskanlah padaku apa yang sesungguhnya terjadi!” David memohon.
”Don’t ask me to explain it, please! (Jangan paksa aku untuk menjelaskannya. Kumohon!)” Anggel masih menolak.
”Jelaskan padaku sekarang, Anggel. Jelaskan!” Diguncang-guncangnya kedua pundak Anggel.
Maryam memperhatikan mereka dari dalam kelas. Hatinya terasa diiris-iris.
Sementara itu, Anggel masih bergeming.
“Ayolah, ceritakan padaku!” David benar-benar memohon.
“Maaf, bukan aku tidak mau. Tapi aku tidak bisa, Dave.” Anggel tetap pada pendiriannya.
Tiba-tiba saja Maryam menghampiri.
“Aku akan dijodohkan, Dave. Ayahku telah memilihkanku calon suami dari Dubai, namanya Khaled. Ayahku berniat menikahkan kami setelah lulus dari High School dan aku tidak bisa menolaknya.” Emosi Maryam meluap seketika.
Mendengar hal itu langsung dari Maryam membuat David seakan limbung. Ia tertegun sejenak kemudian pelan berjalan meninggalkan Maryam dan Anggel. Hingga sampai di ujung lorong kelas, David berlari ke tempat di mana sepedanya diparkir. Ia kayuh sepedanya sekencang mungkin meninggalkan sekolah. Ia kabur tak tahu arah. Ia ingin menjerit.
__ADS_1
“Aaaaarrrrrrgggggghhhhhhh!"
***
David tak lagi bergairah untuk sekolah. Beberapa hari ia hanya mengurung diri di kamarnya. Sarapan, makan siang dan makan malam ia lewatkan begitu saja. Nafsu makannya sirna.
Sudah seminggu ini David tak masuk sekolah, membuat Maryam gelisah luar biasa. Sepulang sekolah itu, Maryam terduduk dengan lesu di halte tempat biasa ia dan David bersua. Sesekali ia pandangi trotoar yang ujung jalannya tembus ke arah gerbang sekolah tempat di mana biasanya
David muncul menemuinya.
Dalam hatinya, ia bergumam, “Where are you going, Dave? I deadly miss you. (Kau ke mana, Dave? Aku sungguh sangat merindukanmu.)”
Lalu setetes dua tetes air matanya basah, hingga banjir membasahi pipinya.
***
Rushel memasuki kamar putranya. Ia sedih melihat kondisi David seperti itu.
“Kau harus makan, nak, kalau tidak kau akan sakit.” Ada kekhawatiran di raut mukanya.
“Aku tak bisa, Ayah. Aku tak nafsu makan lagi.”
“Kau kenapa, Nak? Ada masalah apa?” Ayahnya menuntut jawaban.
“Apakah Muslim dan Nasrani itu tak bisa saling mencintai, Ayah? Jelaskan padaku, apakah kau memperbolehkan jika aku menikah dengan wanita Muslim suatu saat nanti?” tanyanya parau.
Ayahnya terdiam, ia baru mengerti masalah David sesungguhnya.
“Pujilah Nama Tuhan, Nak. Berdoalah padaNya. Mintalah pada Dia agar melepaskan rasa cintamu itu pada Maryam. Dia bukan untukmu.”
Dengan lembut diusapnya punggung David.
“Puji Tuhan.. Puji Tuhan.. Puji Tuhan.. “ David tergugu menyebutNya.
***
Di depan Gereja, Maryam berdiri dengan kaki gontai. Kerudungnya berkibar dihembus angin. Ia melangkah pelan. Keberadaannya saat itu tak
lain untuk mencari tahu keberadaan David yang sudah absen selama seminggu. Seorang biarawan melihat Maryam dari kejauhan dengan tatapan aneh. Ia menghampiri gadis itu.
“Wait!” Teriak biarawan itu saat mendapati Maryam hendak melangkah pergi.
Maryam menoleh.
“What are you doing here? (Apa yang kau lakukan di sini?)” batinnya bertanya-tanya melihat seroang gadis Muslim berdiri mematung di depan gereja.
”Excuse me, I want to see David. I’m his classmate. (Permisi, aku ingin bertemu dengan David. Aku teman sekelasnya.)” Maryam menjelaskan tujuan keberadaannya.
”Baiklah, akan kuantar kau ke asramanya.” Ia berjalan mendahului Maryam.
__ADS_1
Di lorong bangsal sebuah kamar, Maryam bertemu seorang lelaki paruh baya dengan jubah kebesaran warna hitam ayah David. Sesaat keduanya terhenti dan saling menatap.
”Aku ingin bertemu David.” Dengan hati-hati Maryam memulai percakapan.
”Kau.. Maryam?” tatapannya begitu meyelidik.
Maryam mengangguk takzim.
”Antar gadis ini ke kamar David." Lelaki paruh baya itu memberi perintah pada biarawan. Maryam sedih saat melihat David terbaring lemah di ranjangnya. Matanya basah.
”David.. ” Panggil Maryam lirih.
”Kenapa kau ke sini? Aku ingin melupakanmu. Kau malah kesini. Pergilah.. Aku ingin melupakanmu!" David berniat untuk mengusir Maryam tanpa sedikitpun memandang gadis itu.
”Aku ingin kau kembali ke sekolah. Aku ingin kau ada, Dave. Aku ingin tetap melihatmu walau aku tahu aku tak akan mungkin bisa memilikimu.” Maryam bergetar mendengar kalimatnya sendiri.
"Aku ingin melupakanmu. Aku benar-benar ingin melupakanmu!” Tangis David pecah seketika di hadapan gadis yang sangat dicintainya.
"Aku juga sudah berusaha, Dave. Tapi tak bisa. Aku.. aku masih mencintaimu.” Diusapnya air matanya yang terus berlelehan. Ia tak mau terlihat cengeng di depan David.
Hening.
David menangis dalam kebisuan. Begitu juga Maryam.
”Siang malam hanya wajahmu yang terbayang, Maryam. Aku berulang kali menyebut nama Tuhan di hati, namun Dia tak kunjung menyapu bayangmu dari ingatanku." David memecah kebisuan di antara mereka berdua.
”Biarkan aku melihatmu terus tiap hari di sekolah, Dave. Kumohon kembalilah ke sekolah,” pinta Maryam.
”Aku tidak bisa melakukannya sekarang, Maryam. Aku mohon, jangan paksa aku untuk saat ini. Sekarang pergilah. Pulang dan jangan temui aku lagi untuk sementara. Nanti setelah rasa cinta ini lenyap dari hatiku, aku janji, kita akan bertemu lagi dan berteman seperti biasa.” David masih membuang muka.
Mendengar jawaban David, hati Maryam serasa ditusuk-tusuk.
”Kau masih mau, kan, berteman denganku?” tanya David padanya. Dia terdiam cukup lama lalu berlari meninggalkan David sendiri di kamarnya. Maryam terus berlari dengan terisak hingga pandangannya kabur oleh air yang menggenang di pelupuk matanya. Beberapa biarawan yang kebetulan dilewatinya menatap dengan tatapan bertanya-tanya dalam hati.
Di dalam kamarnya, David menyimpan penyesalan yang mendalam.
”Maafkan aku,” bisiknya.
✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒
Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau kalian tidak lupa membantu ya.. Readera setiakuuu💕💕💕
Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏
Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,
Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,
Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,
__ADS_1
Terima Kasih😇😇