Bilang Ayahmu Aku Seorang Muslim

Bilang Ayahmu Aku Seorang Muslim
Perjodohan


__ADS_3

Di depan Klinik itu David duduk bersimpuh menunggu Maryam. Seorang siswa perempuan keluar dari ruangan itu, David mendekatinya.


”Bagaimana keadaan Maryam?” tanya David masih dengan sisa kepanikan di wajahnya.


”Dia masih belum sadar,” ucap perempuan itu.


David kembali terduduk. Wajahnya pias. Tiba-tiba Jardon dan Anggel berlari menemuinya.


”Dave, ada apa sebenarnya dengan Maryam?” tanya Jardon penasaran.


David hanya menunduk, tiba-tiba air matanya mengalir.


”I dunno. Guys, I wanna be alone. Please, leave me alone now! (Aku tidak tahu, kawan. Aku ingin sendiri. Kumohon, tinggalkan aku sekarang!)”


Pinta David pada kedua sahabatnya. Dia sedang ingin sendiri.


”Kita sahabatmu, Dave. kita tidak akan meninggalkanmu saat kau memiliki masalah seperti ini.” Anggel menolak. Ia sudah tahu masalah yang sedang dihadapi sahabatnya itu.


”Tinggalkan aku. Aku mau sendiri. Kalian mengerti, kan?” David setengah teriak.


”Dave, what’s going on with ya? (Dave, ada apa denganmu?)” ganti Jardon yang teriak.


David beranjak lalu berlari meninggalkan mereka. Jardon ingin mengejarnya, namun tangan Anggel mencekalnya. David benar-benar ingin sendiri saat ini.


***


David mengunci dirinya di dalam toilet sekolah. Entah kenapa matanya ingin memuntahkan air mata sederas-derasnya. Perasaannya sedang tak menentu. Hatinya benar-benar kalut. Ia tidak mau putus dengan Maryam. Ia tahu bahwa dirinya sangat mencintai perempuan muslim itu sejak pertama melihatnya. Ia tak mau tak bisa mencintainya lagi, ia tidak mau Maryam berhenti mencintainya. David ingin mereka kembali


berhubungan, meski dalam diam, meski dalam kebisuan, meski tanpa menyentuhnya secuilpun. David rela, asal hubungan mereka tidak seperti


ini.

__ADS_1


Anggel berada di sisi Maryam. Ia pandangi wajah cerah berdarah Arab dan bermata biru itu. Maryam memang cantik, mungkin secantik Maryam yang


melahirkan Nabi Isa as. Hidungnya yang mancung dan pas, kulitnya yang putih bening tanpa noda sedikitpun, bibirnya yang merah alami. Ah, Maryam, dia memang cantik. Anggel mengakui itu. Pantas saja David tergila-gila padanya. Anggel masih menyimpan perasaan pada David, dan tahu bahwa David sangat menyayangi Maryam. Meskipun begitu, Anggel sendiri tetap tulus menjadi sahabat Maryam dan iapun menyayangi sahabat barunya itu.


Maryam membuka mata.


”Aku baik-baik saja kan, Anggel?” matanya mengerjap.


”Kau baik-baik saja, Maryam. Kau tenang saja, aku akan menjagamu di sini." Digenggamnya tangan Maryam dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang mata kalungnya yang


berbentuk salib berwarna silver. Sejak tadi dia berdoa untuk Maryam.


”Aku sudah putus dengan David. Aku tidak sanggup lagi, Anggel. Aku tidak sanggup.”


”Aku tahu, aku paham bagaimana rasanya mencintai dan memaksa untuk melupakan. It hurts. Menangislah, jika memang itu bisa membuatmu sedikit tenang.” Ia paham betul perasaan Maryam seperti apa, karena Anggel juga merasakan hal yang sama. Saat itu, ia merasa nasibnya sependeritaan dengan Maryam.


Tak lama kemudian Ibunda Maryam datang untuk menjemputnya. Ia pulang dalam keadaan masih lemah hingga harus berjalan dengan didampingi ibunya. Anggel hanya mengantar kepergiannya dengan pelukan sebelum mereka keluar dari klinik.


”Anggel, apa kau masih menyimpan perasaanmu pada David?” tanyannya.


”Aku sedang tak ingin membahas itu.” Anggel berpaling.


”Ouch, okey. Sorry.”


Tanpa mempedulikan keberadaan Jardon, Anggel meninggalkan ruang klinik begitu saja. Jardon hanya bisa melihatnya berlalu dari hadapannya. Perasaannya pada gadis itu masih ada, tak pernah hilang. Ya, sudah lama Jardon menaruh hati pada Anggel, namun Jardon selalu berhasil menutupi perasaannya. Ia hanya berharap suatu saat nanti Anggel mau menerimanya menjadi kekasih.


***


Maryam mengenakan gaun muslim yang indah malam itu. Sebuah kalung mutiara menghiasai jilbabnya dengan anggun. Wajahnya sedikit dipoles dengan make-up minimalis, rona cantik wajahnya tak menghilang walau saat itu hatinya masih galau. Ia masih memikirkan David, bahkan sejak putus dengannya, wajahnya semakin meneror Maryam. Di mana-mana wajah David selalu ada. Setelah semua siap, ibunya menuntunnya ke ruang makan. Sahabat ayahnya sudah menunggu di ruang makan bersama istri dan anak lelakinya, Khaled.


Saat Maryam muncul, sahabat ayahnya yang bernama Paman Khusen tersenyum melihat kehadirannya. Khaled sedikit memandang Maryam, ia bergetar hebat melihat kecantikan Maryam. Hatinya bergemuruh hebat. Ia terpesona pada pandangan pertama.

__ADS_1


Khaled sendiri berwajah tampan dengan hidung mancung, berkulit putih, bermata biru serta alis yang tebal indah. Khas Arab campuran.


”Astaghfirullah...” Ucap Khaled dalam hati.


Maryam memandang wajah Khaled. Maryam mengakui Khaled memang tampan, bertubuh pas dan berwajah penyayang, namun saat itu tak sedikitpun ia menyukainya, bagi Maryam wajah itu biasa-biasa saja. Yang terindah di matanya hanya David. Hanya dia.


Mereka pun makan bersama sambil bercengkerama. Maryam dan Khaled hanya diam mendengarkan percakapan orang tua mereka.


”Kau sangat cantik, Maryam. Sangat cantik. Aku merasa tak pantas menjadi suami mudamu,” bisik hati Khaled.


***


Di luar sana, David mematung di depan rumah seorang Duta Besar Uni Emirat Arab. Ia terus memandanginya dan ingin sekali masuk ke rumah itu, namun David tak punya cukup nyali untuk itu. Sejak tadi dia belum pulang ke asrama gereja, hingga akhirnya ia putuskan untuk mengayuh


sepedanya dengan kencang menuju kediaman sang Duta Besar dan berdiri terus di sana. Sampai malam ini, sampai ia tak tahu bahwa di dalam rumah itu telah terjadi pertemuan antar keluarga yang saling menjodohkan. David tak tahu. Ia tak tahu sampai kapan ia mematung di depan rumah itu, mungkin sampai esok. Sampai ia melihat seorang gadis keluar dari rumah dan mengajaknya bersepeda ke sekolah. Entahlah. Air matanya sudah habis kering karena kebanyakan menangis, pun hatinya sudah lelah memikirkan pujaan hatinya.


Tak terasa hujan rintik-rintik turun malam itu, David masih mematung di depan rumah sang Duta Besar. Tubuhnya menggigil karena kedinginan. Ia mencoba menaiki sepedanya lalu mengayuhnya pelan. Ya, ia menyerah. Ia putuskan untuk pulang kembali ke asrama gerejanya. Pikirannya masih semrawut. Yang terlintas di matanya hanya wajah Maryam dan Maryam. Seperti inikah cinta itu? Pernahkan kalian merasakan hal yang sama? Ah, David masih tak mengerti, kenapa dia bisa semelankolis ini? Ia tak bisa seperti Jardon dan Anggel yang bisa menata hati mereka dengan tenang dan bisa menyimpan perasaan cinta mereka dengan sangat rapi.


***


✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒


Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau kalian tidak lupa membantu ya.. Readera setiakuuu💕💕💕


Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏


Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,


Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,


Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,

__ADS_1


Terima Kasih😇😇


__ADS_2