
”Bangunlah, Nak. Pinokio merindukanmu. Ia ingin ikut ayah menjengukmu, tapi di sini tidak boleh membawa binatang peliharaan. Dia rindu berlari-lari denganmu, Dave. Tidakkah kau rindu juga padanya?” Pastur itu mencoba mengajaknya bicara, seolah putranya bisa mendengar. Sesekali dielusnya kening David dan diciuminya penuh kasih.
***
Maryam masih pingsan. Ayahnya duduk di samping ranjangnya dengan gelisah. Sementara ibunya masih setia melantunkan firman Tuhan dalam kitab sucinya.
”Aku ingin menemui lelaki yang membuat anakku seperti ini!” Ujar ayahnya memecah suasana. Ibunya menghentikan aktivitas membaca Al Qur'annya, ia menoleh ke arah suaminya. Ia tak berbicara sepatah katapun.
”Cinta seperti apa ini, Khadijah?” ayahnya bertanya sedikit geram.
Istrinya masih diam.
”Sepertinya kita dulu tidak seperti ini. Biasa saja dalam urusan cinta. Tapi kenapa Maryam sangat membebankannya? Apa yang harus aku lakukan, Khadijah? Aku tidak tahu, demi Allah aku tidak ikhlas dan tidak rela jika orang Amerika itu menjadi suaminya kelak. Aku tidak mau, Khadijah. Aku tidak mau anak kita tersesat.” Ayahnya semakin putus asa.
Ibu Maryam mencoba menenangkan suaminya sambil merangkul pundaknya, ”Sudahlah, Sayang, kita berdoa saja padaNya. Biarkan Dia yang
menyelesaikan urusan pelik ini.”
”Aku harus keluar, aku ingin bertemu dengan anak itu.” Dengan tergesa ia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berlalu meninggalkan anak dan istrinya. Tak dihiraukannya sang istri yang berusaha mencegah langkahnya. Sebelum berbelok di ujung lorong, ia berpapasan dengan Anggel yang membawa sekotak buah untuk Maryam.
”Kau tahu di mana rumah lelaki yang membuat Maryam sakit begitu?” tanya ayah Maryam pada Anggel.
Anggel menunduk, ia merasa sedikit ketakutan. Akhirnya ia terpaksa memberitahukannya pada ayah Maryam.
”Dia ada di rumah sakit ini. Kalau mau bertemu dia, saya bisa antarkan Bapak ke sana.” Anggel menjawab sedikit ragu.
”Dia ada di rumah sakit ini? Cepat antarkan saya ke ruangannya.”
Ayah Maryam tidak sabar.
Anggel menunjukkan kamar rawat inap David, sementara ayah Maryam mengikutinya dari belakang Anggel. Dalam hati Anggel merasa takut kalau ayah Maryam akan berbuat nekat pada sahabatnya itu. Ia berdoa sepanjang jalan menuju kamar inap David.
Tiba di depan pintu, Anggel mengetuk dengan hati-hati. Seorang biarawan membuka pintu kamar rawat inap itu. Ayah Maryam tersenyum, sementara biarawan itu memandang aneh, namun tak ayal dia mempersilakannya masuk juga.
Ayah Maryam terkejut saat melihat pastur yang sesaat tadi sempat berbicara dengannya di ruang tunggu, sedang duduk di sisi seorang anak lelaki remaja yang terbaring tak berdaya.
__ADS_1
Reaksi serupa juga ditunjukkan oleh sang pastur. Dalam hatinya masih bertanya-tanya.
”Anda ada di sini, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” sang pastur mencoba tersenyum.
”Aku ingin bertemu dengan seorang anak yang membuat anakku menderita.” Ayah Maryam berkata tegas.
Pastur itu baru menyadari bahwa yang diajaknya bicara tadi adalah ayah yang membuat anaknya, David, menderita.
Kemudian ia berdiri, mendekat ke arah ayah Maryam, memandang wajahnya dengan nanar.
”Anda ingin bertemu dengan anak lelaki yang membuat putrimu menderita, Tuan?” pastur itu sekuat tenaga menahan gejolak di hatinya.
Ayah Maryam hanya diam, seolah sudah paham kondisi anak lelaki itu juga sama seperti putrinya, belum sadarkan diri. Anak lelaki itu tak lain adalah putra sang pastur.
”Lihatlah, dia berusaha berjuang untuk melupakan putri anda, Tuan,” ujar ayah David pilu.
Ayah Maryam masih terdiam.
”Anda ingin memarahinya? Anda ingin menyuruhnya pergi jauh dari kehidupan anak anda? Dia sudah melakukan semuanya. Dia sudah
berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti apa yang anda mau, Tuan.” Disusutnya air matanya yang terus mengalir deras.
”Wajah anak ini tampan. Sangat tampan. Namun antara dia dan Maryam ibarat air dan minyak, mereka tidak akan mungkin bisa saya satukan. Saya tidak akan mungkin melakukannya. Tapi saya yakin dia akan mampu melaluinya. Begitu juga dengan Maryam. Saya percaya itu.” Ayah Maryam mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tidak lama, ia memohon diri untuk pamit. Ayah David hanya menanggapinya dengan diam. Dalam benaknya juga memikirkan kata-kata yang tadi diucapkan ayah Maryam.
***
Di lorong rumah sakit itu, Khadijah, ibu Maryam, sengaja menunggu suaminya untuk membicarakan sesuatu.
”Sudah bertemu dengan anak itu?” tanya istrinya.
”Sudah,” jawabnya singkat.
”Sudah puas? Sudah puas membuat semua ini menjadi kacau?” istrinya berujar menyindir.
”Maksudmu? Kenapa kau marah padaku,Sayang?” ayah Maryam heran dengan sikap istrinya.
__ADS_1
”Semua ini salahmu,” jawabnya.
”Salahku? Di mana letak salahku? Tindakanku sudah tepat, Khadijah. Anak itu tidak seiman dengan kita.” Ayah Maryam membela diri.
”Selama ini aku sudah cukup untuk diam, Ishak. Selama ini aku merasa sudah menjadi istri yang baik bagimu, selalu menuruti titahmu. Tapi kurasa sikapku tidak sepenuhnya benar, sebab aku juga punya hak untuk bicara dan ikut andil dalam menyelesaikan masalah keluarga kita.” Istrinya
sedikit teriak.
”Apa yang salah? Jelaskan!” Sang suami tak kalah teriak.
”Kau terlalu mengekang Maryam. Dia jenuh dan merasa seperti robot yang harus menuruti semua maumu. Maryam punya jiwa, biarkan jiwanya mengisi kehidupan ini tanpa terlalu dikekang. Apa kau tidak sadar? Coba hitung berapa banyak cinta yang kau beri dibanding amarah, kekangan dan keegoisanmu padanya? Mana yang paling banyak? Cinta atau keegoisanmu?” ucap Khadijah sambil menangis.
”Maryam membutuhkan cinta. Dan itu tidak dia dapatkan dari kita, sebab dia sendiri tidak pernah mengerti mana cinta atau keegoisan. Yang dia tahu hanyalah keegoisan kita. Hingga saat dia temukan seseorang yang peduli dan sayang padanya, seperti inilah jadinya. Kita yang seharusnya berintrospeksi diri,” lanjut Khadijah lagi masih dengan isaknya.
”Ini bukan masalah keegoisan, Khadijah. Bukan. Tapi ini masalah jalan hidupnya kelak, masa depannya di hadapan Allah nanti. Aku tahu aku
bukan ayah yang baik. Aku sudah gagal menjadi ayah, aku tahu itu, tapi aku hanya ingin berada dijalanNya, Khadijah. Hanya itu.” Ishak ikut menangis.
Khaled yang mendengar perdebatan itu sebelum memasuki belokan bangsal tempat Maryam dirawat, hanya terdiam. Ia tidak bermaksud menguping pembicaraan kedua orangtua Maryam, tapi tak ayal ia ikut mendengarnya juga. Ia tidak tahu apa yang akan dia lakukan.
”Aku ingin anakku sembuh, Ishak. Aku ingin dia terlepas dari masalah ini. Aku tidak mau kehilangan anak lagi. Cukup sudah Asiyah yang pergi, aku tidak mau kali ini Maryam juga pergi karena keegoisan kita.” Khadijah terduduk lemas di kursi tunggu yang berada di dekatnya.
”Maksudmu, kau ingin agar aku mengizinkan hubungan cintanya dengan remaja Amerika itu?” tanya Ishak pada Khadijah.
Mendengar percakapan itu, hati Khaled terhenyak.
”Aku tidak tahu, Ishak. Aku tidak tahu. Yang jelas aku tidak ingin Maryam pergi.” Khadijah semakin kalut.
✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒
Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏
Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,
Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,
__ADS_1
Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,
Terima Kasih😇😇