
”Kamu aman sekarang, kamu sedang berada di rumahku. Tadi kutemukan kamu sedang pingsan di jalanan. Sopirku yang menggotongmu.” Wanita tua itu menjelaskan.
”Maryam... Maryam... di mana Maryam?” tanya David panik. Ia mencoba untuk bangkit, tapi ia masih tak punya daya.
”Maksudmu gadis yang pingsan bersamamu? Dia ada di sini. Tapi kondisinya masih lemah, dia ada di kamarku. Sepertinya dia harus dibawa ke dokter,” jawab wanita tua itu.
”Tolong bawa aku ke tempatnya, aku ingin melihatnya!” Pinta David, matanya berkaca-kaca.
”Baiklah...” ucap wanita tua itu lalu menuntun David menuju kamarnya. Saat tiba di sana, ia lihat Maryam terbaring lemah.
”Maryam...” Didekatinya Maryam yang masih tertidur.
Wanita tua itu hanya diam meski sebenarnya dia masih penasaran dengan mereka berdua.
Tiba-tiba mata Maryam mengerjap, jari tangannya bergerak-gerak.
”David...” lirihnya.
”Aku di sini, di sampingmu...”
”Apa kau sudah membawaku pergi? Di mana kita sekarang?” tanya Maryam.
”Iya, aku sudah membawamu pergi, Maryam. Kita aman sekarang,” ujar David meyakinkan. Wanita tua itu terlihat iba melihat kondisi kedua anak remaja yang berada di rumahnya tersebut, tapi ia masih diam tak berkomentar.
”Aku haus...” Ucap Maryam.
”Sebentar...” Wanita tua itu langsung mengerti. Ia pun keluar untuk mengambil air putih.
Mata David berkaca-kaca, ia tak percaya akan senekat ini kabur dari rumah dan membawa Maryam bersamanya.
”Minumlah...” Wanita tua itu memberikan dua gelas air putih yang besar.
David mengambilnya dan memberikan segelas pada Maryam. Maryam mencoba untuk bangkit tapi ia masih tidak kuat untuk sekedar mengangkat kepalanya.
”Tuntunlah dia agar bisa sedikit duduk.” Pinta wanita tua itu pada David.
”Aku sudah berjanji tidak akan menyentuhnya. Bisa tolong kau bantu dia untuk minum? Aku mohon,” pinta David.
Wanita tua itu sedikit bingung. Diambilnya gelas itu dari tangan David dan membantu Maryam untuk duduk lalu meminumkannya pada Maryam.
”Dia harus dibawa kerumah sakit, kalau tidak keadaannya akan semakin memburuk,” ucap wanita tua itu.
”Aku tidak mau... aku mau di sini saja... jangan bawa aku ke rumah sakit, Dave. Aku ingin bersamamu. Aku takut nanti ayahku akan menemukanku. Aku tidak mau melihatnya lagi, Dave.” Maryam menangis histeris.
”Tapi kondisimu tidak baik, Maryam.” David mencoba menenangkan, ia sedih.
”Aku sama sekali tidak keberatan kalian berada di sini. Tapi bagaimana dengan kondisimu? Apa sebaiknya kupanggilkan dokter untuk ke sini?” wanita tua itu berinisiatif.
__ADS_1
”Tidak usah, aku akan baik-baik saja. Terima kasih.” Maryam masih menolak.
”Aku keluar sebentar.” David beranjak dari sisi Maryam.
”Jangan pergi, Dave. Kau di sini saja, temani aku,” pinta Maryam.
”Aku hanya keluar sebentar, nanti aku pasti kembali.” Dilemparkannya senyum agar Maryam merasa tenang.
”Dave, jangan tinggalkan aku!” Maryam masih keberatan.
”Aku ingin menelepon Jardon. Aku harus minta pertolongannya, Maryam, agar dokter bisa ke sini, agar kondisimu membaik.”
”Don’t. Please, don’t go! (Jangan. Kumohon, jangan pergi)”
David tetap bersikeras keluar, ia pamit pada wanita tua itu.
Malam itu, udara di luar sangat dingin menusuk kulit. David mencari telepon umum, setelah menemukannya ia memencet beberapa digit.
”Hello..” Suara di seberang sana.
”Jardon, it’s me, David.”
”Dave, di mana kau? Ayahmu meneleponku, katanya kau kabur dari rumah. Keadaan sedang gawat sekarang. Orang suruhan ayah Maryam juga datang ke gereja ayahmu. Maryam juga kabur dari rumahnya, apa kau bersama Maryam?” Jardon memberondongnya dengan pertanyaan.
”Iya, aku bersama Maryam sekarang.”
dengan kelakuan sahabatnya yang tidak biasa itu.
”Aku tidak mau berdebat saat ini, Jardon. Yang aku butuhkan saat ini adalah bantuanmu,” pinta David.
”Baiklah, apa yang bisa kubantu?” Jardon luluh juga.
”Saat ini Maryam dan aku berada di rumah seseorang. Tadi kami berdua pingsan di jalanan, lalu ada wanita tua menyelamatkan kami. Kondisi Maryam sangat lemah, dia harus dibawa ke dokter. Kau bisa meminjamiku uang, Jardon?”
”Oh My God. Sekarang katakan di mana posisimu?” tanya Jardon panik.
David memberitahukan alamatnya, tapi tiba-tiba saja seseorang menarik kerah baju David dari belakang.
”Dave.. David.. Hello..!” Teriak Jardon panik setelah tak ada suara lagi dari David di seberang sana.
Gerombolan lelaki berbaju hitam-hitam mengelilingi David, seseorang di antaranya menarik kerah bajunya hingga lehernya kesakitan.
”Di mana Maryam?” tanya lelaki berambut cepat.
”Dia tidak bersamaku!” Teriak David. Dia ketakutan.
”Cepat katakan di mana kau sembunyikan Maryam?!” bentak lelaki berambut cepak itu, lalu menampar muka David. David mencoba melawan
__ADS_1
sekuat tenaga dengan mendorong lelaki itu agar menjauh dari tubuhnya. David berhasil bebas dari cengkeramannya. Ia mencari-cari alat untuk
perlawanan, lalu ditemukannya sebuah balok. Ia raih balok itu dan mencoba menantang gerombolan lelaki kekar berbaju hitam-hitam yang ada di hadapannya.
Lelaki berambut cepak yang tersungkur tadi mulai emosi. Lalu tiba-tiba semuanya menyerang David tanpa ampun. Mereka memukulinya, tendangan demi tendangan mengenai tubuhnya. Satu lawan banyak. Jelas tidak seimbang. Ia tersungkur babak belur, hingga hidungnya mengeluarkan banyak darah.
”Katakan di mana kau sembunyikan Maryam?” tanya lelaki itu lagi seakan tidak mau menyerah.
”Dia tidak bersamaku.”
Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka mengeluarkan pistolnya lalu mengarahkan moncongnya tepat di kening David.
”Katakan padaku di mana kau sembunyikan Maryam?” bentak orang itu semakin keras.
David ketakutan, ia gemetar hebat ketika melihat pistol itu.
”Dia, dia berada di rumah itu!” Tunjuk David. Lalu mereka bergegas pergi menuju rumah yang ditunjuk David. Pandangan David semakin gelap. Tendangan demi tendangan yang baru saja diterimanya membuat tubuhnya semakin tak berdaya. Ia tidak sadarkan diri.
Wanita tua itu terkejut begitu melihat sekelompok orang yang berpakaian hitam-hitam tiba-tiba memasuki rumahnya dengan kasar.
”Di mana gadis itu bersembunyi?” tanya si rambut cepak.
”Kalian siapa?” wanita tua itu panik.
”Dia anak dari majikan kami, kami harus membawanya pulang.”
”Dia... dia ada di kamarku...” Agak gugup wanita tua itu menjawab.
Tanpa membuang waktu, mereka menuju kamar yang ditunjukkan wanita tua itu.
”Dave..?” Maryam kaget saat segerombolan pria memasuki kamarnya.
”Kami harus membawamu pulang.”
”Aku tidak mau pulang. Di mana David? Dave.. tolong.. tolong aku..” Maryam meronta saat lelaki kekar itu mencoba menggendongnya. Percuma, tenaga lelaki itu terlalu kuat untuk dilawan. Maryam pun pingsan dan seketika itu juga lelaki kekar itu membawanya pergi.
✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒
Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏
Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,
Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,
Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,
Terima Kasih😇😇
__ADS_1