
“Teman-temanku semuanya, aku sudah mendapatkan fakta yang akurat bahwa perempuan berkerudung, anak baru di sekolah kita itu, bukan *******. Jadi, kita harus tetap belajar di sini bersamanya. Mungkinsudah saatnya kita harus saling menghargai antar sesama umat beragama!” Ucap Jardon tegas.
”What? Are you possessed or something? (Apa? Kau kesurupan atau apa?)” teriak siswi berkulit hitam di kelas itu.
”Aku benar-benar tak bisa menerimanya jika dia sampai sekolah di sini lagi!” Teriak salah satu siswa lagi.
”Percaya padaku, teman-teman. Jika terjadi sesuatu di sekolah kita, aku akan bertanggung jawab.” Jardon meyakinkan teman-temannya.
David memandang wajah Jardon takjub, secepat itu ia berubah. Ia benar-benar tak percaya. Sementara teman-teman di kelas itu langsung terdiam, hanya Anggel yang terlihat tak peduli. Sepertinya Anggel sudah paham bahwa David terlihat memperhatikan perempuan muslim itu.
Anggel tak suka melihat Maryam kembali ke sekolah ini lagi.
Tak lama kemudian Maryam masuk kelas. Mengetahui keberadaan Maryam, ada sebagian siswa yang sinis melihatnya. Maryam tak peduli, ia menunduk. David berdiri lalu melihat ke arahnya, seperti dahaga berkepanjangan lalu mendapatkan seteguk air, tubuhnya sangat tenang dan bahagia saat melihat sosok gadis itu muncul dengan kerudung lebarnya. Maryam merasakan hal yang sama. Sebenarnya Davidlah alasan utama mengapa ia ingin kembali ke sekolah itu lagi.
Maryam duduk, lalu mencari-cari posisi duduk David, setelah mendapatkannya Maryam langsung melihat wajah David.
“Hari ini aku melihat wajah itu lagi, masih indah, sangat indah. Maafkan aku ya Allah, ampuni aku jika aku terlalu mencintai laki-laki non muslim ini,” bisik hati Maryam yang sudah sedikit tenang.
Seorang guru laki-laki sedang serius menjelaskan sesuatu di depan sana. Sementara itu, sedari tadi David tak konsentrasi, ia terus saja mencuri-curi pandang pada Maryam. Sesekali Maryam juga melakukan hal yang sama. David menulis sesuatu di kertas, lalu menggulungnya dan diam-diam memberikan kertas itu pada Maryam yang kebetulan saat itu duduk tak jauh darinya.
Maryam mengambil kertas itu lalu membukanya.
“I’m happy seeing you again. (Aku senang melihatmu lagi.)” Isi tulisan di kertas itu dari David. Maryam tersenyum puas saat membaca
tulisan itu. Ia tak membalas, hanya diam dengan perasaan penuh bahagia.
Jam pulang sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar sekolah untuk pulang. Maryam duduk-duduk saja di halte, padahal sudah dua bus yang berhenti. Matanya terus terarah pada jalanan ke arah sekolah. Di kejauhan, sepeda David melaju kencang menuju halte. Saat remaja tampan itu melihat Maryam, ia langsung mengerem. David berhenti, sementara Maryam berdiri, mereka saling pandang. Dua hati yang saling mencintai namun sama-sama menyimpan perasaan itu terpaku di
__ADS_1
tempatnya masing-masing. Maryam menunduk, dan saat bus datang, ia langsung berlari memasuki bus karena bingung harus berbuat apa, padahal ia ingin sekali berbicara dan mengenal laki-laki itu lebih jauh lagi. Ia memang mencintai David, namun tak tahu bagaimana cara mengekspresikannya. Ia memilih untuk masuk ke dalam bus. Setelah bus itu melaju, David mengejarnya melalui jalur sepeda. David ingin sekali berbicara dengannya.
“Hey, wait, I wanna talk to you! (Hei, tunggu, aku ingin berbicara denganmu!)” Teriak David di sepeda.
Maryam heran di dalam bus itu saat melihat David penuh keringat mengikuti bus yang ditumpanginya itu lewat jalur sepeda. Ia ingin sekali turun, namun bus tak akan berhenti sebelum ada halte pemberhentian berikutnya. Maryam sedikit panik.
Setelah tiba di halte berikutnya, Maryam langsung keluar. Sementara David menghempaskan sepedanya lalu berlari ke arah halte yang masih jauh. Maryam tanpa sadar juga berlari ke arah David. Mereka
saling mendatangi satu sama lain. Maryam tak percaya dia bisa melakukan itu. Tepat 10 senti saling berhadapan, mata Maryam berair. David ingin lebih mendekat lagi dan bersiap-siap dalam posisi ingin memeluk Maryam.
“Jika kau memelukku, maka butuh waktu empat puluh tahun bagi Tuhanku untuk mengampuniku. Biarkan kita sedekat ini. Hanya sebatas ini,” ucap Maryam sambil menangis tak tahan menahan rindunya. Ia ingin melepas kerinduannya, namun ia masih ingin menjaga kesuciannya.
“Aku ingin bicara padamu.” David mencoba menyampaikan suara hatinya. Ia terengah-engah mengatur nafas karena kelelahan mengayuh sepeda, keringatnya bercucuran.
Maryam terdiam.
”Aku.. Aku selalu memikirkan kamu.. Entahlah..” Agak gugup David mengatakannya.
“Astagfirullah… Astaghfirullah…” bisik hati Maryam sambil terisak-isak. Ia teringat akan nasihat ayahnya. Maryam merasa menyesal telah turun dari bus untuk menemuinya, tapi dia merasa tenang saat turun dan bersama dengan David.
“Are you crying? (Kau menangis?)” ucap David lalu mengeluarkan sapu tangannya. Ketika ia hendak menghapus air mata Maryam, Maryam
menolak.
“Don’t touch me! (Jangan sentuh aku!)” Ucap Maryam tak mengerti kenapa dia bisa seperti ini. Ia berbalik, ia tak mau mengatakan perasaannya pada David. Ia berjalan meninggalkan David.
“Aku mencintaimu. Apakah juga butuh waktu empat puluh tahun bagi Tuhanmu untuk mengampunimu jika aku mencintaimu?” tanya David sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
“My name is Maryam. Call me Maryam!” Ucap Maryam terhenti dan masih membelakanginya. Ia sangat terkejut mendengar pengakuan cinta dari David, dadanya bergetar hebat, untuk pertama kalinya dia mendegar kata itu selama hidupnya. Maryam masih diam tak menjawab, ia ragu dan
teringat akan nasihat ayahnya.
“Answer my question. I wanna be your boyfriend. And honestly. I’ve never felt this way before. Please, say something, Maryam! (Jawab
pertanyaanku. Aku ingin menjadi pacarmu. Dan jujur saja, aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Kumohon, katakan sesuatu, Maryam!)” Ucap David bersungguh-sunguh.
Maryam berbalik. Lalu mengangkat wajahnya dan memandangi wajah David dengan seksama.
“Jika kau berjanji tak akan pernah menyentuh aku dan menghargai aku sebagai wanita muslim, aku mau jadi kekasihmu, karena aku juga sayang padamu,” ucap Maryam tanpa berpikir panjang lagi, ia sangat mencintai remaja ini.
“Panggil aku Dave atau David, nama lengkapku David Stuart, anak seorang pastur di gereja terbesar di kota ini. Dan satu lagi, aku bersedia tak akan menyentuhmu selama menjadi kekasihmu,” ucap David tersenyum, sementara Maryam juga tersenyum bahagia namun air matanya masih
mengalir.
Pepohonan masih menggugurkan dedaunannya di dekat halte itu. Dua remaja itu masih berdiri saling berhadapan tanpa saling menyentuh. Kerudung Maryam masih berkibar terkena angin. Keringat David perlahan kering. Hari itu, dua remaja telah menemukan cinta pertamanya.
✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒
Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau kalian tidak lupa membantu ya.. Readera setiakuuu💕💕💕
Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏
Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,
Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,
__ADS_1
Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,
Terima Kasih😇😇