
Ayah Maryam gelisah mengetahui puterinya belum pulang. Ia menelepon seseorang.
“Apakah lelaki itu menyentuh anakku?” tanya ayah Maryam pada seseorang di sebebrang sana.
“Tidak tuan, tetapi mereka masih saling berhadapan. Apa yang harus kulakukan?” tanya seseorang di seberang telepon itu.
“Jika sampai ia berani menyentuh anakku, baru kau bertindak!” Ucap ayahnya mendesah kesal lalu menutup teleponnya. Zahara, kucing kesayangan Maryam, terlihat gelisah melihat ayah Maryam menunjukkan wajah marah. Kucing itu berjalan ke pintu utama, entah menunggu Maryam atau hanya sekedar berjalan santai saja. Yang jelas jika Zahara bisa bicara seperti kucing-kucing di film Hollywood, mungkin ia akan menelepon Maryam dan mengatakan bahwa keadaan sedang gawat, ayahnya sedang memata-matainya saat ini.
***
Seorang biarawan berlari mencari ayah David. Ketika melihatnya ditaman, ia berteriak.
“Bapa… Bapa…!” Ucap Biarawan itu terengah-engah.
“Ada apa?” tanya ayah David penasaran.
“Tadi saya melihat David di halte bus sedang berhadap-hadapan dan terlihat akrab sekali dengan seorang gadis remaja yang menggunakan kerudung. Sepertinya dia gadis muslim. Saya khawatir, Pastur. Apa saya harus menyuruh David melakukan pengakuan dosa malam ini?” biarawan
itu terlihat cemas.
Ayah David hanya diam, pandangannya tiba-tiba kosong. Entah apa yang dia pikirkan, mungkin semuanya akan jelas jika David sudah pulang. Pinokio mengintip di balik jendela kamar David, seolah tahu dan paham apa yang dibicarakan biarawan itu dan ayah David. Anjing itu tak berani menyalak, mungkin ia takut diinterogasi, karena dialah yang pertama mengetahui perasaan David sesungguhnya
"Kau mau pulang? Mau kuantar dengan sepeda?" tawar David pelan pada Maryam.
Maryam terdiam, menunduk lalu mengangkat wajahnya, “Jujur, baru kali ini aku dekat dengan laki-laki. Kau berbeda, Dave. Kau sangat
berbeda dengan orang Amerika kebanyakan. Aku mau bersepeda denganmu, tapi jangan kencang-kencang ya!" Ucap maryam mengiyakan.
Sepeda itu dikayuh pelan oleh David. Perasaannya sungguh tenang siang itu, setenang danau Luray Caverns Virginia yang memancarkan cahaya dari pantulan air di dalam bumi. Maryam juga merasakan yang sama, ia hanya tersenyum di sepanjang perjalanan.
"Bisa kau ceritakan seperti apa tinggal di Dubai itu, Maryam? Bagaimana remaja-remajanya?" tanya David sambil mengayuh.
Maryam terdiam, lalu ia membuka mulutnya untuk bicara.
"Aku merasa terkekang di sana, sama sekali tak bebas. Jangankan bersepeda seperti ini, memandang laki-laki saja aku tak boleh. Di sini bebas. Banyak kutemukan perempuan dan lelaki berciuman di tempat umum. Tentu saja aku tidak setuju dengan tindakan itu, sebab hal itu dilarang di dalam agamaku, dan aku juga tidak menyukainya, tapi di sana bisa dipenjara selama 23 hari. Dulu pernah aku baca di koran, seorang wanita Inggris yang bernama Charlote Adams, ia bekerja di sebuah perusahaan real estate. Ia kerap menggoda teman prianya dengan mencium pipi, akhirnya ia dipenjara selama 23 hari." Maryam merasa lega punya teman cerita. Selama ini hanya kucing kesayangannyalah yang jadi teman ceritanya.
__ADS_1
"Lalu, kalau bersepeda seperti ini, hukumannya apa ya kira-kira?" ejek David pada maryam.
"Bukan hakim yang akan menghukummu, tapi ayahku!" Maryam menjawabnya sambil terkekeh.
"Ayahmu pasti tegas, ya?"
"Bukan tegas lagi, tapi kejam."
David terdiam. Ia membayangkan betapa nekadnya dirinya mencintai anak Duta Besar Uni Emirat Arab itu. Apalagi setelah mendengar cerita Maryam, ia langsung merinding. Banyak hal yang harus ia hadapi, terutama perbedaan keyakinan dan budaya yang jelas-jelas sangat berbeda. Namun besarnya cintanya pada Maryam mampu menepis semua itu.
"Turun di sini!" Pinta Maryam.
David mengerem sepedanya. Maryam pun turun. Biasanya bila seorang kekasih mengantar kekasihnya pulang, ada adegan di mana
kekasihnya mencium pasangannya itu, namun David harus menghargai Maryam, ia sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya.
"Aku pulang dulu ya, kuharap kau cepat-cepat pergi. Aku takut nanti orang suruhan ayah tahu. Demi keselamatan kita. Terima kasih telah
mengantarkanku pulang," ucap Maryam tulus.
"I’ll miss you. See you tomorrow and take care. (Aku akan merindukanmu. Sampai ketemu besok, ya)" David mengucapkan kalimat perpisahan, lalu memutar sepedanya.
"Yes, you too!" Teriak Maryam.
David mengayuh sepedanya kencang. Ia bernyanyi-nyanyi girang. Wajahnya selalu tersenyum bahagia. Ia nyanyikan lagu Justin Bieber You Smile kesukaannya.
"Maryam, no matter what happen, no matter hard it feels, I’ll always love you. (Maryam, tak peduli apapun yang terjadi, betapapun beratnya,
aku akan selalu mencintaimu)" David menggumam.
Maryam melangkah pelan menuju kamarnya. Suara batuk terdengar tiba-tiba.
"Jadi itu yang membuatmu tak mau pindah ke sekolah lain lagi? Karena orang Amerika itu? Ayah sudah tahu semuanya!" Ucap ayahnya tegas.
Maryam gemetar ketakutan. Ia masih ingat bagaimana ia memukuli almarhumah kakak perempuannya dulu ketika ayahnya mengetahui kakak perempuannya itu berciuman dengan pacarnya asal Pakistan, hingga kakaknya stress lalu mati bunuh diri karena tak mau dipisahkan dengan pacarnya itu. Namun kali ini, hanya suara ketegasannya itu saja yang membuat Maryam gemetar, ayahnya tak memukulinya.
__ADS_1
Tiba-tiba ayahnya menangis. Maryam menunduk dan merasa bersalah, ia terus saja diam.
"Anakku, apa yang akan ayah katakan pada Allah ketika ayah ditanyai di pengadilan terbesarnya nanti, jika aku tak mampu mengurusmu dan menjagamu dari perbuatan dosa? Sungguh ayah tak mau kasar lagi.Sudah cukup kakakmu saja yang berbuat dosa," ucap ayahnya di tengah
isak tangisnya.
"Ini salah ayah, seharusnya ayah tak bekerja di sini," tambahnya lagi..
Maryam diam, tiba-tiba saja matanya berair.
Ayahnya menarik nafas lalu berbicara lagi, "Ayah ingin kakakmu seperti Asiyah binti Muzahim istri Firaun yang sangat menjaga kehormatan dan kesuciannya, makanya ia ayah beri nama Asiyah. Dan ayah ingin engkau seperti Maryam binti Imran yang disucikan oleh Allah dengan melahirkan
anaknya Nabi Isa tanpa sentuhan lelaki. Ayah ingin kau menjaga kesucian seperti mereka. Namun sayang, Asiyah telah gagal karena ayah tak mampu menjaganya. Kini giliranmu. Kau mau ayah disiksa di neraka Jahannam karena tak tahu harus menjawab apa di pengadilanNya nanti?" isak
ayahnya.
Maryam terus menangis.
"Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku." Maryam berlutut di hadapan ayahnya, "Demi Allah, tak sedikitpun orang Amerika itu menyentuhku. Aku
berani bersumpah!"
Maryam terus menangis, ayahnya melangkah meninggalkannya. Zahara, kucing kesayangannya, tak berani mendekati Maryam, padahal ia ingin sekali dibelai dan dimanja.
✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒
Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau kalian tidak lupa membantu ya.. Readera setiakuuu💕💕💕
Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏
Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,
Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,
Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,
__ADS_1
Terima Kasih😇😇