
Hari itu juga Khaled mengantar Maryam ke kediaman orang tuanya. Ayah dan ibu Maryam tak kuasa menahan tangis saat mengetahui kehidupan rumah tangga anak mereka berakhir dengan perceraian. Ada penyesalan yang mendalam di hati mereka, sebab tak bisa dipungkiri, pernikahan itu karena ego mereka berdua, bukan murni kemauan Maryam.
Kini mereka lebih bersikap lembut pada Maryam, seakan ingin menebus rasa bersalah. Apapun keputusan Maryam, ayah dan ibunya akan menurutinya, menerima dengan lapang dada.
Seperti hari itu, saat Maryam meminta pada ayahnya untuk diizinkan melanjutkan kuliah, ayahnya langsung merestuinya. Maryam memutuskan untuk mengambil Teaching of English, ia ingin menjadi guru suatu saat nanti, di sebuah universitas di Dubai. Maryam ingin menikmati hari-harinya di bangku kuliah.
Waktu demi waktu berjalan cepat, tak terasa empat tahun lebih Maryam mengenyam pendidikan di Universitas itu. Dia akhirnya bisa mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Dia banyak mencari informasi tentang dunia pendidikan dan mendapati sebuah informasi yang menawarkan kesempatan untuk menjadi tenaga pendidik di sebuah kota di Amerika. Hatinya bergetar membaca nama negara itu. Ingatannya tentu berpulang pada kenangan yang selama ini dia simpan dengan rapi dalam hati dan pikirannya. Dia tidak mungkin lupa begitu saja tentang hal itu.
Lalu, demi meneguk kembali kenangan-kenangan masa lalunya, diam-diam Maryam mengirimkan biodatanya di lembaga pendidikan itu via email.
Sebulan lamanya ia menunggu balasan dengan cemas. Dan hari itu, penantiannya selama sebulan lebih ini tidak sia-sia. Maryam memperoleh
kesempatan itu. Ya, dia akan terbang ke negeri Uncle Sam untuk yang kedua kalinya.
”Aku mendapat kesempatan untuk menjadi tenaga pendidik di Amerika, Ayah. Apakah kau merestuinya?” Ditemuinya ayahnya yang saat
itu tengah santai bercengkerama dengan ibunya di ruang keluarga. Maryam meminta izin kepada ayahnya dengan hati-hati. Hatinya benar-benar berharap ayahnya akan mengizinkan. Sesaat ayahnya berdehem, membenahi letak duduknya. Dia pandang Maryam dengan serius.
”Pergilah jika kau memang ingin mengejar cita-citamu di sana, Nak. Yang ayah inginkan cuma satu, di manapun kau berada, tetaplah menjunjung tinggi cintamu pada Allah. Jadikan Dia di atas segala-galanya. Ayah percaya padamu, Anakku.”
Maryam bersimpuh di hadapan ayah dan ibunya. Dia menangis tergugu, memohon restu pada mereka berdua. Direngkuhnya tubuh anak semata wayang mereka itu dengan haru. Hari itu terasa seperti hari terakhir bagi mereka untuk bisa bersama.
Langit kota New York masih sama, menawarkan keteduhan di hati Maryam. Ada keharuan menyeruak begitu ia injakkan kaki menuruni tangga pesawat yang menerbangkannya dari Dubai. Seakan tidak ingin melewati momen itu, dia hirup dalam-dalam udara kota New York hingga memenuhi
rongga dadanya. New York serupa candu baru bagi dirinya.
Setelah menyewa sebuah apartemen sederhana, Maryam datang memenuhi panggilan lembaga yang menerimanya. Dia akan ditempatkan di sebuah International Primary School, pendidikan tingkat dasar bagi anak-anak usia 6 hingga 7 tahun.
__ADS_1
Di sela-sela hari libur, Maryam seringkali memanfaatkannya dengan berkeliling kota, mengingat kembali kenangan masa lalunya yang
masih tersimpan rapi di pikirannnya. Maryam teringat David dan berniat untuk mengunjungi gerejanya.
Sebuah taksi mengantarkannya ke tempat itu. Semua masih terlihat sama seperti beberapa tahun lalu. Maryam mengintip dari balik jendela taksi sebelum akhirnya memutuskan untuk turun. Dia menghela nafas, berusaha menepis gemuruh di hatinya. Matanya memicing begitu melihat seekor anjing menyalak-nyalak, menatapnya dari kejauhan. Dengan mantap, Maryam langkahkan kakinya menuju bangunan itu. Langkahnya terhenti saat melihat sosok pria paruh baya tengah menyirami deretan tanaman yang menghiasi pelataran bangunan tua itu.
Pria itu sesaat tertegun melihat Maryam, menyiratkan keterkejutan.
”Maryam...?” pria itu menghampirinya.
”Bapa...” Maryam sedikit kikuk.
”Kau kembali, Anakku!” Ujarnya.
”Come get in. Follow me, Maryam! (Masuklah. Ikuti aku, Maryam!)” Sambungnya lagi sembari menjajari langkah Maryam.
”Duduklah, Maryam,” ucap ayah David mempersilakan begitu Maryam masuk.
”How are you, Father? (Apa kabarmu, Bapa?)” tanya Maryam membuka percakapan.
”I thought I would never see you again, My Dear (Aku pikir aku tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi, Sayang). Melihatmu ada di sini
seakan mengobati rinduku pada David.” Pria itu mulai berkaca-kaca.
”David? Why? What happen with him? Where is he, anyway? (David? Kenapa? Ada apa dengannya? Di mana dia?)” Maryam memberondongnya dengan pertanyaan.
”He’s gone. He left me. (Dia telah pergi. Dia meninggalkan aku.)”
”Gone? What are you trying to say, Father? (Pergi? Apa maksudmu, Bapa?)” tanya Maryam sedikit panik.
__ADS_1
”Dia pulang ke rumah orang tuanya. It’s been five years (Sudah lima tahun lamanya),” jawab ayah David parau.
”But how? You’re his only parent, aren’t you? Father, would you mind telling me the truth? What actually happen with David? (Tapi bagaimana bisa? Kau orangtuanya satu-satunya, kan? Bapa, bisa kau ceritakan yang sebenarnya? Apa yang sebenarnya terjadi dengan David?)”
Maryam kebingungan.
”Suatu hari datang seorang pria bersama seorang wanita ke gereja ini. Mereka adalah sepasang suami istri yang berniat mencari anaknya yang
belasan tahun lalu telah dibuang oleh sang istri. Ya, anak itu adalah David. Wanita itu menceritakan semuanya. Ibunya sengaja membuang David karena tak kuasa menanggung beban telah melahirkan anak di luar pernikahan.” Ayah David menjelaskan.
”Setelah wanita itu menceritakan yang sejujurnya pada pria yang menghamilinya, yang sekarang menjadi suaminya, bahwa dia telah membuang buah hati hasil hubungan terlarang mereka, pria itu meminta untuk mencari keberadaan anaknya. Lalu sampailah mereka ke gereja ini. Mereka membawa David pergi.” Disekanya airmata yang menetes di
pipinya.
”Awalnya David tidak bersedia, tapi Bapa yang menyuruhnya untuk tinggal bersama mereka. Sejak saat itu, Bapa tidak pernah melihatnya lagi. David tidak pernah sekalipun berkunjung ke sini. Bapa tahu alamat mereka, tapi kesehatan yang semakin menurun menghalangi langkah Bapa untuk samapi ke sana. How I miss him! (Betapa aku merindukannya!)” Ungkapnya lagi panjang lebar. Ia benar-benar tak kuasa menahan kesedihannya.
Ayah David tiba-tiba beranjak masuk ke dalam. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah amplop.
✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒
Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏
Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,
Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,
Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,
Terima Kasih😇😇
__ADS_1