
Saat melihat Anggel membuka pintu rumahnya, Maryam langsung memeluknya dengan derai air mata. Anggel menuntunnya masuk ke dalam kamar dan meminta Maryam menceritakan apa yang seseungguhnya sedang terjadi.
“Aku tidak mau, Anggel. Aku tidak mau!” Ucapnya di antara isaknya.
“Aku tahu, tapi kabur seperti ini tak baik untukmu, Maryam.” Anggel berusaha menenangkan sahabatnya.
“Aku tak punya pilihan lagi. Aku tidak mau dijodohkan.”
”Kau bisa menjelaskannya pada ayahmu, kan, kalau kau tak mau.” Anggel sebisa mungkin memberi solusi.
”Kau tidak tahu betapa keras kepalanya ayahku, Anggel. Aku tidak akan bisa menolak perintahnya.”
Anggel sedikit takut melihat kenekatan Maryam untuk kabur dari rumahnya. Ia membuatkan secangkir teh hangat dan memberikannya pada
Maryam. Mr Stone dan Mrs. Monica, orang tua Anggel, juga turut prihatin. Mereka berdua mencoba menenangkan sahabat putrinya. Sebisa mungkin kedua orang tua itu membuatnya nyaman.
”Bagaimana kalau kau pulang, kami akan mengantarmu dan menjelaskan semuanya.” Ayah Anggel urun suara.
”I don’t want to, Sir. (Aku tidak mau, Pak)” Maryam menjawabnya sambil menangis.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu. Saat Mr. Stone membukanya, terlihat beberapa orang bertubuh atletis berkaca mata hitam berbaris di depan pintu rumahnya, mereka semua mengenakan
pakaian serba hitam. Tiba-tiba terlihat sosok lelaki bergamis dengan jenggot tebal menghiasi dagu sedang berdiri di antara para body guard-nya. Mr. Stone menyambutnya hangat. Lelaki tua berjubah itu berbicara sesuatu dengan ramah lalu dia dipersilakan masuk oleh sang tuan rumah.
Betapa terkejutnya Maryam saat menyadari bahwa tamu itu adalah ayahnya.
”Ayo kita pulang, Nak!” Pinta ayahnya ramah. Tak ada sama sekali mimik marah di wajahnya.
”Aku tidak mau pulang. Aku tidak mau dijodohkan, Yah. Aku mau terus sekolah.” Maryam menangis di pelukan Anggel.
”Baiklah, tapi kau harus pulang,” pinta ayahnya lagi. Ia tak mau berdebat dengan Maryam di tempat orang lain. Sebisa mungkin ia tenang.
”Pulanglah Maryam, ayahmu sangat menyayangimu,” bujuk Mrs. Monica.
Anggel meyakinkannya, seakan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Ia peluk Maryam dengan erat hingga sahabat barunya itu berpindah ke pelukan ayahnya.
”Aku ucapkan terima kasih. Maaf anakku telah merepotkan kalian.” Dengan kikuk ayah Maryam menyalami Mr. Stone dan Mrs. Monica.
__ADS_1
Di perjalanan, Maryam terus saja menangis. Sementara ayahnya hanya diam. Entah apa yang akan dilakukan ayahnya ketika sampai di rumah nanti. Memukulinya seperti yang dia lakukan pada kakaknya, Asiyah, dulu? Maryam tak peduli. Kali ini, ia benar-benar tak peduli, sebab yang
diinginkannya saat ini hanyalah bersama David, berkeluh kesah dengannya dan berbagi semua penderitaan yang sekarang sedang dialaminya.
”Sit down!” Perintah ayahnya tegas setelah tiba di rumah. Maryam menurutinya, ia sudah siap apapun yang akan dilakukan ayahnya malam ini.
Matipun dia sudah siap.
”Kau benar-benar memalukan ayah!” Ayahnya sekuat tenaga menyembunyikan emosi yang sudah sejak tadi bercokol di dadanya.
"Ayah belum bicara apa-apa padamu. Hanya menguping saja tingkahmu sudah seperti ini," cerca ayahnya.
Maryam masih diam.
”Kau tak akan menyesal menikah muda, Nak! Ayah dan ibu dulu menikah muda. Lagipula Khaled itu anak yang baik, ayah tahu betul, kau tidak akan menyesal.”
Maryam masih terpaku di tempat duduknya. Ia benar-benar tak bisa mengelak dan tak kuasa menolak ultimatum ayahnya.
”Besok dia akan ke sini bersama keluarganya. Ayah ingin memperkenalkannya padamu. Jaga sikapmu, jangan mempermalukan ayah lagi!” Kali ini ayahnya tegas memberi petuah.
Maryam hanya bisa menangis dan berlari ke kamarnya. Dibantingnya pintu, lalu telungkup di kasur empuknya. Zahara datang mengendap-endap mendekatinya.
***
David menantikan kehadiran Maryam di kelasnya. Semua siswa sudah berdatangan, hanya Maryam yang belum muncul. Anggel ragu ingin menceritakan semuanya pada David. Ia tak sanggup melihat David sedih. Tapi tak lama kemudian Maryam muncul, membuat sungging di wajah David.
Mrs. Violen memasuki kelas. Maryam memandangi David dari bangkunya dengan perasaan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Ia mengambil secarik kertas lalu menuliskan sesuatu untuk David.
Terkejut David saat menerima tulisan itu. Ia membacanya dengan seksama, seakan tak ingin satu hurufpun luput dari pandangannya.
Aku ingin bicara denganmu istirahat siang ini di tempat terakhir kalinya kita bicara. –
Jantung David berdebar membaca isi surat itu.
Saat jam istirahat siang berlangsung, David berlari ke atas gedung dan menghampiri Maryam yang sudah lebih dulu menunggunya.
”Maryam..” panggilnya.
__ADS_1
Maryam berbalik menghadap ke arah David dan menunduk.
”Peluk aku!”
David terbelalak.
”Apa? Kau kenapa?” David terkejut, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
”Peluk aku sekarang, Dave. Aku ingin berada di pelukanmu, Dave, biar aku tenang.” Maryam mengulangi kata-katanya.
”Aku tidak mau. Aku tidak mau melakukannya karena butuh empat puluh tahun bagi Tuhanmu untuk mengampunimu. Bukankah kau sendiri yang bilang seperti itu padaku, Maryam?” Sejujurnya hati kecil David pun menginginkannya, tapi ia ingat betul apa yang pernah diucapkan oleh gadisnya itu.
”Ini terakhir kalinya waktu yang tersisa bagi kita untuk saling mencintai, Dave. Setelah ini kau harus melupakanku. Aku ingin terakhir kalinya kau menyentuhku, sebab aku ingin kita menyudahi hubungan ini. Selamanya. Meski harus empat puluh tahun bagi Tuhanku untuk mengampuniku!” Teriak Mariam dalam isak tangisnya.
David terduduk lunglai.
”Menyudahi hubungan ini? Jangan ucap kata-kata itu padaku. Aku tak sanggup mendengarnya, Maryam. Lebih baik aku tak menyentuhmu dan tak berinteraksi denganmu meski seribu tahun lamanya, asal kau masih tetap mencintaiku." David tiba-tiba menangis.
”Aku tak bisa melakukannya. Kita berbeda, David. Kita tak akan mungkin bisa bersatu.” Kali ini air mata Maryam benar-benar tumpah.
”Aku tahu itu, tak usah bahas itu lagi. Kau masih mencintaiku, kan? Kalau masih, kita tak boleh menyerah, Maryam. Kita akan berjuang agar kita bisa bersama meski berbeda, aku tak mau putus. Aku tak mau.”
”Kita harus putus, Dave. Harus. Mulai detik ini kita tak berhubungan lagi. Jangan anggap aku sebagai kekasihmu lagi. Jika kau ingin mencari kekasih yang lain, aku mempersilakanmu.” Tiba-tiba saja dia pingsan dan David bingung harus berbuat apa.
”Maryam.. Maryam.. !” Teriaknya panik. Ia turun ke lantai bawah mencari pertolongan. David tak mau menyentuhnya. Beberapa siswa perempuan datang menggotong tubuh Maryam yang pingsan dan membawanya ke klinik sekolah. Saat itu David hanya bisa sesenggukan menangis. Dengan panik, ia mondar-mandir di depan kamar klinik.
”Tuhan, aku tak kuasa. Aku benar-benar tak kuasa. Jangan pisahkan aku dengan Maryam,” doanya penuh rintih.
✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒
Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau kalian tidak lupa membantu ya.. Readera setiakuuu💕💕💕
Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏
Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,
Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,
__ADS_1
Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,
Terima Kasih😇😇