
“Kau pasti sembuh, Nak. Kau harus sembuh!” Diusapnya kepala David, berusaha untuk meyakinnya.
”Aku tidak kuat lagi, Ayah. Maafkan aku jika selama ini aku sudah banyak menyusahkanmu, Ayah. I love you, Dad.”
”No.. No.. Don’t say those words. You’ll be fine, Son. (Tidak.. jangan katakan itu. Kau akan sembuh, Nak.)” Pastur itu mulai berkaca-kaca.
”Maaf jika aku tidak bisa menepati janjiku pada ayah untuk menjadi anak yang bisa ayah andalkan. Aku harus menemui Maryam, Yah. Dia menungguku,” ujar David parau.
Pastur itu semakin terisak.
”Lantunkan untukku lagu gereja yang sering ayah nyanyikan untukku setiap menjelang tidurku. Aku ingin mendengarnya sekali ini, Yah,” pintanya.
”Akan ayah nyanyikan, tapi berjanjilah, kau harus kuat dan bertahan.” Ayahnya semakin terisak hebat, kemudian mulai bersenandung.
Kusiapkan hatiku, Tuhan.
Menyambut firmanMu saat ini.
Aku sujud menyembah Engkau
Dalam hadiratMu, saat ini.
Curahkanlah pengurapanMu
Kepada umatMu saat ini.
Kusiapkan hatiku, Tuhan,
Mendengar firmanMu.
FirmanMu, Tuhan
Tiada berubah,
Sejak semulanya
Dan selama-lamanya tiada berubah.
FirmanMu, Tuhan,
Penolong hidupku.
Kusiapkan hatiku Tuhan,
Menyambut firmanMu.
__ADS_1
Pastur itu terhenti, air matanya berlelehan.
”Ayah, aku ucapkan terima kasih telah menjagaku selama ini. Bilang pada Tuhan, aku tak pernah membeci siapapun yang telah melahirkanku. Aku selalu merindukan mereka. Aku selalu menyayangi
mereka meski aku tak pernah melihat mereka.” Ditatapnya mata Ayah angkatnya lekat.
Di antara isak tangisnya yang semakin deras, ayahnya berujar,
”Akan ayah bilang padaNya. Tapi Dave, berjanjilah kau tidak akan meninggalkan ayah. Kau anak ayah satu-satunya.”
Sementara itu, David hanya membisu. Kelopak matanya terkatup rapat.
***
Semua serba putih...
Maryam berdiri anggun. Dari kejauhan, dia melihat sosok David berjalan ke arahnya.
”Aku tidak bisa membawamu, Maryam. Pulanglah! I can’t go with you! (Aku tidak bisa pergi denganmu.)” Ujar David begitu sampai di hadapan Maryam.
”Why? You wanna go along with me, don’t you? (Kenapa? Kau ingin pergi bersamaku, kan?)” tanya Maryam meyakinkan.
”No. I’m sorry. I can’t. (Tidak. Maafkan aku. Aku tidak bisa.)” David menggeleng.
”Jika kau tidak ingin kehilangan aku, bawalah aku pergi bersamau, Dave. Tapi jika kau tidak mau, aku akan melupakanmu.” Maryam menegaskan kembali.
”But why we don’t? Tell me! Explain to me, Dave! (Mengapa tidak bisa? Beritahu aku! Jelaskan padaku, Dave!)” Maryam masih menuntut alasan.
Namun, tiiba-tiba saja David menghilang.
”David... David.... Jika memang kau tak bisa membawaku, kau tak perlu pergi meninggalkanku di sini. Kau jahat padaku, Dave. Aku harus melupakanmu. Harus!” Teriak Maryam meracau.
Di kamar rumah sakit itu, tubuh Maryam kembali bergerak.
”Maryam... Maryam...! Dokter... Dokter...!” Teriak ayah Maryam. Dokter tiba untuk memeriksa kondisi Maryam begitu Khaled memanggilnya.
”Ayah...” Maryam mulai membuka matanya pelan. Semua tegang, tak terkecuali Khaled.
”Iya, Anakku.” Wajah ayah Maryam terlihat sumringah.
”Aku tidak menginginkan David lagi. Dia tidak mau membawaku pergi. Ayah harus berjanji, setelah aku pulih, kita harus pindah ke Dubai dan aku ingin sekolah lagi di sana,” pinta Maryam terbata.
”Iya, Nak. Ayah akan penuhi permintaanmu. Ayah janji.” Diusapnya airmata yang sedari tadi menetes di pipinya. Ibu Maryam berucap syukur di sampingnya.
”Aku... Aku siap menikah dengan Khaled ketika lulus High School nanti. Aku siap, Ayah,” ujar Maryam pelan. Khaled langsung menangis terharu mendengar pernyataan Maryam yang tiba-tiba itu. Dalam hatinya dia masih tidak percaya, mengapa
__ADS_1
Maryam tiba-tiba berubah pikiran.
***
”Maryam... Maryam....” perlahan David membuka matanya.
”Anakku, kau sadar kembali. Puji Tuhan.” Ayah David tak bisa menyembunyikan raut kebahagiaannya. Dia peluk anaknya dengan erat
seakan tidak ingin kehilangan lagi.
”Ayah, tadi aku bertemu Maryam.. Tapi aku tidak bisa membawanya pergi. Aku tidak tahu kenapa, Ayah.” Wajah David sendu mengingat sosok Maryam.
"Jangan pikirkan Maryam lagi. Ayah mohon. Hidupmu masih panjang, Nak.” Pinta ayahnya.
”Ayah, maafkan aku. Aku merasa semakin lelah, Ayah. Sangat lelah. Aku tidak ingin merasakan cinta seperti ini lagi, Ayah. Aku ingin bebas. Aku ingin lepas dari rasa ini, Ayah. Aku hanya ingin bersamamu. Peluk aku, Ayah. Aku akan berusaha melupakan Maryam. Aku janji.”
David menyerah, walau sebenarnya hatinya masih sangat mencintai Maryam. Dia menyadari bahwa cinta yang dia rasakan saat itu begitu menyiksa dirinya. Rushel memeluk putranya itu dengan erat. David merasakan kehangatan, dia merasa nyaman dalam dekapan ayahnya. Sementara itu, Rushel, ayahnya tergugu haru. Hampir saja dia kehilangan
David untuk selama-lamanya. Namun Tuhan masih menginginkannya untuk bernafas, hingga dia merasa harus memuji kebesaran Tuhannya, bersyukur atas keajaiban yang baru saja dialaminya. Sungguh saat ini dia masih belum siap jika harus kehilangan David di sisinya.
***
Bulan Desember itu, salju-salju mulai beterbangan memutihkan kota New York. Maryam dan keluarganya berkemas untuk pindah ke Dubai,
ayahnya terpaksa mengundurkan diri menjadi duta besar Uni Emirat Arab. Bagi ayahnya, Maryam adalah segalanya. Dia tidak mau gagal lagi mendidik anaknya. Kini yang ia punya hanya Maryam.
Maryam memeluk erat kucingnya, Zahara. Dia sudah selesai berkemas. Dipeluknya Anggel yang saat itu mendampinginya. Ya, Anggel sengaja menyempatkan diri untuk menemui sahabatnya itu untuk yang terakhir kali, sebelum mereka berpisah selamanya.
Sebuah mobil sedan hitam sudah siap mengantar Maryam dan keluarganya ke Bandara. Maryam berjalan ke arah mobil sedan itu dengan langkah gontai. Dia melihat rumahnya sekali lagi, matanya berair. Tanpa membuang waktu, dia langsung memasuki mobilnya. Ayah dan ibunya, yang berjalan di belakangnya, memperhatikan Maryam dengan sedih. Kepindahan mereka ke Dubai murni karena keinginan Maryam.
***
Jardon duduk di samping David yang sedang berdoa menghadap Tuhannya. Bangku-bangku gereja terlihat kosong, hanya ada mereka berdua.
”Dave, are you sure you don’t want to meet Maryam for the last time? She’s gonna go and won’t come back again here. This is your last chance to see her, Dave. (Dave, apa kau yakin tidak ingin menemui Maryam untuk yang terakhir kalinya? Dia akan pergi dan tidak akan kembali ke sini. Ini kesempatan terakhirmu untuk melihatnya, Dave.)” Jardon menanyakan kembali keputusan David.
✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒
Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏
Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,
Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,
Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,
__ADS_1
Terima Kasih😇😇