Bilang Ayahmu Aku Seorang Muslim

Bilang Ayahmu Aku Seorang Muslim
Talak


__ADS_3

”Aku masih mencintainya, Jardon. Tapi, betapapun aku berusaha keras, aku tidak akan bisa memilikinya. Sungguh, sebenarnya aku ingin sekali menemuinya, tapi untuk apa?” ada nada pasrah dalam ucapan David.


”Untuk... Persahabatan, mungkin? Ya, sekedar untuk persahabatan tidak ada salahnya, bukan? Temuilah, Dave! Hari ini dia akan pergi.” Jardon


membujuknya.


”Aku tidak ingin kau menyesal nantinya. Mind my words, Dave! (Camkan kata-kataku, Dave!)” Ujar Jardon lagi. Kali ini dia benar-benar serius.


Mata David berkaca-kaca. Hatinya berkecamuk. Serta-merta, dia berlari meninggalkan Jardon. David mengambil sepedanya dan segera ia kayuh kencang-kencang. Tak dihiraukannya tubuhnya yang menggigil karena dihujani salju. Yang dia pikirkan hanya satu, Maryam. Ya, dia harus


menemui Maryam.


***


Anggel melambaikan tangannya saat sedan hitam itu melaju pelan meninggalkan rumah Maryam. Tak ayal, Anggel menangis sedih. Dia baru saja memiliki sahabat baru, tapi sesaat dia harus kehilangan.


Maryam tak kalah sedih. Dari balik kaca mobilnya, dia terus memandangi Anggel yang semakin menjauh, seakan masih belum puas melihat sahabatnya untuk yang terakhir kalinya. Entah kenapa ia ingin sekali mengurungkan niatnya untuk pergi, namun semua sudah terlambat.


Khaled yang saat itu berada satu mobil dengannya hanya bisa terdiam. Dia diam-diam memperhatikan Maryam dari pantulan kaca mobil.


***


”Itu mobilnya, Dave! Kejarlah jika kau ingin mengucapkan kata terakhir pada Maryam!” Ucap Anggel terburu begitu mendapati David tiba sesaat setelah mobil Maryam berangkat.


David terus mengayuh sepedanya sekencang mungkin.


”Maryam.... Maryam.... Maryam....!” Teriak David. Dengan sisa tenaganya, dia mengejar mobil itu dengan kayuhan sepeda balapnya.


”Maryam....Berhenti...! Maryam...Berhenti...!” Teriak David lagi.


Maryam pias begitu melihat sosok David berada di belakang, berusaha mengejar mobilnya.


”Kemudikan mobil ini cepat-cepat, Pak!” Pinta Maryam pada sopir keluarga itu. Dihapusnya sisa airmata yang masih menggenangi pipinya.


Khaled merasa iba saat mengetahui David begitu gigih ingin menemui Maryam untuk terakhir kalinya. Sementara ayah dan ibu Maryam tak kalah pias. Namun mereka lebih memilih diam, tak tahu harus berbuat apa.


”Maryam... Aku mohon... Aku ingin bicara sekali lagi... Untuk yang terakhir kalinya...!” Teriak David.


”Stop the car! (Hentikan mobilnya!)” Ayah Maryam menyuruh menghentikan mobilnya dan kemudian berujar pada Maryam, ”Turunlah, Nak. Temui dia untuk yang terakhir kalinya.”

__ADS_1


Saat mengetahui mobil itu berhenti, David langsung menghempaskan sepedanya. Dia berlari menuju mobil itu. Sesaat kemudian Maryam turun dari mobil.


”Maryam.... Maryam... Maryam...!” Teriak David menghampiri. Maryam berjalan beberapa senti mendekati David, namun kemudian berdiri


terpaku di tempatnya.


Mereka sama-sama terpaku di tempatnya masing-masing, tepat tigapuluh centi jarak mereka.


”Kita tak akan pernah saling bersentuhan, kan? Karena butuh empat puluh tahun bagi Tuhanmu untuk mengampuni kita,” ucap David memecah keheningan di antara mereka berdua.


”Aku... Aku masih mencintaimu, Dave. Tapi aku harus pergi agar kisah ini berakhir, karena aku tahu selamanya kita tidak akan bersatu. Kita berbeda. Kita tidak akan pernah bisa disatukan.” Bibir Maryam bergetar.


”Aku tahu. Cinta kita mungkin salah, Maryam, tapi Tuhan telah menumbuhkan cinta ini begitu dalam padamu. Aku akan mencoba mengerti dan menerima bahwa kita tidak bisa bersatu. Meski kau akan pergi meninggalkan aku, aku akan tetap mencintaimu, Maryam. Aku tidak akan menghilangkan rasa cinta ini. Sekarang pergilah. Yang penting Tuhan masih mencintai kita, masih bersama kita.” David menitikkan airmata.


”Ya, yang terpenting Tuhan masih mencintai kita.” Maryam mengulang ucapan David, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


”Pergilah Maryam. Aku sudah rela melepasmu. Pergilah!” Ujar David.


Maryam masih terdiam.


”Pergilah. Kalau kau tidak mau kembali ke mobilmu, aku yang akan pergi dulu.”


David mengayuh sepedanya kuat-kuat, meninggalkan Maryam, menembus rintikan salju yang semakin tebal, menusuk tulangnya.


”Tidak apa cinta kita tak bisa menyatu, Maryam. Yang penting Tuhan masih mencintai kita,” bisik hati David.


***


Dua tahun kemudian.


Kota Dubai begitu terik, matahari seumpama bola api raksasa yang membara di petala langit. Di sebuah apartemen, dua pengantin sedang duduk menghadap seorang penghulu berwajah arab. Ruangan nampak begitu ramai, hiruk-pikuk menyaksikan dua orang anak manusia yang akan


mengikat janji.


Maryam, mempelai wanita, terlihat sangat anggun mengenakan baju pengantinnya. Sementara itu, Khaled, sang mempelai pria, tersenyum penuh arti di sampingnya. Ijab qabul telah dikukuhkan di antara keduanya. Khaled bergetar saat Maryam mencium tangannya dengan takzim. Pengantin nuda itu berseri-seri bahagia, sementara Maryam masih menyisakan kesedihan yang tak pernah lepas selama dua tahun berpisah dengan David Stuart.


Di kamar itu, Khaled duduk di atas permadani beludrunya yang empuk, sementara Maryam duduk memaku di sisi ranjang, membelakangi Khaled.


”Bolehkah aku menyentuhmu?” tanya Khaled gemetar.

__ADS_1


Maryam menunduk, ia menangis hebat.


”Maryam, kau kenapa?” tanya Khaled khawatir.


”Khaled, maukah kau sedikit bersabar menungguku sampai aku benar-benar melupakan David? Kalau aku benar-benar melupakannya, aku baru akan memberikan diriku seutuhnya.” Maryam menangis deras.


Khaled terdiam. Ada rasa kecewa di hatinya.


”Please...” pinta Maryam.


”Baiklah, Maryam. Aku akan menunggumu, sampai kau benar-benar siap menerimaku sebagai suamimu,” jawab Khaled pasrah. Ada mendung di matanya.


”Sekarang tidurlah. Kau pasti lelah, bukan? Jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu. Percayalah!” Ujar Khaled lagi.


Maryam membaringkan tubuhnya dengan sedikit canggung. Khaled menyelimutinya, kemudian memutuskan untuk tidur di sofa yang ada di kamar itu.


***


Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, Khaled menunggu Maryam untuk bisa menyentuh tubuhnya. Namun Maryam tak juga mengizinkan Khaled untuk menyentuhnya. Hingga suatu hari, Khaled duduk di samping Maryam.


”Maryam, aku menyerah. Hari ini... Ya, tepat hari ini.. Aku... Aku... Aku akan menceraikanmu...”


Bagai tersengat listrik, Maryam kaget luar biasa mendengar ucapan Khaled yang tiba-tiba itu.


”Khaled, aku mohon jangan kau lakukan itu. Saat ini juga aku siap jika kau ingin menyentuhku.”


”Aku sudah mentalakmu. Sudah terlambat, Maryam. Setelah ini aku akan mengantarmu pulang. Aku ragu kau akan bisa menerimaku, sebab sejatinya kau masih belum ikhlas untuk menikah denganku.” Suaranya bergetar.


”Maafkan aku, Khaled. Maafkan aku.” Maryam sesenggukan.


✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒


Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏


Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,


Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,


Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,

__ADS_1


Terima Kasih😇😇


__ADS_2