
Anggel menghapus air matanya, surat itu masih dia simpan di tasnya untuk David. Tapi saat itu dia masih menunggu saat yang tepat. Menunggu pintu
kamar rawat inap Maryam terbuka dan dokter membawa kabar bahwa dia baik-baik saja.
Dokter dan kedua perawat itu masih berupaya menolong Maryam yang desah nafasnya mulai terengah.
Dalam alam bawah sadarnya, Maryam seolah berada di ruangan serba putih. Di sana dia melihat seorang pemuda yang dirasa sangat dia kenal. Pelan pemuda itu mendekatinya dengan senyum terkembang.
”Aku datang menjemputmu, tapi tidak dengan sepedaku dan anjingku Pinokio,” ujar pemuda itu sembari mengulurkan tangannya, berusaha meraih tangan Maryam.
Maryam mendekat ke arahnya, memastikan penglihatannya yang masih samar.
”David...” bisiknya.
”Iya, ini aku.” David melengkungkan senyum.
”Aku sudah lama menunggumu. Sudah kau baca surat dariku, Dave?” tanya Maryam.
”Aku belum membacanya, tapi aku dengar kau menyebut-nyebut namaku. Itu yang membuatku berada di sini, menemuimu.”
”Kita pergi sekarang. Bawa aku, Dave,” pinta Maryam.
Saat Maryam hendak meraih tangan David, entah kenapa dia merasa tak bisa menyentuhnya.
”Aku tidak bisa menyentuhmu, Dave. Aku tidak Bisa!” Ujar maryam panik.
”Ayo Maryam, waktu kita tidak banyak.” David menuntut.
”Aku tidak bisa menyentuhmu!” Maryam seakan ingin menangis.
”Apa kau tidak mau ikut denganku, tidak mau tinggal bersamaku, hanya berdua bagai Adam dan Hawa seperti yang kau inginkan?” tanya David lagi.
”Aku tidak bisa, Dave. Aku tidak bisa meraih tanganmu!” Maryam semakin panik di tengah isaknya.
”Baiklah kalau begitu, biarkan aku saja yang pergi,” ucap David. Lalu perlahan dia menghilang di antara cahaya putih.
”David, bawa aku pergi! Jangan tinggalkan aku, Dave!” Maryam berteriak memanggilnya, hendak mengejarnya, namun tiba-tiba ia merasa sesuatu menariknya.
***
Mata Maryam kembali terbuka, nafasnya perlahan mulai teratur.
”David... David...” ucap Maryam lemah.
”Dia sudah sadar, Dokter!” Teriak salah seorang perawat.
__ADS_1
”Syukurlah. Panggil orang tuanya kemari. Segera!” Pinta dokter itu.
***
Pintu kamar rawat inap itu terbuka. Salah seorang perawat keluar memanggil kedua orang tua Maryam. Hanya mereka berdua yang diperbolehkan masuk. Sementara Anggel dan Khaled menunggu di luar
dengan panik dan cemas.
“Maryam...” ucap ayahnya saat berada di samping Maryam.
Sementara Khadijah, istrinya, tidak henti meneteskan air mata. Dia hanya diam mematung, berdiri di sisi ayah Maryam.
“Ayah, maafkan aku. Aku sudah banyak merepotkanmu,” ucap Maryam lemah.
“Tidak, Anakku. Kau tidak salah, Nak. Cepatlah sembuh. Ayah dan ibu di sini selalu ada untukmu. Kami sangat menghawatirkan keadaanmu.” Dielusnya rambut Maryam lembut.
“David sudah mengajakku pergi, tapi aku tidak bisa meraih tangannya. Dia meninggalkanku, Ayah.” Maryam memandangi ayahnya sembari menangis.
Ayahnya hanya diam.
“Dulu aku menolak untuk pindah ke sini. Aku hanya ingin sekolah di Dubai. Tapi ayah memaksaku. Mungkin jika ayah tidak bersikeras
memindahkanku ke sini, aku tidak akan mengenal David, Ayah,” lanjut Maryam lagi.
“Ayah minta maaf, Nak. Ayah yang bersalah,” sesalnya.
“Aku ingin mendengar langsung dari bibir ayah. Jawablah, Yah!” Ulang Maryam begitu didapatinya sang ayah hanya diam.
Ayahnya tidak tahu harus menjawab apa.
“Ucapkanlah, Suamiku. Bilang bahwa kau mengizinkannya.” Ibu Maryam mendesak.
“Mungkin setelah mendengar jawaban ayah bahwa ayah merestui hubungan kami, aku akan bisa hidup bersama David di sana.” Maryam setengah memohon.
“Jangan ucapkan kalimat itu, Maryam. Kau pasti sembuh, Nak! Berdzikirlah!” Ayahnya menggeleng lemah.
“Bilanglah, Ayah. Bilang bahwa kau mengizinkan hubungan kami. Aku sudah tidak kuat, Ayah.” Tiba-tiba saja nafas Maryam kembali tidak
beraturan. Dia nampak tersengal-sengal, seakan sedang menahan beban di dadanya.
“Maryam... Maryam... Maryam...!” Ayah dan Ibu Maryam panik.
“Aku mohon, Ayah. Izinkan aku,” ucap Maryam di sela-sela nafasnya yang memburu.
”Ucapkanlah, Suamiku. Demi anak kita. Demi Maryam!” Pinta ibu Maryam lagi setengah teriak.
__ADS_1
Ayah Maryam terdiam. Wajahnya pias menahan tangis dan beban di hatinya. Sejujurnya dia tidak ikhlas jika harus mengizinkan Maryam mencintai David.
”A...ya....h...” Maryam meringis.
”Baiklah, ayah mengizinkanmu. Ayah merestuimu. Tapi kau harus sembuh, kau harus bertahan. Sekarang, berdzikirlah, Nak. Sebutlah namaNya dan nama Rasul kita. Bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah,” pinta sang Ayah, menuntun Maryam
untuk berucap.
”Terimakasih, Ayah.” Perlahan Maryam mengikuti ayahnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Sesaat kemudian Maryam terdiam, matanya kembali terkatup, namun bibirnya menyunggingkan senyum, menyiratkan kelegaan.
”Maryam... Maryam... Maryam....!” Ayah dan ibu Maryam kembali memanggilnya. Kali ini mereka benar-benar panik.
”Ayah sudah merestuimu. Kenapa kau harus pergi, Nak? Kau akan hidup bersama David, tapi jangan pergi meninggalkan kami. Bangunlah, Anakku!” Direngkuhnya tubuh Maryam erat. Pikirannya berkecamuk. Asiyah, kakak Maryam, telah pergi meninggalkannya, dan kini Maryam pun meninggalkannya. Ada penyesalan yang dia rasakan. Dia menyesal telah gagal menjadi seorang Ayah sekaligus pemimpin dalam rumah tangganya.
”Tahukah kau, Nak, kenapa ayah bersikeras mengejar untuk menjadi kedutaan di negara ini? Ayah ingin melupakan kenangan indah bersama Asiyah di Dubai. Ayah tertekan jika harus terus mengingat kakakmu. Di sini kita punya kehidupan baru, berbakti pada negara dan bisa sedikit melupakan semua kenangan buruk tentang kakakmu. Kini, kau juga pergi meninggalkan ayah. Tidakkah kau kasihan melihat ayah menanggung penyesalan ini seumur hidup? Bangunlah, Nak! Ayah sudah merestuimu.” Dia tergugu sambil mengelus wajah Maryam yang mulai terasa dingin.
***
”Ayah...” panggil David lemah.
”I’m here for you, My son, (Ayah di sini, Nak)” jawab ayah David.
”Kulihat Maryam berdiri di ujung sana, di sebuah tempat yang aku tak tahu itu di mana. Dia menungguku, Yah. Dia mengajakku pergi,” ujar
David.
Ayahnya mendengar dengan seksama.
”Bolehkan aku ikut dengannya? Kurasa pergi bersamanya adalah jalan satu-satunya agar aku bisa hidup bersamanya, Ayah,” sambungnya.
Suaranya begitu lirih terdengar di telinga ayahnya.
”Jangan bicara seperti itu pada ayah, Nak. Maryam baik-baik saja. Yang kau lihat itu bukan Maryam.” Ayah David sekuat tenaga menahan
tangis.
”I’m sure it was Maryam. I know it’s her, (Aku yakin itu Maryam. Aku tahu itu dia.)” sambung David lagi.
✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒
Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏
Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,
Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,
__ADS_1
Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,
Terima Kasih😇😇