Bilang Ayahmu Aku Seorang Muslim

Bilang Ayahmu Aku Seorang Muslim
Lemah


__ADS_3

Ayah Maryam terduduk sendirian di salah satu bangku di koridor rumah sakit dengan lesu. Ia masih memikirkan kondisi Maryam yang masih belum siuman dari pingsan, sementara sang ibu menemani Maryam sambil tak henti bibirnya melantunkan ayat-ayat Al-qur'an untuknya.


Seorang Pastur datang dan mengambil duduk di samping ayah Maryam. Sang Pastur melempar senyum.


“Sedang menunggu keluarga yang sakit?” tanya ayah Maryam basa-basi, mencoba memulai obrolan.


“Anak saya... dia sakit keras. Namun yang paling aneh adalah sakit cintanya. Awalnya kondisinya membaik, tapi gara-gara cintanya itu dia sakit lagi,” jawab pastur itu.


“Anak saya juga, penyakitnya juga bukan penyakit biasa kata dokter.” Ayah Maryam berbagi kesah yang sama.


“Anak saya sedang jatuh cinta pada seseorang, gadis itu tidak seiman dengan anak saya. Cintanya sungguh besar, padahal dia masih remaja, tapi sudah seserius itu dalam mencintai. Remaja zaman sekarang semakin aneh. Dokter yang merawatnya bilang bahwa obatnya hanya satu, cinta itu. Tapi biar bagaimanapun mereka tidak akan bersatu.” Pastur itu menghela nafa dalam. Ia merasakan beban di hatinya cukup berat.


“Masalah anak anda sama dengan masalah anak saya. Dokter juga bilang begitu. Ini bukan sekedar sakit secara fisik, tapi psychosomatic,” ucap ayah Maryam yang tidak menyangka bahwa ada orang lain yang memiliki masalah yang sama persis dengan dirinya. Ia merasa tidak sendiri menghadapinya. Ia merasa sedikit lega bisa berbagi.


“Saya tidak mengerti bagaimana caranya agar anak saya bisa kembali pulih, saya sangat kasihan melihatnya.” Pastur itu menggeleng lemah.


“Saya sendiri belum bisa menemukan solusi untuk permasalahan ini. Andai saja lelaki itu seiman, mungkin saya ikhlas untuk menikahkan mereka,” ucap ayah Maryam tak kalah bingung.


“Saya juga begitu. Tapi untuk keimanan, itu sudah masalah pelik.”


Mereka lalu sama-sama terdiam, sibuk memikirkan permasalahan anak mereka masing-masing.


“Senang berbagi cerita dengan anda, Tuan. Saya harus kembali ke ruang inap lagi. It’s a pleasure to meet you here. (Senang bertemu denganmu di sini.)” Ayah Maryam menjabat erat tangan sang pastur.


“Yeah, me too. Saya doakan semoga anak anda cepat sembuh.”


Ayah David tak kalah erat menyambut jabatan di tangannya.


“Terima kasih, saya juga mendoakan anak anda. Sampaikan salam saya untuknya,” ucap ayah Maryam sambil tersenyum.


“Salam juga untuk anak anda, Tuan.” Sejurus kemudian pastur itu berlalu meninggalkan ayah Maryam.


***


David terpekur dalam lamunannya. Sejujurnya ia masih memendam rasa cemburu terhadap Khaled, namun sekuat tenaga ia tahan. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri, pada keadaan yang tidak bersahabat, pada persoalan yang menguras tenaga dan pikirannya akhir-akhir ini. Tangannya mengepal memukuli bantal lalu dihempaskannya hingga jatuh


ke lantai, mencoba melampiaskan kekesalannya. Sejurus kemudian ia menangis sesenggukan. Yang David pikirkan hanya satu bahwa orang yang 1dia cintai akan menjadi milik orang lain, dan ia baru saja mengenal orang itu.


“Aku tidak mau Maryam menjadi milik orang lain. Aku tidak rela!”Jerit David di tengah isaknya.


***


Khaled masih melamun di kursi taman itu, ia ambil sebuah catatan kecil dan pena yang ia selipkan di kantong saku kemejanya, lalu mulai menuliskan sesuatu di atasnya. Sebuah syair yang ia tujukan untuk Maryam. Selama ini, Khaled begitu senang menuangkan perasaannya lewat bait-bait aksara, dan entah sudah berapa lembar syair yang berhasil ia buat untuk Maryam, sejak pertemuan keluarga itu.


Mungkin aku terlalu bodoh untuk mengerti


Mungkin aku tak sengaja juga menyakiti


Andai kau tahu isi hatiku


Andai kesempatan itu datang padaku


Sekarang mustahil bagiku


Bahkan menyentuh bayangmu, aku tak mampu


Sekarang aku terpuruk dalam jurang keraguan


Dan cinta ini jadi sesak dalam dadaku


Aku tau cinta ini fatamorgana bagimu


Tapi biarkan cinta ini aku miliki


Biarkan cinta ini menjadi bebanku


Aku tak peduli


Meski menghambat jalanku


Aku tau mencintaimu adalah tak pasti...

__ADS_1


Setetes airmata mengaburkan jejak tinta yang menghiasikertasnya.


***


David masih larut dalam kesedihan. Hatinya lirih berbisik dalam isak tangis.


*Maryam...


Mengejarmu ibarat mengejar embun untuk mendapatkan tetesnya di udara, kau ibarat molekul-molekulnya yang bisa kurasakan namun tak bisa kuraih dan kugenggam.


Bukan kau yang menyiksaku, Maryam.


Tapi keadaanlah yang memaksaku demikian.


Aku mati di sini.


Aku memang masih bernafas


Tapi jiwaku pergi dan hilang mengejar sosokmu yang semakin menjauh.


Aku rapuh,


Serapuh bangunan-bangunan Romawi yang ditelan oleh masa, namun dia tetap tegak.


Aku tak kuat, Maryam.


Haruskah aku pergi meninggalkanmu


Ke sebuah tempat di mana aku tak bisa lagi memandang wajahmu, Maryam?


Haruskah?


Tapi semakin aku menjauh


Dan mencoba menghilang darimu


Jiwaku semakin dekat


*Maryam...


Lihatlah aku disini!


Aku bahkan kehilangan harga diri


Untuk menjadi seorang lelaki.


Aku lemah


Menangis dan larut dalam keibaan yang panjang...


Sampai kapan, Maryam?


Sampai kapan...


Sampai bumi hancur


Dan langit digulung-gulung


Bagai gulungan kertas


Seperti yang diceritakan di dalam Al Qur'anmu itu?


Aku tak mau..


David semakin terisak.


Aku semakin lemah...


Sangat lemah, Maryam.


Selemah Adam yang tergoda untuk makan buah Khuldi oleh syaitan ketika di surga.

__ADS_1


Kau tahu cerita itu, bukan?


Aku ingin bersamamu.


Aku ingin bercerita tentang ayat-ayat Al-Qur'an yang kupijam dari lelaki yang sebenarnya sangat kubenci


Tapi dia tidak bersalah.


Aku tak boleh menyalahkannya.


Maryam, aku tak kuasa melupakanmu.


Aku tidak mampu untuk itu.


Melupakanmu ibarat menguliti kulitku sendiri.


Sakit... rasanya sangat sakit...


Aku lemah...


Sekarang bertambah lemah...


Semakin lemah...


Apa yang harus aku lakukan, Maryam?


Matikah?


Kurasa memang aku harus mati, Maryam.


Agar kisah ini berakhir.


Ya... berakhir...


Karena kutahu kau tercipta bukan untukku.


Bu.. kan.. un.. tuk.. u*...


Tiba-tiba saja David kembali tak sadarkan diri.


Bersamaan dengan itu, ayahnya kembali. Dan betapa terkejutnya sang ayah saat mendapati kamar anaknya berantakan dengan bantal


tergeletak di lantai.


”David... David... David... Bangun, Nak! Bangun..! Dokter.. Dokter..!” Digoyang-goyangkannya tubuh David. Dengan tergesa ia keluar memanggil dokter untuk memeriksa kondisi anaknya.


Pastur itu menangis di luar kamar. Tangannya bertumpu pada tembok, mencoba menahan limbung tubuhnya. Kali ini ia betul-betul mengkhawatirkan kondisi putranya itu. Putra yang begitu ia cintai, meski bukan dari darah dagingnya sendiri. Putra yang telah ia cintai sejak ia temukan tergeletak di depan gerbang gereja dengan kulit masih merah.


Pintu kamar itu terkuak. Dokter keluar dan mengajak sang pastur bicara serius.


”Tubuhnya sangat lemah. Dia terlalu stress. Jika terus-menerus memikirkan masalahnya, kondisi David akan semakin parah.” Dokter menjelaskan dengan hati-hati. Dipegangnya pundak sang pastur untuk sekedar mengalirkan kekuatan.


Pastur itu tertegun di samping putranya yang masih pulas dengan selang oksigen bergelayut di hidungnya. Ingatannya kembali pada kejadian


beberapa tahun silam, saat ia pertama kali menjadi ayah. Betapa bahagia perasaannya kala itu, mendapati David kecil bergerak lincah dan berceloteh riang menggumamkan panggilan paling dahsyat di telinganya: ”Ayah”. Kata yang membuat hatinya bergetar haru tiap kali mengingatnya.


”Kuatkan hatimu, Nak. Jangan lemah. Bukankah dulu kau ingin menjadi super hero seperti tokoh-tokoh komik yang ayah belikan untukmu? Kau ingat, kan, Dave? Saat kecil, kau sangat ingin menjadi Superman yang membantu orang-orang lemah dan menegakkan keadilan di muka bumi. Ayo jangan lemah, kuatkan dirimu. Kau akan membawa ayah terbang dengan sayap merahmu mengelilingi dunia. Kau sudah janji pada ayah. Ayah ingin kau tepati janji itu. Bangunlah, Nak. Kau satu-satunya yang ayah miliki, kau satu-satunya harapan ayah, penerus ayah. Ayah tidak ingin


kehilangan kamu, Dave. Jangan tinggalkan ayah.” Diusapnya airmatanya yang berlelehan di pipi.


✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒


Halohaa readers setiakuuu😘😘😘 Author bakal Up Setiap hari kalau Bantu Vote, Like👍, Komen dan jangan lupa Tip⭐nya juga. Terimakasih Readerskuuu😘😘😍😍😍 Semoga kalian sehat selalu dan diberi rizqi yang melimpah. Amin yarob🙏🙏🙏


Like,, Likee,, Like,, Like,, Like,, Like,, Like,,


Komen,, Komen,, Komen,, Komen,, Komen,,


Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,, Vote,,


Terima Kasih😇😇

__ADS_1


__ADS_2