Bloodline

Bloodline
Prolog


__ADS_3

Prolog


Hallo semuanya! Senang bertemu dengan kalian.


Perkenalkan namaku Angeline Soraiya Jiverson, biasa dipanggil Angel. Aku anak kedua dari pasutri keluarga Jiverson yang terhormat.


Ayahku, Alvarendra Jiverson, merupakan seorang pebisnis yang handal. Menurutku, beliau adalah seorang Ayah yang sangat baik, sangat lembut pada anak-anaknya dan juga tetap bisa menjaga kewibawaannya dalam satu waktu.


Sedangkan Ibuku, Lila Cholida Jiverson, merupakan seorang Ibu yang luar biasa. Sifatnya tak jauh beda dengan Ayah, beliau juga orang yang rendah hati dan dermawan. Aku bersyukur mempunyai mereka sebagai orang tuaku.


Aku punya satu kakak perempuan dan satu adik perempuan. Kakak ku, Amanda Lareina Jiverson, dia sangat sayang pada adik-adiknya. Kak Manda sering menggantikan Ibu membacakan dongeng sebelum tidur untuk kami, adiknya. Dia juga selalu sabar menghadapi tingkah kami yang terkadang bikin kesal sendiri.


Dan adikku, Annaliese Daneen Jiverson, merupakan adik yang penurut. Anna suka sekali dengan yang namanya coklat dan permen. Tiada hari tanpa coklat dan permen baginya. Dan kebiasaan itu telah ia miliki sedari ia masih kecil. ia suka mengemut lollipop hingga berjam-jam sewaktu ia masih berumur satu tahun. Ibu sampai membuat lollipop sendiri dan mengurangi kadar glukosa didalamnya agar tidak terlalu manis untuk bayi seusia Anna.

__ADS_1


Ayah dan Ibu melarang kami bertengkar. Ia bilang kalau kami adalah saudara, jadi kami tidak boleh saling menyakiti satu sama lain. Oleh karena itu, kami selalu damai dan tidak pernah bertengkar. Dan saat kami sedang kalut dalam emosi, kami tidak diperbolehkan menyentuh barang apapun yang dapat membahayakan, apapun jenis dan bentuknya.


Keluarga kami merupakan keturunan keluarga bangsawan. Yah.. dapat dilihat dari struktur rumah kami yang dapat disamakan dengan sebuah kastil megah bergaya Eropa dengan banyak ruangan dan jalan yang berliku. Untuk para tamu yang datang dan orang-orang yang tidak biasa dengan rumah ini, akan disediakan sebuah denah agar tidak tersesat.


Ada banyak lukisan yang menghiasi dinding rumah ini, juga ada banyak dekorasi dan beberapa patung sebagai tambahan. Rumah ini memang terkesan kuno dan benar-benar mirip seperti sebuah istana juga usianya yang sudah ratusan tahun. Walaupun begitu, rumah ini telah beberapa kali direnovasi dan ditambah sentuhan teknologi modern. Tapi, tetap saja tidak menghilangkan kesan antiknya.


Kami punya banyak pelayan dan beberapa pekerja yang bekerja dirumah ini. Mereka sudah melayani keluarga Jiverson sejak turun temurun dan kami juga sudah menganggap mereka semua sebagai keluarga. Kami tidak pernah membedakan kasta seseorang.


Oh ya, aku punya satu lagi orang yang sangat penting dihidupku. Dia adalah kak Divya. Kak Divya merupakan salah satu dari pelayan yang ada di rumah ini. Keluarga kak Divya dirumorkan merupakan keluarga pertama yang bekerja untuk keluarga Jiverson kami. Tapi tak ada yang tau tentang kebenarannya, karena pembahasan tentang keluarga kak Divya merupakan hal tabu dirumah ini.


Kak Divya juga merupakan seorang pendengar yang baik. Dia sering menjadi tempat kami berkeluh kesah.


Yang membuat dia dan keluarganya menjadi kepercayaan keluarga Iverson adalah janji turun temurun yang selalu ditepati oleh setiap keturunan nya. Sebuah janji setia yang membuat setiap orang dari keluarganya menjadi pelindung dan penjaga garis terdepan keluarga Jiverson. Setiap kali aku atau saudari-saudariku dalam bahaya, dia selalu berupaya keras untuk melindungi kami.

__ADS_1


Aku, Divya Delana Arathon akan senantiasa melindungi anda dan seluruh keturunan Jiverson, nona. Percayakan padaku.


Kata-kata yang diucapkan bagai janji yang mengikat seumur hidup itu selalu terngiang di telingaku ketika melihat sosok kak Divya. Seorang perempuan muda yang terlihat lemah diluar ternyata mempunyai jiwa yang kuat. Karena itulah, kak Divya selalu disegani dan menjadi penutan bagi yang lainnya.


Aku tidak tau kenapa, tapi terkadang aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan keluarga tercintaku ini. Aku merasa bahwa kami, para wanita disini sangat dilindungi dan dijaga ketat. Aku bahkan harus melaporkan setiap kegiatan yang aku lakukan, siapa saja orang yang aku temui, juga harus mendapatkan izin Ayah untuk keluar dari rumah.


Yah.. aku merasa bahwa Ayah hanya terlalu protektif dengan keluarganya. Mungkin karena aku tidak punya saudara laki-laki? Mungkin juga karena Ayah adalah pemimpin keluarga ini? Who knows? Ayah tidak pernah mengungkit alasan dari sikap nya itu.


Hingga lembaran-lembaran asing mengubah sudut pandang pikirku mengenai keluargaku..


*************


Terima kasih untuk para pembaca semua.

__ADS_1


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.


Thank you all ~~


__ADS_2