
Chapter 3 : Sophia (1)
Suara rintik hujan terdengar begitu jelas. Tapi, tetap saja itu tidak cukup untuk menggantikan rasa sepi di hati seorang gadis kecil yang kini genap berusia 18 tahun. Ia biasa dipanggil Sophia. Hari ini adalah hari yang istimewa baginya, namun tak ada seorang pun yang mau mendampinginya dihari berbahagia ini.
Ia biasa mengurung diri di kamar dan menyibukkan diri bermain dengan boneka-boneka yang dia punya. Tak lupa juga, ada seseorang yang selalu bersamanya. Ia selalu membawa cermin untuk dapat melihat sosok tersebut. Sosok tersebut adalah pantulan dirinya sendiri yang ia lihat melalui cermin itu.
Ia tau bahwa banyak orang yang membicarakan hal buruk tentang kebiasaannya itu, bahkan sang Ibu juga memintanya agar berhenti berbicara sendiri atau orang lain akan menganggap dirinya gila. Namun, Sophia tidak perduli. Baginya, sosok itu adalah teman yang selalu ada untuknya, kapanpun dan dimanapun itu.
Sophia tidak ingin kehilangan satu-satunya teman yang dia punya, karena boneka-bonekanya tidak bisa ia bawa kemanapun ia pergi. Tapi, ia beruntung punya cermin itu. Karena ukurannya yang kecil, ia jadi bisa membawanya dan bertemu dengan temannya dimana saja.
Ia biasanya akan berjalan-jalan disekitar rumah dan mengakhiri harinya dengan secangkir teh hangat. Namun, berbeda dengan hari ini. Ia tidak tertarik sama sekali dengan apapun di sekitarnya, jadi ia memutuskan untuk seharian dikamar dan berbicara dengan temannya.
“Sasha, apa yang terjadi dibalik cermin? Ada apa saja disana? Apakah ada kupu-kupu indah berterbangan disana?”
Suasana kembali hening ketika Sophia menyelesaikan kalimat. Orang lain akan mengira bahwa hal mengenai berbicara sendiri adalah hal yang membosankan karena tidak ada yang menyahuti pembicaraan kita. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi Sophia. Ia sangat menikmati saat-saat tersebut, ia bahkan bisa tertawa begitu senangnya hanya karena berbincang dengan dirinya yang ada di cermin itu.
“Wahh.. benarkah? Mm, bolehkah aku ikut denganmu saja? Hanya kamu seorang yang bersedia mendengarkan ceritaku dan tidak pernah merendahkan aku. Aku ikut denganmu ya?”
Tok.. tok..
Sophia mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Ia bergegas turun dari ranjang, dan membuka pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu itu.
Ketika pintu itu terbuka, Sophia mendapati sosok Ibunya. “Ibu? Ada apa?” Sophia mempersilahkan Ibunya untuk masuk dan duduk berhadapan di kursi yang tersedia di kamarnya.
“Kamu berbicara dengan Sasha lagi? Kali ini.. apa yang dia katakan?” Tanya sang Ibu dengan penuh kelembutan yang terpancar jelas dari sorot matanya dan seulas senyum diwajah cantiknya.
“Sasha bilang kalau di balik cermin ada banyak hal indah yang jarang atau bahkan tidak ada didunia ku.” Sophia memberi jeda pada kalimatnya. “Ibu sendiri, ada apa?”
__ADS_1
Sang Ibu tampak menundukkan pandangannya. Tapi, tak lama kemudian, ia memberi jawaban atas pertanyaan Sophia. “Hari ini.. hari ulang tahunmu yang ke-18. Ibu ingin memberikan mu sesuatu.” Ucapnya sambil menggenggam kedua tangan Sophia.
Tanpa menunggu respon dari Sophia, sang Ibu menarik tangan Sophia agar Sophia mengikuti langkahnya keluar dari kamar ini. “Hadiah untukmu menunggu dibawah, sayang. Kita harus cepat, ayo.” Sophia hanya diam dan tetap mengikuti kemana Ibunya akan membawanya.
***
Sesampainya di ruang tengah, Sophia mendapati sesosok pria yang memakai pakaian formal dengan setelan jas dan sebuah bros kecil yang bertengger manis di lapel jas pria itu menambah kesan elegan bagi pemakainya.
Sophia mengikuti arahan Ibunya untuk duduk tepat dihadapan pria itu. Berbagai pertanyaan bermunculan di kepala Sophia. Siapa laki-laki ini? Kenapa dia ada disini? Apa yang dimaksud Ibunya sebagai ‘hadiah’ adalah laki-laki ini?
Sang Ibu sibuk mengenalkan Sophia pada pria itu. Sedangkan Sophia, ia hanya diam dan menyimak setiap hal yang Ibunya katakan tentang dirinya. Tak ada protes sama sekali dari Sophia ketika sang Ibu menceritakan tentang kejadian lucu hingga memalukan ketika Sophia masih kecil. Sophia benar-benar hanya diam dan menurut saja.
Ibunya terlalu asyik berbincang dengan pria itu hingga hampir saja ia melupakan kehadiran Sophia disana jika saja Sophia tidak menarik lengan pakaian Ibunya. “Oh ya, aku belum memperkenalkan kalian secara resmi. Ramon, ini putriku, Sophia Davelton. Dan Sophia, ini Ramon Jiverson, dia akan menjadi Ayahmu beberapa hari lagi.” Ucap sang Ibu dengan senyum lebar penuh binar kebahagiaan.
“Ibu dan tuan Jiverson.. akan menikah?” Tanya Sophia dengan polosnya. Ramon mengusap pucuk kepala Sophia gemas, “Jangan sungkan begitu, aku akan jadi Ayahmu sebentar lagi. Jangan panggil aku dengan embel-embel ‘tuan’. Jika kamu mau, kamu bisa paggil aku dengan sebutan ‘Ayah’.”
“Baiklah, Ayah.”
***
Sophia kembali kekamarnya setelah perbincangan yang cukup panjang. Ia membawa secangkir teh untuk dia nikmati bersama Sasha didalam sana. Sophia lebih betah berbincang dengan Sasha daripada Ayah barunya. Mungkin karena Sophia belum terbiasa dengan kehadiran Ayah barunya itu.
“Sasha, kau tau? Aku akan punya Ayah baru. Namanya Ramon Jiverson. Dia orang yang baik dan ramah. Dia akan menikah dengan Ibuku tiga hari lagi. Aku tidak tau apakah ia akan menerimamu atau tidak. Tapi, aku harap Ibu bisa membujuknya untuk menerimamu. Atau jika dia masih tidak menerimamu, aku sendiri yang akan membujuknya. Kamu tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu.”
Sophia terus berbincang dengan sosok Sasha yang hanya Sophia yang dapat mendengarnya berbicara. Namun, tanpa sepengetahuannya, ada yang menguping pembicaraannya dari luar kamar.
“Jadi, seperti apa Sasha ini?”
__ADS_1
“Dia.. berpenampilan seperti Sophia.”
“Seberapa mirip?”
“Seperti saudara kembar.”
“Maksudmu.. pantulan cermin itu?”
“Jika orang lain yang melihat, mungkin akan berpikir seperti itu.”
“Berpikir seperti itu? Apa maksudmu?”
“Kita bicarakan di ruang baca saja. Aku tidak bisa menjelaskannya disini, karena dia bisa mendengarnya. Kita harus cari tempat tanpa cermin, baru bisa menjelaskan secara rinci padamu.”
“Dia? Maksudmu-“
“Ya, kau benar. Dia benar-benar ada. Dan dia hidup melalui cermin. Dia bisa mendengar apapun yang kita bicarakan ditempat yang memiliki cermin. Dan kurasa.. dia memperhatikanku sekarang.”
Mira segera menarik lengan calon suaminya itu menuju ke ruang baca untuk membicarakan kondisi putrinya, Sophia. Sedangkan orang yang dibicarakan sedang asyik bercerita dan bermain dengan sosok Sasha dikamarnya tanpa memperdulikan sekitarnya.
*************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1