
Chapter 7 : Lemah
“Eungh..” Angel mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Ia pingsan setelah luka di lengannya selesai diobati. Kepalanya pusing, terasa sangat berat, seperti dihantam oleh sesuatu yang besar dan keras.
Ia memegangi kepalanya, berusaha untuk mengingat kejadian sebelum ia terjatuh ke dalam kegelapan. Ia memandangi balutan perban di lengannya dengan tatapan horor, ia tidak bisa mengingat kenapa luka itu bisa ada dan apa yang terjadi padanya. Ia hanya bisa mengingat saat ketika kegelapan mulai memeluknya, menjerumuskannya ke dalam lubang besar tanpa cahaya yang tak berujung.
Angel mengalihkan pandangannya ke sekeliling nya. Kamar nya terlihat begitu rapi, bersih, dan.. kosong? Ia bahkan tidak yakin dengan pilihan kata yang ia gunakan, namun yang pasti, kamar nya terlihat lebih luas dari sebelumnya, dan juga lebih.. asing? Kenapa ia merasaa sedikit asing dengan tatanan di kamar ini? Apa benar ini kamarnya?
Entahlah. Ia tak bisa memastikannya sekarang karena tak ada siapapun disini selain dirinya. Angel mengubah posisinya, yang tadinya berbaring kini duduk bersila di atas sebuah ranjang tempat ia terbangun dari tidurnya.
Krek..
Suara pintu terbuka berhasil menarik perhatian Angel dan meningkatkan kewaspadaannya. Pintu itu terbuka perlahan, seseorang di balik pintu itu berusaha keras untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Kini pintu itu terbuka lebar, menampilkan sosok perempuan muda dengan nampan berisi makanan diatasnya. “Angel? Sudah sadar?” Perempuan itu mendekat, ia berhenti tepat di samping ranjang. Ia meletakkan nampan itu di atas nakas, kemudian berucap dengan lembut, “Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit?”
Mendengar pertanyaan itu lantas membuat Angel mengangguk pelan, ia memegangi kepalanya yang masih terasa sakit hingga sekarang. “Masih pusing? Ini kakak bawakan obat pereda nyeri untukmu. Tapi sebelum itu, kau harus makan dulu.” Ucap Manda lembut disertai senyum tipis yang menenangkan.
“Kak, aku kenapa?” Tanya Angel pelan. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi padanya sebelum kegelapan itu muncul, atau.. setelah kegelapan itu muncul? Entahlah, ia tidak tau yang mana yang benar. Yang jelas, ia tidak ingat apapun tentang luka di lengannya dan mengapa ia bisa pingsan.
Manda terdiam sejenak, ia menatap Angel dalam keheningan. Angel tidak ingat apapun? Manda berusaha mencari kebohongan di mata Angel, namun nihil, ia tidak menemukan setitik kebohongan apapun yang terpancar di mata indah adiknya itu.
__ADS_1
“Kau.. melukai dirimu sendiri dengan sebuah cutter. Kemudian menangis dalam diam di belakang pintu kamarmu.” Jawab Manda. Angel membelalak, ia tidak ingat apapun tentang dirinya yang menyakiti diri sendiri, kemudian menangis seperti yang Manda katakan. “Kakak bercanda ya?” Tanya Angel tak percaya. “Untuk apa aku melukai diri sendiri? A-aku memang sedih karena Ibu sudah tidak ada, tapi.. aku masih cukup sadar untuk tidak membahayakan diri sendiri.” Lanjutnya.
Manda menghela napas kasar, “Luka di lenganmu seharusnya cukup untuk dijadikan sebagai bukti bukan?” Ucap Manda sembari menatap pada luka Angel yang telah dibalut perban, membuat Angel ikut mengarahkan pandangan nya pada luka di lengannya. “Siapa yang berani melukaimu di rumah ini jika bukan dirimu sendiri, Angel?”
Angel tertegun. Ia menyadari kebenaran dibalik perkataan kakaknya itu. Tidak ada orang yang berani melukainya di rumah ini. Walaupun ada, orang itu pasti sudah tertangkap sebelum sempat melukainya. Tapi, apa benar dirinya yang melakukannya?
Angel menghela napas, mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Mungkin saja memang benar, bahwa ia melukai diri sendiri karena stress dan rasa sedih setelah kepergian Ibunya. Terlebih, setelah kejadian beberapa hari lalu yang pasti menimbulkan rasa takut dan trauma dalam diri Angel. Ia mencoba untuk percaya hal itu.
Angel mengangguk –mempercayai cerita sang kakak. “Lalu, kenapa kamarku diubah?” Tanya Angel untuk mengalihkan topik. Ia tidak ingin memikirkan hal yang membuat sakit kepalanya bertambah parah terlebih dahulu. Manda menyodorkan sendok ke depan mulut Angel, bermaksud untuk menyuapkan makanan. Angel menerima suapan sang kakak dengan senang hati. “Hanya menyingkirkan barang-barang yang berpotensi membahayakan dirimu saja.” Jawab Manda.
Angel kembali mengangguk, lalu ia melanjutkan sesi makannya dalam hening, tanpa obrolan lagi.
***
Tapi senyum itu pudar perlahan, tergantikan dengan raut wajah gelisah dan ragu. Dan sebagai seorang Ayah, Rendra sangat peka terhadap hal seperti itu, “Hm? Ada apa sayang?” Tanya nya sembari menghela Manda untuk duduk bersamanya.
Manda menghela napas terlebih dahulu sebelum mengutarakan hal yang mengganjal dihatinya. “Angel.. tidak ingat apapun tentang dirinya yang terluka. A-aku jadi berpikir bahwa yang melukai Angel.. bukan dirinya sendiri, Ayah.” Setetes air mata berhasil lolos dari sudut matanya, membuat sang empunya terisak.
Manda mengusap air matanya. Ia merasa sedikit aneh dengan dirinya sendiri. Hal seperti ini saja dapat membuatnya menangis. Kenapa ia menjadi sangat emosional akhir-akhir ini? Apakah ini karena kepergian sang Ibu tercinta? Atau ada alasan lain?
Rendra mengusap wajahnya, rasa frustasi memenuhi dirinya saat ini. Ia menghela napas kasar, “Ayah akan urus masalah ini. Hari sudah malam, tidurlah.” Ucapnya lembut sembari mengusap pucuk kepala Manda dengan sayang. Tiba-tiba saja, Manda memeluk sang Ayah, menenggelamkan wajahnya di dada bidang nan kekar itu dengan air mata yang tak mau berhenti mengalir.
__ADS_1
“Hey, ada apa ini? Kenapa putri Ayah menangis, hm?” Rendra mendongakkan wajah Manda, kemudian menghapus air mata yang dengan keras kepalanya terus menerus membasahi pipi putrinya. “Ayah.. M-manda takut..” Manda sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dan apa yang dia rasakan. Kata-kata itu keluar dengan sendirinya dari mulut Manda.
Rendra mengeratkan pelukannya, tangannya tergerak untuk mengusap punggung mungil nan rapuh itu. Entah hal apa yang membuat Manda –yang biasanya terlihat begitu kuat dan tegar- kini menjadi begitu rapuh. Bagaikan porselen, yang akan hancur begitu diperlakukan dengan kasar, walaupun hanya sedikit.
“Tidurlah bersama Anna malam ini.” Ucap sang Ayah. Manda mengangguk, beranjak dari sofa, kemudian melangkahkan kakinya menaiki tangga.
Sebelum menuju kamar Anna, Manda memutuskan untuk melihat keadaan Angel terlebih dahulu. Ia ingin memastikan bahwa adiknya itu baik-baik saja. Manda berbelok dan mengganti arah tujuannya menuju kamar Angel.
Sesampainya disana, ia membuka pintu kamar Angel. Hanya sedikit pintu yang terbuka hingga membuat sedikit celah yang cukup untuknya mengintip ke dalam, ia tidak ingin mengganggu istirahat Angel.
Dari balik pintu itu, terlihat sosok Angel yang sedang tertidur lelap, ia meringkuk di dalam selimut yang menutupi tubuhnya hingga bahu. Dadanya terlihat naik-turun dengan teratur. Manda menghela napas lega ketika melihat Angel baik-baik saja dan sedang tenggelam dalam tidur nyenyaknya. Ia kembali menutup pintu itu, lalu membalikkan badan. Tujuannya kali ini adalah kamar Anna.
Manda membuka pintu kamar Anna dan mendapati adik kecilnya itu tengah tertidur dengan posisi terlentang dan selimut yang berada di ujung kakinya. Manda menggeleng pelan sambil tersenyum tipis melihat Anna dan kebiasaan tidurnya yang tidak bisa diam.
Manda melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar itu kemudian menutup kembali pintu dibelakangnya. Ia membenarkan posisi selimut yang digunakan Anna kemudian menarik dirinya untuk ikut masuk kedalam rengkuhan nuansa hangat didalam selimut itu. Manda memandangi wajah Anna sejenak sebelum dirinya ikut masuk ke alam mimpi.
“Kakak harap semua akan baik-baik saja.”
*************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
__ADS_1
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~