
Chapter 2 : Cermin
Apakah ada diantara kalian yang suka bermain dengan cermin? Atau menggunakan cermin untuk suatu permainan? Apa kalian percaya jika cermin bisa menjadi jembatan antara dunia ini dan dunia yang lain?
***
“Angel!”
Angel terlonjak kaget ketika sahabat baiknya, Mia, datang tiba-tiba dan meneriakkan namanya. “Gak usah teriak juga kali. Aduh... perlu ke dokter telinga ga ya?”
“Heh, biasa aja kali. Udah sering juga. Aku kangen.. kenapa kamu gak masuk kemarin?” Sahut Mia sembari menghampiri meja Angel.
Angel bingung, ia harus menjawab apa? Ia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya kan? Kalaupun iya, memangnya Mia akan percaya dengan ceritanya?
Angel izin tidak masuk sekolah satu hari untuk beristirahat setelah kejadian tak terduga yang dialaminya kemarin. Ia sedikit trauma, jadi Ayahnya mengabarkan pihak sekolah bahwa Angel tidak masuk.
Angel tidak bisa dihubungi seharian, dan hal itu membuat Mia sangat khawatir. Angel tidak pernah membawa teman kerumahnya, ia juga jarang membicarakan tentang keluarganya disekolah sehingga Mia tidak bisa mengunjungi Angel dirumahnya atau sekedar menanyakan kabar Angel dari keluarga nya.
Mia menggebrak meja Angel dengan kemarahan yang terlihat jelas diraut wajahnya. “Kau kemana saja kemarin, hm? Kenapa tidak bisa dihubungi? Apa kau nggak tau kalau aku sangat mengkhawatirkan mu? Apa kau pergi berkencan? Dengan siapa? Dimana? Apa saja yang kau lakukan? Kenapa tidak memberitahu aku? Apa aku ini masih sahabatmu?”
Mia menghujami Angel dengan berbagai pertanyaan yang tak dapat ditangkap oleh indera pendengaran Angel, karena Mia mengucapkannya dengan sangat cepat. Angel hanya bisa menutup telinganya agar tidak berdenging ketika mendapat serangan mendadak seperti itu dipagi hari.
“Kemarin aku-“ Kalimat Angel terhenti ketika penglihatannya menangkap sosok guru killer yang masuk ke kelas dengan raut wajah kesal. Angel segera mendorong Mia agar ia kembali ke tempat duduknya. “Hei, kenapa kau mendorongku? Kau pasti menyembunyikan sesuatu. Katakan pada-“
“Mia Alma Chamenos!”
Mia terlonjak kaget ketika mendengar namanya disebut dengan penuh kemarahan. “Y-ya, pak?” Sahutnya dengan takut-takut. Dirinya perlahan menghadap para seseorang yang baru saja menyebutkan namanya.
“Apa kamu tidak menganggap saya sebagai guru disini?”
Mia hanya tertunduk, ia tidak tau harus menjawab apa. Ia sudah pernah menjawab, baik dengan kata ‘iya’ ataupun ‘tidak’. Namun, semuanya hanya berakhir dengan kemarahan yang berlanjut. “Mm.. b-bukan seperti itu, pak. A-aku tidak bermaksud untuk menyinggung bapak, a-aku hanya tidak menyadari kehadiran-“
“Jadi saya yang salah?”
‘Salah lagi! Argh!’ – Batin Mia.
“Ti-tidak, pak. A-aku yang salah.” Ucap Mia sambil menundukkan kepala, menyembunyikan kekesalannya. Ia sudah menjadi bahan perbincangan saat ini. Jika ia terus membantah, entah bagaimana jadinya nanti. Lebih baik ia mengalah untuk saat ini.
__ADS_1
“Baguslah jika kamu menyadari kesalahanmu. Temui bapak dikantor saat jam makan siang nanti. Kamu silahkan kembali ke tempat dudukmu.”
“Baik, pak.”
Mia menghela napas lega, akhirnya ia bisa duduk juga. Ia tidak terlalu memikirkan tentang dirinya yang harus pergi ke kantor guru killer itu, karena ia memang sudah menjadi hal yang biasa. Ia hanya akan diceramahi tentang nilainya yang tidak mengalami kemajuan sama sekali.
“Enak banget ya jadi si Mia, di-notice mulu sama pak Daru yang gantengnya udah diakui satu sekolah.”
“Kayanya rumor tentang dia yang punya hubungan khusus sama pak Daru itu bener deh. Mereka juga pernah ketauan makan siang bareng, loh.”
“Dia juga sering banget dipanggil ke kantor pas jam makan siang. Namanya lengkapnya Mia aja sampe hapal.”
“Iya yah? Kok aku gak pernah denger ya.”
“Kamukan murid baru. Rumor ini tuh sempat booming banget di sekolah ini tau.”
“Memangnya apa sih yang bagus dari cewe kaya dia? Body biasa-biasa aja, muka pas-pasan, kaya juga enggak. Aku yang udah jelas cantik begini aja gak dilirik sama sekali.”
“Urusan ranjang kali..”
“Dasar manusia-manusia penggosip. Kalian nggak tau sengsara nya berurusan sama guru killer itu.” – Mia
***
Ya, disinilah Angel saat ini. Memohon dengan wajah yang dibuat seimut dan sekasihan mungkin agar mendapat maaf dari sahabatnya itu. Tapi, bukan sahabat namanya jika membiarkan sahabatnya didera rasa bersalah terus menerus.
“Iya, aku maafin. Tapi lain kali kalo sempet, hubungi aku dulu. Aku kepikiran terus soalnya.”
Angel melompat gembira. “Makasih udah maafin aku. Makan siang ini aku traktir deh.” Angel segera menarik tangan Mia dan menyeretnya menuju kantin. “Tunggu, Angel. Kamu lupa? Aku harus ke kantor pak Daru.”
Mia melepaskan tangan Angel, “Traktirnya lain kali saja, ya.” Mia pergi sembari melambaikan tangannya, persis seperti dua orang yang akan terpisah dalam waktu lama. “Tapi.. kau tidak apa-apa kan?” Ucap Angel setengah berteriak agar Mia bisa mendengarnya.
Angel menanyakan itu karena ia tau apa saja yang Mia dan pak Daru lakukan ketika Mia sedang dikantornya. Yah.. Mia hanya mendapat omelan tentang nilai dan sikapnya yang blak-blakan, juga terkadang tentang omongannya yang tidak disaring lebih dulu. Tapi itulah Mia, selalu bersikap apa adanya.
“Yah, aku harap aku akan baik-baik saja.” Sahut Mia. Angel terkekeh pelan, lalu melangkahkan kakinya menuju kantin. Perutnya sudah meronta meminta untuk segera diisi.
***
__ADS_1
“Aduh.. kemana sih? Aku lupa tadi ditaruh dimana.” Gumam Angel. Ia mnecari-cari barang kesayangannya yang menghilang secara tiba-tiba. Ia ingat betul bahwa ia memasukkan nya ke dalam tas sebelum berangkat sekolah tadi pagi. Tapi sekarang barang itu sudah hilang, entah kemana perginya.
Mia yang baru saja keluar dari neraka nya dengan wajah murung dan kesal. Ia yang melihat Angel tampak acak-acakan, segera menghampiri nya. “Angel, ada apa?”
“Mm, anu.. cermin kecil yang biasa aku bawa itu hilang. Kamu liat ga?”
Mia tampak berpikir sejenak, “Nggak.” Jawabnya disertai gelengan kepala. Angel semakin bingung. Ia sudah mencari cermin itu kemana-mana, tapi tetap tidak ketemu. “Haah.. gimana ya? Cari dimana?” Gumam Angel.
“Kamu sayang banget yah sama cermin itu?” Tanya Mia. Angel menghadap Mia dengan pandangan menuduh, “Kau Mia atau bukan sih?”
Angel menjadi sedikit sensitif setelah kejadian kemarin. Ia menjadi curiga dengan semua orang, termasuk Mia. Ia tidak tau apakah yang berbicara dengannya sekarang adalah Mia yang asli atau bukan. Mia yang asli akan sangat tau seberapa penting cermin itu untuknya. Tentu saja Angel sangat menyayangi cermin itu.
“Santai.. tentu saja aku Mia yang asli. Memangnya apa yang kau pikirkan sampai menuduhku palsu?” Tanya Mia sembai berkacak pinggang. Walaupun dia sangat mirip seperti Mia, bahkan tingkah dan gestur tubuhnya pun mirip, tapi Angel tetap tidak bisa percaya begitu saja.
“Kalau begitu, apa sandi ponselku?”
Mia membulatkan matanya ketika mendengar pertanyaan itu. “Hah? Bukankah ponselmu gak pakai sandi?” Jawba Mia dengan sedikit menaikkan intonasi suaranya. “Tapi, kenapa mukamu pucat sekali?” Tanya Angel lagi.
Mia menghela napas kasar, “Aku seperti ini karena terlalu pusing memikirkan berbagai cara agar bisa kabur atau menghentikan situasi ini. Kau tau? Pak Daru-chan yang ngeselin nya pake banget itu, jadi guru private aku. Bukan hanya di satu mata pelajaran, tapi hampir semua nya. Argh, aku benar-benar sial. Kenapa harus dia sih?” Bisik Mia pada Angel.
Angel terkekeh pelan, lalu tersenyum puas. “Kamu memang Mia yang asli. Panggilan khusus itu hanya kita yang tau, iya kan?”
“Nggak, Arka tau tentang itu kan?” Jawab Mia dengan polosnya.
Senyum manis diwajah Angel kembali terukir, “Kyaa! Kamu benar-benar Mia.” Angel memeluk Mia dengan erat, akhirnya ia bisa percaya bahwa orang itu benar-benar Mia, sahabatnya. Ayahnya sangat ketat dalam hal lingkungan disekitar Angel. Karena itulah, Angel hanya punya sangat sedikit teman.
Jika Mia saja sudah tidak bisa dia percaya, maka dia benar-benar tidak punya teman.
“Okay, mari kita lupakan tentang guru killer itu. Sekarang, bagaimana dengan cerminmu?”
Angel kembali mengacak rambutnya dengan rasa frustasi, “Bagaimana ini? Aku harus cari dimana?” Gumam Angel yang lagi-lagi sibuk dengan cerminnya hingga hampir melupakan Mia. Ingin rasanya Mia bertepuk tangan, kagum atas perubahan ekspresi yang secepat membalikkan telapak tangan.
“Mau aku bantu?” Tanya Mia yang disahuti dengan anggukkan antusias dari Angel.
*************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
__ADS_1
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~