Bloodline

Bloodline
Chapter 8 : Lorong penghubung


__ADS_3

Chapter 8 : Lorong penghubung


Manda terbangun di tengah malam karena merasa tenggorakkan nya kering. Ia membuka pintu kamar dan keluar sehening mungkin, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara dan mengganggu tidur nyenyak Anna.


Setelah selesai minum, ia kembali menaiki tangga dan melangkah menuju kamar Anna. Suasana malam itu sangat sepi, tidak ada suara apapun selain suara rintik hujan dan langkah kakinya. Udaranya pun terasa sedikit berbeda, lebih dingin dari biasanya. Namun Manda tak terlalu menghiraukannya, mungkin saja itu akibat dari hujan yang sedang turun dengan derasnya diluar sana.


Saat Manda hendak menginjakkan kakinya pada anak tangga, sudut matanya menangkap sesosok bayangan yang melewati arah dapur dan terus berjalan menuju lorong panjang yang sangat sunyi dengan penerangan minim.


“Siapa?” Manda mencoba untuk memastikan terlebih dahulu, karena ia sedikit takut dan ragu untuk mengikuti kemana bayangan itu pergi. Namun, hasilnya nihil, tak ada jawaban sama sekali. “Ah, halusinasi saja. Mungkin karena aku masih mengantuk.” Ucapnya meyakinkan diri sendiri, lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


Langkah nya kembali terhenti ketika ia mendengar teriakkan seseorang yang sangat dia kenal dari arah bayangan itu pergi. “Angel?” Manda langsung memutar arah, membalik badan dan berlari menuju lorong itu.


Kini, Manda telah sampai di depan lorong yang lumayan mengerikan. Nuansa dingin dan sepi membuat bulu kuduk nya berdiri, serta tubuhnya menjadi sedikit gemetar, bercampur antara rasa takut di dalam hatinya dan angin malam yang dingin menerpa tubuhnya. Ia berhenti tepat di depan lorong itu, keraguan bercampur rasa takut membuat langkahnya terhenti. Ia bahkan tidak sadar jika lorong ini bisa terasa begitu menyeramkan ketika malam hari.


“A-angel?” Suaranya kembali terdengar, memanggil nama adiknya, seseorang yang teriakkan nya terdengar beberapa waktu lalu. Dan seperti sebelumnya, tak ada jawaban apapun yang terdengar. Hanya suara terpaan angin yang mengetuk-ngetuk kaca jendela, juga rintik hujan yang semakin deras disertai suara petir yang menyambar dengan ganasnya.


Samar-samar Manda melihat sosok anak kecil seumuran Anna, yang tengah berdiri membelakanginya dengan jarak yang lumayan jauh dari tempat ia berdiri. Manda segera menepis semua rasa takutnya, mungkin saja itu anak salah satu pelayan di rumah ini. Ia melangkahkan kakinya masuk ke lorong itu, tujuannya kini adalah menghampiri anak kecil itu dan menanyakan keberadaan Angel.

__ADS_1


Ia kini telah pada posisinya, berdiri mantap dengan tetap menjaga jarak dari anak kecil dihadapannya. Anak kecil itu tetap diam dan mematung, tangan kirinya menggendong sebuah boneka beruang berukuran setengah dari tubuhnya dengan topi dan pita kecil sebagai hiasan.


Manda menghela napas pelan, berusaha menetralkan detak jantungnya yang semakin cepat. “Dik, permisi..” Ucap Manda. Anak kecil itu memutar tubuhnya dan menoleh dengan gerakan perlahan dan halus. Kini, tatapan mereka bertemu. Manda dapat melihat tubuh dan wajah anak kecil itu sangat pucat. Matanya menatap kosong kedepan, seolah tidak ada kehidupan di dalam tubuh mungil itu.


Rambut hitam yang diurai, serta gaun sederhana dengan pattern bunga-bunga kecil nan indah, melengkapi penampilan anak kecil itu. Membuatnya tetap tampak cantik walaupun kulitnya terlihat sangat pucat dan tak ada rona merah ataupun senyum yang menghiasi wajah mungilnya.


Melihat penampilan anak kecil itu, membuat keraguan dan rasa takut kembali menguasai diri Manda. Dengan cepat, Manda menggelengkan kepala, ia telah sampai disini, ia tidak bisa mundur lagi. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Apa ada manusia dengan kulit sepucat itu?


Entahlah, hal yang terpenting saat ini adalah keberadaan Angel. Manda ingin segera menjauh dari anak kecil itu, nuansa dingin dan menyeramkan yang dikeluarkan anak kecil itu membuatnya merasa tidak nyaman. Tapi, lidahnya kelu, ia tidak tau harus bicara apa. Manda merasa bahwa ia kehilangan kemampuannya untuk menyusun kata dalam sekejap, ketika dirinya menatap bola mata hitam anak kecil itu.


Manda beserta kedua adiknya, Angel dan Anna, telah mempelajari berbagai bahasa asing sejak mereka kecil. Wajar saja jika ia bisa mengerti ucapan anak kecil itu. Yang membuatnya bingung dan bertanya-tanya adalah kenapa anak kecil itu menggunakan bahasa Belanda? Pertanyaan itu membuat pikiran Manda melayang kemana-mana. Apa anak kecil dihadapannya ini benar-benar manusia?


Manda menepis semua pertanyaan yang mengganjal di hatinya, ia ingin segera menyelesaikan urusannya disini dan kembali ke kamar secepat mungkin. Masa bodo tentang anak kecil ini, ia hanya perlu mencari Angel kemudian kembali tidur dan menunggu pagi datang.


Manda menggerakkan tangannya, jarinya mengikuti arah yang ditunjuk oleh anak kecil itu dan memasang ekspresi seolah bertanya. Anak kecil itu hanya meresponnya dengan sebuah anggukkan, benar-benar dingin dan menyeramkan. Setiap pergerakan yang dilakukannya terlihat sangat halus dan dilakukan secara perlahan.


“Dank u (terima kasih).” Ucap Manda lirih, ia terlalu takut untuk berinteraksi lebih lanjut dengan sosok anak kecil dihadapannya ini. Manda segera berjalan melewati anak kecil itu tanpa menunggu jawaban darinya. “Doe voorzichtig (hati-hati).” Ucap anak kecil itu membuat langkah Manda terhenti. Manda hanya membalasnya dengan anggukkan, tanpa menolehkan kepalanya. Dan satu lagi pertanyaan baru muncul, berhati-hati untuk apa?

__ADS_1


Setelah sampai didepan pintu kayu dengan ukiran yang indah itu, Manda menghentikan langkahnya. Keraguan kembali menguasi dirinya, apa yang dimaksud anak kecil itu.. Angel ada disini? Atau sesuatu yang lain sehingga ia harus berhati-hati?


Sudah terlambat untuk mundur, ia telah melangkah terlalu jauh. Dengan segera, Manda kembali menepis keraguan itu. Apapun yang ada didalam, hadapi saja dulu.


Tangan nya tergerak untuk meraih gagang pintu, membuka pintu itu secara perlahan. Manda mengintip sedikit dari celah pintu yang belum terbuka sempurna itu. Manda berpikir bahwa dibalik pintu itu ada sebuah ruangan yang telah lama tidak buka ketika tangannya menyentuh debu yang cukup tebal pada pintu itu. Namun ia salah, di balik pintu itu terdapat lorong lainnya dengan warna dinding dan hiasan yang berbeda, dan.. terlihat sangat terawat.


Sebelum masuk ke dalam, Manda menyempatkan diri untuk menoleh kebelakang. Ia merasa ada sesuatu yang terus memperhatikan setiap gerak-geriknya. Manda berpikir bahwa anak kecil itu masih berdiri disana dan terus menatapnya. Ia ingin sekedar memastikan saja. Dan lagi-lagi ia salah, anak kecil itu sudah hilang dan tak terlihat lagi disana. Ia bahkan pergi tanpa meninggalkan suara ataupun jejak. Jadi, anak kecil itu bukan manusia?


Manda menghela napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya yang mulai gemetar ketakutan. Manda membuka pintu itu, lalu masuk kesana dengan segera. “AAH!!” teriakkan itu kembali terdengar, dan kali ini lebih jelas dari sebelumnya. Manda mempercepat langkahnya, “Angel..”


*****


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.


Thank you all ~~

__ADS_1


__ADS_2