
Chapter 13 – That doll : Eveline (4)
Hari pernikahan,
Setelah acara utama nya selesai, Amita bergegas kembali ke kamarnya dengan alasan bahwa dirinya sedang tidak enak badan. Ia juga membawa beberapa pelayan bersamanya. Tapi, ia meninggalkan Vanya untuk Adya agar Vanya bisa memberitahukan beberapa hal tentang keluarga Jiverson.
Arsya datang kehadapan para pengantin. Setelah mengucapkan selamat, ia mengulurkan tangannya pada Adya. “Perkenalkan, Arsyanendra Jiverson. Aku harap kau tidak melupakan statusku sebagai anak tirimu.” Ucap Arsya, membuat Adya tersenyum masam. “Kau sangat tidak suka padaku, ya.” Gumam Adya pelan, namun Arsya masih dapat mendengarnya.
“Sadar diri juga.” Bisik Arsya tepat ditelinga Adya sembari melempar tatapan mencela padanya. Arsya melambaikan tangan pada Evie, Evie yang mengerti maksud kakaknya segera menghampiri mereka. Evie mengusap perut Adya yang masih rata dengan perasaan senang, “Evie karus panggil kakak apa?” Tanya nya sembari mendongakkan kepalanya. “Mama saja, bagaimana?” Usul Adya membuat Evie mengangguk setuju.
“Adik jangan nakal ya, nurut kata mama.” Bisik Evie diperut Adya. Arsya yang merasa jengkel segera menarik Evie menjauh dari wanita itu.
Arsya mengajak Evie untuk bermain dikamarnya dan pergi meninggalkan halaman belakang yang menjadi tempat acara pernikahan itu diadakan. Evie tidak menolak sama sekali, ia hanya mengernyitkan dahi, bingung dengan sikap sang kakak. “Kakak tidak suka mama ya?” Ucap Evie telak ketika mereka sampai di kamar Evie.
“Kata siapa?” Tanya Arsya sembari mengangkat tubuh Evie lalu mendudukkannya di tepi ranjang. Evie menggeleng, “Emelly.” Evie meletakkan boneka beruang itu dipangkuannya. “Kata Emelly, kakak tidak suka mama karena mama itu jahat.” Ucap Evie dengan tampang polos miliknya. “Tapi aku pikir Emelly berbohong, aku percaya mama itu orang yang baik. Jadi aku tanya kakak saja.” Lanjut nya.
Arsya mengernyitkan dahi, “Emelly?” Tanya nya tak percaya dengan apa yang Evie katakan. Arsya berpikir bahwa Evie terlalu kesepian dirumah jadi ia berimajinasi bahwa boneka itu hidup dan berbicara padanya. “Evie, dengarkan kakak. Emelly hanya boneka, dia tidak hidup. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu?”
Evie menggeleng, “Tidak kak, Emelly itu hidup. Dia bisa bicara padaku, tapi ia tidak bisa bicara pada orang lain.” Ucap Evie meyakinkan Arysa. Seberkas rasa bersalah merasuki relung hati Arsya, ia berjanji bahwa ia akan menyisakan lebih banyak waktunya untuk sekedar bermain dengan Evie, agar Evie tak lagi kesepian dan segera melupakan imajinasinya tentang boneka itu.
Raut wajah Evie tiba-tiba saja berubah, ia terlihat sangat sedih. Arsya bingung bercampur panik melihat hal itu, “Eh? Evie, ada apa?” Tanya nya sembari mengusap pucuk kepala Evie, berusaha menenangkannya yang hendak menangis. Dan benar saja, isakan kecil mulai terdengar, “Evie sedih karena kak Rafa tidak jadi pulang. Aku pikir, aku bisa bermain dengan kak Rafa hari ini.” Suara tangis Evie semakin terdengar jelas.
Air matanya mengalir, perlahan namun pasti, air mata itu mengalir semakin deras. Arsya menyeka air mata dari pipi adiknya. “Kak Rafa sibuk dengan sekolahnya. Nanti kalau Evie sudah masuk sekolah, Evie juga akan sibuk dengan tugas-tugas yang harus diselesaikan nantinya.” Ucap Arsya menjelaskan dengan lembut dan penuh perhatian.
Evie mengangguk lalu menghapus air matanya lalu mengangguk, “Aku mengerti kak.” Ucapnya dengan mengembangkan senyum manis diwajahnya. Mereka melanjutkan obrolan ringan lainnya hingga malam dan tertidur.
__ADS_1
***
Pukul 23:46, Evie terbangun dan merasakan sesuatu menarik ujung lengannya. Ia membua mata kemudian melihat Emelly tengah berdiri disamping tempat tidurnya sembari berusaha membangunkannya. “Ada apa Emelly?” Tanya Evie berbisik, ia tidak ingin mengganggu tidur kakaknya.
Emelly berjalan menuju pintu kamar, membukanya lalu keluar dari ruangan. Evie beranjak dari tempat tidur, lalu mengikuti Emelly keluar dari kamar. Evie berjalan mengendap-endap, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Evie mengikuti Emelly menuju kamar Ayah dan Mama barunya. Emelly menunjuk ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka itu. Evie mendekatkan telinganya pada celah kecil pada pintu itu, sebenarnya ia tidak ingin menguping, tapi karena terlalu penasaran dan Emelly yang mendesaknya untuk menguping, maka ia lakukan.
“Hah, tentu saja aku berhasil.”
“…..”
“Apa yang kau katakan? Tentu aku akan menyingkirkan Amita. Jika dia masih hidup, aku tidak akan dapat banyak bagian.”
“……”
“……”
“Yah.. kau benar. Aku harus menaklukkan Arsya demi memperkuat posisiku. Tapi bagaimana caranya? Dia sangat tidak suka padaku.”
“……”
“Apa? Aku tidak akan melakukan hal yang sama, itu terlalu bodoh. Arsya tidak sebodoh itu, akan sangat sulit untuk menjebaknya. Walapun berhasil, itu hanya akan menggoyahkan posisiku.”
“……”
__ADS_1
“Oh, tenang saja. Aku sudah memikirkan itu sejak awal. Apa kau bisa menebaknya? Sudah berapa banyak racun itu didalam tubuhnya? Haha, sangat menyenangkan ketika membayangkan ia akan mati dengan mengenaskan.”
“……”
“Tentu, aku tidak akan melupakanmu. Kau tau kan? Aku hanya cinta padamu. Ayolah, aku akan membagi kekayaan ini denganmu ketika aku berhasil mendapatkannya. Dan kita tinggal singkirkan anak ini lalu hidup bersama.”
Evie terbelalak, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Walaupun Evie tidak mengerti sepenuhnya, tapi otaknya yang jenius bisa menyimpulkan bahwa Mama barunya sama sekali tidak mencintai Ayahnya dan Ibunya sedang dalam bahaya.
Evie segera memasang wajah sayunya, berpura-pura terlihat mengantuk kemudian mengetuk pelan pintu kamar itu. Adya terlonjak kaget ketika mendengar suara ketukan dari arah pintu, ia bergegas membuka pintu itu. “Siapa malam-malam begini?” Tanyanya penuh waspada. Ketika ia melihat Evie yang berdiri sambil memeluk sebuah boneka beruang tengah menatapnya dengan mata sayu, ia bernapas lega kemudian bertanya, “Oh, Evie. Ada apa malam-malam begini sayang?” Tanya nya berusaha menutup kegugupannya.
“Mama bicara dengan siapa?” Tanya Evie dengan wajah polosnya. Adya terlihat gugup, namun I mencoba untuk tetap menutupinya. “Oh, itu teman mama. Apa Evie mendengarnya?” Tanya Adya membuat Evie mengangguk. Kegugupan semakin terlihat jelas. Ia tau bahwa Evie hanya anak-anak, namun anak-anak tidak pernah berbohong bukan?
“Mm.. bisa Evie rahasiakan ini dari orang lain?” Bujuk Adya sedikit memaksa. Evie tampak berpikir sejenak lalu mengangguk, “Tapi, boleh aku ceritakan pada Emelly?” Pinta Evie dengan wajah memelas. Adya mengernyitkan dahi, selama ia berada di rumah ini, ia tidak pernah mendengar nama Emelly. “Emelly?” Ucap Adya membeo. Evie mengangguk, “Iya, Emelly.” Ucap Evie sembari mengangkat boneka beruang yang ia bawa.
Adya berpikir sejenak, kemudian ia menyetujuinya karena ia pikir bahwa Emelly hanya sebuah boneka dan tidak dapat menyebar rahasia. “Baiklah, hanya dengan Emelly, okay?” Tanya Adya memastikan yang kemudian mendapat angggukan dari Evie.
Saat diperjalanan kembali menuju kamarnya, Evie terlihat murung. Ia merasa sedih dan kecewa, “Emelly, aku tidak menyangka Mama itu jahat.” Ucap Evie sambil terisak. Kakinya serasa kehilangan tenaga, ia terduduk di atas karpet yang membentang disepanjang lantai itu. Emelly mengusap surai hitam Evie dengan lembut, berusaha untuk menenangkannya.
Evie merasa bingung dengan dirinya sendiri. Ia menjadi begitu emosional akhir-akhir ini. Setelah semua yang Evie lalui, apakah wajar baginya untuk menjadi emosional saat ini?
*****
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~