
Chapter 6 : Dendam
“Jadi, apa mau mu?”
“Aku ingin menawarkan kerja sama.” Seorang perempuan muda datang menghampiri seorang lelaki dengan sebuah cermin kecil yang cantik di tangannya. “Aku tidak yakin jika kau bisa menawarkan kerja sama padaku.” Ucapnya tidak yakin.
“Oh ya? Apa aku harus melakukannya?” Ucap perempuan itu dengan tatapan mengejek. Perempuan itu mengulurkan tangan nya, “Arka, berikan cermin itu padaku.” Ucapnya memerintah. Arka yang sedari tadi hanya diam mematung, memberikan cermin itu dengan patuh. Layaknya sebuah raga tanpa jiwa yang dikendalikan oleh perempuan dihadapannya itu.
Perempuan itu menerima cermin tersebut dengan senang hati, “Bagus, kau harus terus mengikuti perintahku.” Ucapnya dengan melempar tatapan mengejek pada cermin di tangannya. Ia menatap cermin itu dengan penuh kebencian, “Dendam. Aku tau kau punya dendam.” Ia memberi jeda sejenak, sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. “Aku juga punya dendam yang sama. Bukankah akan lebih baik jika kita bekerja sama?”
Bayangan seseorang di cermin itu tampak berpikir, “Dendam apa? Bagaimana bisa kita punya dendam yang sama?” Ucapnya dengan tatapan tajam, menunjukkan ketidaksukaan nya. “Kurasa kau tidak berada pada posisi bisa berbicara dengan nada memerintah seperti itu padaku. Tapi aku beritahu satu hal, kau dan aku punya dendam pada orang yang sama.”
“Mia, jangan bertele-tele. Katakan apa maksudmu.” Ucap bayangan itu seolah tak sabar ingin segera melenyapkan lawan bicara nya sesegera mungkin. Mia tersenyum miring, “Sophia, kau benar-benar tidak sabaran. Sama seperti Isabell.” Mia sengaja menyebutkan nama itu untuk menyulut amarah seseorang dibalik cermin ditangannya.
Terasa aura gelap yang menguar keluar dari cermin itu, “Jangan menyamakanku dengan bocah pembangkang itu.” Ucapnya penuh penekanan. Senyum puas semakin terpatri jelas di wajah Mia, ia berhasil menyulut kemarahan Sophia. Tapi, itu belum cukup untuk membuatnya mau bekerja sama dengan Mia. “Oh ya? Jika Isabell adalah bocah pembangkang, maka kau apa? Anak haram?”
Benar saja, aura gelap yang menguar dari cermin itu terasa lebih kuat. Tidak, bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya. “Keluarga Jiverson. Tidakkah kau ingin membalaskan dendammu? Mereka telah membuat dirimu dan Ibumu menderita, tidakkah kau juga ingin melihat mereka merasakan penderitaan yang sama?” Mia membisikkan kata-kata itu dengan penuh kebencian yang nyata. Ia ingin agar Sophia terhanyut dalam luka masa lalu dan dendam yang terus bertahan hingga saat ini.
“Tidakkah kau ingin membalaskan dendam mu dan Ibumu? Apa kau tega melihat Ibumu menderita? Tidakkah kau ingin melihat keluarga mereka hancur?” Bisikkan demi bisikkan kebencian Mia ucapkan. Kini, aura gelap nan mengerikan itu, telah berkali-kali lipat lebih kuat dari sebelumnya. “Kehancuran adalah takdir keluarga Jiverson. Tapi, tidakkah kau ingin merasakan bagaimana rasanya ikut andil dalam kehancuran mereka, Sophia?”
Melihat wajah Sophia yang tampak sangat marah, membuat Mia semakin antusias. “Apa yang kau butuhkan dariku?” Ucap Sophia, membuat Mia bersorak ria di dalam hati. Rencananya berhasil.
“Yah.. seperti yang kau tau, kemampuanku adalah memanipulasi. Tapi, Divya terlalu kuat untukku.” Ucap Mia penuh makna. “Jadi, kau ingin aku mengurus Divya?” Tanya Sophia memastikan, namun Mia menggeleng. “Tidak hanya Divya, aku juga ingin kau mengurus sesuatu yang lain, Sophia. Eh bukan, maksudku.. Sasha.”
__ADS_1
***
“Angel pulang.” Seru Angel saat dirinya sampai di rumah. Manda langsung menyambut adiknya, “Sudah pulang? Gantilah bajumu, lalu turun dan makan.” Ucap Manda layaknya seorang Ibu. Sejak Ibu mereka meninggal, Manda lah yang menggantikan peran Ibu untuk keluarganya.
Manda berjalan menghampiri Ayahnya yang sedang sibuk berkutat dengan setumpuk pekerjaan. “Ayah, makanan sudah siap. Ayah makanlah dulu. Jangan sampai sakit.” Ucap Manda kemudian membuat Rendra menoleh, menatap lembut kearah putrinya disertai dengan seyuman. “Baiklah, Ayah akan segera kesana.” Ucapnya membereskan pekerjaan nya sebentar, lalu beranjak dari sofa dan berjalan menuju meja makan.
Manda tersenyum melihat keadaan Ayahnya yang telah membaik. Ia tau bahwa Ayahnya masih bersedih sepeninggal Ibunya, namun Ayahnya tetap berusaha terlihat tegar dihadapan anak-anaknya. Rendra mulai menyibukkan dirinya dengan segudang pekerjaan agar ia bisa melupakan kesedihannya walau sejenak.
Setelah membujuk Ayahnya, kini Manda menaiki tangga dan masuk ke sebuah ruangan di samping kamarnya. Ia membuka pintu itu perlahan, hingga akhirnya menampilkan sosok anak kecil berumur enam tahun sedang duduk termenung di atas tempat tidur dengan tangan yang memeluk lututnya.
Manda menatap sendu ke arah adiknya, “Anna, kakak sudah masak makanan kesukaanmu. Makan, ya? Nanti kamu sakit.” Ucapnya dengan penuh kelembutan. Anna hanya makan beberapa suap saja sejak Ibunya meninggal dunia. Anna benar-benar tenggelam dalam kesedihan. Untuk anak seusia dirinya, pasti terasa sangat berat ketika harus merelakan kepergian sang Ibu.
Anna hanya diam dengan tatapan kosong. “Anna..” Panggil Manda. “Kakak mohon, makanlah.” Ucap Manda lirih, namun sukses membuat Anna menoleh dan menatap matanya. “Kak..” Anna merentangkan tangannya. “Gendong..” Ucapnya dengan air mata yang kembali mengalir dari sudut matanya.
Manda mengusap punggung Anna pelan, berusaha memberikan penghiburan. Ia membawa Anna yang masih dalam gendongannya, turun menuju meja makan.
“Angel belum turun?” Tanya Manda ketika ia tidak melihat Angel disana. Rendra menggeleng lalu merentangkan tangannya, “Belum, kamu coba panggil dia. Anna sama Ayah saja.”Anna langsung menyambut uluran tangan sang Ayah. Rendra mendudukkan Anna di pangkuannya lalu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut Anna sambil mengucapkan kata-kata menghibur untuk meredakan tangisannya.
Manda tersenyum sejenak, kemudian ia kembali menaiki tangga. Tujuannya kali ini adalah kamar Angel.
Setelah sampai di depan kamar Angel, Manda mengetuk pintu kamar itu. “Angel? Kakak masuk, ya?” Ucapnya, namun tidak mendapat jawaban dari Angel. Manda kembali mengetuk pintu kamar Angel, namun hasilnya sama saja, ia tetap tidak mendapat jawaban. Alhasil, Manda memutuskan untuk langsung masuk ke dalam.
Ia membuka pintu kamarnya perlahan, “Angel?” Panggilnya lembut. Manda langsung panik ketika melihat kamar itu kosong. Ia mencari Angel ke setiap sudut kamar itu.
__ADS_1
Betapa kagetnya ia ketika melihat Angel yang terduduk lemas dengan di belakang pintu kamar yang terbuka, kepalanya tertunduk sehingga rambut panjangnya menutupi seluruh wajahnya. Angel terlihat menyedihkan sambil menggenggam sebuah cutter ditangannya. Ia berlari mendekati Angel. Terdengar suara isakan lirih yang hanya bisa didengar dari jarak yang sangat dekat. Tanpa basa-basi, Manda langsung mengambil alih cutter itu dari tangan Angel. Ia takut jika Angel melakukan sesuatu yang di luar nalar dengan menggunakan benda tajam dan berbahaya itu.
Tapi, Manda terlambat. Angel sudah menggores tangannya dengan cutter itu dan membuat darah segar mengalir dari lukanya. Dengan langkah cepat, Manda segera keluar dari kamar Angel dengan membawa cutter itu lalu memanggil orang lain untuk segera mengobati lengan Angel yang terluka.
Divya menghampiri Angel dengan langkah yang sangat cepat sambil membawa kotak obat. Divya tidak ingin membuang-buang waktu lagi, ia segera mengobati lengan Angel dengan telaten.
Angel menatap ke depan dengan tatapan kosong, mata yang bengkak karena menangis dan rambut yang acak-acakan. Ia tidak terusik sedikitpun dengan Divya yang sedang mengobatinya. Ia seakan tidak merasakan rasa sakit dari luka yang dia buat sendiri.
Tak lama, Rendra menyusul ke kamar Angel untuk melihat keadaan putrinya itu. Ia sengaja meninggalkan Anna dibawah bersama dengan makanannya dan beberapa orang pelayan untuk menemaninya. Rendra tidak ingin anak kecil seperti Anna melihat banyak darah segar berceceran dilantai.
“Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?” Tanya Rendra dengan kekhawatiran yang sudah memuncak. “A-aku ti-tidak tau, Ayah. S-sa-saat aku tiba disini, A-Angel sudah se-seperti ini.” Jawab Manda dengan tubuh yang gemetar dan air mata yang perlahan mengalir keluar.
Melihat itu, Rendra segera mengambil alih cutter ditangan Manda lalu menyimpannya di saku celananya. Setelah menyimpan benda berbahaya itu, tangan tergerak untuk memeluk Manda dan mengusap punggungnya lembut, berusaha untuk meredakan tangis dan rasa takutnya. “Tenanglah, sayang. Jangan takut, Ayah disini.” Ucap Rendra, berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Ia tau, disaat seperti ini, ia harus tetap tenang dan tidak boleh emosional.
“Nona Angel, sadarlah!!”
*************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1