Bloodline

Bloodline
Chapter 14 : Keputusan


__ADS_3

Chapter 14 : Keputusan


“Evie begitu terpukul, ia sulit untuk percaya bahwa orang yang ia anggap sebagai orang yang baik, ternyata diam-diam merencanakan sesuatu yang jahat pada keluarganya.”


Angel menghela napas, kemudian menutup buku itu. Ia membayangkan bagaimana jika dirinya berada di posisi Evie. “Apa aku bisa bertahan?” Ucap Angel bermonolog. “Tapi.. apa Evie juga bertahan?” Pertanyaan itu muncul begitu saja dikepalanya, dan berhasil membuatnya kembali tertarik untuk melanjutkan kegiatannya membaca buku misterius itu.


Ketika tangannya hendak membuka kembali buku itu, suara ketukan pintu menghentikan gerakannya. “Angel.” Panggil seseorang dari balik pintu. Angel langsung mengenali suara itu, ia bergegas beranjak dari duduknya lalu segera membuka pintu itu dan mempersilahkan orang itu masuk.


Manda memperhatikan sekeliling kamar Angel, ia menghela napas lega karena semuanya terlihat baik-baik saja. Ia menjadi lebih protektif pada Angel sejak kejadian berdarah waktu itu. Matanya menatap sebuah buku yang tergeletak begitu saja diatas tempat tidur. “Kau masih membaca buku itu?” Tanya nya.


Angel mengangguk, “Iya.” Angel mengambil tempat duduk di tepi ranjang. “Kak, kau tau? Awalnya aku kira itu buku diary, tapi setelah aku membacanya.. aku pikir buku itu sejenis dengan novel? Terasa seperti ada orang lain yang sengaja menuliskan kisah seorang anak kecil bernama Eveline itu.” Ucap Angel mengutarakan hal yang ia pikirkan sejak tadi.


Manda tampak berpikir sejenak, “Sebaiknya gak udah baca buku itu lagi. Kakak rasa.. buku itu sangat aneh, dan.. apa kau ingat kau dapat buku itu darimana?” Kalimat Manda berhasil membuat Angel berpikir mengenai buku itu untuk kedua kalinya. Angel menggeleng, “Nggak, aku gak ingat apa-apa. Aku hanya ingat ketika aku bangun di pagi hari dengan buku itu di pelukanku.”


“Nah itu dia. Kakak merasa bahwa kita menemukan buku itu bersama. Tapi aku tidak ingat apa-apa.” Ucap Manda sembari berpikir keras. Mereka mencoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi pada mereka akhir-akhir ini, dan jika dipikirkan kembali, semuanya memang terasa aneh. Mereka sering tidak ingat beberapa hal yang baru saja terjadi, mereka juga menjadi jauh lebih emosional dari biasanya.


Angel menatap manik mata milik kakaknya, “Kak, bagaimana kalau kita tanyakan pada kak Divya atau Ayah? Mungkin mereka tau sesuatu.” Usul Angel, Manda mengangguk menyetujui usulan adiknya itu.


***

__ADS_1


Angel dan Manda berjalan mengelilingi rumah untuk mencari dua orang penting di rumah ini, Ayahnya dan Divya. Namun, lumayan lama mereka berkeliling, dan tak nampak tanda-tanda bahwa orang yang mereka cari ada disana. “Apa mereka sedang pergi?” Tanya Angel.


Manda hanya mengangkat bahu, tak tau apa-apa. “Kakak?” Panggil seseorang di belakang mereka. Itu suara Anna. Mereka berbalik, dan mendapati sosok Anna tengah menggendong sebuah boneka beruang dengan sebuah pita kecil di kepalanya sebagai penghias. “Kakak mau kemana?” Tanya Anna dengan wajah polosnya yang sudah berangsur menunjukkan keceriaan, seperti itulah sosok Anna dimata Angel.


Sedangkan di sisi Manda, Anna terlihat seperti sosok lain, dengan kulit pucat dan rambut hitam panjang serta tangannya yang menggendong sebuah boneka beruang dengan topi kecil dikepalanya dan pita kecil di lehernya. Melihat sosok itu tengah menatapnya dengan tatapan kosong, membuatnya teringat tentang sesuatu. “Argh!!” Seketika kepalanya terasa sangat sakit, seperti dihantam oleh palu raksasa.


Kakinya lemas, tak mampu menopang tubuhnya. Tubuhnya terhuyung, kemudian ambruk dan Manda pun kehilangan kesadarannya. “Kakak!!”


***


Tok tok tok


“Maaf sudah mengganggu anda, Tuan.” Ucap Divya lirih. “Tapi, ada hal yang harus saya bicarakan dengan anda.” Lanjut nya. Rendra mengangguk pelan, “Masuklah.” Ia membukakan pintu, lalu mempersilahkan Divya untuk duduk.


Setelah Divya, Rendra ikut mengambil tempat duduk dihadapan Divya. “Ada apa?” Ucapnya yang kemudian menyesap teh dari cangkir miliknya. “Nyonya Lila telah tiada, sedangkan anda belum memiliki seorang putra sebagai penerus.” Divya memberi jeda pada kalimatnya. “Saya rasa, anda harus menikah lagi.” Lanjutnya dengan seberkas rasa tidak enak dihatinya.


Wajah Rendra terlihat murung, ia belum memikirkan hal-hal seperti menikah lagi. “Tuan, sa–” Sebelum Divya sempat menyelesaikannya kalimatnya, Rendra menyela dengan cepat. “Tidak, tidak apa-apa. Aku mengerti kekhawatiranmu. Aku.. hanya belum memikirkan hal seperti itu.”


Rendra menghela napas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, “Kau pasti tau, bahwa tidak mudah bagiku untuk melupakan Lila dan menerima wanita lain untuk menggantikan posisinya. Kau tau seberapa aku mencintainya. Tapi, sepertinya keluarga ini memang tidak akan pernah mendapat kedamaian.” Lanjutnya dengan suara getir.

__ADS_1


Divya menundukkan kepalanya, ia sangat merasa bersalah karena membicarakan hal sensitif di saat seperti ini. Tapi apa yang ia bisa lakukan? Keadaan memaksanya untuk segera mengambil tindakan, sebelum semuanya terlambat. “Saya minta maaf karena sudah mengungkit hal yang membuat anda terganggu. Tapi, kondisi sudah tidak aman. Anda lihat sendiri seberapa kacau kondisi nona Angel dan nona Manda. Sedangkan nona Anna, mungkin ia masih terlalu kecil diusianya yang sekarang. Tapi, gilirannya pasti ada.” Ucap Divya.


Rendra merenung sejenak, ia memikirkan impian-impiannya dulu sebelum ia menjalani kehidupan pernikahan, dan sebelum kejadian itu terjadi. Tanpa disadari, air matanya jatuh begitu saja tanpa izinnya. “Aku pernah bermimpi, tentang kehidupan rumah tangga yang harmonis dan damai. Dengan menggenggam tangannya, dan memandangi anak-anak yang berlarian penuh canda tawa kebahagiaan. Tapi, sepertinya keluarga Jiverson tidak diizinkan untuk memiliki itu semua.”


Divya ikut merasakan perih dan sakitnya hati dan perasaan Tuannya saat ini. Setiap orang pasti pernah memimpikan kehidupan yang bahagia. Tapi, dengan adanya kesalahan itu, sehingga menyebabkan kutukan mengerikan menghantui keluarga Jiverson disetiap generasinya. Seluruh keluarga Jiverson, terlahir dengan kepribadian yang baik dan hati yang tulus serta otak yang jenius. Hal itu membuat mereka semua terlihat sama persis, keinginan, impian, sifat, keputusan, semua bisa diprediksi bahkan sebelum mereka lahir.


“Divya, apa dalam waktu dekat ini Anna juga akan..” Rendra tidak menyelesaikan ucapannya, ia tidak tega untuk mengucapkan lanjutan dari kalimat itu. Divya mengerti kegelisahan Rendra, “Saya tidak tau pasti, Tuan. Hal itu bisa saja terjadi tanpa memandang usia.” Divya ingin sekali menghibur Tuannya dengan sedikit berbohong, namun hal seperti ini tidak dapat ia rahasiakan.


Rendra menghela napas frustasi, ia dihadapkan pada pilihan yang sulit untuk kesekian kalinya. “Dan.. yang kau katakan mengenai kondisi sekarang sudah tidak aman, apa maksudmu?” Tanya Rendra dengan penuh antisipasi.


Divya mengatur napasnya dan membenarkan posisinya, seolah sedang bersiap untuk menceritakan sesuatu. “Tadi malam saya melihat Eveline. Seorang gadis kecil seusia Anna yang merupakan majikan Ibuku. Dia.. ada disini, di rumah ini.”


*****


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.


Thank you all ~~

__ADS_1


__ADS_2