Bloodline

Bloodline
Chapter 4 : Sophia (2)


__ADS_3

Chapter 4 : Sophia (2)


Mira menjelaskan awal mula Sophia mulai berbicara dan berteman dengan sosok bernama Sasha itu. Sophia begitu kesepian sejak kecil. Dia lahir sebagai anak diluar nikah. Ibunya memiliki kekasih seorang penyihir dari keluarga Xisone. Namun, hubungan sang Ibu ditentang oleh keluarganya dengan alasan adat keluarga yang tidak melarang keturunannya bersama dengan seorang penyihir.


Mereka menjalin hubungan terlarang, hingga lahirlah Sophia kedunia ini. Setelah Sophia lahir, Mira pergi mencari kekasihnya itu untuk meminta pertanggung jawaban, namun hasilnya nihil, ia tidak dapat menemukannya dimanapun. Ia seakan menghilang begitu saja dari muka bumi ini.


Mira bersikeras ingin membesarkan Sophia, ia tidak tega jika harus mengorbankan anaknya karena kesalahannya. Ia ingin Sophia hidup dalam damai. Mira berharap nasib Sophia tidak seperti dirinya.


Namun kenyataannya tidak seperti harapannya. Ia gagal membuat kebahagiaan di dalam keidupan Sophia. Sophia tidak pernah memiliki teman. Ia sudah cukup kesepian karena hal itu, ditambah dengan keluarga Mira yang tidak menerima kehadiran dirinya dalam keluarga mereka.


Kenyataan yang pahit dan rasa sepi yang mengelilingi Sophia membuatnya menjadi anak yang tertutup. Ia lebih sering mengurung diri dikamar dan bermain dengan boneka-bonekanya saja. Hingga saat ia bertemu dengan sosok pantulannya melalui cermin itu, Sophia mulai sering keluar kamar dan berkeliling menikmati pemandangan senja sambil membawa cermin itu.


Awalnya, tidak ada satupun yang aneh dari cermin itu. Mira tidak merasakan apapun di cermin itu, sehingga dapat dipastikan bahwa semuanya hanya khayalan Sophia yang terlalu kesepian. Tapi, setelah beberapa bulan, Sophia mulai memberikan nama kepada sosok pantulan itu. Sophia menggunakan nama Sasha untuk memanggil teman khayalan nya itu.


Yah.. semuanya hanya imajinasi semata, hingga suatu saat, Mira mendapati Sophia yang sedang berdiri sendirian di balkon kamarnya. Sophia hanya berdiri dengan pandangan kosong menatap lurus kedepan. Mira hendak menghampiri Sophia dan mengajaknya menikmati secangkir teh bersama.


Ketika Mira menyebutkan nama Sophia, Sophia yang awalnya hanya berdiri dalam diam kini melangkah melewati pagar pembatas yang menghalangi agar tidak terjatuh. Sophia berbalik dan menatap Ibunya, lalu tersenyum sambil mengucapkan selamat tinggal.


Beruntung Mira sampai tepat waktu. Ia berhasil menggagalkan rencana Sophia yang hendak bunuh diri dengan melompat dari balkon kamarnya. Saat itu, Sophia sedang dalam suasana hati yang begitu kacau, ia menangis histeris hingga tertidur.


Setelah Sophia bangun, ia tampak lebih tenang dari sebelumnya. Sang Ibu mencoba untuk membujuk Sophia agar ia mau bercerita dan memberitahukan alasan untuk tindakan berbahayanya barusan.


Bujukan demi bujukan telah Mira coba tapi Sophia tetap enggan untuk bercerita. Dan akhirnya Mira menyerah, ia memutuskan untuk menunggu putrinya siap untuk bercerita, baru akan ia dengarkan. Ia tidak tega terus menerus memaksakan sesuatu yang Sophia tidak inginkan.

__ADS_1


Sejujurnya ia merasa sedikit kecewa. Sophia yang enggan menceritakannya, membuat Mira seakan-akan tidak diinginkan ataupun dibutuhkan. Ia merasa gagal menjadi seorang Ibu yang baik bagi Sophia.


Namun, ketika Mira hendak berdiri dari duduknya, Sophia memanggilnya. Dan saat-saat yang Mira tunggu akhirnya datang juga, Sophia akhirnya menceritakan semuanya padanya. Alasan sampai bagaimana ia bisa berpikir untuk melompat dari balkon, semuanya.


Sophia bilang bahwa ia ingin bisa bersama-sama dengan Sasha. Ia ingin bermain seharian dengan satu-satunya teman dalam hidupnya. Namun, Sasha bilang jika Sophia ingin bertemu dengannya, maka Sophia harus melompat dari balkon agar bisa bertemu dengannya.


Dengan umur Sophia yang sekarang, sangat mudah baginya untuk terpengaruh suatu hal dan Mira yakin bahwa Sophia tidak tau konsekuensi dari tindakannya barusan. Jadi, ia berusaha untuk memakluminya. Di usia Sophia yang baru beranjak 7 tahun, ia belum bisa berpikir secara matang dan masih labil.


Namun, ketika Sophia melanjutkan ceritanya, Mira tampak sudah tak bisa menahan amarahnya. Ia memutuskan untuk memusnahkan cermin itu sekarang juga agar tidak membahayakan putrinya atau bahkan orang lain nantinya.


Sophia kembali terisak dan melanjutkan ceritanya. Sophia bilang jika ia menolak untuk melakukannya karena ia masih ingin bersama Ibunya. Tapi, Sasha terus menerus membujuknya agar mau menurut dan melakukan seperti yang dia katakan. Sophia tetap keras kepala, ia masih belum ingin meninggalkan Ibu yang paling dia sayang.


Karena kesal, Sasha merasukinya dan mengambil alih tubuh Sophia. Ia mengarahkan Sophia berjalan menuju balkon lalu berhenti sejenak disana untuk kembali membujuk Sophia agar ia mau melakukannya dalam keadaan sadar.


Tapi, rencana nya gagal ketika Mira berhasil menangkap tubuh Sophia dan membawanya kembali ke kamar. Ia langsung keluar dari tubuh Sophia sebelum Mira sadar jika ada sosok lain di dalam tubuh Sophia.


Sophia kembali sadar dan menangis histeris. Sophia tak percaya jika Sasha akan berbuat senekat itu demi membawa Sophia bersama dengannya. Ia terus menangis hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.


Setelah Sophia bangun, Mira terus memintanya untuk menceritakan semuanya padanya. Namun, saat itu Sophia masih ragu untuk bercerita. Ia takut jika Ibunya akan sangat marah dan mengambil Sasha darinya.


Dan perkiraannya benar, Mira membanting cermin itu hingga hamcur lebur, tak berbentuk lagi. Ia segera membersihkan pecahan cermin itu dan membuangnya. Melihat Sophia yang masih menangis dengan raut wajah takut serta tubuh yang geemetar, Mira merubahkan ekspresinya menjadi selembut mungkin, menutupi kemarahannya sebisanya.


Ia menjelaskan pada Sophia bahwa Sasha bukanlah orang baik. Ia berusaha untuk mencelakakan Sophia dan Sophia tidak boleh lagi berteman atau bahkan bertemu dengan Sasha. Sophia menghentikan tangisannya kemudian mengangguk pelan.

__ADS_1


Setelahnya, Mira dapat bernapas lega karena Sophia mau menurut padanya. Mira bergegas mengambilkan air untuk Sophia yang belum minum apa-apa sejak ia bangun.


***


“Maaf, nyonya. Segala cara sudah kami coba, tapi kondisi nona terus memburuk.”


Perkataan itu terus terngiang-ngiang di kepala Mira. Bagaimana tidak? Semenjak insiden yang hampir membahayakan nyawa Sophia itu, ditambah dengan hancurnya cermin yang menjadi penghubung antara Sophia dan Sasha, membuat kondisi kesehatan Sophia semakin memburuk setiap harinya. Ia bahkan tak sadarkan diri sekarang.


Saat ini, Mira sedang berpikir keras mengenai kesembuhan Sophia. Ia berdiri di depan sebuah cermin besar yang menampilkan pantulan dirinya sepenuhnya. “Sophia.. aku harus bagaimana?” Gumam nya sambil mengacak rambutnya frustasi.


Ia memutuskan untuk kembali melihat putrinya yang saat ini hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang kamarnya. Ketika ia melangkah menjauh dari cermin itu, langkahnya terhenti ketika ia menyadari bahwa pantulan dirinya di cermin itu tidak mengikuti gerakannya.


Ia berbalik dan kembali melangkah ke hadapan cermin itu. Disana, ia melihat pantulan dirinya yang sedang tersenyum licik, berbanding terbalik dengan ekspresinya sekarang. “Sudah lama ya, Mira?” Ucap pantulan itu, sangat persis seperti dirinya. Dengan gestur dan suara yang sama persis seperti dirinya.


“K-kau..?” Mira merasa kebingungan saat ini. Ia seakan berbicara dengan dirinya sendiri. Pantulan itu tertawa cekikikan melihat hal itu.


“Kau tidak mengenalku? Ayolah, ini baru beberapa bulan saja. Dan kau sudah lupa padaku?” Ucap pantulan itu sambil terkekeh pelan. “Kau.. Sasha?”


*************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.

__ADS_1


Thank you all ~~


__ADS_2