
Chapter 12 – That doll : Eveline (3)
“Jadi, kau yang bernama Adyani?” Tanya Amita dengan kesedihan dan kekecewaan yang terpancar dari sorot matanya. Adya menundukkan kepala, seolah merasa bersalah akan sesuatu. “I-iya, nyonya. A-aku yang salah, aku yang tidak mengerjakan pekerjaanku dengan benar. Kumohon jangan salahkan tuan Rawindra, nyonya.”
Amita berjalan mendekati Adya, tangannya terulur menyentuh perut rata Adya. “Yah.. aku tidak menyalahkan siapapun. Aku menerimamu, anak ini bagian dari keluarga Jiverson. Kurasa kita bisa rukun satu sama lain.” Ucap Amita dengan ekspresi datar tak terbaca dan tatapan kosong yang terus menatap ke arah perut Adya.
“Anak?” Sahut Arsya yang baru saja keluar dari kamarnya, ia baru saja pulang dan langsung dihadapkan dengan situasi yang tidak ia mengerti. “Adya, kau hamil?” Tanya Arsya dengan tatapan menyelidik yang ditujukan terang-terangan kepada Adya. Adya hanya mengangguk pelan, membenarkan perkataan Arsya. “Itu.. setahuku kau belum menikah.” Ucap Arsya dengan tatapan tajam yang menusuk.
“Ini.. anak tuan Rawindra.” Jawabnya membuat Arsya tertegun. “Ayah?” Arsya melangkahkan kakinya, berjalan cepat menuruni anak tangga dan menghampiri Amita dan Adya. “Ini anak Ayah?” Dia mengucapkan kalimatnya dengan penuh penekanan. Adya mengangguk dengan tubuh yang mulai gemetar, Arsya sama menyeramkannya seperti Ayahnya ketika sedang dikuasai amarah.
Amita merasa kakinya lemas, tak bertenaga, membuatnya terhuyung. Dengan sigap, Arsya menahan tubuh Amita lalu memapahnya menuju sofa. Evie berlari menghampiri sang Ibu, “Ibu kenapa?” Tanya nya dengan raut wajah yang menggambarkan kekhawatirannya. Amita menggeleng pelan, “Ibu tidak apa-apa, sayang. Hanya sedikit tidak enak badan.” Jawab Amita sembari memaksakan senyum.
Tap tap
Terdengar suara langkah kaki dari arah tangga, menyita perhatian semua orang disana. Terlihat seorang pria mengenakan setelan jas abu-abu dengan kondisi berantakan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. “Arsya, bawa Evie ke kamar.” Perintah Amita tegas, seolah tak menerima bantahan. Arsya hanya bisa mengangguk lalu mengajak Evie untuk bermain di kamarnya.
“Kakak, Ibu dan Ayah kenapa?” Tanya Evie penuh tanda tanya. Arsya menarik Evie begitu saja, hingga tanpa sadar Evie meninggalkan buku nya disofa. “Tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita main dikamarmu?” Bujuk Arysa membuat Evie mengangguk senang. Hal yang diimpikan Evie sekian lama akhirnya bisa terwujud sekarang, walaupun ia hanya berdua dengan kakak pertamanya saja.
Evie menarik Arsya menuju kamarnya, ia menunjukkan kamarnya dengan antusias. Kamar dengan dinding yang dicat menggunakan warna krem dan putih membuat Arsya tersenyum, “Wow, ini kamarmu? Indah sekali.” Ucap Arysa yang masih memperhatikan sekeliling. Evie tersenyum lebar, memamerkan gigi putih nan rapi miliknya. “Hihi, terima kasih kakak.” Ucapnya dengan wajah merona.
Evie menarik Arsya untuk ikut duduk bersamanya ditepi ranjang, “Kakak tau tidak? A-” Kalimat Evie terhenti ketika Arsya menyelanya, “Tidak tau tuh.” Sela Arsya dengan santainya. Evie terlihat sangat kesal, “Makanya dengarkan aku dulu.” Ucap Evie sembari mengguncangkan lengan Arsya dengan wajah cemberut.
“Haha.. iya iya, kakak dengarkan.” Ucap Arsya gemas, ia mengusap pucuk kepala Evie pelan. Ketika Evie hendak membuka mulutnya, ia terlonjak kaget karena mendengar suara teriakan dari arah luar kamarnya. “CUKUP!! AKU TIDAK INGIN MEMBAHAS INI LAGI!” Sontak Arsya memeluk Evie erat, menenggelamkannya dalam pelukannya agar dapat meredam teriakan itu sehingga Evie tak perlu mendengarnya.
Evie mendongakkan kepalanya, menatap Arsya dalam. “Itu.. Ibu? Kak se-” Lagi-lagi kalimat Evie terpotong karena Arsya kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidangnya. “Sstt, diamlah. Apa Evie tau? Kakak sangat sayang pada Evie. Selama kakak pergi, kakak selalu merindukanmu.” Ucap Arsya tulus sembari mengecup pucuk kepala Evie, hingga membuat Evie terharu dan ingin menangis.
__ADS_1
Sedangkan suasana di lantai bawah begitu berkebalikan dengan suasana kamar Evie saat ini. “CUKUP!! AKU TIDAK INGIN MEMBAHAS INI LAGI!” Seru Amita, ia benar-benar sudah lelah mendengar berbagai macam alasan baik dari suaminya maupun Adya.
“Sayang, kumohon dengarkan penjelasanku.” Ucap Rawindra memohon dihadapan istrinya. Amita menggeleng, “Sudah, cukup. Intinya, aku merestui kalian. Aku tidak perlu penjelasan lainnya lagi. Silahkan minta restu pada anak-anak. Aku permisi.” Ucap Amita lalu pergi meninggalkan Rawindra dan Adya sendirian.
Rawindra mengacak rambutnya frustasi, ia membanting tubuhnya di sofa. “Adya, aku minta maaf karena telah melibatkanmu dalam hal ini.” Ucapnya sembari memijit pangkal hidungnay untuk mengurangi sakit dikepalanya. “Tidak apa, tuan. Ini juga karena kesalahan saya.” Adya menundukkan kepalanya, seolah menunjukkan penyesalan yang mendalam. “Karena saya, rumah tangga tuan jadi berantakan.” Sambungnya.
Rawindra menghela napas kasar, “Sudahlah, semua telah terjadi.” Ucapnya lalu menghela napas dalam-dalam untuk meredakan perasaannya yang campur aduk. “Vanya, sambungkan telepon pada Rafandra.” Lanjutnya. Vanya mengangguk lalu berjalan menuju telepon.
“Hallo?” Terdengar suara seorang perempuan disebrang sana.
“Hallo, ini kediaman Jiverson. Bisa bicara dengan tuan muda Rafandra?”
“Oh, tunggu sebentar.” Lalu terdengar suara perempuan itu memanggil nama Rafandra. “Ya? Saya Rafandra Arkatama Jiverson, ada perlu apa?”
Ketika mendengar nama itu, Vanya langsung memberikan teleponnya pada Rawindra. “Rafa, ini Ayah.”
“Iya, Ayah sudah pulang. Rafa, ada sesuatu yang ingin Ayah bicarakan denganmu. Ayah tau, kau akan merasa kecewa ketika mendengar hal ini..”
***
Sudah cukup lama Arsya bertahan dalam posisi memeluk Evie erat, kini tak terdengar lagi suara dari luar kamar Evie. Arsya menghela napas lega, setidaknya karena ia bisa melanjutkan obrolannya dengan adik perempuannya yang sangat ia rindukan itu. Namun, ketika Arsya melonggarkan pelukannya, terlihat bahwa Evie telah tertidur dalam pelukannya.
Arsya tersenyum kecil melihat Evie yang begitu menggemaskan ketika sedang tidur. Ia beranjak dari duduknya, kemudian menggendong Evie lalu membaringkannya di tempat tidur. Arsya ikut membaringkan tubuhnya disebelah Evie, sebelah tangannya tergerak untuk mengusap pelan kepala Evie, menjaganya agar Evie tetap terlelap dalam tidurnya, sedangkan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menopang kepalanya.
Waktu berlalu begitu saja, kini Arsya ikut merasakan kantuk karena ia tidak ada kegiatan lain selain memperhatikan Evie dalam diam. Akhirnya ia memilih untuk ikut terlelap bersama Evie sekaligus menghilangkan penatnya sehabis bekerja berhari-hari lamanya diluar kota.
__ADS_1
Tok tok
Suara ketukan pintu mengembalikan kesadaran Arsya, kantuknya hilang begitu saja ketika membayangkan siapa yang mengetuk pintu itu. Dengan langkah berat, ia beranjak dari tempat tidur lalu membukakan pintu. Terlihat Ayahnya sedang berdiri didepan pintu dengan rasa bersalah serta Adya dibelakangnya.
Arsya mempersilahkan mereka berdua untuk masuk, namun sebelum itu ia memberi isyarat pada mereka agar tidak membuat keributan karena Evie sedang tidur.
“Arsya.. Ayah tau kau pasti merasa kecewa padaku. Ayah bisa mengerti itu.” Ucap Rawindra dengan penuh penyesalan. Sedangkan Arsya, ia kembali melanjutkan kegiatannya mengamati Evie dalam diam sembari mengusap pelan kepalanya. “Ayah tau, ini kesalahan Ayah. Kau bisa menyalahkan Ayah sesuak hatimu. Namun–”
“Ayah.” Arsya mengalihkan pandangannya pada Ayahnya. “Aku bisa menerima semuanya. Bagaimanapun, anak itu tetap adikku.” Arsya beranjak dari tempat tidur, ia mendekat ke arah Adya sembari melempar tatapan tajam sekaligus mencela padanya. “Aku akan ikuti keputusan Ibu.” Lanjutnya sembari menatap dalam Ayahnya.
“Eungh..” Terlihat pergerakan dari arah tempat tidur, menyita kembali perhatian Arsya. Ia menghela napas lega ketika melihat Evie hanya mengubah posisinya serta memeluk guling, lalu kembali terlelap dalam tidurnya.
Arsya kembali menatap Ayahnya, “Aku yakin Evie akan merasa senang ketika ia tau bahwa ia akan punya adik.” Sambung Arsya lalu menatap Adya dengan tatapan tidak suka. “Hm, terima kasih. Ayah akan berusaha untuk lebih memperhatikan kalian dan mengurangi waktu Ayah bekerja.” Ucap Rawindra dengan senyum haru, Arsya hanya menanggapinya dengan anggukkan tipis.
“Ini sudah menjelang malam, waktu tidur Evie tidak boleh terganggu.” Ucap Arsya penuh makna. Rawindra bisa mengerti itu, Arsya ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu dan ucapannya ada benarnya juga, waktu tidur Evie tak boleh terganggu karena mereka.
Setelah Rawindra dan Adya pamit, Arsya kembali membaringkan tubuhnya disebelah Evie. Ia memejamkan matanya sembari menghela napas dalam-dalam, mencoba mengontrol emosinya. Ia kembali menatap Evie, seberkas rasa bersalah muncul dihatinya ketika melihat wajah mungil nan polo situ.
Argh, apa yang harus aku lakukan?
*****
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~