
Chapter 10 - That doll : Eveline (1)
“Evie! Makan malam sudah siap.” Seorang wanita paruh baya menghampiri putri bungsunya yang tengah asyik bermain dengan boneka-boneka kesayangannya. Perhatian anak kecil berusia lima tahun itu teralihkan ketika melihat Ibunya membuka pintu kamarnya.
“Ayo bereskan bonekamu. Sini, Ibu bantu.” Ucap sang Ibu membuat Evie mengangguk semangat. Setelah selesai membereskan mainan-mainan Evie, mereka menuruni anak tangga lalu berjalan menuju meja makan.
Mereka makan malam berdua saja karena Ayah dan kedua kakak laki-lakinya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. “Ibu, Ayah dan kakak masih sibuk ya?” Tanya Evie, terselip rasa kecewa dan sedih dalam kata-katanya. Sang Ibu mengagguk, ia ikut sedih ketika putrinya merasa sedih.
Evie sangat merindukan momen dimana dirinya bisa bermain atau makan malam bersama dengan keluarganya. Ia sangat merindukan ketiga lelaki paling hebat dalam hidupnya. “Ibu sayang Evie kan?” Tanya Evie dengan polosnya. Sang Ibu –Amita memeluk putri tercintanya, “Tentu saja, Ibu sangat menyayangimu.”
Evie mendongak, menatap manik indah milik Ibunya. “Kalau begitu, apa Ibu mau berjanji.. untuk selalu menyayangiku?” Tanya Evie, membuat Amita tersenyum. “Tentu sayang, Ibu selalu menyayangimu.” Ucap nya lalu mencium kening Evie.
“Janji?” Evie mengacungkan jari kelingkingnya. Amita menautkan kelingkingnya pada kelingking Evie. “Iya, janji.” Ucapnya dengan senyuman. Kebahagiaan terpancar dari sorot mata Evie, membuatnya menampilkan senyum manisnya. “Sudah, habiskan dulu makanannya.” Ucap Amita sembari mengusap pucuk kepala Evie. Evie membalasnya dengan anggukkan, lalu kembali melahap makan malamnya.
***
Setelah menghabiskan makan malamnya, Evie kembali ke kamarnya dan melanjutkan sesi minum teh nya bersama dengan para boneka kesayangannya. Evie merasa senang bermain dengan boneka-boneka itu, walaupun ia tu bahwa mereka tidak hidup, setidaknya Evie punya teman untuk bermain.
Jam menunjukkan pukul delapan malam, ini waktunya bagi Evie untuk menyambut mimpi indahnya. Sebelum tidur, seperti biasa, ia akan membereskan mainannya terlebih dahulu. Meletakkan kembali setiap boneka pada tempatnya, kecuali satu boneka yang selalu menemani Evie tidur.
Kini ia telah selesai membereskan kamarnya, sekarang waktunya untuk tidur. Evie membaringkan diri diatas tempat tidurnya, tak lupa ia membaringkan sebuah boneka beruang dengan topi dan pita kecil sebagai penghias itu tepat di sebelah nya.
“Emelly, menurutmu.. apa besok Ayah dan Kakak akan pulang?” Tanya Evie pada boneka itu. Hening, tak ada jawaban, dan itu hal yang sudah pasti karena itu hanya sebuah boneka. “Yah.. aku berharap besok aku bisa bermain dengan mereka.” Evie menghela napas, ia menatap langit-langit kamarnya. “Kau tau, aku sangat merindukan mereka. Apa mereka juga merindukanku?” Ucap Evie kemudian.
__ADS_1
Telah menjadi kebiasaan bagi Evie, sebelum ia tidur, ia akan menceritakan hari-harinya juga perasaan nya pada boneka yang paling ia sayang, Emelly. Evie sangat sayang padanya karena Emelly merupakan teman pertama bagi Evie. Terlebih, Emelly merupakan hadiah yang Evie dapatkan dari Ayah nya ketika ia berulang tahun yang ke-4 tahun.
“Evie sangat sayang Emelly. Jangan tinggalkan aku ya.” Ucapnya dengan nada riang sebelum akhirnya ia masuk ke alam mimpi.
***
“Eungh..” Evie terbangun dipagi hari karena merasa ada seseorang yang membuka tirai jendela kamarnya, membuat cahaya matahari membanjiri seluruh penjuru kamarnya. Ketika ia membuka mata, yang pertama kali ia lihat adalah wajah seorang perempuan cantik berseragam maid tengah tersenyum padanya.
“Selamat pagi, nona.” Ucap perempuan itu masih dengan senyumnya. Evie bangun dengan cepat, “Kak Vanya!” Seru Evie, ia segera turun dari tempat tidurnya dan memeluk perempuan bernama Vanya itu.
“Kapan kakak pulang? Bukankah kakak bilang kalau kakak akan pulang bulan depan?” Tanya Evie dengan wajah cerianya. “Ini kejutan. Sebentar lagi hari ulang tahun anda, nona.” Jawab Vanya membuat senyum lebar terlukis di wajah Evie. “Jadi, kak Vanya pulang untuk merayakan ulang tahun ku?” Tanya Evie yang kemudian mendapat anggukkan dari Vanya.
“Berarti kak Vanya sayang Evie kan?” Evie tampak antusias ketika bertanya, seolah ia telah yakin bahwa ia menebak jawaban Vanya dengan benar. Vanya mengangguk, membuat Evie melompat kegirangan. “Ohya, ada kejutan lainnya untuk nona dibawah. Sekarang kita mandi dulu, ya?” Bujuk Vanya. Evie mengangguk –mengiyakan, lalu berlari kecil menuju kamar mandi.
***
Ketika ia sampai di meja makan, ia melongo tak percaya dengan apa yang ia lihat. “Kak Arsya?!” Seru Evie, membuat lelaki muda nan tampan dengan balutan setelan jas hitam itu menoleh. “Oh, hallo adikku sayang. Adakah rindu untuk kakak?” Ucapnya dengan senyum menawannya yang mampu membius para wanita yang melihatnya.
Evie berhambur kedalam pelukan Arsya –kakak pertamanya. “Kakak tau? Evie punya banyak rindu untuk kakak.” Ucap Evie dengan wajah sebal. “Ohya? Kakak tidak tau tuh.” Evie hanya menghela napas sebal mendengar jawaban Arsya, lalu melepaskan diri dari pelukannya.
Evie kemudian mengambil tempat duduknya, dan melahap sarapan paginya. Arsya yang merasa gemas dengan tingkah adiknya itu, mencubit gemas pipi Evie. Evie menepis tangan Arsya, “Ih, sakit tau.” Ucapnya sembari mengusap pipinya.
“Hari ini kerja, Ar? Kamu kan baru pulang, istirahat saja dulu.” Ucap Amita khawatir, pasalnya Arsya baru saja pulang semalam, dan pagi ini ia telah siap dengan setelan jas formal yang biasa ia pakai untuk bekerja. “Hanya sebentar, Bu. Tidak akan lama, setengah hari saja.” Jawab Arsya dengan senyum terpaksa. Sejujurnya, Arsya sangat lelah karena perjalanan pulang tadi malam, namun pekerjaannya akan semakin menumpuk jika ia mengambil libur hari ini.
__ADS_1
“Kalau kau bekerja terus menerus seperti ini, kapan Ibu akan dapat menantu?” Ucapan Amita bagai petir di siang hari bagi Arsya, membuatnya mematung seketika. Arsya tau pertanyaan itu akan datang padanya cepat atau lambat, namun ia tidak menyangka akan secepat ini. Arsya tidak tau harus menjawab apa, ia belum menyiapkan jawaban sama sekali.
“Ee..” Arsya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “A-aku tidak ingin tergesa-gesa, Bu. Pernikahan itu hal sakral yang memerlukan banyak pertimbangan.” Jawabnya seraya kembali melahap sarapannya. Amita menghela napas frustasi, “Setidaknya cari dulu calonnya. Jika kau terus bekerja, kapan kau punya waktu untuk berkencan?”
Kriing.. kriing..
Suara telepon berdering menghentikan kegiatan sarapan mereka untuk sejenak. Vanya berjalan cepat menuju telepon, “Kediaman Jiverson. Siapa dan ada perlu apa?” Suara Vanya terdengar menyahuti seseorang diseberang sana. Lalu Vanya berjalan cepat memberikan telepon itu pada Amita, “Tuan muda Rafandra, nyonya.” Ucap Vanya, membuat Amita menerima telepon itu dengan antusias.
“Hallo, Ibuku tersayang. Bagaimana kabarmu dan adik kecilku?”
“Kabar baik. Kakakmu sudah pulang, kapan kau akan pulang? Apa kau masih ingat dengan rumahmu ini?”
Rafa menghela napas sejenak sebelum menjawab, “Sebentar lagi Ibu, beberapa hari lagi aku akan pulang. Masih ada beberapa hal yang perlu aku urus disini. Dan aku punya kabar baik untukmu, Ibu.”
“Kabar baik? Apa itu?”
“Aku akan membawakan calon menantu untukmu.”
*****
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~