
Chapter 11 – That doll : Eveline (2)
Amita tersenyum bahagia, aura kebahagiaan terpancar jelas diwajahnya. “Benarkah? Wanita sungguhan kan?”
“Tentu, Ibu. 100% asli.”
“Baiklah, cepat pulang ya. Ibu akan beritahu Ayahmu. Baik-baik disana.”
Sesi telepon pun berakhir bersamaan pula dengan habisnya sarapan Evie, “Ibu, Evie mau ajak Emelly jalan-jalan ditaman, boleh ya?” Tanya Evie dengan muka memelas. Sesekali ia ingin berkeliling diluar rumah, ia sudah bosan terus menerus bermain di kamarnya.
Karena suasana hatinya sedang bagus, Amita mengizinkan Evie untuk bermain di taman belakang rumah. Evie melompat kegirangan, ia beranjak dari kursinya dan melangkahkan kaki menuju taman, tak lupa dengan membawa Emelly ditangannya.
Amita mengalihkan perhatiannya pada putranya, “Adikmu saja sudah punya pacar, kau kapan?”
***
Evie menyusuri taman dengan hati gembira, sesekali ia bersenandung seirama dengan langkah kakinya. Setelah cukup lama berpikir, pada akhirnya Evie memilih untuk duduk di sebuah ayunan yang dihiasi sulur-sulur tanaman yang indah.
Evie duduk disana dan meletakkan Emelly dipangkuannya. Matanya terpejam menikmati tiupan angin yang menerpa wajahnya, membuat rambutnya yang tersisir rapi menjadi sedikit berantakan. Seulas senyum terukir diwajah mungilnya, “Sangat sejuk ya, Emelly?” Ucapnya sembari menundukkan pandangan, menatap ke arah boneka beruang dipangkuannya.
Ia kembali memejamkan mata, menikmati angin sejuk ditaman. Matanya terbuka kembali disertai dengan keterkejutan yang terpancar jelas diwajahnya ketika ia mendengar sebuah suara asing memanggil namanya. “Siapa?” Tanya Evie mencari-cari sumber suara itu.
“Evie.. kemarilah.” Suara itu kembali terdengar. Evie terlalu takut dan seluruh perhatiannya terarah pada suara itu, hingga ia tidak menyadari bahwa Emelly telah hilang dari pangkuannya. Evie turun dari ayunan, berjalan menyusuri taman untuk mencari sumber suara itu.
__ADS_1
Ia terus mengikuti suara itu, semakin dekat, semakin terdengar jelas. Hingga kini ia telah sampai sebuah lorong yang terlihat cukup panjang. Lorong itu mempunyai dinding yang berlapis banyak sulur tanaman serta beberapa bunga dengan warna indah yang tumbuh subur disana.
Evie mengingat-ingat kembali saat ia menyusuri taman sebelum ia berhenti diayunan. Ia ingat dengan jelas bahwa lorong ini tidak ada sebelumnya. Tapi, kenapa sekarang ada? Atau Evie yang tidak menyadari keberadaan lorong ini sebelumnya?
“Evie..” Suara itu kembali memanggil, namun Evie tak menyadarinya karena terlalu terpesona oleh keindahan sekeliling lorong itu. Ketika sesuatu menyentuh tangannya, barulah Evie keluar dari lamunannya. Evie menatap ke tangannya, sesuatu menyentuh tangannya, terasa lembut dan berbulu.
“Emelly?” Evie kaget ketika melihat boneka kesayangannya bisa berdiri bahkan bergerak dengan sendirinya. “Kau hidup?” Tanya Evie memastikan. Boneka itu hanya menatap mata Evie tanpa berbicara sepatah katapun. Rasa takut mulai menjalari seluruh tubuh Evie, kaki mungilnya mulai gemetar. “Emelly?” Evie merasa tidak nyaman ditatap seperti itu oleh benda mati yang tiba-tiba saja hidup seperti Emelly.
Lalu, Emelly berlari meninggalkan Evie, ia masuk ke dalam lorong itu. “Emelly, tunggu!” Evie mengejar Emelly dan ikut masuk ke dalam lorong itu. Emelly terus berlari sedangkan Evie terus mengejar dibelakangnya, hingga mereka sampai disebuah pintu kayu besar dengan ukiran yang indah.
Emelly membuka pintu itu, kemudian mempersilahkan Evie untuk masuk ke dalam. Evie melangkahkan kakinya memasuki ruangan dibalik pintu besar itu. Terdapat sebuah rak buku yang terisi sebagiannya oleh buku-buku yang berdebu.
Rasa penasaran mulai menggantikan rasa takut yang menguasi tubuhnya. Membaca adalah kegiatan yang sangat disukai Evie selain bermain dengan boneka-bonekanya. Tangan Evie tergerak untuk mengambil sebuah buku yang bisa ia jangkau dengan tubuhnya yang pendek. Ia mengambil sebuah buku dengan figur seorang perempuan tengah duduk didepan sebuah kaca besar dengan pantulan yang tersenyum sembari menghadap ke arahnya dibagian depan buku itu.
Akhirnya Evie memilih untuk menikmati buku yang bisa ia jangkau saja. Evie mengambil tempat duduk di sebuah sofa yang tersedia disana. Emelly menghampiri Evie dan mengambil tempat duduk tepat disebelah Evie. “Mau aku bacakan?” Tanya Evie dengan wajah polosnya, yang kemudian mendapat anggukkan dari Emelly.
***
Evie merasa sedikit bosan karena ia tidak bisa melihat pemandangan luar dari ruangan itu. Evie memilih untuk melanjutkan membaca buku itu sambil duduk di ayunan taman ditemani dengan angin yang begitu menyejukkan.
Evie beranjak dari sofa dengan tangan kanan nya yang memeluk erat buku itu dan tangan kiri nya yang menggandeng tangan Emelly. Evie keluar ruangan itu, ia menatap lurus ke arah jalan keluar nya dari lorong itu. Evie mengernyitkan dahi ketika menyadari bahwa lorong itu tak sepanjang ketika ia masuk kesini. Ada apa ini?
Evie tak terlalu memperdulikan hal itu, karena hal itu juga menguntungkannya, ia jadi tidak perlu berjalan jauh untuk sekedar keluar dari lorong kemudian menuju ayunan nya. Sepanjang perjalanan, Evie terus memeluk erat buku itu serta menggandeng tangan Emelly dengan sedikit kekuatan, seakan tak ingin berpisah. Ia juga sempat memperhatikan keadaan disekeliling lorong.
__ADS_1
Ketika ia telah sampai di ayunan, Evie menggendong Emelly dan mendudukkan nya pada ayunan yang berada tepat disebelah ayunan miliknya. Setelah mengatur tempat duduknya, Evie kembali membuka buku itu kemudian mulai membacanya lagi.
“Permisi..” Sebuah suara lembut terdengar, membuat Evie menghentikan bacaannya, menutup bukunya, kemudian mendongakkan kepala untuk melihat pemilik suara itu. Yang Evie lihat saat ini, dihadapannya berdiri sosok wanita cantik dengan rambut pirang yang diurai tengah menunjukkan senyuman manis padanya.
Evie membalas senyuman itu dengan senyuman yang tak kalah manisnya. “Namamu Eveline kan? Perkenalkan, aku Adyani Opalina.” Ucapnya sembari berjongkok –menyamakan tingginya dengan Evie dan mengulurkan tangannya. “Hallo kak Adya, aku Eveline Anuradha Jiverson.” Sahut Evie menyambut uluran tangan Adya.
“Nama yang indah. Boleh kakak jadi temanmu?” Tanya Adya maish dengan mempertahankan senyum manisnya. “Boleh.” Jawab Evie dengan antusias. “Kenapa kakak bisa kesini?” Sambung Evie dengan tanda tanya. “Aku asisten Ayahmu.” Jawab Adya dengan tatapan penuh arti. Namun sepertinya hal itu tidak mengusik Evie dengan usianya yang masih begitu kecil, ia hanya dapat menemukan hal sederhana dibalik ucapan Adya. “Asisten Ayah? Itu artinya Ayah ada disini?”
Setelah mendapat anggukkan dari Adya, Evie segera membawa Emelly beserta buku yang ia baca kemudian berlari masuk ke dalam rumah.
Sesampainya ia di dalam, Evie tidak melihat siapapun didalam rumahnya. Masih terasa sama, sepi dan kosong. “Ayah ada dimana?” Tanya Evie pada Adya yang sedari tadi mengekori Evie. Adya hanya mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan ketidaktahuannya.
Evie mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumahnya, matanya terpaku pada sosok Ibunya yang berjalan menuruni anak tangga dengan mata sembab dan sisa air mata disudut matanya. Evie berjalan cepat menghampiri sang Ibu, “Ibu kenapa?” Tanya nya dengan kekhawatiran yang tergambar jelas diwajahnya.
Amita memaksakan diri untuk tersenyum didepan Evie, ia tidak ingin putri kecilnya ikut bersedih. Namun, perhatiannya teralih pada seseorang dibelakang Evie. “Jadi, kau yang bernama Adyani?”
*****
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1