Bloodline

Bloodline
Chapter 1 : Ibu


__ADS_3

Chapter 1 : Ibu


“Bye, Angel. Sampai jumpa besok.”


“Bye, Mia.”


Angel telah selesai mengemasi barang-barangnya. Sekolah telah usai, kini saat nya untuk pulang. Ia merogoh saku seragamnya dan mengambil ponselnya, ia hendak menelepon supirnya untuk menjemputnya.


Raut kecewa dan gelisah terlukis dengan jelas diwajahnya ketika melihat bahwa ponselnya mati dan tidak dapat dinyalakan. “Bagaimana ini? Sepertinya habis baterai. Apa aku charge sebentar? Tapi aku gak bawa charger nya. Haduuh..”


Seseorang melihat Angel yang sedang gelisah sambil merutuki dirinya yang begitu ceroboh sehingga lupa untuk mengisi baterai ponselnya. Ia adalah Arka, teman sekelas Angel. Arka mendekati Angel, menawarkan tumpangan.


“Angel, belum pulang?” Tanyanya hendak berbasa-basi.


Angel terlonjak kaget ketika Arka menyentuh pundaknya. “Ah, i-iya. Ponselku mati. Aku gak bisa menelepon supirku.” Jawab Angel.


“Pulang denganku saja, bagaimana?”


“Mm.. Nggak deh. Makasih..” Jawab Angel lalu segera pergi dari sana, meniggalkan Arka sendirian.


Angel berharap agar supirnya sudah menunggu digerbang depan. Selama perjalanan menuju gerbang, Angel terus merasa gelisah dan khawatir. Entah kenapa ia memiliki firasat buruk. “Ah, ini pasti gara-gara Arka yang tiba-tiba nawarin buat pulang bareng. Lebih baik aku menunggu jemputan ku daripada pulang dengannya dan harus diceramahi Ayah dan Ibu seharian.” Gumamnya.


Ketika sampai di gerbang depan, Angel bersorak gembira karena mendapati mobil yang menjemputnya telah menunggu disana. Dengan langkah lebar, ia berjalan kesana dan segera masuk ke dalam mobil.


“Bapak udah nunggu lama, ya?”


“Nggak kok, non.” Jawab Pak supir di bangku depan lalu tanpa basa-basi segera melajukan mobilnya menuju rumah. Angel mengernyitkan dahi, merasa aneh dengan sikap pak supir yang tidak seperti biasanya. Perjalanan akan diisi dengan berbagai obrolan tapi tidak dengan saat ini, hanya keheningan yang terbentang diantara mereka.


Angel menggeleng, segera menepis semua pikiran negatif dikepalanya. Mungkin memang tidak ada topik sehingga supirnya memilih untuk diam saja. Dan entah kenapa, sikap diam pak supir berhasil membuat Angel sedikit tertekan sehingga semua topik dikepala Angel hilang begitu saja dan membuat Angel ikut terdiam tanpa satu patah katapun. ‘Kenapa jadi hening gini sih? Gak enak banget..’ Batin Angel.


Sesampainya di rumah, Angel turun dari mobil. Setelah Angel menutup pintu mobil, pak supir melajukan mobilnya begitu saja, pergi meninggalkan pekarangan rumahnya. “Pak supir kenapa sih? Aneh banget.. Apa sedang sakit, ya? Abis jemput aku langsung pergi gitu aja, banyak kerjaan? Kayanya iya sih.. pasti capek banget. Pantesan mukanya pucat.” Gumam Angel pada dirinya sendiri.


Angel menepuk pelan kedua pipinya, menyadarkannya dari lamunannya. Lagi-lagi ia menggeleng untuk menepis segala kekhawatirannya saat ini. Dengan langkah ringan, Angel masuk ke rumahnya. Terlihat beberapa pelayan datang untuk menyambutnya, tapi ia tidak melihat Divya diantara mereka. ‘Mungkin kak Divya sedang sibuk.’ Pikir Angel.


Tampak ada sesuatu yang aneh dengan para pelayan itu. Mereka terlihat pucat dan murung. Mereka juga tidak mengeluarkan suara sama sekali. Mereka hanya membungkuk, menyambut kedatangan Angel dan segera mengambil alih tas, jas dan sepatu sekolah Angel, seperti biasanya. Juga ada beberapa wajah baru yang tidak Angel kenal.


Angel mulai merinding ketika merasakan hawa dingin yang perlahan menembus permukaan kulitnya. Ia mengernyitkan dahi ketika ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru rumah. Rumahnya terasa sedikit berbeda, terasa.. lebih suram dan gelap.


“Ayah? Ibu? Angel pulang.” Seru Angel untuk mencari tau keberadaan kedua orang tuanya. Ia mengharapkan jawaban, namun nihil.. tidak ada yang menjawab. Seketika, jantung Angel berdegup kencang, ini adalah rumahnya, tempat ia tinggal selama 15 tahun ini. Kenapa ia merasa sangat asing dengan rumah ini?


“Ini bukan rumahku.” Gumam Angel tanpa ia sadari. “Angel? Sudah datang?”


Angel menoleh kearah sumber suara dan menemukan sosok Ibunya yang berdiri dengan menggunakan apron ditubuhnya, berjalan keluar dari arah dapur. “Ibu?” Yah itu Ibunya.. tidak mungkin ini bukan rumahnya, begitu pikir Angel. “Ibu akan buatkan makanan kesukaanmu. Ganti pakaianmu dan segera lah makan.”


Angel mengangguk lalu segera menaiki tangga dan menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Tak lupa ia juga men-charge ponselnya. Setelah selesai, ia segera turun ke dapur dan membantu Ibunya membuat makanan.


“Ibu, Ayah mana?”


“Ayahmu sedang ada urusan.”

__ADS_1


“Kalau kak Manda?”


“Dia ikut Ayahmu.”


“Oohh.. hm, Anna?”


“Dia juga."


Angel mengangguk. Ia mencoba untuk tidak berpikir macam-macam, dan berusaha untuk percaya dengan perkataan Ibunya. Sejujurnya, ia merasa ada yang janggal disini. Walaupun Ibunya menjawab pertanyaannya dengan senyuman, tetap saja terasa aneh dan terkesan dingin, seolah tidak ada kehangatan seorang Ibu disetiap kata-katanya.


Setelah selesai membuat makanan, Angel memutuskan untuk kembali ke kamar sebentar dan mengambil ponselnya. Sudah beberapa puluh menit sejak ia men-charge ponselnya, pasti baterainya sudah terisi, paling tidak sedikit.


“Angel, Ibu lihat kalungmu kotor. Sini biar Ibu bersihkan.”


Angel melihat kearah kalungnya yang sedikit mengeluarkan cahaya, mungkin karena pantulan cahaya dari luar. Ia sedikit ragu untuk memberikannya atau tidak. Ayahnya melarangnya untuk melepaskan kalung itu, apapun yang terjadi. Tapi yang memintanya adalah Ibunya sendiri, seharusnya tidak apa-apa bukan?


Angel mengangguk lalu segera melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Ia ingin mengambil ponsel dan meminta izin pada Ayahnya terlebih dahulu. Tapi ia tidak bilang pada Ibunya bahwa ia akan meminta izin sang Ayah untuk kalung itu. Ia hanya bilang jika ia akan mengambil ponselnya terlebih dahulu. Entah keberanian darimana yang ia dapatkan sehingga ia bisa berbohong pada Ibunya sendiri.


Sesampainya dikamar, Angel menyalakan ponselnya dan mendapati banyak pesan serta panggilan tak terjawab dari kakak dan Ayahnya. Ketika ia hendak membuka pesan-pesan itu, ponselnya kembali berdering, Ayahnya meneleponnya. Angel segera mengangkat panggilan itu.


“Ayah? Ada apa?”


“Kau dimana, Angel? Kakak dan Ayah mencarimu kemana-mana.”


“Kak Manda? Kenapa telpon pakai nomor Ayah?”


“Ah.. aku dirumah, kak. Aku tidak pergi kemanapun. Ponselku habis baterai, jadi aku baru mengangkat telepon sekarang.”


“Apa? Ayah baru saja pulang dari rumah dan tidak melihatmu sama sekali.”


“Hah? Aku dirumah kak, aku juga tidak lihat Ayah kesini. Daritadi aku ada didapur bersama Ibu, mungkin Ayah tidak memeriksa kedalam?”


“Tidak, Angel. Ayah memeriksa ke sekeliling rumah, tapi Ayah tidak menemukanmu. Dan tunggu.. kau bilang Ibu?”


“I-iya.. aku bersama dengan Ibu. Kenapa?”


“Angel.. Ibu sudah meninggal. Kami semua sedang menghadiri pemakamannya.”


Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar disiang hari. Kalau Ibunya sudah meninggal, yang bersama Angel siapa?


“K-kakak jangan bercanda deh. Angel t-takut nih.”


“Angel, dengar.. jangan lepaskan kalungmu.”


“A-ayah?”


“*Dengarkan Ayah, jangan pernah lepaskan kalungmu. Jangan biarkan wanita itu menyentuhnya, mengerti?”


Tuut.. tuut*..

__ADS_1


“T-terputus? A-aku harus ba-bagaimana?” Angel merasa tubuhnya lemas dan gemetar karena ia sangat takut. Ia tidak tau harus apa sekarang. Siapa wanita yang mengaku sebagai Ibunya itu? Dimana dirinya saat ini?


“Angel? Kenapa lama sekali? Ada apa?” Angel berbalik dengan cepat, ia melihat sosok wanita yang menyerupai Ibunya, benar-benar mirip seperti Ibunya. Ia kembali teringat pada perkataan kakaknya, bahwa Ibunya sudah mati. Wanita itu bukan Ibunya.


Angel terduduk lemas dilantai kamar dengan tubuh gemetar hebat dan air mata yang mengalir deras. Melihat kondisi Angel yang menyedihkan dan penuh dengan rasa takut, wanita itu menyeringai senang. “Jadi.. berikan kalungmu, sayang. Ibu akan membersihkannya untukmu.”


Angel menggeleng cepat, “Tidak, kau.. kau bukan Ibuku! Aku tidak akan memberikannya padamu!” Angel mengeratkan genggamannya pada kalungnya. Ia takut jika wanita itu mengambil kalungnya secara paksa. Dan tebakkannya benar..


“Ayolah, sayang. Jika kau tetap keras kepala, aku tidak punya cara lain selain mengambilnya secara paksa.” Ucap wanita itu sembari mendekat perlahan kearah Angel. Tubuh Angel semakin gemetar, ia semakin ketakutan dengan sikap intimidasi yang diberikan wanita itu.


“Berhenti menggunakan wujud itu, sialan. Kau semakin membuatku jijik.”


Pandangan Angel dan wanita itu serempak menoleh kearah sumber suara yang kental dengan aura kebencian itu. Divya berdiri diambang pintu sambil melipat tangan didepan dada. “Hah! Akhirnya kau datang juga, Divya. Jika kau tidak datang, maka anakku yang manis ini akan terus ketakutan dan menangis.”


Divya menggigit bibirnya dan mengempalkan tangannya, mencoba untuk menahan amarah yang menyelimutinya. “Diamlah dan berhenti menggunakan wujud nyonya Lila. Menjijikkan.”


“K-kak Divya..” Akhirnya Angel bisa mengeluarkan suaranya. Walaupun terdengar sangat lemah dan lirih, Divya masih bisa mendengarnya. Divya berjalan mendekati Angel, melewati wanita jahat itu begitu saja dengan sikap acuh.


Divya membawa Angel ke dalam dekapannya, “Nona, jangan takut. Aku disini.. semua akan baik-baik saja.” Ucap Divya sembari mengelus lembut kepala Angel.


“Nona, lari dan keluar dari sini. Larilah sejauh mungkin dari tempat ini. Jangan bicara ataupun menatap pada orang lain yang anda temui. Jika anda bertemu dengan mobil yang tadi membawamu kemari, ketuk tiga kali kaca bangku kemudi. Jika pintu belakang terbuka, segera masuk kesana. Jika tidak, maka lari dan cari lagi mobil yang lain. Dan ingat, jangan bicara apapun.” Bisik Divya tepat ditelinga Angel.


Angel mengangguk, lalu menghitung dalam hati. Dihitungan ketiga, ia segera berlari danvw pergi dari rumah itu secepat yang dia bisa. “Kau pikir kau bisa pergi begitu saja hah?!”


Wanita itu hendak mengejar Angel, namun tertahan karena dinding pemisah yang dibuat oleh Divya. “Kau pikir aku ini pajangan?”


“Heh, dia tidak akan bisa kabur. Tidak akan ada kurir yang mengantarnya kembali.”


“Hentikan omong kosongmu, Isabell Anathema. Dengan kekuatanmu yang lemah itu, tidak mungkin bisa mempengaruhi seorang kurir.” Ucap Divya dengan seringai licik penuh kemenangan, tak lupa untuk mengucapkan kata ‘Anathema’ dengan penuh penekanan.


Wanita bernama Isabell itu terkejut, memandang dengan tatapan tak percaya pada Divya. “Kau.. ha, haha.. Haha, Divya Delana Arathon, ku akui kau hebat. Kau sendirian bisa membuat para kurir berpaling dariku. Kau berpotensi menjadi keturunan darah Arathon yang terkuat. Tapi.. aku tidak bisa membiarkanmu terus berkembang bukan? Aku tidak akan membiarkanmu merebut posisiku!”


***


Hosh.. hosh..


‘Seberapa jauh aku harus berlari? Dimana mobil hitam itu?’ Batin Angel yang masih setia berlari.


Setelah berlari cukup jauh dari rumah itu, akhirnya ia menemukan sebuah mobil hitam terparkir dihadapannya. Dengan cepat, Angel mengetuk kaca jendela bagian kemudi sebanyak tiga kali seperti perintah Divya.


Ia tidak mendapatkan jawaban untuk beberapa saat. Angel menghela napas kasar. Ketika ia hendak berlari lagi, pintu bagian penumpang terbuka. Matanya berbinar bahagia, akhirnya ia tak perlu berlari lagi, akhirnya ia bisa pulang.


*************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.


Thank you all ~~

__ADS_1


__ADS_2