
Chapter 5 : Sophia (3)
Jadi, seperti inilah yang dirasakan Sophia ketika berbicara dengan Sasha? Sasha.. dia benar-benar ada.
“Nyonya? Anda berbicara dengan siapa?”
Mira terlonjak kaget ketika mendengar seseorang memasuki kamarnya. “Ah, a-aku berbicara dengan..” Jawab nya sedikit gugup, sembari melirik cermin dengan Sasha yang tersenyum disana. “Tidak ada siapa-siapa disini selain anda, nyonya.” Balas orang itu.
Kegugupannya bertambah ketika menyadari kejanggalan disini. “A-ah, kau ti-tidak lihat yang di cermin?”
Orang itu menggeleng, “Tidak ada yang lain, nyonya. Hanya pantulan diri anda saja.” Jawabnya dengan wajah datar.
Mira memutuskan untuk tidak ambil pusing lagi. Tidak peduli apakah orang lain bisa melihat makhluk astral seperti Sasha atau tidak, bukan urusannya. Mira harus memfokuskan pikirannya pada kesembuhan Sophia.
“Baiklah, ada apa? Apa ada perkembangan?” Mira mempersilahkan orang itu untuk masuk. Dengan penuh rasa hormat, orang yang membantu merawat Sophia, melangkah masuk dan memberikan secarik kertas laporan. “Kondisi nona terus membaik sejak dua jam yang lalu, nyonya.”
Mendengar kabar bahagia tersebut, Mira merasa semua beban yang menyesakkan dada, hilang begitu saja. Kebahagiaan terlukis jelas di senyumannya, “Apa sekarang aku bisa melihat Sophia?” Tanya Mira dengan senyum yang tak pudar sedikitpun dari wajahnya. Perawat itu mengangguk lalu berdiri, memimpin jalan menuju kamar Sophia. Sebelum melangkah keluar ruangan, perawat itu tampak melirik ke arah cermin besar itu untuk sejenak. Ia segera melangkah setelah beberapa detik melirik cermin itu.
Mira yang menyadari itu lantas membuatnya bertanya, “Ada apa?” Perawat itu menggeleng lalu kembali melanjutkan langkahnya.
***
__ADS_1
Mira memeluk erat putri semata wayangnya. Air mata kebahagiaan menetes dengan sendirinya. Setelah beberapa bulan yang sulit, kini Sophia sudah tampak jauh lebih baik. Saat ini, Sophia sudah mulai kembali tersenyum ceria seperti dirinya yang lalu. Ia sudah bisa berdiri serta makan dan minum sendiri, tanpa bantuan orang lain.
“Kau haus kan? Tunggu sebentar, Ibu ambilkan untukmu.” Ucap Mira dengan hati berbunga, yang kemudian mendapat anggukan dari Sophia.
Mira melangkah menuju sebuah meja yang diatasnya terdapat beberapa makanan ringan dan air mineral. Langkahnya terhenti ketika melihat sebuah cermin kecil disana. Cermin itu sangat mirip dengan cermin yang pernah dia hancurkan dengan penuh kemarahan.
Amarah hari itu kembali meluap kepermukaan. “Siapa yang meletakkan cermin ini disini?” Mira menatap sinis ke arah para perawat dan dokter yang merawat Sophia selama Sophia sakit dan hanya bisa terbaring lemah dikamarnya. “Sa-saya, nyonya.” Ucap seorang perawat yang tadinya memberitahukan kondisi Sophia dan mengantarkan Mira kemari.
“Aku sudah memberitahu kalian sebelumya, bahwa tidak boleh ada cermin disini. Bagaimana kalian bisa melupakan hal itu?” Tanya Mira dengan emosi yang tertahan. “Ibu..” Panggil Sophia dengan suara lirih. “Aku yang minta cermin itu. Ibu jangan salahkan mereka.” Sambungnya dengan kepala tertunduk.
Mira kembali menghampiri putrinya, “Kenapa? Ada apa dengan cermin itu?” Tanya Mira dengan suara selembut mungkin. Ia tidak mungkin marah pada putrinya mengingat bahwa Sophia baru saja sembuh. “A-aku hanya merasa bahwa aku sangat dekat dengan cermin itu. A-aku tidak tau kenapa, tapi.. tiba-tiba saja aku merasa seperti itu.” Jelas Sophia.
“Sudahlah, Mira. Kematianmu sudah dekat, serahkan Sophia padaku. Aku akan menjaganya sepenuh hati.” Ucap sebuah suara dari arah cermin kecil itu. Suara yang menggema di seluruh penjuru ruangan, dan melihat tidak ada seorang pun yang terganggu dengan datangnya suara itu tiba-tiba, dapat dipastikan bahwa hanya dirinya yang bisa mendengar suara itu.
“Mira, Mira. Kau terlalu naif. Anakmu seorang penyihir, dia punya darah keluarga penyihir Xisone dalam tubuhnya. Kau hanya akan semakin mempercepat kematianmu jika terus bersamanya. Kau seharusnya tau itu kan? Dan Sophia, sebagai keturunan keluarga Davelton dan Xisone sekaligus, nasibnya belum jelas. Dia bisa saja terhindar dari nasib buruk yang menimpamu karena dia seorang penyihir. Tapi, aku tidak bisa memastikannya. Jadi, lebih baik kau serahkan Sophia padaku dan matilah dengan tenang.”
Mira tetap mengabaikannya. Ia tidak akan menyerahkan Sophia pada Sasha, apapun yang terjadi. Tapi, ia tau bahwa melawan Sasha bukanlah suatu hal yang mudah. Mira tidak akan sanggup melawan Sasha sendirian, ia butuh bantuan.
“Aku harap kau tidak berpikir untuk menyingkirkan aku Mira, atau Sophia akan kembali seperti saat aku tidak ada. Dan akan terus memburuk sampai akhirnya ia menyambut kematiannya sendiri.”
***
__ADS_1
Pada akhirnya, Mira tetap mengizinkan Sasha tetap bersama Sophia. Sasha bisa melukai Sophia, tapi tidak akan sampai membahayakan nyawanya karena Mira tidak mengizinkannya membawa Sophia pergi. Walaupun begitu, Sasha bisa saja terus melukai Sophia sampai Mira memberinay izin untuk membawa Sophia pergi. Oleh karena itu, ia tidak bisa tetap diam saja dan menunggu kematian datang padanya.
Di saat tertekan seperti itu, seseorang yang dermawan menawarkan bantuan untuknya. Dan dia adalah calon suaminya juga calon Ayah bagi Sophia saat ini. Mira sangat berterima kasih karena Ramon bersedia membantunya. Keluarga Arathon berhutang budi pada keluarga Jiverson, sehingga mereka bersedia menjadi pelindung bagi keluarga Jiverson beserta semua garis keturunannya.
Jika Mira menikah dengan Ramon dan menjadi bagian dari keluarga Jiverson, maka keluarga Arathon juga akan melindungi dirinya dan Sophia dengan nyawa sebagai taruhannya. Mira tidak pernah berharap dirinya bisa melihat Sophia tumbuh menjadi seorang wanita dewasa apalagi menimang seorang cucu. Ia hanya berharap bahwa Sophia bisa hidup dengan tenang dan aman saat dirinya sudah tidak ada nantinya.
“Apakah Sasha bisa seberbahaya itu?” Pertanyaan itu membuat Mira menggeleng, “Tidak, Sasha bisa menjadi lebih berbahaya dari itu. Sasha akan terus menyerap kekuatan Sophia ketika ia berada bersama Sophia. Dan kekuatan itu membuatnya semakin kuat.”
Ramon mendengarkan cerita itu dengan seksama, ia bisa mengerti kenapa Mira sekhawatir ini. sebagai seorang Ibu, Mira tidak bisa hanya diam saja membiarkan anaknya berada dalam masalah besar. Apalagi saat itu, Mira masih sangat muda. Mira berumur 14 tahun ketika melahirkan Sophia, dan tentu saja saat itu dirinya masih labil dan tidak sedewasa sekarang.
“Jika Sasha bisa menjadi seberbahaya yang kau katakan, apa menurutmu keluarga Arathon bisa melindungi Sophia?” Lagi-lagi pertanyaan yang sama dengan yang selalu Mira pikirkan. Ia sendiri ragu apakah Sophia bisa terlindungi atau tidak. Tapi ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sophia akan aman.
“Ya, keluarga Arathon adalah keluarga penyihir terkuat diantara semua keluarga penyihir lainnya. Aku yakin mereka bisa melindungi Sophia, walaupun hanya untuk sementara.”
Ia pikir setelah pernikahannya dilangsungkan, semuanya akan berakhir. Ia pikir keputusaannya untuk melangsungkan pernikahan adalah benar. Namun, ia tidak tau bahwa terdapat kesalahan kecil yang bisa mengubah segalanya menjadi semula atau bahkan lebih buruk dari itu.
*************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~