
Chapter 9 : Kisah mereka
Angel mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Sangat sepi dan sunyi.. itu yang dirasakan Angel. Ia melirik ke arah jam, “Tengah malam..” Gumamnya lirih. Ia benar-benar haus sekarang, ia butuh minum.
Angel berjalan perlahan dengan langkah kaki berat dan kantuk yang masih menguasai sebagian besar dirinya. “Hujan ya..” Ucapnya bermonolog ketika mendengar suara rintik hujan. Ia tetap melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil minuman.
Setelah selesai dengan minumannya, ia kembali memasukkan gelas kedalam lemari pendingin. Ketika ia menutup pintu lemari pendingin, ia terlonjak kaget ketika mendapati sosok anak kecil tengah berdiri disana dengan wajah datar dan kulit yang sangat pucat, serta boneka beruang ditangan kirinya.
Mungkin karena pengalamannya beberapa hari lalu, ketika ia bertemu dengan seseorang yang menyamar menggunakan sosok Ibunya, ia menjadi lebih peka dan lebih waspada terhadap hal-hal yang seperti itu. “A-apa maumu?” Tanya Angel gugup, walaupun ia telah berusaha, ia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
Tubuhnya mulai gemetar ketika anak kecil itu maju beberapa langkah. “A-apa yang kau mau dariku?” Ucap Angel dengan menaikkan nada bicaranya, sehingga terkesan sedikit membentak. Angel melangkah mundur seiring dengan anak kecil itu yang melangkah maju ke arah nya.
Angel telah mencapai dinding, ia sudah tidak bisa mundur. Dan seketika itulah, langkah anak kecil itu ikut terhenti. Anak kecil itu mendongakkan kepala, membiarkan tatapan mereka bertemu. Anak kecil itu tetap berdiri dengan wajah datar, tanpa sepatah katapun. Membuat Angel merasa sangat ketakutan, buliran air mata mulai menetes dari sudut matanya.
Anak kecil dengan gaun sederhana bermotif bunga-bunga dan rambut panjangnya yang terurai, serta boneka beruang yang ada dalam pelukannya menambah nuansa menyeramkan yang menguar dari anak kecil itu.
Suasana hening untuk sejenak sebelum anak kecil itu menggenggam tangan kiri Angel. Angel terkesiap ketika merasakan betapa dinginnya tangan anak kecil itu. Perhatian mereka teralihkan ketika kalung yang Angel gunakan tiba-tiba bersinar. Anak kecil itu menatap kalung Angel dengan seksama, sedangkan Angel semakin gugup ditatap seperti itu.
Anak kecil itu menarik tangan Angel, memaksa Angel untuk mengikuti langkahnya. Angel hanya bisa menurut dan sesekali meringis kesakitan karena genggaman anak kecil itu begitu kuat di tangannya.
Angel terus mengikuit anak kecil itu memasuki sebuah lorong yang sunyi dan sepi dengan penerangan yang minim. Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna coklat kemerahan dengan ukiran yang indah dan terkesan megah. Anak kecil itu membukakan pintu untuk Angel, kemudian ia menyingkir ke sisi pintu dan mempersilahkan Angel untuk masuk.
Angel ragu untuk masuk. Terlihat sebuah lorong panjag dengan dinding yang berlapis wallpaper berwarna merah keemasan dan beberapa barang-barang kuno yang menghiasi sisi dinding lorong itu.
__ADS_1
Melihat Angel yang tak bergerak sedikitpun dari tempatnya, anak kecil itu kembali menggenggam tangannya dan menariknya masuk ke dalam sana. “Ke-kemana kau membawaku?” Tanya Angel membuat langkah anak kecil itu terhenti. Namun, tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan Angel, anak kecil itu kembali melangkahkan kakinya dengan tetap menarik Angel agar terus mengikutinya.
Angel sendiri merasa bingung, kenapa anak kecil yang seusia Anna bisa sekuat ini? Mungkin pergelangan tangannya sudah membiru karena anak kecil itu menggenggamnya dengan sangat kuat.
Mereka semakin dalam menjelajahi lorong panjang yang seakan tak berujung itu. Setelah cukup lama berjalan, akhirnya anak kecil itu memperlambat langkahnya. Dan kini, Angel melihat begitu banyak lukisan yang memenuhi dinding lorong itu.
Angel membelalak ketika melihat sebuah lukisan dengan figur yang sangat mirip seperti anak kecil yang sedang menarik tangannya ini. Dengan penampilan dan boneka yang sama persis seperti yang ia lihat saat ini. Matanya menangkap sebuah nama yang tertulis jelas di lukisan itu. ‘Emelly Anathema’ nama yang tertera di lukisan itu. Jadi namanya anak kecil ini adalah Emelly?
Angel juga melihat banyak figur orang lain yang terasa asing baginya. Dan satu hal yang membuatnya membulatkan mata tak percaya, ketika ia melihat sebuah lukisan yang nama ‘Isabell Anathema’ yang tertera disana. Bukankah itu sosok yang kak Divya ceritakan padanya? Yang menyamar sebagai Ibunya beberapa hari lalu? Apa yang terjadi? Siapa sebenarnya orang-orang yang ada dilukisan-lukisan ini?
Lalu langkah anak kecil itu terhenti secara tiba-tiba. Angel yang tak siap dengan perubahan kecepatan mendadak itu, hampir saja kehilangan keseimbangan dan menimpa anak kecil didepannya. Anak kecil itu menunjuk sepasang pintu besar dengan warna dan ukiran yang sama dengan pintu yang sebelumnya.
Tatapan Angel mengikuti arah yang ditunjuk oleh anak kecil itu. Dan saat itulah cahaya kemerahan yang terpancar dari kalungnya semakin terlihat jelas. Angel melangkahkan kaki nya perlahan mendekati pintu besar itu, semakin dekat dirinya dengan pintu itu, semakin terang pula cahaya yang dikeluarkan kalungnya. Apa arti dari kalungnya yang bersinar ini?
Krek..
Angel mengalihkan pandangannya menuju kalungnya. Ia terbelalak ketika melihat sedikit retakan dikalungnya. Hal itu membuatnya semakin ragu untuk melangkah maju. Angel semakin kalut dalam pikirannya sendiri hingga melupakan sosok anak kecil yang sekarang telah hilang entah kemana.
Sepersekian detik kemudian, Angel merasa ada sepasang tangan yang mendorongnya hingga ia terjatuh, membuatnya masuk sepenuhnya kedalam ruangan itu. Angel berbalik dengan sigap, pandangannya mulai kabur, rasa sakit kembali menyerang kepalanya. Sekilas ia melihat sosok bayangan hitam yang tengah berjalan perlahan memasuki ruangan dan mendekat ke arah nya.
“AAH!!” Hanya suara teriakkan itu yang mampu keluar dari mulutnya. Kegelapan mulai melungkupinya, sepertinya ia pingsan lagi.
***
__ADS_1
“Eungh..” Angel mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya remang yang masuk ke indera penglihatannya. Ia terdiam sejenak, ingatan dimana sosok bayangan misterius yang mendekat ke arahnya sukses membuat Angel kembali berteriak.
Brukk
Sebuah buku terjatuh, mengalihkan perhatian Angel. Karena rasa penasaran, ia memberanikan diri untuk mengambil buku itu. Angel melihat bagian depan dari buku itu, terlihat sesosok anak kecil sedang duduk bersama dengan boneka beruang kesayangannya. “Ini.. anak kecil itu? Emelly?” Ucap Angel bermonolog.
Ia membuka buku yang berjudul ‘That doll : Eveline’ lalu membaca sekilas lembaran pertamanya. “Ini.. diary? Terlihat seperti novel.” Gumam Angel.
Brakk
Angel terlonjak kaget ketika suara seseorang membanting pintu hingga menimbulkan suara keras yang memekakkan telinga. “Kakak?” Ucap Angel spontan ketika melihat seseorang di ambang pintu. Manda berlari menghampiri Angel yang tengah duduk bersila di lantai, “Angel? Kau baik-baik saja?” Tanya Manda dengan napas tersengal. Angel mengangguk, “Iya, kurasa..” Jawab Angel ragu.
Manda mendudukkan diri di sofa panjang yang tersedia disana. Ia menghela napas dalam, mencoba untuk menetralkan napas dan detang jantungnya, “Yah.. baguslah jika kau tidak apa-apa.” Ucapnya merasa lega, setidaknya Angel tidak terluka.
Suasana hening untuk sejenak, mereka sama-sama diam untuk menilai situasi dan kondisi saat ini. “Kak..” Angel memutuskan untuk membuka pembicaraan, membuat Manda menoleh dan menatapnya dengan tanda tanya. “Aku ingin cerita sesuatu, tapi.. kakak jangan tertawa ya? Ini tentang bagaimana aku bisa sampai disini.”
*****
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1