Blue Fire : The beginning of a true warrior

Blue Fire : The beginning of a true warrior
Eps 10 : Hidden Sorrow


__ADS_3


Semua terasa sia-sia.....


Bagaikan masuk ke dalam gua, dan tak tahu arah jalan pulang. Namun siapa sangka, keberuntungan berpihak kepadanya.


Titik cahaya itu dengan sendirinya mendekat ke tangan Ace.


Saat tersentuh, seketika air danau bergerak. Terangkat tubuh Ace ke permukaan. Waktu seakan-akan berhitung mundur. Semua peristiwa yang terjadi, kembali seperti saat sebelum ia masuk ke dalam danau.


Berdirilah ia di depan gerbang danau. Mendesah kelelahan.......


"Hufff....hufff....hufff..... Di mana aku ?..." ucap Ace.


Saat itu tepat pukul 20:56....


Berjam-jam ia berjuang di danau itu. Dipikirnya apakah membutuhkan waktu selama ini hanya untuk menyelami sebuah danau.


Mungkin saja benar. Sebab danau itu juga cukup dalam. Anehnya, tak ada bekas atau kulit yang mengkerut di jari-jarinya. Tubuh serta bajunya juga kering seperti sebelum ia menceburkan dirinya ke dalam air danau yang dingin itu. Sama halnya dengan rambut di kepalanya.


Dikira saat itu adalah akhir dari riwayatnya. Dicubit-cubit pipinya, kulit tangannya, berusaha memastikan bahwa itu semua bukanlah sebuah mimpi yang terkesan nyata.


Sungguh keberuntungan yang besar. Yang tak mungkin diperoleh sembarang orang. Hal yang sangat tidak masuk akal, tak habis-habis dipikirkan olehnya.


Dari kejauhan, ia melihat pria tua itu sedang berdiri menatapnya. Menatap dengan tatapan kosong, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan bajunya.


Berlarilah ia menuju pria tua itu. Sampai di sana, ia langsung memeluk erat pria tua itu.


"Hmm.... lepaskan aku.." ucap pria tua itu.


Masih banyak hal yang harus Ace lalui. Pria tua itu hanya menatap wajahnya, sembari menyembunyikan kesedihannya.


Ingin rasanya pria tua itu mengatakan yang sebenarnya, namun tak ingin melanggar prinsip hidup yang ia buat sendiri.


Dalam hati pria itu selalu berkata, "apakah ini akhir dari perjumpaan kita ?..... Tidak... tidak.... mungkin akan berlangsung lama. Namun entah sampai kapan."


Sambil berjalan menuju tempat istirahat, diperintahkan Ace oleh pria tua itu, untuk kembali ke biliknya.

__ADS_1


Di malam yang sunyi, hanya bertemankan lentera yang tak lama lagi sumbunya lenyap terbakar. Ace duduk di atas ranjang, sedang memikirkan sesuatu yang rasanya sulit untuk dia pahami.


Tokkk.... Tok.... Tok.... Suara pintu yang diketuk.


Dibukakanlah pintu itu olehnya. Terlihat di depan pintu, pria tua itu, dengan tatapan yang tidak berubah sama sekali. Saling menatap mereka bak orang kebingungan.


"Hmmmm.... Ikut aku..." ucap pria tua itu sambil berjalan.


Hanya melongo kebingungan, ia mengikuti setiap perintah.


Disuruhnya Ace untuk duduk di depan meja makan yang ukurannya tidak terlalu besar dengan kaki meja yang pendek.


Di atas meja, hanya ada dua mangkuk batu putih dengan lukisan bunga di samping terluarnya. Di dalamnya berisi sup yang hangat, yang aromanya menusuk-nusuk lubang hidung.


Duduklah mereka dengan posisi berhadapan di depan meja makan. Saling menatap, diikutnya setiap gerakan pria tua itu. Di saat memegang mangkuk, Ace juga memegang mangkuk. Begitulah seterusnya, tak perlu dijelaskan lebih mendetail lagi.


"Ace........ Setelah ini, beristirahatlah dengan baik. Masih ada beberapa hal serta tantangan yang harus kau lalui." ucap pria tua itu.


Ace hanya mengangguk seraya mengiyakan setiap apa yang diucapkan pria tua itu. Dilihat oleh Ace, yang sedang mencuri pandang, sembari menundukkan kepalanya, wajah pria tua itu nampak kesedihan.


"Hmmmm.... Guru...., Kau baik-baik saja ?..." tanya Ace.


Tak lama kemudian....


Pria tua itu, dengan menahan perasaan sedih, mencoba untuk tegar, agar tak terlihat mencurigakan oleh Ace.


Mimik wajah yang datar, serta bola mata yang berkaca-kaca, perlahan mencoba mengucapkan kata, yang rasanya berat bak mengangkat beban.


Sesekali ia menoleh ke arah sampingnya, menjauhkan pandangannya dari wajah Ace.


Berpura-pura mengelap wajahnya dengan kain di tangannya, padahal sedang menyembunyikan air mata yang sudah sedikit lagi jatuh membasahi pipi.


Sambil meregangkan batang lehernya, duduk dengan sikap tegak, dengan dagu terangkat.


"Ace...... Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui..." ucap pria tua itu.


----"*Terkadang, apa yang terlihat baik, tidaklah selalu benar adanya. Terkadang juga hal yang terlihat buruk, tak seburuk yang kau pikirkan......."

__ADS_1


----"Untuk itu, berhati-hatilah dalam menilai sesuatu......"


----"Ikutlah suara hati kecil mu......"


----"Aku ingin, kau jangan lengah. Lihatlah sekeliling mu. Banyak sekali hal yang masih menjadi misteri*....."


----"*Janganlah sekali-kali kau terbawa emosi sesaat, sebab....... Akan membahayakan dirimu sendiri...."


----"Mungkin, setelah kita berpisah, kau akan melupakan ocehanku ini....."


----"Satu hal yang aku inginkan dari mu... Teruslah mengejar apa yang kau anggap benar... Tinggalkan semua hal yang hanya mengganggu perasaan hatimu*..."


----"Jadilah Ace yang tegar..... Seperti yang mungkin juga diinginkan orang tua mu .."


Ace merundukkan kepalanya, dengan telinga yang selalu terngiang ucapan pria tua itu.


Suasana kembali sunyi. Hanya saling menatap, kemudian merundukkan kepala. Perasaan sudah mulai gelisah, tak enak hati.


Isi mangkuk yang tersisa di ujungnya, dengan cepat dilahap habis oleh Ace. Meletakkan mangkuk yang sudah kosong tak tersisa, sembari mengatakan kepada pria tua itu, bahwa ia ingin beristirahat.


Ia melangkah menuju biliknya, dengan perasaan hati yang masih terketuk-ketuk dengan nasihat yang cukup berharga.


Sampai di biliknya, ia mengunci rapat pintu, kemudian menyandarkan belakangnya pada pintu tersebut. Hanya menatap dengan pikiran yang dipenuhi seribu pertanyaan. Ada apa dengan perasaan ini ?... Mungkin saja Ace pernah berbuat salah atau apa. Ia sama sekali tidak memahami semuanya. Yang terbayang hanya wajah sedih yang ia lihat pada pria tua itu...


Melangkah perlahan menuju ranjangnya. Membaringkan kepalanya, sembari menatap lentera yang sinarnya sudah mulai hilang. Perlahan ia menutup kedua matanya, terbang menuju bunga tidur yang indah.........


Angin yang berhembus melalui sela-sela di dekat jendela, mematikan api lentera yang sudah tidak dapat diharapkan.


Gelap..., disertai hembusan angin malam, tertidur pulas dirinya, di atas ranjang yang tidak terlalu nyaman.


Keesokan harinya.......


Pukul 09:00...


Ace membuka pintu jendela, yang sudah diketuk-ketuk burung kecil di tepiannya. Sinar matahari yang cerah, masuk menerangi bilik kecilnya..


Ace melangkah, keluar. Melihat pria tua itu sedang berdiri di tengah lapangan, menunggu Ace dari pukul 06:00 pagi tadi.

__ADS_1


Bergegas ia, berlari ke arah pria tua itu.


To be continued......


__ADS_2