Blue Fire : The beginning of a true warrior

Blue Fire : The beginning of a true warrior
Eps 15 : Nightmare #4


__ADS_3


Keesokan harinya, pukul 09:00...


Tinggal beberapa hari lagi, Ace menyelesaikan tantangan ini.


Pria tua itu, berada di posisi yang sama seperti kemarin-kemarin, sembari memantau perubahan pada murgs. Di hari ke-empat ini, ia tidak melihat ada tanda-tanda yang aneh. Bunga snapdragon masih tetap pada kondisi semula. Menoleh pandangannya ke setiap sudut untuk memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat membahayakan nyawa Ace.


Pria tua itu, hanya mondar-mandir di sekitar gerbang, menghabiskan waktu di sana tanpa memikirkan hal yang lain, selain keselamatan Ace.


Pukuk 12:34.....


Rasa lelah yang bertambah, hanya diabaikan pria tua itu. Apalagi di usianya saat ini, sangat membutuhkan istirahat yang cukup. Matanya sesekali memperhatikan Ace, yang masih dalam keadaan baik-baik saja.


Berjalan perlahan, mengelilingi sekitar gerbang, sesekali menendang kerikil di hadapannya.


Tak lama kemudian, saat menendang kerikil, tak sengaja masuk ke dalam wilayah murgs. Terkejut dirinya, sebab batu itu terpental kembali ke arahnya.


Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke depan gerbang. Memperhatikan dengan seksama, di setiap sudut. Anehnya, kemana arah matanya melihat, selalu saja ia melihat gazebo di hadapannya.


Bertanya-tanya ia dalam hati, apa yang telah terjadi. Gazebo itu seharusnya menetap di tengah-tengah, tidak mengikuti arah pandangannya.


Ia mencoba menerobos masuk ke murgs. Anehnya, ia terdorong keluar lagi. Ia mencobanya berulang kali, namun tetap sama. Setiap kali ia menjulurkan tangannya ke depan gerbang, maka apa yang ia lihat, nampak seperti refleksi bayangan di permukaan air.


Ia mencoba lagi, menerobos masuk dengan menggunakan kekuatannya, mencoba merusak tembok penghalang yang mengganggu itu. Sebaliknya mengenai dirinya sendiri.


Terpikir juga dirinya untuk berteleportasi, agar bisa masuk ke dalam. Namun, tidak dapat di tembus oleh nya.


Ace yang saat itu sedang bermeditasi, tidak menyadari setiap perubahan yang terjadi di sekitar murgs. Suara bising dan segala sesuatu yang berhubungan, sudah tidak ia rasakan lagi.


Sementara itu, di alam bawah sadar, Ace masih dalam keadaan dan posisi yang sama. Belum merasakan adanya hal-hal yang janggal. Masih menunggu waktu kedatangan pria berjubah putih.


Berdasarkan hari-hari kemarin, nampaknya Ace sudah paham, bahwa setiap mimpi buruk yang akan ia hadapi, ada waktu berlangsungnya. Waktu lebihnya, ia manfaatkan untuk menjaga konsentrasi.


Ia terus menanti kedatangan pria itu, apalagi ini merupakan hari ke-empat ia bermeditasi. Tak lama lagi ia akan menyelesaikan 5 hari tanpa makan dan minum tersebut.

__ADS_1


Pukul 19:45...


Kejanggalan dirasakan oleh Ace. Kemudian, angin bertiup dengan halusnya, namun dinginnya seperti menembus kulit. Seketika tubuhnya terasa dingin, sampai menggigil. Hal ini dialaminya sekitar 2 jam lebih.


Pukul 21:45....


Dari arah kiri Ace, pria berjubah putih datang menghampiri Ace sambil mendorong sesuatu yang ditutupi kain hitam tebal. Pria itu mendorong dengan sekuat tenaga, dan berhenti tepat di hadapan Ace.


Kira-kira, jarak antara benda yang didorong itu dengan Ace, adalah empat langkah terjauh kaki orang dewasa. Kemudian, pria itu melangkah perlahan menghampiri Ace. Dengan nada yang pelan bahkan nyaris terdengar, pria itu mengatakan.....


"Mungkin saja kau sudah lupa." ucap pria berjubah putih.


"Aaaa..... Apa katamu ????.." tanya Ace.


Pria itu hanya diam, tak menjawab. Tak lama kemudian, pria itu membuka kain hitam yang menutup benda yang didorongnya tadi.


Ternyata, benda yang tersebut adalah sebuah cermin besar yang terkesan antik, dengan bingkai yang terbuat dari kayu yang sudah diukir, serta empat pasang roda pada kaki bawahnya.


Ace hanya terdiam, dalam hati berpikir apa yang dimaksud pria itu. Tak lama kemudian, pria itu pergi ke arah barat, meninggalkan Ace dan hilang begitu saja.


2 jam berlalu, hanya begitu saja. Tak ada hal yang terjadi. Masih memandangi cermin besar yang rasanya tak berguna sama sekali. Ace hanya bisa memasang wajah busuk dengan bibir moncong kedepan. Sesekali ia menarik napas dalam-dalam, karena merasa bosan.


Tak lama kemudian, matanya tertuju pada bingkai kayu dari cermin itu. Sungguh suatu kebetulan, bahwa ia mengingat cermin yang digantung di rumahnya dulu, yang ia selalu gunakan setiap pulang sekolah. Terlintas senyum tipis di bibirnya, mengingat kenangan masa itu. Tak lama kemudian, cermin itu merefleksikan bayangannya.


Secara perlahan, sampai ke ujung kaki, bayangan Ace muncul pada cermin. Hanya terkejut, saat melihat bayangannya sendiri. Terlihat nestapa dengan baju serta rambut yang acak-acakan. Anehnya lagi, bayangan wajahnya, terlihat sedang menggunakan blindfold yang dulu selalu dipakainya.


Sampai teringat dirinya, dimana ia menyimpan satu-satunya benda yang menjadi kenangan saat bersama orangtuanya dulu.


"Aa...... blindfold ku,...... di mana aku menyimpannya ????....." ucapnya dalam hati.


"........ *aku sama sekali tak mengingatnya..."


"........ kemana aku harus mencarinya* ????...."


Ace terdiam, menatap wajahnya di cermin, dengan bola mata yang sudah merah berkaca-kaca. Tiba-tiba, cermin retak di bagian atas yang tepat merefleksikan wajahnya. Pertanda apakah ini, tanyanya dalam hati. Retakan itu semakin menyebar, sampai di ujung bagian bawahnya, dan tidak menyisakan sedikitpun bagian yang masih bisa digunakan.

__ADS_1


Tak lama kemudian...


Baaakkkk.... cermin itu meledak pecah dengan sendirinya.


Dengan wajah yang ketakutan, Ace mencoba menenangkan dirinya. Perasaan takut mulai memuncak, setelah beberapa saat cermin itu pecah, ia merasa bahwa ada yang sedang mengintainya dari segala arah.


Dengan mimik wajah yang was-was, serta mata yang terus menoleh kesana-kemari seraya memastikan bahwa tak ada hal buruk yang akan mendekatinya, ia menatap tajam setiap arah pandang yang dijangkau oleh nya.


5 menit kemudian, ....


Ssssttttttttttzzzzztt..... suara seperti piringan gramofon yang tergesek dengan kerasnya. Dengan gigi yang terbuka serta mata yang menyipit, ia menahan suara bising yang sangat menyakitkan telinga itu. Suara bising itu tak berlangsung lama. Setelah itu, suasana kembali sunyi.


15 menit kemudian, Ace yang merasa saat itu dirinya sedang diintai, ternyata memang benar. Muncul dari keempat sisi (kiri, kanan, depan, belakang) bayangan hitam orang dewasa, yang tingginya kira-kira 176 cm.


Bayangan itu berlari dengan kencang, menuju ke arah Ace berdiri, dan seketika menembus tubuh Ace.


Wushhhhh........ suara bayangan itu menembus tubuh Ace.


Dengan mata yang melotot, serta mulut yang terbuka lebar, sepeti merasakan sakit yang luar biasa. Mulutnya seakan-akan tak bisa berkata-kata.


Berteriak dengan susah payahnya, menahan rasa sakit luar biasa yang tiba-tiba dirasakannya di sekitar kepalanya.


Sementara itu, pria tua yang sedang mencoba menerobos masuk ke dalam murgs, terkejut saat tiba-tiba saja tembok pelindung yang mengganggunya itu hilang begitu saja. Dilihat olehnya, tubuh Ace yang sedang mengambang dengan posisi bersila, bergerak-gerak seperti kapal yang diterjang ombak yang cukup besar.


Hanya rasa khawatir yang menemaninya saat itu. Ia ingin mencoba melangkah kedalam murgs, namun terpikir olehnya untuk tidak melakukan hal sia-sia saja. Ia memutuskan untuk tidak menghampiri Ace, karena tak ingin usaha serta perjuangan Ace selama ini terbuang percuma.


Dari pintu gerbang murgs, pria tua itu hanya mengawasi perkembangan kondisi black circle yang menjadi momok di pikirannya saat itu.


Pukul 03:00 dini hari.....


Perlahan, rasa sakit kepala yang dialami oleh Ace saat itu, berangsur mereda dengan sendirinya. Prosesnya tidak lama. Setelah itu, kondisi Ace kembali normal.


Bertanya-tanya Ace dalam hati, apakah seperti ini susahnya menjadi seorang warrior. Ingin berputus asa namun tak ingin merugi. Dengan menghela napas, ia kembali menjaga konsentrasinya......


Pria tua yang sedang mengawasi Ace saat itu, kembali tenang saat melihat keadaan Ace yang perlahan kembali normal. Dengan mimik wajah yang sudah tak sanggup lagi menahan rasa kantuk, ia pergi ke tempat istirahat, meninggalkan Ace dengan perasaan hati yang tenang.

__ADS_1


To be continued.....


__ADS_2