
Api ditangan Ace telah padam.
Ia melangkahkan kaki, menjauhi pohon yang ditabraknya. Menoleh ke segala arah, memutar-mutarkan badannya, menaruh fokus yang dalam pada setiap sudut kabut hitam yang tebal.
Kabut itu semakin tebal, berjalan mengikuti arus angin yang cukup kuat. Kabut itu terus berjalan, melingkari tiang lampu yang menyala-nyala. Perlahan Ace melangkah menuju tiang lampu.
Disangkanya kabut itu tak akan menutupi tiang lampu. Kenyataannya, kabut semakin mendekat, berputar dengan cepat. Semakin kabut itu mendekati tiang lampu, membentuk pusaran yang besar.
Ace berusaha menegakkan tubuhnya, berpegang pada tiang lampu yang sudah mulai bergoyang. Mengangkat lengannya, seraya berusaha melindungi pandangannya. Kabut terus berputar dengan kencang. Semakin kencang, hingga benda-benda disekitarnya terombang-ambing mengikuti arus pusaran.
Pusaran kabut terus mendekat, menutupi lampu taman, hingga cahayanya tak terlihat. Pusaran itu menciptakan energi yang besar, yang sanggup mengangkat apapun yang dilaluinya.
Ace yang sudah tidak sanggup bertahan, sedang tiang lampu sudah terlepas dari tanah, terombang-ambing lah dirinya di dalam pusaran kabut itu. Ia hanya bisa berteriak menahan rasa sakit akibat tabrakan benda-benda yang juga ikut terangkat.
Perlahan tapi pasti, pusaran kabut menciptakan percikan api yang panas di setiap partikelnya. Memberi siksaan yang teramat sangat, pada Ace yang tubuhnya berputar-putar di dalamnya.
Di muntahkanlah dari dalam pusaran, Ace yang tubuhnya sudah dipenuhi dengan luka dan memar. Ace terlempar jauh, menyeret-nyeret tanah yang diselimuti kerikil tajam.
Setelah itu, pusaran kabut hilang begitu saja, menyusut kedalam tanah. Secara ajaib, muncul wanita berjubah hitam tadi ditengah-tengahnya. Dengan tawa yang kejam, melangkahkan kaki dengan angkuhnya, wanita itu berjalan menuju Ace yang tengah terbaring lemah di tanah.
Tak lama kemudian, wanita itu mendekatkan kakinya ke kepala Ace, menginjak-injaknya bagaikan menginjak kutu kecil yang lemah. Terus menginjakkan kakinya tanpa henti.
Tiba-tiba, tangan kanan Ace bergerak, menahan kaki wanita bengis itu. Mendorong mundur wanita itu dengan sisa tenaganya.
Energi api biru Ace kembali menggelora. Perlahan ia bangkit dari jatuhnya, sedang tubuhnya secara perlahan mengeluarkan api biru yang menyala dengan besar. Api terus membesar hingga menutupi seluruh tubuhnya. Terangkat diri Ace ke udara, dengan merentangkan kaki dan tangannya.
Energi api biru yang menyelimuti seluruh tubuh Ace semakin tidak terkontrol. Apinya terus menyala, sementara tubuh Ace sendiri yang kian-lama melemah. Bergerak cepat dirinya, mengarah pada wanita itu, serta memberikan serangan yang bertubi-tubi.
Wanita itu terlempar kesana-kemari bagaikan bola kecil yang dilempar anak-anak. Dari arah barat, timur, di semua sisi, Ace yang seakan-akan dikendalikan energi api biru itu, bergerak dengan cepatnya, menyerang wanita itu tanpa memberi celah untuknya bergerak.
Terus menyerang tanpa henti, hingga menghanguskan sebagian jubah hitam nan panjang milik wanita itu. Kemudian, ia mencekik leher wanita itu, mengangkatnya terbang ke udara, lalu melemparnya dengan sekuat tenaga. Berteriak kesakitan Wanita itu, terlempar jatuh ke tanah.
__ADS_1
Ace masih melayang-layang di udara. Apinya terus membesar, namun apalah daya, tubuh Ace semakin melemah. Api biru yang membesar itu bak terjadi diluar kehendak Ace sendiri. Perlahan Ace turun ke permukaan tanah, dengan api yang mulai memadam dengan sendirinya.
Berdirilah Ace di atas permukaan tanah dengan kondisi tidak sadarkan diri. Ace hanya merundukkan kepalanya, serta tubuh yang sedikit membungkuk dengan kedua kakinya yang mencoba menopang tubuh agar tetap berdiri. Pengelihatannya mulai memudar, serta nafas yang tersendat bak penyakit asma.
Keadaan ini dimanfaatkan baik oleh wanita berjubah hitam itu.
Wanita itu bangkit dari kejatuhannya, sembari mengangkat tangan kanannya yang diselimuti haze dengan percikan api.
Kemudian, ia merentangkan tangan kirinya ke hadapan, dan menyiku ke belakang tangan kanannya. Sambil memasang kuda-kuda....
"Flame ...... Haze.... Stab" ucap wanita itu dengan nada percaya diri, sambil mengubah posisi tangan kanannya kehadapan.
Jurus pamungkas miliknya. Menyerang dengan serangan kilat, menusuk perut lawan dengan haze yang meruncing disertai percikan api yang menyala-nyala.
Wuuuushhhhhh....
Gerak cepat wanita itu bagaikan kilat yang menyambar. Mengarahkan serangannya pada Ace.
"Hiiyaaaaaa........" teriak wanita itu dengan semangatnya.
Wanita berjubah hitam itu terkejut bukan kepalang. Serangan secepat kilat kebanggaannya, dapat di tahan dengan sempurna. Dipandangnya tongkat kayu yang terjulur di depan ujung tangannya, seraya bertanya-tanya mengapa hal itu bisa terjadi.
"Ahh......!!!!!." ekspresi wanita itu terkejut.
" A...a...ada apa ini ??..... Mengapa ??? Mengapa...?." ucap wanita itu bertanya-tanya.
Menolehlah ia ke sisi kirinya. Terlihat seorang pria tua berjubah putih dengan warna kuning di tepian bahunya, berjanggut panjang serta menpunyai bintik hitam yang melingkari mata kirinya.
"U'.....u'......, si'....siapa anda ?...... kenapa... bisa ......" ucap wanita itu tertatah.
Pria tua dengan wajah yang tertutup bayangan, hanya melihatnya dengan mata yang mengkilap.
"Ada kalanya seseorang harus berpikir sebelum bertindak." ucap pria tua itu.
__ADS_1
Merasa tersindir, dengan mimik wajah yang memerah serta mendelik gusar, wanita itu mengubah haluan gerak, mencoba menyerang pria tua itu beberapa kali. Setiap serangan yang diberikan olehnya, dapat dihindari dengan mudah oleh pria tua misterius itu.
Terus menyerang pria tua itu, seraya berusaha mencari celah untuk melumpuhkannya. Setiap serangan memang tidak mengenai pria tua itu, namun pada akhirnya memukul mundur juga sebab energi wanita itu yang cukup besar yang mana tak sebanding dengan pertahanan pria tua itu, yang mana sudah kalian tahu sendiri---ya namanya juga orang tua.
Wanita itu menegakkan tubuhnya, berbicara dengan angkuhnya, seraya merendahkan pria tua itu.
"Hah... ada apa pria tua ????...…." ucap wanita itu merendahkan.
Tak lama kemudian, wanita dan pria tua itu saling menatap. Mulailah mereka berlari kencang mendekati satu sama lain. Keduanya bertarung dengan hebat. Mereka saling beradu jurus di tengah heningnya malam.
Baaaakkk.... Wuuusshh... hiyaaaa..... bunyi pukulan serta teriakan mereka. Terus bertarung sambil mengeluarkan jurus pamungkas masing-masing. Terpukul mundur keduanya, terpisah dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Karena menahan serangan yang begitu kuat sehingga tongkat yang dipegang pria tua itu terlempar cukup jauh.
"Huh.... hebat juga dirimu!." ucap wanita itu.
"Hmmmmm....... biarkanlah pikiranmu tetap berada dalam ketenangan." ucap pria tua itu sambil memejamkan mata dengan memasukkan kedua tangannya kedalam lengan bajunya yang besar terurai.
"Pertarungan tidak membutuhkan ketenangan, tapi membutuhkan kekuatan." balas wanita itu.
"Hmmmm...... sepertinya kamu masih harus banyak belajar. Dengan mengandalkan kekuatan saja, tidaklah cukup untuk memenangkan suatu pertandingan." ucap pria tua itu menasihati.
"Hrrhhhh.,.... kau tak perlu menasihati ku...hey pria tua." geram wanita itu membalas ucapan sang pria tua dengan nada yang keras.
Wanita itu berlari menuju ke hadapan pria tua itu, sembari berteriak kemarahan dengan tangan yang sudah mengepal ingin menyerang dengan kuatnya. Wanita itu semakin dekat dengan kepalan tangan yang sudah diselimuti flame haze yang panas, mengarah ke pria tua itu.
Dengan tenang, pria tua itu menjulurkan tangan kanannya kehadapan, dengan telapak tangan terbuka serta jarinya yang dirapatkan ke atas. Kemudian titik cahaya putih muncul ditengah telapak tangan pria tua itu. Semakin lama titik cahaya itu pun membesar.
"Kyōsei..... Terepōtēshon." ucap pria tua itu melancarkan jurusnya.
Tiba-tiba cahaya putih memancar dari telapak tangan pria tua itu. Menutupi Wanita berjubah hitam itu yang sudah sangat dekat dihadapannya. Seketika wanita itu hilang entah kemana dan tak kembali.
Pertarungan yang hebat berakhir seketika dari ujung telapak tangan. Kemudian, Pria tua itu melangkah menuju Ace yang sudah tidak kuat kakinya menopang tubuh yang nestapa. Tiba-tiba Ace terjatuh.
Dengan sigap pria tua itu menangkap serta merangkul Ace. Mencoba menyadarkan Ace dengan menepuk-nepuk pipi yang dipenuhi luka dan kotoran.
__ADS_1
Karena kondisi Ace yang saat itu sudah tidak bisa diharapkan lagi, akhirnya pria tua itu memutuskan untuk membawa Ace pergi ke tempatnya. Dengan kekuatan yang dimiliki pria tua itu, seketika muncul dihadapannya portal untuk menuju ke tempat tujuan dengan cepat.
To be continued......