Blue Fire : The beginning of a true warrior

Blue Fire : The beginning of a true warrior
Eps 9 : Lake Of Emotion.


__ADS_3


Selasa, pukul 08:30.


Ace terbangun dari tidurnya. Perasaan hati yang tak ingin bangun dari ranjang. Ia berbaring, dengan pikiran yang hanya membayangkan wajah kedua orang tuanya. Sembari memandangi langit-langit di biliknya, terus terbayang saat-saat dimana orangtuaya hilang tanpa jejak. Ia sama sekali tidak bisa melupakan masa-masa itu. Ia juga tak punya benda apapun sebagai kenangan. Blindfold yang dulu ia gunakan, telah hilang entah dimana.


Tok ...tok...tokkk... Suara pintu yang diketuk.


Ia bergegas bangun dan membuka pintu, terlihat wajah pria tua itu yang hanya melongo melihat Ace.


"Kau tak boleh lengah Ace......" ucap pria tua itu, sembari berjalan menuju ke lapangan.


Ace masih tak paham dengan perkataan pria tua itu. Entah karena ia bodoh atau apa.....


Ia berlari mengejar pria tua itu yang sudah cukup jauh berjalan.


"Pegang ini....." ucap pria tua sembari memberikan sebuah perkamen.


"Apa ini ???..." tanya Ace.


"Bukalah.... dan ikuti petunjuk di dalamnya.." ucap pria tua itu.


Ace yang penasaran, membuka perkamen itu perlahan. Dilihatnya beberapa gambar mengenai gerak jurus yang ia masih tidak tau jelas apa maknanya.


Pria tua itu kemudian mengatakan bahwa, di dalam tubuh Ace, terdapat elemen api biru. Elemen itu akan menjadi sangat kuat, jika pemiliknya mampu mengendalikannya. Bilamana pemilik bersangkutan tak mampu mengendalikan elemen itu, maka hal berbalik yang akan terjadi.


Isi dalam perkamen itu, adalah serangkaian gerak jurus untuk mengatur serta mengendalikan energi dari elemen api biru, agar dapat digunakan secara efektif.


Pria tua itu juga menyuruh Ace agar senantiasa menjaga pikiran dan hati agar tetap tenang.


Sambil memegang kayu rotan yang cukup tebal, pria tua itu menyuruh Ace mengikuti semua gerakan yang ada. Sambil mengoreksi, serta memberi arahan pada Ace.


Pakkkk.... Pakkk..... Bunyi rotan yang dipukul di setiap gerak tubuh Ace yang salah. Hanya teriak kesakitan yang mengisi saat-saat itu. Ingin rasanya hati tertawa melihat Ace.


Setahun kemudian. Ya... Yang seperti kalian pikirkan. Ace kini menguasai setiap gerak yang ada di dalam perkamen. Bukan dengan mudah ia melakukan semua itu. Bekas luka serta pukulan yang melekat di tangan dan kakinya menjadi saksi bisu perjuangannya selama kurang lebih satu tahun ini.


Kini ia tengah berdiri di sudut lapangan. Mengembalikan perkamen itu kepada sang pria tua yang berdiri tegak di depannya. Membungkukkan badannya, sebagai bentuk rasa hormat kepada pria tua yang ia panggil "Guru" itu.


Tiba-tiba, pria tua itu meluncurkan serangannya kepada Ace. Ace terpukul cukup jauh. Terguling-guling badannya di tengah lapangan. Dengan wajah yang bertanya-tanya, ia bangkit dari jatuhnya dan hanya melongo.


"Kau tak boleh lengah Ace......" ucap pria tua itu.


"Tunggu.... sepertinya kau mengulang kalimat itu..." balas Ace.


Ace bangun dari kejatuhannya, melangkah mendekati pria tua itu. Sambil menundukkan badannya, ia mengatakan bahwa ia akan selalu mengingat perkataan pria tua itu.


Keesokan harinya, pukul 08:30.


Ace berjalan menuju lapangan. Dilihatnya, pria tua itu sedang berdiri, menatap reruntuhan bangunan.


Perlahan Ace mendekatinya...


"Guru......" sapa Ace.


Pria tua itu tidak menoleh. Ia hanya terus memandang reruntuhan itu...


"Ace......., dua tahun sudah..... kau lalui dengan berlatih. Kini sudah saatnya kamu..... mengaktifkan seluruh chakramu....." ucap pria tua itu dengan mimik wajah yang khawatir.

__ADS_1


"Chakra ???.... mengapa ???. Begini saja saya sudah merasa lebih kuat." ucap Ace.


"Chakra perlu di aktifkan......., agar......, elemen dalam tubuhmu, dapat digunakan secara maksimal. Setiap warrior harus membuka ketujuh chakranya. Jika tidak, maka bersiaplah kamu dikendalikan oleh elemen dalam tubuhmu." ucap pria tua.


"Kesimpulannya, percuma saja punya elemen bersangkutan, kalau tidak bisa digunakan. Ingatkah dulu, waktu itu, saat kau diserang wanita berjubah hitam ?.... ketahuilah bahwa setiap seranganmu tidaklah berarti apa-apa baginya." lanjut pria tua itu.


"Hmmmm....... mengapa ???.... saya ingat, waktu itu tanganku berlumuran api. Kemudian saya menyerangnya. Guru, sepertinya pernyataanmu itu salah." ucap Ace.


"Tidak.... wahai anak muda. Seranganmu hanya berpengaruh pada jubah yang ia kenakan. Wanita itu jauh lebih kuat dari dirimu. Sebab apa ???..... sebab saat itu, chakra mu masih tertutup. Sedang wanita itu,.... Huhh.... jika saat itu saya tidak datang menolongmu, sekarang adalah mustahil jika kau masih bernapas lega." ucap pria tua.


"Tapi.... saat itu...." ucap Ace.


"Ya.... saat itu, kau tidak menyadarkan diri. Elemen api biru itu, mengendalikan kamu, sehingga kau terlihat luar biasa saat itu. Pada kenyataannya tidaklah demikian. Elemen itu akan terus menyerap energi dalam tubuhmu, sampai tak tersisa. Lalu membiarkan mu tergeletak begitu saja." ucap pria tua.


"Hmmm..... jadi.... apa yang harus saya lakukan, guru ???.." tanya Ace.


"Ada beberapa test yang harus kamu lalui. Ketahuilah bahwa itu tak akan semudah kau membalikkan telapak tanganmu." ucap pria tua.


"Hmmm... siap.... saya siap melakukan semua itu." ucap Ace dengan penuh percaya diri.


".......,......, ....., tidaklah mudah untuk melakukan itu. Pada tahap ini, kamu sudah tak dapat bercanda lagi." ucap pria tua itu sambil menoleh ke wajah Ace.


"Mmm..... Aku..... tidak sedang bercanda. Saya siap ..." ucap Ace sambil tersenyum.


"....., ...., kau tidak tahu, apa yang akan kamu hadapi Ace." ucap pria tua itu, sambil menundukkan kepalanya.


Ace kebingungan dengan sikap serta apa yang telah diucapkan pria tua itu.


"Mengaktifkan sisa chakra yang ada, bukanlah hal yang mudah...." ucap pria tua itu sambil berjalan menuju ke arah timur laut, menuju danau emosi.


"Hmmmm.... lalu, apa yang Guru ingin untuk aku lakukan ?..." tanya Ace sembari mengikuti langkah pria tua itu.


"Ace..... masuklah ke dalam. Saya hanya bisa mengantarmu sampai di sini saja." ucap pria tua itu.


"Baiklah...... (melangkah masuk).., hmmmm tunggu dulu... apa yang harus saya lakukan disana ?..." tanya Ace.


"Jernihkanlah hatimu di sana. Air di danau itu akan mengikuti suara serta sifat hatimu. Teruslah menjaga agar hatimu tidak goyah, sebab di dalam sana ada berbagai macam godaan serta bisikan yang dapat menjerumuskan mu." ucap pria tua itu.


"Masuklah ke dalam. Kontrol air danau itu, menggunakan suara hatimu. Di saat air danau sudah jernih, kau akan melihat cahaya putih di dasarnya. Menyelamlah ke dalam. Kemudian sentuh cahaya itu." lanjut pria tua itu.


Perlahan Ace malangkah masuk ke dalam....


Saat masuk ke dalam, suasana mulai berubah. Ace hanya mendengar suara bising angin bak sedang memanggil-manggil namanya. Angin di sana berhembus dengan aneh.


Perlahan iya melangkah menuju tepi danau. Seketika air danau yang awalnya tenang, mulai bergelombang seperti air yang mendidih.


Semakin Ace mendekat, tiba-tiba, air danau perlahan berubah warna menjadi merah. Warnanya terus berubah sampai memerah seperti darah.


Terkejutlah Ace yang saat itu melihat perubahan warna air yang begitu anehnya. Sambil mengusapkan dadanya, ia melangkah.


Angin yang terus berbisik, semakin Ace mendekati tepi danau, semakin jelas bisikan itu terdengar. Suara bisikan itu, seperti keributan orang yang banyak, memanggil-manggil namanya.


Ace.....Ace..... Suara bisikan angin.


Kira-kira seperti itu yang didengarnya. Ia berusaha mengendalikan hatinya, agar tidak terpengaruh bisikan aneh yang semakin lama semakin membesar. Ia memejamkan matanya, mengingat semua perkataan pria tua itu.


Kemudian ia membuka lagi matanya, namun suara bisikan masih terdengar dengan jelas. Dengan sikap yang selalu mencoba menjaga agar hati tetap tenang, ia melangkah ke tepi danau yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh.

__ADS_1


Ketika sudah berdiri di tepi danau, ia melihat kedalamnya.


Air danau yang berwarna merah lagi mendidih, masi dapat juga merefleksikan bayangan wajah Ace di permukaannya.


Ace dapat melihat bayangan wajahnya. Tiba-tiba, dia merasa seakan-akan masuk kedalam pikirannya. Ia melihat kenangan saat bersama, sampai ketika ia kehilangan orangtuanya.


Energi air danau itu terus membawa Ace masuk ke dalam kenangannya. Disertai bisikan yang sudah sangat keras terdengar, menyelimuti Ace yang saat itu sudah berdiri kaku.


Melotot matanya. Dengan urat merah yang timbul di samping matanya. Ace tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa melihat air danau yang semakin mendidih.


"A...... Apa yang terjadi ?.... Me... Mengapa ?.." ucapnya dalam hati.


"*Perasaan ini.....ke...kenapa ???..... "


"Kenapa tubuhku tak dapat bergerak...... Ke.... Kenapa* ??..."


Kemudian air matanya berjatuhan......


"*Ayah.... Ibu..... Kenapa ?.... Kenapa kalian meninggalkanku...??..."


"Ayah..... Kau selalu menjagaku, menasihatiku,...... Tapi... Kemana kau pergi ?...."


"Ibu..... Ibu selalu menyayangiku, memelukku,.... Maafkan aku.... Ibu..... Yang dulu pernah menyakiti hatimu....."


"Hu...hu...hu.. (suara tangisan*).."


Sementara itu di depan gerbang, pria tua itu sangat khawatir. Sudah berjam-jam berlalu.... namun Ace tak kunjung kembali. Ia hanya berjalan kesana-kemari menunggu kedatangan Ace. Ingin rasanya ia membantu, tapi apalah daya. Itu semua berada diluar kehendaknya.


Ace masih berdiri kaku. Ia berusaha untuk mengontrol hatinya. Namun bisikan itu terus mengganggunya, seakan-akan menarik pikirannya untuk selalu membayangkan masa lalunya.


"Hu...hu....hu...(suara tangisan),... Ada apa dengan aku ini ???...." ucap Ace dalam hati.


"Tidak ...... Tidak..... Saya harus melupakan semua ini...., Ayahh.... Ibu.... Pergilah kalian dari pikiran ku....."


Ia berusaha mengontrol hati dan pikirannya. Tiba-tiba, terlintas perkataan pria tua itu, "Kau tak boleh lengah Ace......", yang menggema dibenaknya. Ia semakin bersemangat. Terus berusaha menenangkan hatinya yang terjerumus dalam kesedihan yang mendalam.


Kemudian ia teringat lagi l, ucapan pria tua itu. Bahwa air danau itu akan bergerak mengikuti suara dan sifat hati seseorang. Dari hal tersebut, ia mencoba membalikkan keadaan. Dengan berpikir bahwa semua yang ada akan baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi.


Bukan sulap, bukan sihir. Perlahan.... Air danau mulai mereda, mengikuti suara hati Ace yang mulai menenang. Air yang tadinya berwarna merah, perlahan menjernih dengan sendirinya.


Setelah itu, bisikan-bisikan yang tadinya mengganggu, lenyap begitu saja.


Kini air danau sudah jernih. Ace tersimpuh ke tanah seraya melepas penat. Matanya hanya tertuju pada air danau. Melihat kesana-kemari, ia mencari titik cahaya yang dikatakan pria tua itu.


Kemudian, ia menceburkan kepalanya ke dalam air. Dengan menahan napas, masuk kepalanya sembari mencari-cari di mana titik cahaya itu.


Tak lama kemudian, ia melihat sesuatu yang berkedip di dasar danau. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyelam menuju ke dasar danau.


Sampailah Ace di dasar danau. Ia terpesona melihat keindahan titik cahaya itu. Tanpa ragu, ia mengarahkan tangannya, menyentuh titik cahaya.


Terkejut, ya tentu saja. Cahaya itu menjauh. Ace berusaha menahan napas yang sudah tidak lama lagi, berenang mengejar titik cahaya.


Terus berenang namun sudah tak sanggup lagi. Kepalanya mulai pusing, penglihatannya mulai memudar. Dada yang sudah sesak, serta kaki yang melelah.


Cahaya itu seakan-akan mempermainkannya. Ace yang sudah tak sanggup lagi, hanya mengambang di dalam air, dengan posisi tangan yang terjulur ke depan.


Perlahan kantung matanya menutup.

__ADS_1


Ia hanya mengambang, perlahan tenggelam ke dasar danau.


To be continued......


__ADS_2