
Keesokan harinya, pukul 09:00...
Dua hari sudah Ace lalui.
Masih bermeditasi dalam kondisi yang stabil. Suasana di murgs juga mengalami sedikit perubahan. Jalan setapak terlihat basah seperti habis diguyur hujan. Kelopak bunga snapdragon meneteskan embun dengan indahnya, serta angin yang segar bertiup dengan nikmatnya.
Pria tua itu mengunjungi Ace di sana. Semua nampak biasa saja. Namun, yang selalu ia pertanyakan, mengapa jalan setapak di sana basah dan kelopak bunga juga meneteskan embun ?. Cuaca di murgs tidak pernah berubah dari dulu. Tetap cerah dengan angin segar bertiup di sekitar. "Pertanda apakah ini ?" begitu kira-kira isi hatinya.
Ia mencoba melihat ke lantai gazebo. Ternyata, lubang kecil black circle sudah terbuka. Lantainya terus meretak dan black circle perlahan membesar. Ia juga terpikir untuk mengecek kelopak bunga, masih terombang ambing di udara.
"Ah ..... kenapa..... black circle terbuka begitu cepat ??... ini baru memasuki hari ke-tiga ?.." ucap pria tua itu dalam hati.
"......... mimpi buruk apa..... yang akan ia alami ?..."
Pria tua itu terus memikirkan tentang kondisi Ace....
Sementara itu, di alam bawah sadar Ace, masih tetap sama. Hal-hal yang aneh belum terlihat. Ace masih tetap dalam posisinya. Hanya berdiri, tanpa merasa kelelahan ataupun mengantuk.
Wangi bunga sudah samar tercium, namun rasa sakit tenggorokan kian mengganggu. Mau berbicara saja, terdengar seperti orang yang terkena penyakit asma. Bibirnya kering, pecah-pecah.
Pukul 19:45.....
Masih belum ada kejanggalan yang Ace rasakan. Masih memandangi dunia putih kosong yang sepi. Perlahan, ia mulai terbiasa dengan situasi di sana. Sambil menoleh kesana-kemari, mungkin saja ada hal aneh terjadi, pikirnya.
Tak lama kemudian, ia merasakan sensasi dalamnya konsentrasi. Terasa berdenyut di sekitar kepalanya, dengan pandangan yang semakin jelas dan tajam.
Pukul 22:45....
Hal yang janggal mulai terasa. Suasana berubah menjadi hangat dan sangat nyaman. Suara bising angin yang menggerakkan pepohanan juga menghiasi sekitarnya. Perasaan yang sangat tidak asing baginya.
Tiba-tiba, dari sebelah kiri belakang, pria berjubah putih datang mengahmpiri Ace. Berdiri tepat di depan telinga kirinya dan berbisik ..
__ADS_1
"Apakah kau sudah merasa benar ???.." tanya pria berjubah putih itu berbisik.
Masih tak dapat Ace pahami, mulai dari awal, apakah maksud setiap perkataan pria berjubah putih itu. Setiap perkataannya terasa seperti sebuah petunjuk akan apa yang nantinya ia hadapi. Kemudian, pria itu pergi meninggalkan Ace dan menghilang begitu saja.
Taklama kemudian, dari sebelah kanan, dilihatnya bola gulungan benang rajut menggelinding menuju tepat di depan kakinya. Ace bertanya-tanya, ada apa dengan benda itu. Kemudian, benang itu menggelinding lagi mengarah ke hadapan, menjauh dari Ace.
Mulai dari telapak kakinya, Ace terus memperhatikan benang itu menggelinding. Selama itu juga, perlahan dunia putih berubah menjadi ruang keluarga dengan dinding dari kayu. Benang itu mengarah pada tengah-tengah ruang keluarga, dan berhenti, menabrak sebuah kursi.
Ace yang saat itu hanya tertuju pada benang itu, terkejut saat mengangkat pandangannya, melihat dunia putih nan kosong berubah menjadi ruangan yang sangat tidak asing baginya. Ya.... ruang keluarga dirumahnya dulu. Hangat dan nyaman, serta penuh dengan kebahagiaan.
Menoleh matanya ke setiap sudut, sama sekali tidak ada bedanya. Kemudian, muncul dari sebelah kanannya, wanita yang sangat mirip dengan ibunya, berjalan menuju bangku.
Wanita itu merunduk, mengambil gulungan benang rajut yang ada di dekat kursi.
Setelah itu, ia berjalan menuju meja di dekatnya, mengambil jarum dan kain setengah jadi berwarna ungu gelap. Kemudian ia berjalan lagi ke arah kursi dan duduk di atasnya, sambil membentangkan kain yang dipegangnya.
Ace terus memperhatikan wanita yang ia rasa adalah ibunya sendiri. Merajut kain dengan penuh kesabaran, dengan keringat yang perlahan menetes di dahinya. Ia melihat wanita itu sedang mencari sesuatu, menoleh kepalanya kesana-kemari. Ternyata yang dicari wanita itu, adalah sepotong kain yang hanya digunakan untuk mengelap keringatnya.
"Hmmm...... akhirnya.... selimut ini sudah jadi. Begitu susahnya merajut ini. Ha...ha..ha.. sangat tidak rapi. Hmmm.... bagaimana kesan anakku nanti?.... semoga, ia menyukai selimut buatanku ini..." ucap wanita itu sambil tersenyum dan memeluk selimut hasil rajutannya itu.
Setelah mendengar perkataan itu, air mata Ace mengalir deras. Tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Perasaan hati yang sangat tidak enak. Hanya terbayangkan kasih sayang ibunya.
Kain yang ia rajut, sengaja tidak digunakan untuk mengelap keringat, hanya karena itu untuk anaknya, Ace.
Sungguh perasaan yang begitu dalam.
Tak lama kemudian, dari sisi kirinya, Ace mendengar suara ketukan pintu. Terbuka pintu itu perlahan. Tak salah lagi, itu pria yang mirip dengan ayahnya.
Pria itu menyapa wanita yang mirip dengan ibunya, dan saling berpelukan. Sungguh pemandangan yang begitu indah. Duduk mereka berdua, saling berhadapan. Mereka sedang membicarakan sesuatu. Ace berusaha mendengar percakapan mereka, tapi tak bisa.
Tak lama kemudian,...
Baaakkkkk...... suara pintu yang didorong dengan keras.
__ADS_1
Ace melihat seorang pemuda yang sangat mirip dengannya, mengenakan seragam sekolah dan memasang wajah yang sangat tidak enak untuk dilihat.
Pemuda itu berjalan dengan kaki yang keras menyentuh lantai rumah, serta wajah yang hanya lurus mengarah ke pintu kamar. Pria dan wanita yang Ace rasa adalah ayah ibunya sendiri, terkejut dengan kedatangan pemuda itu.
Pemuda itu membuka pintu tersebut, dan masuk ke ruangan yang dirasa adalah kamarnya, serta mengunci pintu rapat-rapat. Wanita tadi berdiri dengan wajah cemas, melangkah perlahan menuju pintu kamar pemuda itu.
Seketika Ace mengingat kejadian beberapa tahun lalu, dimana ia memarahi kedua orangtuanya. Nampak persis seperti apa yang ia lihat. Ace hanya bisa menangis, menyesali perbuatannya itu. Merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap orang tuanya.
Ace terus memperhatikan apa yang terjadi, disertai air mata yang terus mengalir. Sesekali ia memejamkan mata karena tak sanggup melihat perilaku pemuda yang dirasa, itu adalah dirinya sendiri.
"Uhhh....hu.. ada apa dengan diriku ??......" ucap Ace sambil menangis.
"........ *kenapa aku melakukan kesalahan sebesar itu ??...."
"........ ayah...... ibu....., seandainya kita masih bersama,.... akan kupeluk erat kalian berdua.... tak akan aku lepaskan*...."
Sementara itu, di depan gerbang murgs....
Pria tua itu terus memperhatikan Ace, sambil berjalan kecil, mondar-mandir. Dilihatnya, posisi Ace mulai goyah. Ia semakin khawatir juga dengan bertambah lebarnya black circle. Perasaan hatinya mulai gelisah.
Ace yang saat itu dibanjiri air mata, mencoba untuk mengontrol dirinya, namun terasa sangat berat. Kenangan itu rasanya tak bisa hilang dari kepalanya. Sangat membekas di hatinya.
Rasa sakit di tenggorokan semakin bertambah, wangi bunga sudah tak lagi tercium. Ace hanya merunduk, seraya menghindari apa yang ia lihat saat itu. Ingin rasanya ia lari, namun sangatlah tidak mungkin itu terjadi.
Pukul 02:00....
Perlahan semua yang terjadi kembali seperti semula, putih kosong dan bergema. Perlahan Ace menenangkan dirinya, berusaha untuk tidak terbawa suasana. Ia menarik napas dalam-dalam, sambil mengedipkan mata beberapa kali.
Pria tua yang terus memperhatikan Ace di depan pintu gerbang selama berjam-jam, merasa lega ketika melihat posisi Ace kembali normal. Jalan setapak yang awalnya basah, seketika mengering dengan cepat. Bunga yang dipenuhi embun, kini kembali seperti sedia kala.
Namun yang masih membekas di pikirannya, black circle yang terus melebar. Ia khawatir, di saat Ace tak sanggup mengontrol dirinya, Ace akan terjatuh kedalam black circle.
To be continued.....
__ADS_1